Categories
Sya'ir

Sholat Yang Berubah Keberuntungan

SHALAT YANG BERBUAH
KEBERUNTUNGAN

Seorang penyair berkata:

أَلاَ فِي الصَّلاَةِ الْخَيْرُ وَالْفَضْلُ أَجْمَعُ ِ                  لأَنَّ بِهَا اْلآرَابَ لِلَّـهِ تَخْـضَعُ

وَأَوَّلُ فَرْضٍ مِـنْ شَرِيْـعَةِ دِيْنِـنَا                        وَآخِرُ مَا يَبْقَى إِذِ الدِّيْنُ يُرْفَـعُ

فَـمَنْ قَامَ لِلتَّكْبِيْرِ لاَقَـتْهُ رَحْـمَةٌ                          وَكَانَ كَعَبْدٍ بَابَ مَوْلاَهُ يَقْـرَعُ

وَ صَارَ لِرَبِّ الْعَرْشِ حِـيْنَ صَلاَتِـهِ                      نَجِيًّا فَيَا طُوْبَاهُ لَوْ كَانَ يَخْشَـعُ

Categories
INFO DAN DOWNLOAD BUKU

Kajian STIKOM 6 Juni 09

Kajian Kubro

GHAZWUL FIKR

(Perang Pemikiran)

Bersama Ust Mubarak Bamuallim, Lc

Sabtu, 6 Juni 2009

09.00 – 1130 Wib

Tempat: Ruang Serba Guna STIKOM Surabaya

Jl. Kedung Baruk 98 Surabaya

Untuk Ikhwan dan Akhwat

CP: 085645463608 (Adam)

Categories
INFO DAN DOWNLOAD BUKU

Kajian & Bedah Buku Ust Abu Ihsan & Ustadzah Ummu Ihsan

Kajian Akhwat

Pemateri: Ustadzah Ummu Ihsan

Hari/Tanggal: Sabtu/30 Mei 2009

Waktu: 08.30 wib – Selesai

Tempat: Rumah Ibu Eni Krispantoro – Jl. Klampis Indah X No. 10 (Wisma Mukti) Surabaya

Materi: Nasehat Untuk Wanita

Untuk Umum Khusus Akhwat

————————————————————————————————————————————————-

Kajian Akhwat

Pemateri: Ustadzah Ummu Ihsan

Hari/Tanggal: Sabtu/30 Mei 2009

Waktu: Ba’da Ashar – Selesai

Tempat: Darut Tarbiyatul Ummah – Jl. Pegirian No. 234 Surabaya

Materi: Penyakit Hati

Untuk Umum Khusus Akhwat

————————————————————————————————————————————————-

Categories
Hadits

Surga Itu Di Bawah Telapak Kaki Ibu

Surga Itu Di Bawah Telapak Kaki Ibu

SURGA DI BAWAH TELAPAK KAKI IBU

Telah kita ketengahkan pada edisi sebelumnya[1] sebuah hadits yang berbunyi:

اَلْجَنَّةُ تَحْتَ أَقْدَامِ الأُمَّهَاتِ، مَنْ شِئْنَ أَدْخَلْنَ وَ مَنْ شِئْنَ أَخْرَجْنَ

Surga itu di bawah telapak kaki ibu, siapa yang ia kehendaki maka akan dimasukkan dan siapa yang ia ingini maka akan dikeluarkan. (Silsilah al-Ahâdîts adh-Dha’îfah, no. 593)

Kemudian kita jelaskan bahwa hadits dengan lafazh di atas adalah palsu. Dan ada juga yang lemah. (lihat: Dha’îf al-Jâmi’ ash-Shaghîr, no. 2666)

Setelah itu kami tegaskan bahwa ungkapan yang masyhur ini adalah ucapan manusia semata (bukan hadits)[2]. Dan sampai di sini pembahasan singkat kita pada waktu itu.

LAFAZH LAIN BERDERAJAT HASAN

Namun perlu diketahui, ada riwayat lain yang semakna dengan hadits di atas dengan lafazh yang berbeda yang berderajat hasan. Yang mana secara maknanya menunjukkan bahwa surga itu di bawah telapak kaki ibu. Berikut bunyi hadits tersebut:

Categories
Tanya-Jawab

Surga di Telapak Kaki Ibu

Assalâmu’alaikum warahmatullâhi wabarakâtuh, ‘afwan ana mau tanya tentangg ungkapan “surga di telapak kaki ibu” benar dari hadits rasul atau hanya perkataan manusia. Jazâkumullahu khairan wassalâm. [02819134XXX]

Wa’alaikumussalâm warahmatullâhi wabarakâtuh, dalam sebuah hadits disebutkan:

اَلْجَنَّةُ تَحْتَ أَقْدَامِ الأُمَّهَاتِ، مَنْ شِئْنَ أَدْخَلْنَ وَ مَنْ شِئْنَ أَخْرَجْنَ

Surga itu di bawah telapak kaki ibu, siapa yang ia kehendaki maka akan dimasukkan dan siapa yang ia ingini maka akan dikeluarkan.

Tapi hadits di atas adalah palsu. Syaikh al-Albani -rahimahullah- berkata dalam Silsilah al-Ahâdîts adh-Dha’îfah, no. 593: “Hadits ini palsu.”

Ada juga riwayat yang menyebutkan penggalan pertama saja dari hadits di atas, namun haditsnya dihukumi lemah oleh Syaikh al-Albani – rahimahullah-. Silahkan lihat: Dha’îf al-Jâmi’ ash-Shaghîr, no. 2666.

Dari sini kita ketahui, bahwa ucapan yang telah masyhur di tengah-tengah kaum muslimin tersebut bukanlah hadits Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam-, namun hanya ucapan manusia semata, wallâhu a’lam.

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 50 hal. 8

Categories
Tanya-Jawab

Sunnah Safar Dengan Teman

Sunnah Safar Dengan Teman

‘Afwan ustadz, apakah hadits yang menerangkan sunnah safar tidak sendirian shahih ustadz, syukron. [085247167XXX]

Hadits yang menerangkan tentang hal tersebut adalah shahih. Di bawah ini kami bawakan tiga buah hadits seputar permasalahan:

[1]. Ibnu Umar -radhiallohu anhuma- berkata:

نَهَى عَنِ الْوَحْدَةِ أَنْ يَبِيْتَ الرَّجُلُ وَحْدَهُ، أَوْ يُسَافِرَ وَحْدَهُ

Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- melarang menyendiri, yakni seseorang tidur malam sendiri atau pergi safar sendiri. (hadits shahih. lihat ash-Shahîhah, no. 60)

Senada dengan perkataan di atas apa yang diucapkan oleh Umar bin al-Khaththab radhiallohu anhu, ia berkata: “Janganlah seorang dari kalian safar sendirian, dan jangan pula ia tidur di rumah sendirian.”

[2]. Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda:

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ فِي الْوَحْدَةِ مَا أَعْلَمُ مَا سَارَ رَاكِبٌ بِلَيْلٍ وَحْدَه(أَبَدًا

Kalau saja manusia mengetahui dalam kesendirian sebagaimana yang aku ketahui, pasti ia tidak akan berani bepergian sendirian selamanya. (hadits shahih. lihat ash-Shahîhah, no. 61)

Categories
Fiqih Tanya-Jawab

Posisi Makmum Ketika Berdiri Sendiri

Posisi Makmum Ketika Berdiri Sendiri

Assalâmualaikum. Ana mau tanya nih, mengenai posisi makmum bila ia sendiri di shaf kedua, apa di tengah, di pojok kiri atau di pojok kanan? Syukran. [+6281276671XXX]

Wa’alaikumussalâm. Untuk menjawab pertanyaan di atas, kami akan bawakan fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz -rahimahullah- yang berkaitan dengan permasalahan tersebut.

Beliau pernah ditanya, “Apakah shaf itu dimulai dari sebelah kanan atau tepat di belakang imam? Apakah disyariatkan harus seimbang antara shaf sebelah kanan dengan sebelah kiri? Sebab sering dikatakan, “Seimbangkanlah shafnya” sebagaimana yang banyak diucapkan oleh para imam?”

Beliau -rahimahullah- menjawab: “Shaf itu dimulai dari tengah yang terdekat dengan imam, dan shaf sebelah kanan lebih utama dari pada shaf sebelah kiri, kemudian yang wajib adalah tidak dimulai shaf (baru) sehingga shaf sebelumnya terisi penuh.

Tidak mengapa orang-orang yang berada di shaf sebelah kanan lebih banyak (dari pada shaf sebelah kiri, pen), dan tidak perlu diseimbangkan. Bahkan perintah untuk menyeimbangkan antara kedua shaf tersebut adalah menyalahi sunnah.

Hanya saja tidak boleh membuat shaf kedua sebelum shaf pertama penuh, tidak pula shaf ketiga sebelum shaf kedua penuh dan demikian seterusnya untuk shaf-shaf berikutnya. Sebab ada riwayat shahih dari Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- yang memerintahkan hal ini.” [Tuhfah al-Ikhwân bi Ajwibah Muhimmah Muta’alliqah bi Arkân al-Islâm, hlm. 101, cetakan Dâr al-Khudhairi]

Categories
Aqidah

Haramnya Perdukunan

Haramnya Perdukunan,
Mendatangi, dan Membenarkannya

Dukun atau Paranormal adalah orang yang mengkabarkan tentang perkara-perkara pada masa yang akan datang dan mengaku mengetahui hal-hal yang gaib. Pada zaman dahulu, di negeri arab dukun mengaku mengetahui segala sesuatu dengan bantuan jin. (Syarh as-Sunnah, Imam al-Baghawi, jilid 12, hlm. 182)

Perdukunan di negeri kita khususnya dan di berbagai Negara pada umumnya tumbuh dengan sangat subur, mempunyai peminat yang sangat banyak dari berbagai kalangan, dari orang awam sampai kalangan yang paling terpelajar, rakyat jelata sampai pejabat. Merekapun rela berantrian dan membayar mahal untuk menemui sang dukun.

Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا هَؤُلَاءِ أَهْدَى مِنَ الَّذِينَ آَمَنُوا سَبِيلًا

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab? mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. (QS. an-Nisa: 51 )

Al-Jibt adalah sihir atau perdukunan. (Tafsîr al-Qur`ân al-Azhîm, jilid 1, hlm. 454)

Categories
Biografi

Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i –rahimahullah-

Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i –rahimahullah-
Oleh Syaikh Ali Hasan al-Halabi al-Atsari[1]

Nama & Pertumbuhan

Nama Beliau adalah Muqbil bin Hadi bin Muqbil al-Wadi’i, sedangkan kunyahnya adalah Abu Abdirrahman. Beliau berasal dari desa Dammâj di Yaman. Syaikh Muqbil –rahimahullah- tumbuh dan besar dalam keadaan yatim (ditinggal wafat oleh kedua orang tuanya).

Beliau pernah belajar di beberapa madrasah al-Qur`an yang tersebar di berbagai desa dan daerah pedalaman. Ia berhasil menghafalkan al-Qur`an di sana dan belum pernah masuk sekolah resmi sekalipun. Di samping itu, Syaikh sibuk menggembala kambing[2], aktifitas Beliau yang satu ini berperan amat besar dalam menata kepribadian Beliau, serta mendidiknya menjadi sosok manusia penyabar.

Perjalanan Menuntut Ilmu

Ketika menginjak dewasa, Beliau pindah ke Negeri al-Haramain (Saudi Arabia) untuk bekerja dan mencari rizki, sebagaimana hal ini telah menjadi kebiasaan penduduk negeri sekitar Arab Saudi pada waktu itu, yakni mereka banyak melakukan perjalanan jauh untuk mencari rizki. Dan hal ini adalah sesuatu yang disyariatkan.

Di samping bekerja di sana, pada tahun 1964 M Beliau mulai belajar mencari ilmu agama di Mekkah, sekaligus bekerja di Masjidil Haram. Sehingga, Beliau bekerja mencari nafkah di siang hari, sedangkan pada malam harinya beliau manfaatkan untu belajar mencari ilmu agama.

Tidak diragukan lagi, bahwa jerih payah menundukkan jiwa untuk menuntut ilmu agama dan bekerja mencari nafkah, yang mana keduanya adalah perkara yang penting, masing-masing ada tuntunannya dalam syariat dan merupakan bidang yang tersendiri. Maka, betapa hebatnya, apabila keduanya dapat terkumpul pada diri seseorang, mencari rizki di siang hari dan menuntut ilmu di malam hari. Sehingga, bisa jadi hal ini menjadi penyebab Beliau diberikan rizki berupa harta dan ilmu. 

Categories
Bantahan Manhaj

Ibnu Katsir -rahimahulla- Bukan Khawarij

Ibnu Katsir -rahimahullah- Bukan Khawarij

Oleh: Abu Abdirrahman bin Thoyyib

Khawarij merupakan salah satu kelompok sesat yang pertama muncul di tengah kaum muslimin. Meskipun tidak ada pada zaman ini kelompok yang bernama Khawarij, namun pemikiran mereka banyak diadopsi oleh gerakan-gerakan Islam kontemporer. Diantara ciri khas mereka adalah mengkafirkan penguasa kaum muslimin yang tidak berhukum dengan hukum Allah, secara mutlak tanpa perincian. Dan mereka berusaha untuk mencari-cari dalih dan dalil, meskipun bukan pada tempatnya, atau mereka sendiri tidak paham akan apa yang mereka sampaikan.

Diantara syubhat mereka adalah ucapan Imam Ibnu Katsir v yang berkaitan dengan tafsir surat al-Maidah ayat 50, yang secara sepintas mereka pahami, bahwa beliau secara mutlak mengkafirkan penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Allah. Padahal maksud ucapan beliau bukan seperti apa yang mereka pahami.

Imam Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata : “Allah mengingkari orang yang keluar dari hukum Allah yang muhkam (jelas), yang meliputi semua kebaikan dan yang melarang dari segala kejelekan, lalu dia condong kepada selain hukum Allah baik berupa pendapat-pendapat, hawa nafsu dan istilah-istilah yang dibuat-buat oleh tokoh-tokohnya, tanpa landasan dari syariat Allah. Sebagaimana keadaan orang-orang jahiliyah yang berhukum dengan kesesatan dan kebodohan yang mereka buat sendiri dengan akal dan hawa nafsu mereka.