Kategori
Ibroh

Semua Ada Hikmahnya

Semua Ada Hikmahnya

Ini adalah keyakinan orang-orang yang istiqamah di jalan Allah. Allah dalam segala takdir-Nya memiliki hikmah, apa yang Dia cintai atau benci mengandung hikmah yang mendalam. Seandainya Allah berkehendak, Dia akan mencegah seorang hamba untuk bermaksiat kepada-Nya. Allah tidaklah dimaksiati dengan paksaan. Tidak ada di dunia ini melainkan dengan kehendak-Nya.

Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. [QS. al-A’râf: 54].
Mereka meyakini, tidaklah Allah menciptakan sesuatu dengan sia-sia atau percuma, dan bahwasanya Allah memiliki hikmah yang mendalam dalam setiap takdir-Nya yang baik atau yang buruk, dalam ketaatan maupun maksiat. Ada hikmah yang dalam, yang terkadang akal tidak bisa menyelaminya dan lisan sulit mengungkapkannya. Semua takdir-Nya terhadap yang Dia benci dan Dia murkai bersumber dari nama-Nya yang mulia “al-Hakîm” (Yang Maha Bijaksana). Allah ta’âlâ berfirman kepada Malaikat-Nya:

Ingatlah ketika Tuhan-mu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’. Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’. Maka Allah pun menjawab mereka dengan firman-Nya: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui?. [QS. al-Baqarah: 30].
Di balik munculnya maksiat, dosa, dan kejahatan serta akibat-akibatnya, Allah memiliki hikmah dan tanda-tanda kekuasaan di dalamnya, baik yang berkaitan dengan Rububiyah, Uluhiyah, kemuliaan, kesempurnaan maupun ilmu-Nya. Orang-orang yang istiqamah mengatakan:

Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau. [QS. Âli ‘Imrân: 191].

Tidaklah semua itu melainkan hikmah-Mu yang terang dan tanda-tanda (kekuasaan)-Mu yang tampak.

وَلِلّهِ في كُلِّ تَحْرِيْكَةٍ وَتَسْكِيْنَةٍ أَبَدًا شَاهِدُ

وَفِي كُلِّ شَيْءٍ لَهُ آيَةٌ تَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ وَاحِدُ

Allah selalu menyaksikan setiap yang bergerak dan yang diam
Di dalam segala sesuatu ada tanda yang menunjukkan bahwa Allah itu Esa
Berapa banyak di muka bumi ini tanda-tanda yang menyatakan keberadaan Allah, yang membenarkan Rasul-rasul-Nya serta menunjukkan bahwa hari kiamat itu benar?? Bencana dan adzab, sebabnya adalah dosa dan maksiat manusia, seperti ditenggelamkannya kaum Nuh hingga semuanya binasa kecuali orang-orang yang bertakwa dan bertauhid kepada-Nya. Berapa banyak hikmah/pelajaran yang bisa dipetik dari kejadian-kejadian seperti ini!!! Demikian pula dalam kisah dibinasakannya kaum ‘Aad dan Tsamud.

Berapa banyak tanda-tanda kekuasaan Allah dalam kisah Fir’aun dan kaumnya, sejak diutusnya Musa kepada mereka hingga mereka ditenggelamkan, bahkan sebelum diutusnya Musa. Seandainya bukan karena maksiat dan kekufuran mereka, tidaklah akan tampak dengan jelas tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban ini.

Di dalam Taurat disebutkan, bahwa Allah berfirman kepada Musa :
“Pergilah kepada Fir’aun, sesungguhnya Aku akan menjadikan hatinya keras dan mencegahnya dari keimanan dan Aku akan menampakkan tanda-tanda kekuasaan-Ku serta keajaiban-keajaiban-Ku di Mesir”.

Demikianlah yang Allah ta’âlâ perbuat, Dia menampakkan tanda-tanda kebesaran dan keajaiban-Nya dengan sebab dosa-dosa Fir’aun dan kaumnya.
Sebagaimana keselamatan bagi Ibrahim. Sebabnya adalah dosa dan maksiat kaum beliau yang telah melemparkan dirinya ke dalam api, hingga Ibrahim diselamatkan dan mendapat gelar khalîlullâh (kekasih Allah).

Para Rasul memperoleh karamah, kedudukan, dan kemuliaan di sisi Allah dengan sebab kesabaran mereka terhadap gangguan kaum mereka. Demikian pula para syahid, wali Allah mendapat kedudukan di sisi Allah karena kesabaran mereka terhadap gangguan manusia pelaku maksiat dan kezhaliman, serta karena perjuangan mereka di jalan Allah dengan jiwa dan ilmu mereka. Mereka memang berhak mendapat kedudukan yang tinggi. Ini di antara hikmah adanya maksiat dan dosa. Maslahat dan hikmah yang banyak ini lebih Allah cintai dari terlewatkannya maksiat dan dosa. Tidak adanya maksiat adalah suatu hal yang dicintai Allah, akan tetapi hikmah yang ada baik dibalik maksiat lebih Allah cintai. Dan tidak adanya hikmah (yang baik) di balik maksiat lebih Allah benci daripada maksiat itu sendiri.

Di antara kesempurnaan hikmah-Nya adalah diperolehnya sesuatu yang paling dicintai dari dua hal yang sama-sama dicintai-Nya. Hal ini juga dibenarkan oleh akal pikiran manusia, sebagai contoh: seandainya Adam tidak bermaksiat dengan memakan buah pohon terlarang, maka tidak akan ada ujian bagi makhluk ini, tidak akan diutusnya para Rasul, dan tidak akan diturunkan kitab-kitab-Nya, tidak akan tampak tanda-tanda kekuasaan dan keajaiban-Nya, tidak ada pemuliaan bagi wali-wali-Nya atau penghinaan terhadap musuh-musuh-Nya, tidak nampak keutamaan ataupun keadilan-Nya, pengampunan atau kasih sayang-Nya serta tidak akan ada orang yang mencintai serta menyembah-Nya.

Seandainya ditakdirkan, Adam tidak makan pohon tersebut, tidak keluar dari surga bersama anak keturunannya serta tidak terjadi penentangan iblis terhadap perintah Allah dan tidak terjadi apa-apa, maka tidak akan bisa dibedakan mana yang baik dan mana yang buruk, tidak akan ada pahala dan dosa serta surga dan neraka.

Berapa banyak di balik kemenangan para wali-wali Allah terhadap musuh-musuh-Nya di dunia ini atau sebaliknya dari hikmah dan kenikmatan yang berharga???
Berapa banyak di dalam hal ini terdapat kecintaan bagi Allah, pujian dari penghuni langit dan bumi bagi-Nya?? Berapa banyak hamba yang tunduk, taat beribadah, khusyu’, taubat kepada-Nya serta permohonan (para hamba) agar Allah tidak menjadikan mereka sebagai musuh-musuh-Nya?? Semua itu mereka lakukan, karena mereka menyaksikan sendiri bagaimana adzab Allah yang menimpa musuh-musuh-Nya, dan semua itu terjadi dengan kehendak dan keinginan-Nya serta dengan perbuatan dan kekuasaan-Nya. Para wali-wali Allah sangat takut akan adzab Allah, hingga mereka tunduk dan patuh kepada-Nya.

Para malaikat jika melihat iblis dan Harut serta nasib keduanya, mereka semakin tunduk kepada Allah karena keagungan dan kemuliaan-Nya dan karena takut akan laknat-Nya serta demi mengharap perlindungan dan rahmat-Nya. Dengan begitu, malaikat mensyukuri kenikmatan-kenikmatan Allah yang dianugerahkan kepada mereka serta ingat akan keutamaan dan pemuliaan Allah atas mereka.
Demikian pula dengan para wali-wali Allah yang bertakwa, jika mereka melihat dan menyaksikan keadaan para musuh-musuh Allah serta kemurkaan dan adzab yang Allah timpakan kepada mereka, bertambahlah ketundukan, kerendahan hati, penyerahan diri para wali-wali tersebut kepada Allah. Dan bertambah pula permintaan tolong serta taubat, tawakal, pengharapan dan takut mereka kepada Allah. Dengan begitu mereka yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa tidak ada tempat berlindung selain kepada-Nya dan tidak ada yang bisa memberinya nikmat serta menolaknya dari adzab melainkan Dia, segala keutamaan/nikmat hanya ada ditangan-Nya.

Ini semua hanya setetes dari lautan hikmah-Nya yang meliputi semua makhluk dan syariat-Nya. Orang yang masih bisa melihat, dia akan bisa melihat keajaiban-keajaiban dalam hikmah-Nya yang tidak bisa diungkapkan maupun disifatkan.

Adapun keterkaitan seorang hamba dengan persaksian hikmah-hikmah-Nya ini, maka tergantung dari kekuatan ilmunya akan Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya serta dari penyembahan dan peribadahannya. Setiap mukmin pasti memiliki bagian dalam hal ini yang tidak mungkin terlewatkan. Allah-lah yang memberi taufiq dan pertolongan.

(Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 43, hal. 56-58)

Tinggalkan Balasan