Kategori
Fiqih

Loyal Kepada Orang Kafir

Loyal Kepada Orang Kafir
Oleh : Syaikh Abdul Muhsin bin Nashir Alu Ubaikan

Banyak pertanyaan tentang makna dan hukum tolong menolong dengan orang-orang musyrik dan sejauh mana penerapannya dalam situasi sekarang ini.
Maka aku katakan (penulis) –dengan taufik dari Allah- : bahwasannya loyal kepada orang-orang kafir dan tolong menolong dengan mereka ada tiga bentuk:
Pertama : Loyalitas sempurna kepada orang-orang kafir secara umum dan mutlak, maka hal semacam ini merupakan kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari agama Islam, dan hal inilah yang dimaksud dengan kekufuran secara mutlak.
Dalilnya firman Allah ta’ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu), sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.” (QS. Al-Maidah: 51).
Dan firman Allah ta’ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ أَنْ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ رَبِّكُمْ إِنْ كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِي سَبِيلِي وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِي تُسِرُّونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا أَخْفَيْتُمْ وَمَا أَعْلَنْتُمْ وَمَنْ يَفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman serta yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang, padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rosul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian), kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa diantara kamu yang melakukannya. Maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. al-Mumtahanah : 1)
Ibnu Katsir –rahimahullah- berkata tentang tafsir ayat : “Allah -tabaroka wa ta’ala- melarang hamba-hamba-Nya yang beriman untuk berwala’ kepada orang-orang kafir, dan menjadikan mereka sebagai teman-teman serta dengan memberitahukan secara rahasia kepada mereka karena rasa kasih sayang dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Kemudian Allah ta’ala mengancam atas perbuatan tersebut, dengan firman-Nya:

فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً

“Maka niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah”. (QS. Ali Imran : 28). Maknanya : Barangsiapa yang terkena larangan Allah dalam hal ini, maka sungguh dia telah terlepas dari Allah. Sebagaimana firman Allah ta’ala : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman serta yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang…….” sampai firman-Nya: “Dan barangsiapa diantara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. al-Mumtahanah : 1).
Dan juga firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?” (QS. An-Nisa’ : 144), dan firman Allah ta’ala : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu), sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.” (QS. Al-Maidah : 51)
Allah ta’ala berfirman setelah menyebutkan loyalitas (kesetiaan antara) orang mukmin dari kaum Muhajirin dan Anshor dan orang-orang Arab Badui, yang berbunyi:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ

“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan dimuka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. Al-Anfal : 73)
Al-Imam Ibnu Jarir ath-Thobari –rahimahullah- berkata : “Barangsiapa melindungi orang-orang kafir dan menolong mereka untuk mencelakai orang-orang beriman, maka dia dari golongan orang-orang kafir. Sesungguhnya tidaklah dia mengambil seorangpun dari orang-orang kafir sebagai pemimpin, kecuali dia mendukungnya dan mendukung agama serta ridho terhadap apa yang ada pada diri orang kafir tesebut. Jika dia ridho dengannya maka berarti dia ridho dengan agamanya, dan memusuhi perkara-perkara yang menyelisihi orang kafir tersebut dan membencinya sehingga jadilah hukum yang berlaku pada dirinya sebagimana hukum yang berlaku pada diri orang kafir tersebut.”
Syaikh Abdul Lathif bin Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh –rahimahullah- berkata : “Sungguh as-Sunnah telah menjelaskannya dan mengikatnya serta mengkhususkannya dengan keloyalitasan yang mutlak menyeluruh.”
Syaikh Abdurrahman as-Sa’di –rahimahullah- berkata : “Kalau saja yang demikian itu adalah bentuk keloyalitasan secara sempurna, maka hal tersebut adalah kekufuran, dan selainnya dari tingkatan yang lebih keras dan dibawahnya.”
Kedua : Adapun memberikan loyalitas kepada orang-orang kafir semata-mata dalam rangka mendapatkan maslahat tertentu bagi orang yang berwala’ kepada orang-orang kafir dan memberikan pertolongan kepada mereka, bukan karena takut dan semacamnya, maka perbuatan yang demikian ini hukumnya haram dan bukanlah sesuatu kekufuran.
Dalilnya, tentang kisah Hatib bin Abi Balta’ah –radhiallohuanhu- yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan al-Muslim rohimahumallah dan juga selain dari keduanya, bahwasannya Hatib bin Abi Balta’ah menulis suatu surat untuk kaum Quraisy, yang di dalamnya mengabarkan kepada mereka tentang persiapan Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- dalam perjalanan penyerangannya ke Mekkah, dan persiapan untuk menaklukkan mekkah, yang mana Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- merahasiakan rencana tersebut untuk melancarkan serangan mendadak kepada kaum Quraisy pada yang saat itu mereka dalam keadaan tidak siap, sehingga mereka menerima perdamaian (meskipun dengan terpaksa -pent), (karena) sebenarnya Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- tidak menghendaki peperangan.
Hatib mengirimkan surat melalui budak perempuannya yang menyembunyikan surat tersebut disanggul rambutnya. Maka Allah ta’ala memberitahukan perihal tersebut kepada Nabi-Nya, sehingga beliau mengutus Ali, Zubair, dan Miqdam untuk mengikuti jejak perempun tersebut, seraya berkata : “Pergilah kalian hingga sampai di kebun Khokh, di sana ada seorang wanita yang membawa surat, ambillah surat itu darinya.”
Tatkala surat itu diberikan kepada Rasulullah, maka beliau bertanya kepada Hatib : “Ya Hatib, apa ini?”. Hatib berkata : ”Ya Rasulullah, jangan Engkau terburu-buru berburuk sangka terhadapku !!. Dahulu aku adalah orang yang berada hidup di dekat orang-orang Quraisy, namun aku bukan dari kalangan mereka. Sedangkan kaum Muhajirin yang ada bersamamu selalu memberikan pertolongan perlindungan kepada keluarga mereka yang berada di Mekkah. Oleh karena itu aku sangat ingin membantu melindungi keluargaku, meskipun aku tidak mempunyai hubungan nasab dengan mereka. Aku tidak melakukan semua ini karena kufur, murtad dari agamaku dan rela terhadap kekafiran setelah aku ini masuk Islam.
Lalu Rasulullah –shollallahu alaihi wa sallam- bersabda : “Dia telah berkata jujur kepada kalian”. Maka Umarpun meminta izin kepada Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- untuk membunuhnya, tetapi tidak diizinkan oleh beliau.
Mereka berkata (para ahli tafsir) : “Karena peristiwa tersebut turunlah firman Allah ta’ala : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka berita-berita Muhammad, karena rasa kasih sayang, padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rosul dan mengusir kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu.” (QS. Al-Mumtahanah : 1)
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata : “Perkataan di dalam kisah Hatib bin Abi Balta’ah : maka Umarpun berkata, “Ya Rasulullah, biarkanlah aku memenggal lehernya”. Umar mengatakan yang demikian, padahal Rasulullah menerima alasan-alasan yang dikemukakan oleh Hatib, hal itu dikarenakan Umar memiliki keyakinan yang kuat terhadap agama ini dan kebencian kepada orang-orang yang menisbatkan dirinya kepada kekafiran. Umar menduga, bahwa siapapun orangnya yang menyelisihi ajaran Rasulullah berhak untuk dibunuh, tetapi Umar tidak memastikan hal tersebut, oleh karena itulah dia meminta izin kepada Rasulullah untuk membunuhnya dan mengecapnya sebagai seorang munafik, karena dia (Hatib) menyembunyikan sesuatu yang menyelisihi apa yang dia tampakkan. Adapun alasan-alasan Hatib, sebagaimana yang dia sebutkan sendiri, dia berbuat demikian dalam rangka menta’wil (menafsirkan) bahwa apa yang dia perbuat tersebut tidak memberikan mudharat.
Pada jalur Imam ath-Thobari dari riwayat al-Harits bin Ali tentang kisah Hatib bin Abi Balta’ah, Rasulullah –shollallahu alaihi wa sallam- berkata : “Bukankah dia telah mengikuti perang Badar (termasuk ahli Badar) ? Umar menjawab : “Benar, tetapi dia telah melanggarnya dan membantu musuh-musuhmu atas dirimu untuk mengalahkanmu.”
Ibnu Hazm –rahimahullah- Berkata : “Adapun orang-orang muslim yang ghirahnya kuat dan bermukim di perbatasan, meminta pertolongan kepada orang-orang Musyrik al-Harbi (yang diperangi) dan memberikan (kebebasan) kepada mereka untuk membunuh kaum muslimin atau mengambil harta-harta mereka atau menawan mereka. Kalau kekuatan muslimin dominan dan orang-orang kafir hanya sebagai pengikut, maka dia binasa dalam puncak kefasikan dan tidak kafir, karena tidak ada pada dirinya sesuatu yang mewajibkan baginya (dihukumi) kafir menurut Qur’an ataupun ijma’”.
Syaikh Muhammad Rasyid Ridha –rahimahulah- berkata : “Pembuat syari’at tidak menghukumi kafir atas Hatib karena keloyalitasannya kepada orang-orang musyrik, yang mana perbuatan tersebut merupakan sesuatu yang dilarang oleh syari’at”.
Oleh karena itulah, para ahli fiqh tidak menyebutkan, bahwasannya memberikan loyalitas dan pertolongan (kepada orang-orang kafir) termasuk bagian dari kekufuran didalam bab (hukmul murtad), yang demikian itu menjadi lebih jelas bagi mereka yang menelaah kitab “al-Iqnaa’” beserta syarahnya dan kitab “al-Mughni”, dan selain kedua kitab tersbut.
Patut untuk diperhatikan, banwasannya Allah ta’ala memanggil Hatib dengan seruan iman,2 di dalam firman-Nya,” Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil…”. (QS. Al-Mumtahanah :1), hal tersebut menunjukkan bahwasanya Hatib tidaklah kufur karena perbuatannya tersebut, padahal Allah ta’ala berfirman,”…. yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang….”dan juga firman-Nya,”…….. kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang.” (QS. Al-Mumtahanah : 1)
Ketiga : Meminta pertolongan karena rasa takut kepada orang-orang kafir dan semacamnya, maka hukumnya boleh dengan syarat hanya pada dhohirnya saja tidak secara batin.
Dalilnya, firman Allah ta’ala,:

إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً

“Kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka.” (QS. Ali-Imran : 28).
Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata : “Maksudnya, kecuali bagi orang yang berada disuatu negeri dan pada waktu tertentu, merasa takut terhadap kejahatan orang-orang kafir, maka baginya diperbolehkan bersiasat kepada mereka secara lahiriyah saja dan tidak secara bathin, sebagaimana imam Bukhari meriwayatkan dari Abu ad-Darda’, dia mengatakan, “Sesungguhnya kami menampakkan wajah cerah kepada beberapa orang kafir sedangkan hati kami melaknat mereka.” (HR. Bukhari, lihat Kitab Adab)
Syaikh Muhammad Rasyid Ridha berkata : “Dia menganggap orang-orang yang mengatakan tentang agama ini tanpa ilmu, dan menafsirkan al-Qur’an dengan pendapat hawa nafsunya, bahwasannya ayat (ali Imron) dan yang semakna dengannya merupakan larangan secara umum dan khusus, seperti firman Allah ta’ala,” Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu), sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.” (QS. Al-Maidah : 51), menunjukkan bahwasannya tidak boleh bagi kaum muslimin untuk mengadakan perjanjian atau kesepakatan dengan selain mereka, meskipun perjanjian atau kesepakatan demi kemaslahatan mereka (kaum muslimin). (Sebab pendapat seperti ini adalah mungkin) luput bagi mereka, bahwa Nabi –shollahu alaihi wa sallam- pernah mengadakan perjanjian dengan bani Khuza’ah, sedangkan mereka berada di atas kesyirikan.
Bahkan sebagian dari mereka yang ghirahnya sangat tinggi terhadap agama ini namun diatas kejahilan, menduga bahwasannya tidak boleh bagi seorang muslim untuk bermuamalah dengan baik kepada selain muslim atau bergaul dengan mereka atau memberikan kepercayaan dalam suatu urusan kepada mereka”.
Dan Rasyid Ridho juga berkata, ”Atas dasar ini, (maka) boleh bagi penguasa kaum muslimin untuk mengadakan perjanjian dengan negara-negara non muslim, demi kemaslahatan kaum muslimin dalam rangka menolak mudharat dan mendatangkan manfaat.”
Kapanpun ada pemberian loyalitas dan pertolongan kepada orang-orang kafir, maka bagi yang akan menvonis pelakunya hendaknya dilihat dahulu jenis loyalitasnya, dan dia harus takut kepada Allah serta tidak tergesa-gesa dalam menghukumi, juga selayaknya baginya untuk mengetahui hakekat perkara yang sebenarnya dan hal-hal yang tersembunyi. Maka wara’ (sikap berhati-hati) dari memakan yang haram dan mengerjakan yang mungkar, tidaklah lebih utama dari tindakan mengeluarkan seorang muslim dari agama Islam.
Berfatwa dalam permasalahan umum sepeti ini, yang berkaitan dengan hubungan antar negara dan penguasa, bukanlah menjadi wewenang setiap para penuntut ilmu. Akan tetapi merupakan kekhususan para ulama besar, yang mana mereka berhubungan dengan para penguasa dan mengetahui hakekat permasalahan. Yang sering terjadi, senantiasa perkara-perkara yang tersebar berbeda dengan kenyataan yang masih samar-samar.
Maka seorang mufti ibarat seorang dokter yang pada awalnya mendiagnosa atau menganalisa suatu penyakit, kemudian memberikan obatnya. Adapun sebagian mufti, mereka ibarat apoteker yang mana mereka memiliki ilmu tentang nash-nash (al-Qur’an dan as-Sunnah) akan tetapi mereka tidak mampu mengaplikasikan nash-nash tersebut pada keadaan yang ada, sebagaimana fatwa-fatwa perorangan di dalam perkara-perkara yang sifatnya umum dan luas, berakibat pada perbedaan dan perselisihan fatwa-fatwa tersebut, yang kemudian berdampak kepada perselisihan umat dan perpecahannya, serta melepaskan ketaatan (memberontak) pada waktu umat sangat membutuhkan persatuan dan kesatuan kalimat.
Barangsiapa mengamati keadaan Nabi –shollahu alaihi wa sallam- bersama orang musyrikin serta muamalah beliau dengan mereka, maka jelaslah baginya makna nash-nash tersebut dan pemeliharaan maslahat di dalamnya serta beliau sangat memperhitungkan penolakan kerusakan. Tatkala Nabi –shollahu alaihi wa sallam- mengadakan perdamaian dengan musyrikin Quraisy di Hudaibiyyah selama 10 tahun, artinya beliau membiarkan mereka untuk tinggal di Mekkah diatas kesyirikan dan menodai Baitullah dengan kesyirikan dan penyembahan berhala.
Di dalam shahih al-Bukhari ada pembahasan tentang perdamaian Hudaibiyah “Maka tatkala Suhail (bin ‘Amr) menolak dan (tetap diatas pendiriannya) akhirnya Rasulullah menetapkan (keputusan tersebut), maka beliau mengembalikan Abu Jandal bin Suhail saat itu juga kepada bapaknya yakni Suhail bin ‘Amr. Sejak saat itu, tidaklah seorangpun datang kepada Rasulullah –shollahu alaihi wa sallam- kecuali beliau mengembalikannya saat itu juga, sekalipun dia seorang muslim”.
Seandainya ada seorang penguasa setelah wafatnya Rasulullah –shollahu alaihi wa sallam- yang melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah –shollahu alaihi wa sallam- dengan mengembalikan kaum muslimin dan menyerahkannya kepada orang-orang kafir, maka tentulah sekelompok orang yang menisbatkan dirinya kepada ilmu akan menghukumi penguasa tersebut sebagai orang kafir lagi murtad !!!
Nasehatku (penulis) bagi kaum muslimin pada umumnya, dan para penuntut ilmu khususnya, agar menghindari sebab-sebab perpecahan diantara kaum muslimin, karena kondisi yang demikian akan dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam yang selalu mengawasi dan mengintai. Merupakan suatu keharusan bagi kaum muslimin agar berusaha mengerahkan segala kemampuannya untuk menyatukan kalimat dan barisan. Allah ta’ala berfirman, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai”. (QS. Ali Imran : 103). Dan bersabda Rasulullah –shollahu alaihi wa sallam-, “Bila datang kepadamu seorang yang hendak mematahkan tongkatmu (memecah-belah persatuan kalian) dan memisahkan jama’ah kalian, sedangkan kamu bersatu dibawah satu pimpinan, maka bunuhlah dia siapapun orangnya”. (HR. Muslim)
Para ahli fiqh dan ulama robbani, mereka sangat berhati-hati dalam mengeluarkan fatwa-fatwa (berkaitan dengan) kaidah-kaidah syar’iyyah, seperti kaidah, “Mendatangkan maslahat dan memaksimalkannya serta mencegah kerusakan dan meminimalkannya”. Begitu juga dengan kaidah “(Mengambil) mafsadat yang paling ringan (diantara dua mafsadat) untuk mencegah kerusakan yang lebih besar”.
Kita memohon kepada Allah ta’ala agar mengumpulkan seluruh kaum muslimin dan menyatukan barisan mereka diatas kebenaran serta menolong mereka atas musuh-musuhnya. Dan (juga) memuliakan agama-Nya serta meninggikan kalimat-Nya. Sesungguhnya Allah ta’ala Maha Penolong dan Maha Mampu akan hal itu.
Semoga sholawat serta salam atas Nabi kita Muhammad beserta keluarga dan pengikutnya.

(Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 28 hal. 15-20)

Tinggalkan Balasan