Kategori
Tanya-Jawab

Sunnah Safar Dengan Teman

Sunnah Safar Dengan Teman

‘Afwan ustadz, apakah hadits yang menerangkan sunnah safar tidak sendirian shahih ustadz, syukron. [085247167XXX]

Hadits yang menerangkan tentang hal tersebut adalah shahih. Di bawah ini kami bawakan tiga buah hadits seputar permasalahan:

[1]. Ibnu Umar -radhiallohu anhuma- berkata:

نَهَى عَنِ الْوَحْدَةِ أَنْ يَبِيْتَ الرَّجُلُ وَحْدَهُ، أَوْ يُسَافِرَ وَحْدَهُ

Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- melarang menyendiri, yakni seseorang tidur malam sendiri atau pergi safar sendiri. (hadits shahih. lihat ash-Shahîhah, no. 60)

Senada dengan perkataan di atas apa yang diucapkan oleh Umar bin al-Khaththab radhiallohu anhu, ia berkata: “Janganlah seorang dari kalian safar sendirian, dan jangan pula ia tidur di rumah sendirian.”

[2]. Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda:

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ فِي الْوَحْدَةِ مَا أَعْلَمُ مَا سَارَ رَاكِبٌ بِلَيْلٍ وَحْدَه(أَبَدًا

Kalau saja manusia mengetahui dalam kesendirian sebagaimana yang aku ketahui, pasti ia tidak akan berani bepergian sendirian selamanya. (hadits shahih. lihat ash-Shahîhah, no. 61)

[3]. Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda:

الرَّاكِبُ شَيْطَانٌ وَالرَّاكِبَانِ شَيْطَانَانِ وَالثَّلاَثةَ ُرَكْبٌ

Orang yang safar sendirian adalah setan (bermaksiat), dan orang yang safar berdua adalah dua setan (bermaksiat), jika tiga orang maka mereka adalah orang yang safar. (hadits hasan. lihat ash-Shahîhah, no. 62)

Setelah membawakan tiga hadits di atas Syaikh al-Albani -rahimahullah- berkata: “Hadits-hadits tersebut mengandung keharaman safar sendirian bagi muslim, demikian pula jika ia ditemani seorang lagi, sebagaimana zhahir hadits larangan pada hadits sebelum ini (no 2 di atas), sabda Nabi -shollallahu alaihi wa sallam-, “setan”, maksudnya adalah dia bermaksiat, seperti firman Allah ta’âlâ,

Setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin. (QS. al-An’âm: 112)
Sebab maknanya adalah yang bermaksiat dari golongan mereka, sebagaimana yang ditafsirkan oleh al-Mundziri -rahimahullah-.”

Ath-Thabari -rahimahullah- berkata: “Ini adalah larangan untuk mendidik dan mengarahkan, karena dikhawatirkan seorang akan takut kesepian, dan hukumnya tidak haram. Orang yang berjalan di padang pasir sendirian atau yang tidur di rumahnya sendiri tidak akan merasaa aman dari kesepian, terutama bila ia memiliki pikiran yang buruk atau hati yang lemah, dan yang benar (dalam masalah ini) manusia itu berbeda-beda, sehingga larangan di atas bertujuan untuk memutuskan kesepian tersebut, maka makruh hukumnya menyendiri demi menutup pintu kepada kesepian, dan hukum makruh tersebut pada hak dua orang menjadi lebih ringan dari pada pada satu orang.”

Al-Munawi berkata dalam kitab al-Faidh: “Komentar saya, semoga yang dimaksud dalam hadits adalah safar di padang pasir dan hamparan tanah lapang yang luas yang hampir tidak mungkin seorang musafir melihat seorangpun, dan tidak termasuk safar pada zaman sekarang yang melalui jalanan bagus yang telah banyak sarana tarnsportasi padanya, wallâhu a’lam.” (ash-Shahîhah jilid 1, hlm. 129-132)

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 50 hal. 5

Tinggalkan Balasan