Kategori
Biografi

Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i –rahimahullah-

Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i –rahimahullah-
Oleh Syaikh Ali Hasan al-Halabi al-Atsari[1]

Nama & Pertumbuhan

Nama Beliau adalah Muqbil bin Hadi bin Muqbil al-Wadi’i, sedangkan kunyahnya adalah Abu Abdirrahman. Beliau berasal dari desa Dammâj di Yaman. Syaikh Muqbil –rahimahullah- tumbuh dan besar dalam keadaan yatim (ditinggal wafat oleh kedua orang tuanya).

Beliau pernah belajar di beberapa madrasah al-Qur`an yang tersebar di berbagai desa dan daerah pedalaman. Ia berhasil menghafalkan al-Qur`an di sana dan belum pernah masuk sekolah resmi sekalipun. Di samping itu, Syaikh sibuk menggembala kambing[2], aktifitas Beliau yang satu ini berperan amat besar dalam menata kepribadian Beliau, serta mendidiknya menjadi sosok manusia penyabar.

Perjalanan Menuntut Ilmu

Ketika menginjak dewasa, Beliau pindah ke Negeri al-Haramain (Saudi Arabia) untuk bekerja dan mencari rizki, sebagaimana hal ini telah menjadi kebiasaan penduduk negeri sekitar Arab Saudi pada waktu itu, yakni mereka banyak melakukan perjalanan jauh untuk mencari rizki. Dan hal ini adalah sesuatu yang disyariatkan.

Di samping bekerja di sana, pada tahun 1964 M Beliau mulai belajar mencari ilmu agama di Mekkah, sekaligus bekerja di Masjidil Haram. Sehingga, Beliau bekerja mencari nafkah di siang hari, sedangkan pada malam harinya beliau manfaatkan untu belajar mencari ilmu agama.

Tidak diragukan lagi, bahwa jerih payah menundukkan jiwa untuk menuntut ilmu agama dan bekerja mencari nafkah, yang mana keduanya adalah perkara yang penting, masing-masing ada tuntunannya dalam syariat dan merupakan bidang yang tersendiri. Maka, betapa hebatnya, apabila keduanya dapat terkumpul pada diri seseorang, mencari rizki di siang hari dan menuntut ilmu di malam hari. Sehingga, bisa jadi hal ini menjadi penyebab Beliau diberikan rizki berupa harta dan ilmu. 

Kategori
Biografi

Syaikh Ali Bin Hasan al-Halabi al-Atsari

Biografi Singkat

Syaikh Ali Bin Hasan al-Halabi al-Atsari حفظه الله

Oleh: Muhammad Sulhan Jauhari


“Para ulama dan imam agama ini senantiasa menjelaskan tipu daya setan dan memperingatkan umat dari kesesatan. Oleh sebab itu mereka menulis karya-karya tulisan, sehingga dapat dipetik faedahnya oleh generasi dahulu dan akan diambil oleh generasi yang akan datang”[1].

Nasab

Beliau adalah seorang Syaikh salafi, pengarang kitab-kitab manhaj dan peneliti kitab-kitab ilmiah, nasab Beliau adalah Ali bin Hasan bin Ali bin Abdulhamid, Abul Harits, penisbatan Beliau adalah al-Halabi, adapun tempat hijrahnya adalah Yordania.

Ayah dan kakek Syaikh Ali hijrah dari kota Yafa, Palestina menuju Yordania pada tahun 1368 H (1948 M), karena adanya peperangan yang dikobarkan oleh zionis Yahudi.

Tempat & Tahun Kelahiran

Syaikh Ali al-Halabi dilahirkan di kota az-Zarqâ’ Yordania pada tanggal 29 Jumadil Ula tahun 1380 H.

Pendidikan

Syaikh berhasil menyelesaikan jenjang pendidikan tingkat atas dengan sukses pada tahun 1398 H (1978 M). Kemudian Beliau melanjutkan pendidikannya ke fakultas Bahasa Arab di Amman, untuk mempelajari cabang ilmu bisnis dan akuntansi, akan tetapi Allah tidak menakdirkan kepada Beliau untuk menyelesaikan kuliahnya tersebut.

Guru

Syaikh memulai menuntut ilmu agama sekitar seperempat abad yang lalu. Dan Beliau mengambil ilmu ini dari banyak guru. Berikut diantara guru Beliau yang terkemuka:

Kategori
Biografi

Mengenal Syaikh Abdul Aziz Bin Baaz

Mengenal Syaikh Abdul Aziz Bin Baaz -rahimahullah-

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat serta salam atas Nabi kita Muhammad, keluarga dan seluruh para sahabat beliau.

Allah ta’ala berfirman :

“Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah, lalu kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya?” (QS. Ar-Radd : 41)

Atha’ -rahimahullah- berkata : “Makna ayat ini : “lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya”, adalah kematian para ulamanya”.

Ibnu Abdil Bar -rahimahullah- berkata : “Pendapat Atha’ dalam menafsirkan ayat ini sangat baik, para ulama menyepakatinya”.

Dan kematian seorang ahli ilmu (ulama) merupakan bencana bagi Islam dan lebih besar pengaruhnya bagi umat daripada ketiadaan pangan dan minuman yang menimpa mereka, karena umat membutuhkan ilmu setiap waktu, sedangkan pangan dan minuman hanya dibutuhkan sekali atau dua kali dalam sehari.

Dan kematian para ulama adalah sebab terangkatnya ilmu syariat, sebagaimana sabda Nabi :

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِعِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu begitu saja dari manusia, akan tetapi Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, hingga jika tidak tersisa lagi seorang ulama, manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin, lalu mereka ditanya dan berfatwa tanpa ilmu, maka mereka pun sesat dan menyesatkan”. (HR. Bukhari dalam kitabul ilmi)

Ya Allah selamatkanlah agama kami yang merupakan pokok urusan kami …
Dan berilah kami pahala dari musibah yang menimpa kami, dan berilah ganti yang lebih baik darinya…amin

Kategori
Biografi

Mahmud Syukri al-Alusi

Abu al-Ma’ali Mahmud Syukri al-Alusi
1273-1342 H.

Nama dan Nasab

Nama lengkap beliau Abu al-Ma’ali Jamaluddin bin as-Sayid Abdullah Baharuddin bin Muhammad al-Khathib al-Alusi al-Baghdadi al-Husaini.
Jika ditinjau dari nasab/keturunannya, beliau adalah keturunan Imam al-Husain bin Ali bin Abi Thalib -radhialluhu anhuma-. Dilahirkan di kota Baghdad di rumah kakek beliau 19 Ramadhan 1273 H bertepatan denga tanggal 12 Mei 1856 M.

Pada nama beliau ada kata al-Alusi yang menunjukkan bahwa beliau berasal dari keluarga yang berintisab kepada al-Alusiyah, yang dinisbatkan kepada Alus (ألوس). Pendapat inilah yang dikuatkan oleh al-‘Alâmah Muhammad Bahjah al-Atsari dalam kitab A’lâm al-‘Irâq, hlm. 7.

Alusi adalah sebuah daerah dekat sungai Eufrat, Irak. Keluarga Alusi adalah penduduk asli kota Baghdad. Mereka berpindah disebabkan berkobarnya fitnah dan peperangan yang terjadi di Baghdad pada akhir tahun 111 H. Dan pada akhir abad 12 H, kakek beliau kembali ke Baghdad dan menetap di negeri tersebut. 

Kategori
Biografi

Figur Ulama Ahlus Sunnah

Figur Ulama Ahlus Sunnah
Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin -rahimahullah-

Musibah menimpa umat Islam, dimana sejumlah ulama terkemuka meninggal dunia dalam waktu yang berdekatan, seperti Syaikh bin baz, Syaikh al-Albani dan Syaikh Utsaimin. Mereka bertiga adalah lambang dakwah salafiyyah pada zaman ini.

Dakwah salafiyah pun menangis atas kepergian mereka ke alam baka, sedangkan kaum muslimin mengantarkan jenazah mereka ke liang lahat dan berdoa dengan berendah diri pada-Nya, agar Dia memberikan ganti dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka berikan pada umat ini.

Berikut ini, akan kami sajikan kisah kehidupan salah seorang dari mereka, yaitu Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin -rahimahullah-, seorang ulama yang hidup dalam lingkungan beragama dan berdakwah mengajak ke jalan-Nya. Beliau adalah sosok ulama yang mengamalkan ilmu dan mendidik umat.

Hampir 74 tahun, beliau habiskan usia beliau untuk menuntut ilmu, mengajarkan dan menyebarkan kebaikan. Karena itulah timbul rasa cinta pada beliau, hingga berbondong-bondong kaum muslimin keluar mengantarkan jenazah beliau di hari wafatnya. Inilah dia kemuliaan hakiki yang beliau peroleh tanpa pernah mengeluarkan uang untuk mendapatkannya, namun karena ilmu, amal dan akhlak beliau.

Kategori
Biografi

Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi

Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi  -rahimahullah-
Penulis kitab Tafsir Adhwa’ al-Bayan

“Amma ba’du, tatkala kami mengetahui bahwa mayoritas masyarakat yang mengaku sebagai kaum muslimin dewasa ini berpaling dari kitabullah dan melemparkannya ke belakang punggung mereka, tidak mengharapkan janji Allah dan tidak takut akan ancaman-Nya, maka kami mengatahui, bahwa hal tersebut merupakan faktor yang dapat mendorong seorang yang telah Allah berikan kepadanya ilmu akan kitab-Nya, untuk mengarahkan semangatnya yang tinggi demi berkhidmah kepada kitab-Nya, menjelaskan makna-maknanya, menampakkan keindahan-keindahannya, menerangkan kesulitan yang ada padanya, menjelaskan hukum-hukumnya, serta mengajak manusia untuk mengamalkannya dan meninggalkan segala sesuatu yang bertolak-belakang dengan kitab itu”.(1)

Nama dan Nasab
Nama beliau adalah Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar bin Abdul Qadir al-Jakni asy-Syinqithi -rahimahullah-.
Jika terus diruntut, maka nasab Kabilah beliau akan sampai ke daerah Himyar di Yaman.