Kategori
Tanya-Jawab

Surga di Telapak Kaki Ibu

Assalâmu’alaikum warahmatullâhi wabarakâtuh, ‘afwan ana mau tanya tentangg ungkapan “surga di telapak kaki ibu” benar dari hadits rasul atau hanya perkataan manusia. Jazâkumullahu khairan wassalâm. [02819134XXX]

Wa’alaikumussalâm warahmatullâhi wabarakâtuh, dalam sebuah hadits disebutkan:

اَلْجَنَّةُ تَحْتَ أَقْدَامِ الأُمَّهَاتِ، مَنْ شِئْنَ أَدْخَلْنَ وَ مَنْ شِئْنَ أَخْرَجْنَ

Surga itu di bawah telapak kaki ibu, siapa yang ia kehendaki maka akan dimasukkan dan siapa yang ia ingini maka akan dikeluarkan.

Tapi hadits di atas adalah palsu. Syaikh al-Albani -rahimahullah- berkata dalam Silsilah al-Ahâdîts adh-Dha’îfah, no. 593: “Hadits ini palsu.”

Ada juga riwayat yang menyebutkan penggalan pertama saja dari hadits di atas, namun haditsnya dihukumi lemah oleh Syaikh al-Albani – rahimahullah-. Silahkan lihat: Dha’îf al-Jâmi’ ash-Shaghîr, no. 2666.

Dari sini kita ketahui, bahwa ucapan yang telah masyhur di tengah-tengah kaum muslimin tersebut bukanlah hadits Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam-, namun hanya ucapan manusia semata, wallâhu a’lam.

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 50 hal. 8

Kategori
Tanya-Jawab

Sunnah Safar Dengan Teman

Sunnah Safar Dengan Teman

‘Afwan ustadz, apakah hadits yang menerangkan sunnah safar tidak sendirian shahih ustadz, syukron. [085247167XXX]

Hadits yang menerangkan tentang hal tersebut adalah shahih. Di bawah ini kami bawakan tiga buah hadits seputar permasalahan:

[1]. Ibnu Umar -radhiallohu anhuma- berkata:

نَهَى عَنِ الْوَحْدَةِ أَنْ يَبِيْتَ الرَّجُلُ وَحْدَهُ، أَوْ يُسَافِرَ وَحْدَهُ

Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- melarang menyendiri, yakni seseorang tidur malam sendiri atau pergi safar sendiri. (hadits shahih. lihat ash-Shahîhah, no. 60)

Senada dengan perkataan di atas apa yang diucapkan oleh Umar bin al-Khaththab radhiallohu anhu, ia berkata: “Janganlah seorang dari kalian safar sendirian, dan jangan pula ia tidur di rumah sendirian.”

[2]. Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda:

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ فِي الْوَحْدَةِ مَا أَعْلَمُ مَا سَارَ رَاكِبٌ بِلَيْلٍ وَحْدَه(أَبَدًا

Kalau saja manusia mengetahui dalam kesendirian sebagaimana yang aku ketahui, pasti ia tidak akan berani bepergian sendirian selamanya. (hadits shahih. lihat ash-Shahîhah, no. 61)

Kategori
Fiqih Tanya-Jawab

Posisi Makmum Ketika Berdiri Sendiri

Posisi Makmum Ketika Berdiri Sendiri

Assalâmualaikum. Ana mau tanya nih, mengenai posisi makmum bila ia sendiri di shaf kedua, apa di tengah, di pojok kiri atau di pojok kanan? Syukran. [+6281276671XXX]

Wa’alaikumussalâm. Untuk menjawab pertanyaan di atas, kami akan bawakan fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz -rahimahullah- yang berkaitan dengan permasalahan tersebut.

Beliau pernah ditanya, “Apakah shaf itu dimulai dari sebelah kanan atau tepat di belakang imam? Apakah disyariatkan harus seimbang antara shaf sebelah kanan dengan sebelah kiri? Sebab sering dikatakan, “Seimbangkanlah shafnya” sebagaimana yang banyak diucapkan oleh para imam?”

Beliau -rahimahullah- menjawab: “Shaf itu dimulai dari tengah yang terdekat dengan imam, dan shaf sebelah kanan lebih utama dari pada shaf sebelah kiri, kemudian yang wajib adalah tidak dimulai shaf (baru) sehingga shaf sebelumnya terisi penuh.

Tidak mengapa orang-orang yang berada di shaf sebelah kanan lebih banyak (dari pada shaf sebelah kiri, pen), dan tidak perlu diseimbangkan. Bahkan perintah untuk menyeimbangkan antara kedua shaf tersebut adalah menyalahi sunnah.

Hanya saja tidak boleh membuat shaf kedua sebelum shaf pertama penuh, tidak pula shaf ketiga sebelum shaf kedua penuh dan demikian seterusnya untuk shaf-shaf berikutnya. Sebab ada riwayat shahih dari Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- yang memerintahkan hal ini.” [Tuhfah al-Ikhwân bi Ajwibah Muhimmah Muta’alliqah bi Arkân al-Islâm, hlm. 101, cetakan Dâr al-Khudhairi]

Kategori
Aqidah

Haramnya Perdukunan

Haramnya Perdukunan,
Mendatangi, dan Membenarkannya

Dukun atau Paranormal adalah orang yang mengkabarkan tentang perkara-perkara pada masa yang akan datang dan mengaku mengetahui hal-hal yang gaib. Pada zaman dahulu, di negeri arab dukun mengaku mengetahui segala sesuatu dengan bantuan jin. (Syarh as-Sunnah, Imam al-Baghawi, jilid 12, hlm. 182)

Perdukunan di negeri kita khususnya dan di berbagai Negara pada umumnya tumbuh dengan sangat subur, mempunyai peminat yang sangat banyak dari berbagai kalangan, dari orang awam sampai kalangan yang paling terpelajar, rakyat jelata sampai pejabat. Merekapun rela berantrian dan membayar mahal untuk menemui sang dukun.

Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا هَؤُلَاءِ أَهْدَى مِنَ الَّذِينَ آَمَنُوا سَبِيلًا

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab? mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. (QS. an-Nisa: 51 )

Al-Jibt adalah sihir atau perdukunan. (Tafsîr al-Qur`ân al-Azhîm, jilid 1, hlm. 454)