Categories
Ibroh

Jangan Katakan ini Kepada Siapapun !

Jangan Katakan ini Kepada Siapapun !

Imam Yusuf bin Muhammad as-Surmurri al-Hambali -rahimahullah- (w. 776 H) berkata dalam kitab Amaali beliau dalam masalah hafalan:

“Diantara keajaiban yang ada dalam masalah menghafal dari orang yang hidup di zaman kita adalah Syaikhul Islam Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Taimiyyah. Sesungguhnya beliau pernah mendapatkan suatu kitab lalu membacanya sekali, maka terukirlah (isi kitab itu) dalam benaknya, dan ia dapat mengingatnya kembali dan mampu memindahkannya ke dalam kitab-kitab karyanya dengan lafal dan maknanya.

Di antara kejadian paling menakjubkan yang pernah aku dengar tentang dirinya adalah peristiwa yang disampaikan kepadaku oleh sebagian teman-temannya.

Ketika ia masih kecil, pada suatu hari ayah beliau ingin mengajak anak-anaknya pergi ke taman untuk bertamasya, ia berkata kepada anaknya ini: ” Ahmad, hendaknya engkau ikut pergi bersama saudara-saudaramu untuk beristirahat.”

Lalu beliau mengemukakan alasannya untuk tidak ikut serta.

Categories
Sya'ir

Menyesali Dosa-dosa Yang Berlalu Dan Bertaubat Di Tahun Baru

Menyesali Dosa-dosa Yang Berlalu
Dan Bertaubat Di Tahun Baru

قَطَعْتَ شُهُـوْرَ اْلعَـامِ لَهْـوًا وَغَفْلَةً            وَلَمْ تَحْتَـرِمْ فِيْمَـا أَتَيْتَ الْمُحَرَّمًـا
فَـلاَ رَجَـبًا وَافيْتَ فِيْـهِ بِحَـقِّـهِ                  وَلاَ صُمْتَ شَهْرَ الصَّوْمِ صَوْمًا مُتَمِّمًا
وَلاَ فِيْ لَـيَالِيْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ الَّذِيْ         مَضَى كُنْتَ قَوَّامًـا وَلاَ كُنْتَ مُحْرِمًا
فَهَلْ لَكَ أَنْ تَمْحُـوَ الذُّنُوْبَ بِعَبْـرَةٍ              وَتَبْكِي عَلَيْهَـا حَسْرَةً وَتَـنَـدُّمًـا
وَتَسْتَقْبِلَ الْعَـامَ الْجَـدِيْـدَ بِتَـوْبَـةٍ                 لَعَلَّكَ أَنْ تَمْحُـوَ بِهَـا مَـا تَقَدَّمًـا

Engkau lalui bulan-bulan setahun dengan senda gurau dan kelalaian

Dan engkau tidak memberikan penghormatan pada bulan Muharram

Demikian pula bulan Rajab haknya tidak engkau tunaikan

Dan berpuasa di bulan puasa engkau tidak sempurnakan

Tidak pula malam-malam 10 (awal) Dzulhijjah yang telah lalu

Engkau tegakkan dengan shalat dan tidak pula ihram (haji dan umrah)

Lalu, akankah engkau melebur dosa-dosa lalu dengan air mata

Dan engkau menangisinya dengan penuh kesedihan dan penyesalan

Kemudian engkau menyambut tahun baru dengan bertaubat

Mudah-mudahan semua itu dapat menghapuskan dosa yang telah lewat

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Ed 57, hal. 60

Categories
Fatawa Ragam Faedah

Nada Dering HP dengan Al-Qur'an

Nada Dering HP Dengan al-Qur’an, Doa atau Adzan

Soal:

“Apa hukumnya menjadikan nada dering HP dengan doa atau dzikir dan tidak dimatikan ketika melakukan shalat dengan hujjah bahwa nada dering itu termasuk jenis shalat?”

Jawab Syaikh Abdullah bin Ali ar-Rukban:

“Apabila seseorang akan melakukan shalat, hendaknya dia mematikan HP-nya dan hendaklah ia membuat dirinya dan orang lain merasa nyaman. Hal itu karena tindakan tersebut mengganggu, meskipun dengan dzikir atau doa, karena setiap muslim diwajibkan untuk menghadap kepada Allah dengan hatinya dan anggota badannya.

Categories
Aqidah Manhaj

Terorisme … Anak Kandung Khawarij

TERORISME … ANAK KANDUNG KHOWARIJ

Kitab Iqro’ Mashiraka Qobla an Tufajjir, Karya  Dr. Khalid bin Ali Al-Anbari. Diterjemahkan oleh Abdurrahman Hadi

Sesungguhnya kaum muslimin sekarang, hidup di zaman yang penuh dengan terjangan badai yang berhembus dari fitnah takfir, terorisme, ekstrimisme dan sikap ghuluw (berlebih-lebihan). Fitnah terorisme ini, telah menyibukkan dunia internasional, sehingga muktamar-muktamar dan konferensi-konferensi diselenggarakan untuk mempelajari dan membahas seluk beluk terorisme, akar dan sumbernya. Hanya saja, di dalam muktamar-muktamar tersebut masih terjadi perselisihan seputar pengertian (definisi) terorisme dan solusi untuk menanggulanginya.

Akan tetapi, dari definisi terorisme yang hampir mencapai titik temu, yaitu dalam hal adanya beberapa unsur, dan yang paling berbahaya adalah munculnya ancaman, suasana yang mencekam dan menakutkan, tertumpahnya darah, terbunuhnya orang-orang yang tidak bersalah, diledakkannya tempat tinggal, hancurnya sarana-sarana umum dan porak-porandanya infrastruktur dan lain sebagainya, yang ini semua termasuk hal yang disepakati kaum muslimin atas keharamannya dan merupakan tindak kriminal yang mana para pelakunya dianggap termasuk orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi.

Tidak diragukan lagi, bahwa terorisme merupakan anak kandung yang sah dari pemikiran takfir. Hal ini dapat dibuktikan dari fenomena aktivitas terorisme dan pengakuan sendiri para pelakunya. Kedurjanaan tindakan terorisme yang kita saksikan di banyak negara, hal ini sejatinya adalah buah yang ditanam cukup lama selama bertahun-tahun yang berasal dari pohon pemikiran takfir, yang mana hal ini senantiasa kita peringatkan akan bahayanya, baik malam maupun siang, baik di dalam kitab-kitab, makalah-makalah maupun dalam ceramah-ceramah, baik yang terekam maupun tidak.

Categories
Sya'ir

Dialog Antara Ilmu & Akal

Dialog Antara Ilmu dan Akal

عِلْمُ اْلعَلِيْمِ وَعَقْلُ اْلعَاقِلِ اخْتَلَفَا                مَنْ ذَا الَّذِي فِيْهِمَا قَدْ أَحْرَزَ الْشَّرَفَا

فَالْعِلْمُ قَالَ: أَنَا أَحْرَزْتُ غَايَتَهُ                 وَالْعَقْلُ قَالَ: أَنَا الرَّحْمَنُ بِي عُرِفَا

!فَأَفْصَحَ اْلعِلْمُ إِفْصَاحًا وَقَالَ لَهُ                بِأَيِّنَا اللهُ فِي قُرْآنِهِ اتَّصَفَا ؟

فَأَيْقَنَ اْلعَقْلُ أَنَّ اْلعِلْمَ سَيِّدُهُ                    فَقَبَّلَ اْلعَقْلُ رَأْسَ اْلعِلْمِ وَانْصَرَفَا

Ilmunya orang alim dan akalnya orang yang berakal berselisih

Siapakah di antara keduanya yang paling berhak mendapatkan kemuliaan?

Sang ilmu mengatakan: Sayalah yang berhak mendapatkan puncak kemuliaan

Sang akal menjawab: (Sayalah yang paling berhak) karena hanya denganku Allah bisa dikenal!

Maka ilmu menjawab dengan penuh kefasihan seraya mengatakan, dengan siapakah di antara kita yang Allah sifati dengannya dalam al-Qur`an? (Artinya, apakah Allah tersifati dengan al-‘Alim atau al-‘Aqil?)

Akalpun menyerah dan meyakini bahwa ilmu adalah tuannya, sehingga akal mencium ilmu dan berpisah.

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Ed 56 hal. 60

Categories
Fiqih Nasehat

Perbanyak Berdzikir Ketika Hujan dan Mendengar Petir

Perbanyak Berdzikir Ketika Hujan dan Mendengar Petir

Oleh: Abu Ashim

Islam adalah agama yang penuh dengan adab-adab yang mulia. Dengan mengamalkannya, seorang muslim akan mendapatkan karunia yang amat besar, diantaranya yaitu ittiba’ (mengikuti) sunnah Rasulullah  -shallallahu alaihi wa sallam-.

Pada saat-saat ini, Allah -subhanahu wa ta’ala- banyak menurunkan hujan di daerah kita. Oleh karena itu, sudah sepantasnya bagi kita bersama mengingat beberapa dzikir dan doa yang berkaitan dengan hujan. Di antaranya yaitu:

1. Berdoa ketika melihat hujan

Apabila kita melihat hujan sedang turun, maka disyariatkan untuk membaca doa:

اَللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا

Ya Allah, (jadikanlah) hujan ini adalah hujan yang bermanfaat.

Dalilnya adalah

عَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهَا – قَالَتْ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ  – صلى الله عليه وسلم –  إِذَا رَأَى نَاشِئًا فِيْ أُفُقٍ مِنْ آفَاقِ السََّمَاءِ، تَرَكَ عَمَلَهُ – وَإِنْ كَانَ فِيْ صَلاَتِهِ – ثُمَ أَقْبَلَ عَلَيْهِ، فَإِنْ كَشَفَهُ اللهُ حَمِدَ اللهُ، وَإِنْ مَطَرَتْ قَالَ : اَللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا

Dari Aisyah -radhiallahu anha- ia berkata, “Dahulu Rasulullah  -shallallahu alaihi wa sallam- apabila melihat mendung di ufuk langit, maka beliau meninggalkan aktivitasnya, meskipun dalam keadaan shalat, kemudian menghadap kepadanya. Apabila Allah menyingkapnya, maka beliau memuji-Nya dan apabila turun hujan, beliau berdoa, ‘Ya Allah jadikanlah hujan ini adalah hujan yang bermanfaat’.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, no. 530/686, Ibnu Majah, no. 3889. Lafal ini dalam al-Adab al-Mufrad. Syaikh al-Albani dalam Shahih Adab Mufrad berkata: Shahih). Lihat pula Misykat al-Mashabih, no. 1520, ash-Shahihah, no.2757)

Categories
Ragam Faedah

5 Faedah Menawan Seputar Hujan

Lima Faidah Menawan Seputar Hujan

Abu Ashim Muhtar Arifin Lc

1. Meski Doanya Minta Hujan dikabulkan, tidak belajar kepadanya

Ilmu agama adalah perkara yang dapat menentukan keadaan selamatnya seseorang di dunia dan akhirat.

Oleh karena itu, dalam memilih guru, pengajar, ustadz dan syaikh harus berhati-hati dan waspada dengan teliti. Jangan sampai keliru belajar kepada orang yang sesat atau tidak memiliki keahlian masalah ilmu agama, meskipun dia adalah orang yang shalih dan banyak beribadah. Hal itu karena dapat mendatangkan bahaya, apabila sembarangan.

Dalam sebuah riwayat Imam Malik -rahimahullah- berkata, ”Aku telah bertemu dengan segolongan kaum di negeri ini yang mana mereka sekiranya meminta hujan, tentu akan diberi hujan, dan sungguh mereka telah mendengar hadits yang banyak, tetapi aku tidak mengambil dari salah seorang di antara mereka”. (Tartiib al-Madarik wa Taqriib al-Masaalik, karya al-Qadhi Iyadh bin Musa as-Sibti, I/137)

Beliau juga berkata, ”Aku pernah melihat Ayyub as-Sikhtiyani di Mekah ketika melakukan dua kali haji, maka akupun tidak belajar dari beliau. Pada kali yang ketiga aku melihat beliau duduk di halaman air zamzam. Apabila disebut Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- di sisinya beliau menangis sampai aku mengasihani beliau. Setelah mengetahui hal itu, akupun belajar dari beliau. (Tartiib, I/139).

2. Amanah Ilmiyyah Imam al-Muzani tampak dalam menyebutkan ayat hujan.

Imam al-Muzani mengatakan, “Bab Thaharah” Imam Syafi’i berkata, “Allah -azza wa jalla- berfirman:

وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا

Dia-lah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih. (QS. al-Furqan: 48)”. (Mukhtashar al-Muzani, hlm. 1)

Categories
Hadits

Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- Mencukur Jenggot ?!

Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- Mencukur Jenggot ?!

Oleh: Abu Ashim Muhtar Arifin Marzuqi, Lc

Sebagian kaum muslimin, ketika berpendapat bolehnya mencukur jenggot mengatakan, bahwasanya ada sebuah hadits yang diriwayatkan bahwa Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- pernah mencukur jenggotnya. Benarkah demikian? Bagaimana derajat haditsnya? Bagaimana pendapat para ulama tentang masalah ini? Berikut ini penjelasan singkat dari para ulama seputar masalah ini.

SEBUAH HADITS LEMAH

Dalam hal ini ada sebuah riwayat yang berbunyi:

عَنْ عَمْرٍو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْخُذُ مِنْ لِحْيَتِهِ مِنْ عَرْضِهَا وَطُوْلِهَا

Dari Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya bahwsanya nabi -shollallahu alaihi wa sallam- dahulu memotong dari jenggotnya, dari panjangnya dan lebarnya. (HR. at-Tirmidzi)

Categories
Aqidah

Akhir dari Dunia

Akhir Dari Dunia

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menciptakan kehidupan, yang telah menciptakan bumi beserta isi nya dan yang kan menghancurkannya. Sholawat serta salam tercurahkan kepada Nabi Muhammad –shollallahu alaihi wa sallam- yang mengajarkan kita agar beriman kepada Allah dan hari akhir, dan sholawat serta salam tercurahkan kepada keluarga, sahabat dan orang-orang yang senantiasa mengikuti ajaran beliau hingga akhir dari dunia.

Fenomena akhir kehidupan di dunia merupakan suatu hal yang gaib, merupakan sesuatu yang sering dipertanyakan, mulai dari awal Islam hingga dunia benar-benar berakhir. Bahkan sebagian kelompok atau bangsa tertentu berusaha memprediksinya. Akhir kehidupan dunia atau dalam kata lain adalah hari kiamat merupakan sebuah ajaran teologi dari berbagai ajaran, agama atau aliran kepercayaan.

Baru-baru ini berusaha ditampilkan ke permukaan tentang kepercayaan sebuah suku yang tinggal di semenanjung Yucatan, Amerika Tengah yang berbatasan dengan Samudera Pasifik di sebelah barat, dan Laut Karibia di sebelah timur. Suku yang pada zaman batu mencapai kejayaan di bidang teknologinya (250 M hingga 925 M), menghasilkan bentuk karya dan peradaban unik seperti bangunan (Chichen Itza), pertanian (kanal drainase), tanaman jagung dan latex . (http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Maya)

Muncul sebuah film yang terinspirasi oleh ide peristiwa hari kiamat global yang bersamaan dengan akhir putaran Kalender Hitungan Panjang Maya pada atau sekitar 12 Desember 2012 (titik balik matahari musim dingin belahan Bumi utara). Banyak dari kalangan orang awam yang rela berantri-antrian untuk sekedar menonton film ini, di pekan pertamanya, film ini meraih USD 225 juta (sekitar Rp 2,1 triliun) di pasar domestik AS saja, film itu telah meraup USD 65 juta (Rp 609 miliar), sedangkan sisanya berasal dari pasar luar negeri dengan pendapatan USD 17,2 juta (sekitar Rp 161 miliar). Sangat begitu antusias tanggapan dunia bahkan di Indonesia terhadap film ini. Sebuah pencapaian luar biasa, bahkan mungkin tak terprediksikan sebelumnya oleh bangsa Maya yang jadi landasan cerita film itu.

Kalender Maya yang berbasis astronomi akan mencapai siklus penuhnya yang besar selama sekitar 5.200 tahun pada 21 Desember 2012. Meskipun tidak ada bukti-bukti yang kuat bahwa bangsa Maya kuno menganggap tanggal ini signifikan, banyak orang yang telah menduga bahwa inilah “akhir seluruh Jagad raya” menurut perspektif Maya, dan yang lainnya percaya bahwa bangsa Maya memaksudkannya sebagai lambang dari “datangnya perubahan besar.” (http://id.wikipedia.org/wiki/Akhir_zaman#Maya)

Itulah sebuah keyakinan dari suku maya tentang akhir dari dunia. Namun bagaimanakah kita umat Islam? Akankah kita menelan mentah-mentah kabar atau isu yang datangnya dari orang non Islam? Sebuah kepercayaan tentang hari kiamat yang didasari oleh kepercayaan sebuah suku yang bukan beragama Islam.

Categories
Sya'ir

Kembali Ke Bumi

Kembali ke Bumi

Allah Ta’ala berfirman:

مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى

Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain. (QS. Thoha: 55)

Seorang penyair berkata:

إِنَّ امْرَءًا يَصْفُوْ لَهُ عَيْـشُهُ لَغَافِلٌ عَمَّا تَجِـنُّ الْقُبُوْرُ

نَحْنُ بَنُوْ الأَرْضِ وَ سُكَّانُهَا مِنْهَا خُلِقْنَا وَإِلَيْـهَا نَصِيْرُ

Sungguh orang yang merasakan nikmatnya kehidupan

Dia tidak akan tahu apa yang ada di balik kuburan

Kami ini adalah putra bumi dan para penduduknya

Dari tanah kita diciptakan dan kepadanya dikembalikan

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Ed 55, hal. 60