Categories
Informasi

Mohon Maaf, Situs Majalah Islami Adz-Dzakhiirah Sedang dalam Perbaikan

Assalamu’alaikum warohmatullohi wabaroatuh.

Berkaitan dengan satu dan lain hal, kami selaku administrator situs Majalah Islami Adz-Dzakhiirah yang semoga senantiasa diridloi Alloh, hendak menyampaikan bahwa situs ini sedang dalam perbaikan.
Perbaikan ini berdasarakn beberapa masalah teknis yang terjadi baik di internal engine/platform situs maupun beberapa teknis lainnya.

Untuk itu, kami memohon maaf sebesar-besarnya jika terjadi kegagalan akses setelah tulisan ini diumumkan.

Menanggapi beberapa pertanyaan yang masuk dan belum sempat kita tanggapi, semoga bisa kita balas melalui edisi cetak Majalah Islami Adz-Dzakhiirah. Kami mohon kesabarannya kepada Anda untuk menunggu terjawab/diresponnya saran/pertanyaan/komentar Anda di situs ini. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Semoga kami bisa lebih baik, baik cetak maupun online.

Tentu kami tidak lupa mengharap doa dari pembaca setia Majalah Islami Adz-Dzakkhiirah mengenai kelancaran teknis situs ini, tentu saja demikian pula harapan tentang kelancaran dan keberlangsungan dakwah Majalah Islami Adz-Dzakhiirah.

Jazakumulloh khoyron.

Surabaya, 22 Syawwal 14 Syawwal 1431 / 30 September 2010

Administrator Majalah Islami Adz-Dzakhiirah

Alhamdulillah, situs Majalah Islami, adz-Dzakhiirah al-Islamiyyah telah aktif kembali.

Mohon perhatian untuk memperbaiki/mengoreksi link-link berkaitan dengan majalah adz-Dzakhirah dengan benar. Atau berikan link ke situs majalah ini agar memperkuat dakwah yang haq ini. Wallohul musta’an. Simak tulisan berikut.
Panduan dan Revisi Pertautan (Link) Majalah Islami Adz-Dzakhirah

Jazakumullohu khoiron.

Categories
Aqidah Fatawa

Nama “Syamsuddin” Bolehkah?!

Nama “Syamsuddin”, Bolehkah?! (dengan sambungan ad-Din)

Abu Ashim Muhtar Arifin

Salah satu penamaan yang banyak dipakai masyarkat adalah disandarkannya nama seseorang kepada agama, yaitu dengan menambahkan kata Din (agama). Sejak kapan penamaan seperti ini ada? Bagaimana pendapat ulama tentang hal ini? Berikut uraian ringkasnya. Semoga bermanfaat.

Asal mula penamaan yang dinisbatkan kepada Din.

Penamaan dengan laqob (gelar/julukan) yang menisbatkan kepada agama ini bukan berasal dari tiga generasi pertama dan utama, tapi terjadi setelahnya.

Ketika menjelaskan seputar laqob Ibnu Hajar al-Asqalani, as-Sakhawi mengatakan:

“Aku berkata: Pemilik biografi ini (yaitu Ibnu Hajar) telah memberi faedah –sebagiamana yang aku baca dalam tulisannya– bahwa pemberian laqob yang dinisbatkan/disandarkan kepada Din terjadi pada permulaan Dinasti Turki di Baghdad yang telah menguasai Dailam.

Dahulu, pada zaman Dailam, mereka menyandarkan laqob tersebut kepada kata Daulah (Negara). Di antara orang yang paling akhir dalam hal ini adalah Jalaluddaulah bin Buwaih (dalam manuskrip lain disebutkan: Jalaluddin bin Buwaih,). Dan orang pertama yang menjadi raja Turki adalah Tughrl Bik, lalu mereka memberinya laqob Nushrotuddin. Sejak itulah, tersebar laqob seperti ini, dan itu tidak banyak digunakan melainkan beberapa waktu setelahnya.

Categories
Aqidah

Nilai-Nilai Ketauhidan dari Surah Al-Fatihah

Nilai-Nilai Ketauhidan dari Surah Al-Fatihah

Abd Muhsin Maryono

Telah maklum bagi kita bahwa tauhid terbagi menjadi tiga. Pertama, Tauhid Uluhiyyah adalah mentauhidkan Allah dalam setiap perbuatan seorang hamba, seperti berdoa, beristghosah, menyembelih, nadzar dll. Ke dua Tauhid Rububiyyah adalah mentahidkan Allah dalam setiap perbuatan-Nya, seperti menciptakan, memberi rizki, menghidupkan, mematikan dll. Ke tiga, Tauhid Asma Wa Sifat adalah menetapkan terhadap apa-apa yang telah Allah tetapkan atas diri-Nya dan yang telah ditetapkan oleh Rasul-Nya dari nama-nama dan sifat-sifat Allah atas segi yang berkaitan dengan kesempurnaan dan ketinggian Allah, tanpa menyerupakan atau membagaimanakan, dan tanpa merubah atau meniadakan.

Pembagian tauhid menjadi tiga, terdefinisikan atas dasar pembacaan dari Nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah. Dalam uraian ringkas ini kita akan melihat bagaimana tauhid tersebut ada dalam salah satu surah dari surah-surah yang ada dalam al-Qur’an, yaitu surah pembuka, surah al-Fatihah yang telah banyak dihafal oleh kaum muslimin sedunia. Uraian ini kami nukil dari kitab Qotfu al-Jana ad-Dani Syarh Muqoddimah Risalah Ibn Abi Zaid al-Qoirawani oleh Syaikh Abdul Muhsin bin Hamad Al-Abbad Al-Badr –hafidhohullah- hal 56-58. Semoga bermanfaat.

Ayat pertama:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”

Ayat Alhamdulillahi Rabbil alamin di dalamnya tercakup atas berbagai jenis tauhid, yaitu Alhamdu liLLAH, di dalamnya terkandung tauhid uluhiyyah, karena penisbatan sebuah pujian (alhamdu) kepada Allah oleh seorang hamba adalah sebuah ibadah. Dan kata Rabbil alamin adalah penetapan tauhid rububiyyah, pada dasarnya Allah adalah Tuhan semesta alam, dan alam adalah segala sesuatu kecuali Allah, karena tidak ada di alam semesta ini kecuali pencipta dan ciptaan, dan Allah adalah Sang Pencipta, dan segala sesuatu selain San Pecipta adalah yang dicipta atau makhluk. Dan di antara nama-nama Allah adalah Ar-Rabb.

Categories
Tanya-Jawab

Mengganti Nama Setelah Dewasa

MENGGANTI NAMA SETELAH DEWASA

Assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu. ‘afwan ustadz tanya, bagaimana hukumnya mengganti nama seseorang kalau  sudah dewasa?[ +6285642329XXX]

Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokahutuh.

Segala pujian hanya milik Allah semata. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabat beliau serta siapa saja yang mengikuti jejak beliau dengan baik hingga hari akhir kelak. Amma ba’du,

Mengganti nama seseorang hukumnya adalah boleh, baik ketika masih kecil atapun setelah dewasa. Apalagi bila nama sebelumnya mengandung penyelisihan terdapat syariat. Maka itu dapat kita temui pada beberapa riwayat bahwa Nabi –shallallahu alaihi wa salam- pernah mengganti sebagian nama sahabat yang buruk atau mengandung tazkiyah (dakwaan suci) terhadap diri sendiri menjadi nama yang lebih baik dan sejalan dengan Syariat meskipun mereka telah dewasa.

MENGGANTI NAMA KETIKA MASIH KECIL

Pernah suatu ketika Nabi –shallallahu alaihi wa salam- mengganti nama seorang bayi menjadi al-Mundzir.

Dari Sahl ia berkata: al-Mundzir bin Abu Usaid dibawa ke hadapan Nabi –shallallahu alaihi wa salam- setelah ia dilahirkan. Lalu anak itu diletakkan di atas paha beliau. Sementara itu Abu Usaid (ayah anak itu, Red) duduk. Namun Nabi –shallallahu alaihi wa salam- sedang sibuk dengan sesuatu yang ada di hadapannya. Sehingga Abu Usaid memerintahkan (seseorang) untuk mengambil dan menggendong anaknya dari paha Nabi –shallallahu alaihi wa salam-.

Kemudian Nabi –shallallahu alaihi wa salam- baru tersadar dan bertanya: Mana anak tadi? Abu Usaid menjawab: Kami sudah membawanya pulang, wahai Rasulullah.

Categories
Ibroh

Kisah Taubat Seorang yang Menuduh Syaikh Muh bin Abdul Wahhab Sesat

Kisah Taubat Seorang yang Menuduh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Sesat

Abu Ashim Muhtar Arifin

Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh (wafat 1389 H) rahimahullah mengatakan:

“Aku sekarang akan menyebutkan sebuah kisah tentang Abdurrahman al-Bakri, salah seorang penduduk kota Najd.

Pada mulanya ia adalah salah seorang thalibul ‘ilmi (penuntut ilmu) yang belajar kepada pamannya, yaitu Syaikh Abdullah bin Abdullathif Alu Syaikh dan para syaikh yang lain. Kemudian beliau ingin membuka sebuah madrasah di Aman.

Di sana beliau mengajarkan tauhid dari biaya sendiri. Apabila harta yang dimilikinya telah habis, maka beliau mengambil barang dagangan dari seseorang dan pergi ke India. Terkadang beliau menghabiskan waktu selama setengah tahun di India.

Syaikh al-Bakri mengatakan:

“Aku pernah berada di sisi sebuah masjid di India. Di sana terdapat seorang guru, yang mana apabila seusai mengajar mereka melaknat Ibnu Abdul Wahhab, yakni Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Categories
Nasehat Ragam Faedah

Sunnahnya Siwak dan Bid'ahnya Dongeng

Sunnahnya Siwak dan Bid’ahnya Dongeng


Dari zaman ke zaman, para ulama salaf selalu memperingatkan kaum muslimin agar menjauhi kisah-kisah yang berisi kedustaan meskipun niatnya adalah baik yaitu untuk memperbaiki kaum muslimin dan memberi nasihat.

Hal itu karena banyak di antara para pendongeng yang tidak memperhatikan kebenaran dongengannya dan banyak juga yang menceritakan kisah-kisah yang berdasarkan pada riwayat yang lemah, palsu atau tidak ada asalnya dalam syariat dan riwayat yang benar. Oleh karena itu, pengingkaran para ulamapun selalu ada dari zaman ke zaman.

Berikut ini ada dua kisah yang diriwayatkan tentang perbandingan antara sunnahnya memakai siwak di masjid dan bid’ah mendongeng di dalamnya.

Kisah Pertama.

Ath-Thurtusyi berkata, “Abu Ma’mar berkata, ‘Aku pernah melihat Sayyar Abul Hakam bersiwak di pintu mesjid, sedangkan di dalam masjid ada seorang pendongeng yang sedang mendongeng’.”

Aku berkata kepadanya, “Wahai Abul Hakam, orang-orang memperhatikanmu”.

Categories
Sya'ir

Keyakinan Muslim Sejati

Keyakinan Muslim Sejati

dialihbahasakan dari karya Syaikh Muhammad Jamil Zainu

إِنْ كَانَ تَابِعُ أَحْمَدٍ مُتَوَهِّبًا
فَأَنَا الْمُقِرُّ بِأَنَّنِيْ وَهَّابِيْ

Jika pengikut setia Ahmad1) dijuluki WAHABI2)
Maka aku adalah seorang wahabi

أَنْفِي الشَّرِيْكَ عَنِ اْلإِلَهِ فَلَيْسَ لِيْ
رَبٌّ سِوَى الْمُتَفَرِّدِ اْلوَهَّابِ

Kutolak sekutu bagi Allah, bagiku
Tiada Ilah selain Yang Maha Tunggal AL-WAHHAB3)

لاَ قُبَةٌ تُرْجَى وَلاَ وَثَنٌ وَلاَ
قَبْرٌ لَهُ سَبَبٌ مِنَ اْلأَسْبَابِ

Bukan kubah, berhala maupun kuburan
Yang diharapkan sebagai penyebab segala sesuatu

كَلاَّ وَلاَ حَجَرٌ، وَلاَ شَجَرٌ وَلاَ
عَيْنٌ وَلاَ نُصُبٌ مِنَ اْلأَنْصَابِ

Sekali bukan tetap bukan, demikian juga
Bukan batu, pohon, mata air4) dan monumen5)

Categories
Tanya-Jawab

Menafsirkan Al-Qur'an Tanpa Ilmu

MENFASIRKAN AL-QUR`AN TANPA ILMU

Assalamu’alaikum. Ustadz, apakah shahih atsar (hadits) dari Ibnu Abbas, “Barang siapa yang berkata tentang al-Qur`an dengan akalnya atau tanpa ilmu, maka hendaknya mengambil tempat duduknya di neraka.” Shahihkah? [Abu Zaki, Pontianak, 085650900XXX]

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuhu.

Alhamdulillah washolatu wassalamu ‘ala rosulillah wa ba’du,

Ada sebuah hadits yang diriwayatkan dari jalan Abdul A’la bin Abu Amir ats-Tsa’labi dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas dari Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam-:

اِتَّقُوْا الْحَدِيْثَ عَنِّيْ إِلاَّ مَا عَلِمْتُمْ، وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّداً فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ، وَمَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Bertakwalah dalam menceritakan hadits dariku kecuali apa yang telah kalian ketahui, dan barang siapa yang berdusta atas namaku hendaklah ia mengambil tempat duduknya di neraka, dan barang siapa yang berkata tentang al-Qur`an dengan akalnya maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di neraka.

Categories
Sya'ir

Kefanaan Kian Mendekat

Kefanaan Kian Mendekat

أَيـَّا إِخْوَتِـيْ آجَـالُـنَا تَتَـقَـرَّبُ                وَنَحْنُ مَعَ اْلأَهْلِيْنَ نَلْهُـوْ وَنَلْعَـبُ

أُعَدِّدُ أَيـَّامِيْ، وَأُحْصِـيْ حِسَابَـهَا           وَمَـا غَفْلَتِيْ عَمَّا أَعُدُّ وَأَحْسِـبُ

غَدًا أَنَا مِنْ ذَا اْليَوْمِ أَدْنَى إِلَى اْلفَنـَا        وَبَعْدَ غَدٍ أَدْنَـى إِلَيْـهِ وَأَقْـرَبُ

Wahai saudaraku, ajal kita kian mendekat
Sedangkan kita bermain dan senda gurau bersama keluarga

Aku menghitung hari-hariku dan menjumlahnya dengan tepat
Dan tidaklah aku lalai dari apa yang kuhitung

Besok hari lebih dekat pada kefanaan dari hari ini
Dan besok lusa lebih dekat lagi dan lebih mendekat

[diterjemahkan dari Diwan Abul ‘Atahiyah hlm. 38, Cet. Dar Bairut]

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Ed 58 hal. 60

Categories
Tanya-Jawab

Iman Kuat Ujian Berat

IMAN KUAT UJIAN BERAT

Apa benar, iman seseorang lebih kuat, lebih besar ujiannya. [+623417575XXX]

Segala puji bagi Allah. Sholawat dan salam kepada Rasulullah, wa ba’du.

Kita semua pasti pernah mendapatkan suatu ujian, baik dengan kenikmatan maupun musibah. Dan dalam menurunkan ujian itu, Allah ta’ala membedakan tingkatannya sesuai kadar keimanan yang ada pada setiap orang, semakin kuat imannya maka semakin besar ujiannya.

Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda:

أَشَدُّ النَّاسِ بَلاَءً الأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِيْنِهِ، فَإِنْ كَانَ دِيْنُهُ صُلْباً اِشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِي دِيْنِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِيْنِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِيْ عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ

Manusia yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian orang yang semisal mereka lalu orang yang seperti mereka. Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya. Apabila agamanya kuat maka ujian baginya semakin berat. Namun bila agamanya lemah maka ia akan diuji sesuai dengan kadar agamanya tersebut. Dan ujian itu akan senantiasa menimpa seorang hamba hingga membiarkannya berjalan di muka bumi tanpa memiliki dosa sedikitpun. (at-Tirmidzi (2/64), Ibnu majah (4023), ad-Darimi (2/320), ath-Thohawi (3/61), dll. at-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih)