Categories
INFO DAN DOWNLOAD BUKU

Meraih keutamaan 4 kalimat mulia

 

4 kalimat zikir yang bermanfaat, silakan download meraih-fadhilah-4-kalimat-mulia

 

 

 

Categories
Informasi Manhaj

Ahlul Bait dalam Pandangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah

AHLU BAIT DALAM PANDANGAN AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH

 oleh : Ust. Abu Abdillah Fadlan Fahamsyah, Lc. M.H.I

(Dosen STAI Ali bin Abi Thalib Suarabaya)


Segala puji hanya milik Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan dari-Nya, memohon ampunan kepada-Nya, dan kita bertaubat kepada-Nya. Kita pun berlindung kepada Allah dari keburukan-keburukan jiwa, dan dari kejelekan-kejelekan perbuatan kita. Barangsiapa yang Allah berikan petunjuk kepadanya, maka tidak ada seorang pun yang mampu menyesatkannya. Dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada seorang pun yang mampu memberikan petunjuk kepadanya.

Semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada nabi kita Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, para sahabatnya dan orang-orang yang senantiasa mengikuti jalannya sampai yaumil qiyamah. Amma ba’du.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِى أَهْلِ بَيْتِى

“Aku ingatkan kalian kepada Allah akan hak-hak ahli baitku (keluargaku).” (HR. Muslim no. 6378)

Bertolak dari hadits inilah, kami goreskan pena ini untuk mengenal lebih jauh siapakah ahli bait nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Agar dengannya kita bisa lebih mencintai mereka, menyelami kehidupan mereka dan meneladani budi pekerti mereka.

A.      SIAPAKAH AHLU BAIT NABI shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Yang dimaksud ahli bait dalam pandangan Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah semua kerabat nabi yang diharamkan atas mereka untuk menerima sedekah, mereka adalah para istri nabi dan anak cucu beliau, dan setiap muslim dan muslimah yang berasal dari nasab keturunan bani Hasyim dan bani Muththalib.

Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al-Badr hafidzahullah berkata:

القولُ الصَّحِيْحُ فِيْ المُرَادِ بِآلِ بَيْتِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – هُمْ مَنَ تَحْرُمُ عَلَيْهِمْ الصَّدَقَةُ، وَهُمْ أزوَاجُهُ وَذُرِّيَّتُهُ، وَكُلُّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ مِنْ نَسْلِ عَبْدِ الْمُطَّلِبْ، وَهُمْ بنُوْ هَاشِمِ بْنِ عَبْدِ مَنَافٍ

“Pendapat yang shahih tentang maksud dari ahli bait nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mereka (kerabat nabi) yang diharamkan memakan harta sedekah, yaitu para istri nabi dan anak cucu beliau, dan setiap muslim laki-laki maupun wanita dari keturunan Abdul Muththalib, mereka adalah anak keturunan Hasyim bin Abdi Manaf.”[1]

Sebagian para ulama, di antaranya al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah menambahkan bani Muththalib[2] (saudaranya Hasyim) ke dalam ahli bait karena bani Hasyim dan bani Muththalib itu satu (tidak terpisahkan baik di kala jahiliyah maupun Islam).[3]

Al-Imam Muslim rahimahullah menulis sebuah bab dalam kitab shahih beliau:

“بَابُ تَحْرِيمِ الزَّكَاةِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- وَعَلَى آلِهِ وَهُمْ بَنُوْ هَاشِمٍ وَبَنُوْ الْمُطَّلِبِ دُوْنَ غَيْرِهِمْ”

“Bab: Tentang haramnya zakat untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para keluarganya yaitu Banu Hasyim dan Banu Muththalib, tidak diharamkan selain mereka.”[4]

Dari keterangan di atas bisa diperinci bahwa ahli bait nabi adalah sebagai berikut:

1.     Istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Adapun nama istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam pendapat yang masyhur adalah sebagai berikut:

1). Khadijah binti Khuwailid

2). Saudah binti Zam’ah

3). Aisyah binti Abu Bakar ash-Siddiq

4). Hafshah binti Umar bin Khaththab

5). Zainab binti Khuzaimah

6). Ummu Salamah Hindun Binti Abi Umayyah

7). Zainab binti Jahsy

8). Juwairiyyah binti al-Harits

9). Shafiyah binti Huyay Bin Akhthab

10). Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan

11). Maimunah binti al-Harits al-Hilaliyyah[5] radhiyallahu ‘anhunna jami’an

 

Di antara dalil yang menunjukkan bahwa istri-istri nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk Ahli bait adalah Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِير

“Dan hendaklah kalian (para isteri nabi) tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, hai ahlul bait dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.” (QS. al-Ahzab [33]: 33)

 

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Dan tidak ada keraguan bagi orang yang mentadabburi al-Qur’an, bahwa istri-istri rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam termasuk dalam Firman Allah ta’ala di atas.”[6]

2.     Putra-putri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Putra-putri Rasulullah shallallahu ‘‘alaihi wa sallam ada tujuh orang, tiga laki-laki dan empat perempuan:

1). Al-Qasim, dari nama inilah nabi dipanggil kunyahnya, sehingga nabi dipanggil dengan sebutan Abul Qasim.

2). Abdullah, beliau diberi julukan at-Thahir dan at-Thayyib.

3). Ibrahim, beliau adalah anak nabi yang paling kecil.

4). Zainab

5). Ruqayyah

6). Ummu Kultsum

7). Fathimah

Semua anak-anak nabi lahir dari rahim Khadijah kecuali Ibrahim, beliau terlahir dari budak nabi Mariyah al-Qibtiyyah semoga Allah meridhai mereka semua.[7]

3.     Cucu-cucu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dari putri-putri beliau, rasulullah mempunyai beberapa cucu, yaitu:

1). Umamah (anak Zainab binti rasul dengan suaminya Abil Ash bin Rabi’)

2). Ali (anak Zainab binti Rasulullah dengan suaminya Abil Ash bin Rabi’), meninggal waktu kecil.

3). Abdullah (anak Ruqayyah binti rasulullah dengan suaminya Utsman bin Affan)

4). Hasan (anak Fathimah binti rasulullah dengan suaminya Ali bin Abi Thalib) dan keturunannya.

5). Husain (anak Fathimah binti rasulullah dengan suaminya Ali bin Abi Thalib) dan keturunannya.[8]

6). Muhsin (anak Fathimah binti rasulullah dengan suaminya Ali bin Abi Thalib), meninggal waktu kecil.

7). Ummu Kultsum (anak Fathimah binti rasulullah dengan suaminya Ali bin Abi Thalib

8). Zainab (anak Fathimah binti rasulullah dengan suaminya Ali bin Abi Thalib)[9] radhiyallahu anhum jami’an

4.       Keturunan bani Hasyim

Keturunan bani Hasyim sangatlah banyak, di antaranya adalah:

  1. Hamzah bin Abdul Muththalib bin Hasyim dan keturunannya, di antaranya tiga orang anaknya yaitu Ya’la, ‘Imarah, dan Umamah
  2. Abbas bin Abdul Muththalib bin Hasyim dan keturunannya, di antaranya Abdullah ibnu Abbas dan Fadhl bin Abbas
  3. Keturunan Harits bin Abdul Muththalib bin Hasyim, seperti Abu Sufyan bin al-Harits dan keturunannya.
  4. Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muththalib bin Hasyim, dan keturunannya meskipun selain dari rahim Fathimah seperti Muhammad bin al-Hanafiyah.
  5. Ja’far bin Abi Thalib bin Abdul Muththalib bin Hasyim, dan keturunannya, seperti: Muhammad, Aun dan Abdullah bin Ja’far.
  6. Aqil bin Abi Thalib bin Abdul Muththalib bin Hasyim, dan keturunannya.
  7. Keluarga Abu Lahab bin Abdul Muththalib bin Hasyim yang masuk Islam, seperti anaknya abu Lahab yang bernama: Utbah dan Mut’ib beserta keturunannya.
  8. Shafiyyah bin Abdul Muththalib bin Hasyim. Radhiyallahu ‘anhum jami’an
  9. Dan lain-lain.[10]

Adapun dalil yang menunjukkan bahwa anak-anak dari paman-paman nabi (keturunan Bani Hasyim) termasuk Ahli Bait, adalah riwayat yang mengatakan bahwa rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata di hadapan cucu al-Harits bin Abdul Muththalib bin Hasyim dan juga Fadhl bin al-Abbas bin Abdul Muththalib bin Hasyim:

إِنَّ اَلصَّدَقَةَ لَا تَنْبَغِي لِآلِ مُحَمَّدٍ، إِنَّمَا هِيَ أَوْسَاخُ اَلنَّاسِ

“Sesungguhnya sedekah tidak pantas untuk keluarga Muhammad, karena ia adalah kotoran harta manusia.” (HR. Muslim: 1072)

5.       Keturunan bani al-Muththalib.

Semua keturunan al-Muththalib yang masuk Islam adalah ahli bait, di antaranya adalah Ubaidah bin al-Harits bin al-Muththalib,[11] beliau gugur setelah perang Badr semoga Allah meridhai beliau-.

Termasuk juga Imam asy-Syafi’i rahimahullah, karena beliau adalah keturunan bani Muththalib, nama lengkap beliau adalah: Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin As-Saib bin Ubaid bin Abdu Yazid bin Hasyim bin al-Muththalib bin Abdu Manaf bin Qushay. [12]

Ahlu bait menurut syiah:

Adapun ahli bait menurut syiah, maka mereka berseberangan dengan pendapat Ahlus Sunnah di atas, mereka membatasi bahwa yang dimaksud dengan ahli bait kenabian hanya empat orang, yaitu: Ali, Fathimah, Hasan dan Husain, adapun selain dari empat orang tersebut, maka mereka mengeluarkannya dari ahli bait nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan mereka juga mempunyai pendapat ekstrim yaitu mengeluarkan anak-anak Ali sendiri yang bukan dari Fathimah, seperti Muhammad ibnul Hanafiyah. Bahkan yang lebih ekstrim lagi, mereka mengeluarkan tiga anak perempuan nabi selain Fathimah, yaitu Zainab, Ummu Kultsum dan Ruqayyah radhiyallahu ‘anhunna. Begitu juga suami-suami mereka dan anak-anak mereka. Semua tidak mereka anggap sebagai ahlu bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.[13]

B.       SIKAP AHLUS SUNNAH TERHADAP AHLU BAIT

Ahlus Sunnah wal Jamaah sangat mencintai ahlu bait dan memuliakan mereka, karena mencintai mereka adalah bagian dari kecintaan terhadap rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

“Sesungguhnya Ahlus Sunnah mencintai keluarga nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, menjaga wasiat beliau kepada mereka, sebagaimana yang beliau katakan pada hari Ghadir Khum: ‘Aku ingatkan kalian (agar memuliakan) ahli baitku’, dan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berkata kepada pamannya al-Abbas radhiyallahu ‘anhu ketika ia mengeluhkan sikap Quraisy yang meremehkan Bani Hasyim, beliau berkata: ‘Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, mereka tidak beriman sampai mereka mencintai kalian (ahli baitku)….’ Ahlus Sunnah juga loyal (setia) kepada istri-istri rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka adalah ibu orang-orang yang beriman dan mereka adalah istri-istri nabi di dunia dan akhirat.”[14]

 Meskipun Ahlus Sunnah mencintai dan memuliakan ahli bait, akan tetapi Ahlus Sunnah tidak melampaui batas dan ghuluw (ekstrim) dalam mencintai mereka, Ahlus Sunnah mencintai ahlu bait selama mereka mengikuti sunnah rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berada di jalan yang lurus, Ahlus Sunnah berlepas diri dari mereka jika menyimpang dari agama, meskipun mereka adalah ahli bait -apalagi yang hanya mengaku-ngaku menjadi ahli bait-, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا عَبَّاسُ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ لاَ أُغْنِيْ عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا يَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ رَسُولِ اللَّهِ لاَ أُغْنِيْ عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِيْنِيْ مَا شِئْتِ لاَ أُغْنِيْ عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا

“Wahai Abbas bin Abdil Muththalib (paman nabi), sedikitpun aku tidak bisa memberikan manfaat kepadamu di hadapan Allah, wahai Shafiyyah bibi rasulullah sedikitpun aku tidak bisa memberikan manfaat kepadamu di hadapan Allah, wahai Fathimah binti Muhammad mintalah hartaku sesuka hatimu, tapi sedikitpun aku tidak bisa memberikan manfaat kepadamu di hadapan Allah.” (HR. Bukhari: 2753)

C.       Sikap Syiah Terhadap Ahli Bait

Adapun sikap Syiah kepada ahlu bait dan imam-imam yang mereka anggap keturunan Ali radhiyallahu ‘anhu, mereka percaya bahwa semuanya terhindar dari dosa (ma’sum), bahkan mereka percaya bahwa imam-imam mereka lebih mulia dari pada para nabi dan rasul ‘alaihimussalam, dan lebih mulia dari para malaikat terdekat ‘alaihimussalam.

Hal ini sebagaimana yang diungkapkan al-Khumaini dalam kitabnya Wilayatul Faqih: “Di antara pokok-pokok madzhab kami adalah bahwasanya tidak ada seorang pun yang mendapatkan kedudukan manawiyah ruhiyah yang dimiliki oleh para imam-imam kami, meskipun malaikat yang dekat dan nabi yang diutus.”[15]

D.      KEUTAMAAN AHLI BAIT

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِير

“Dan hendaklah kalian (para isteri nabi) tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, hai ahlul bait dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.” (QS. al-Ahzab [33]: 33)

 

Ayat di atas menunjukkan betapa sayangnya Allah subhanahu wa ta’ala kepada para istri nabi (keluarga nabi), sehingga Allah ‘azza wa jalla ingin menjadikan mereka terhindar dari fitnah dan dosa.

Isteri seseorang adalah merupakan bagian dari keluarganya. Sebagaimana ketika Allah ta’ala menceritakan tentang keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

قَالُوا أَتَعْجَبِيْنَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ رَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

“Para malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlul bait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” (QS. Hud [11]: 73)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berwasiat di hadapan para sahabat sekembalinya beliau dari haji wada’, di sebuah tempat antara Makkah dan Madinah yang bernama Ghadir Khum, beliau bersabda:

أَمَّا بَعْدُ أَلَا أَيُّهَا النَّاسُ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ يُوْشِكُ أَنْ يَأْتِيَ رَسُولُ رَبِّيْ فَأُجِيْبَ وَأَنَا تَارِكٌ فِيْكُمْ ثَقَلَيْنِ أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللَّهِ فِيْهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوْا بِكِتَابِ اللَّهِ وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ. فَحَثَّ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ وَرَغَّبَ فِيْهِ ثُمَّ قَالَ وَأَهْلُ بَيْتِيْ أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِيْ أَهْلِ بَيْتِيْ أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِيْ أَهْلِ بَيْتِيْ أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِيْ أَهْلِ بَيْتِيْ.

Amma ba’du; Ketahuilah wahai para manusia! Sesungguhnya aku adalah seorang manusia, bisa jadi sudah dekat kedatangan utusan Rabbku, lalu aku menjawabnya. Dan aku tinggalkan di antara kalian dua perkara; pertama; Kitabullah (al-Qur’an). Di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, maka ambillah dan berpegang teguhlah dengannya.” (Perawi berkata): maka beliau memotivasi dan menganjurkan untuk berpegang teguh dengannya. Kemudian Nabi Sallallahu ‘alaihi Wa Sallam berkata: “Dan yang kedua keluargaku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang (hak-hak) keluargaku. Beliau mengulangnya tiga kali.” (HR. Muslim no. 6378)

Dalam hadits di atas nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan kepada para sahabat bahwa ajal beliau sudah sangat dekat sehingga beliau menyampaikan wasiat ini, hal ini menunjukkan juga bahwa dua hal yang diwasiatkan oleh rasulullah di atas sangatlah penting dan harus ditunaikan oleh umatnya. Yaitu berpegang teguh dengan al-Qur’an kitabullah dan menunaikan hak-hak ahli bait (keluarga nabi).

E.       PARA SALAF DAN AHLI BAIT

Para salaf dari kalangan para sahabat dan generasi sesudahnya sangat mencintai dan memuliakan ahli bait.

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah mencantumkan riwayat dalam kitabnya al-Bidayah wan Nihayah: “Dahulu ketika Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu, bertemu dengan al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma (cucu nabi) dan Abdullah bin Zubair radhiyallahu ‘anhuma, maka beliau berkata kepada al-Hasan: ‘Marhaban wa ahlan untuk cucu rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam’, kemudian beliau memberikan kepada al-Hasan tiga ratus ribu (dinar), kemudian beliau berkata kepada Abdullah bin Zubair: ‘Marhaban wa ahlan untuk anak dari bibinya rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam’, kemudian beliau memberikan kepadanya seratus ribu (dinar).”[16]

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah Berkata kepada Abdullah bin Hasan bin Husain radhiyallahu ‘anhum “Jika engkau ada kebutuhan, maka kirimkanlah surat kepadaku! Sesungguhnya aku malu kepada Allah bila Ia melihat engkau (berdiri) di depan pintu rumahku. Tidak ada di muka bumi ini keluarga yang lebih aku cintai daripada kalian. Sungguh kalian lebih aku cintai dari pada keluargaku sendiri.”[17]

Sengaja kami cantumkan di sini perkataan Muawiyah radhiyallahu ‘anhu dan Umar bin Abdul Aziz rahimahullah untuk membantah prasangka buruk yang senantiasa dituduhkan oleh sekelompok orang terhadap keluarga Bani Umayyah, bahwa mereka memusuhi atau membenci ahlul bait.

F.       ULAMA’ AHLUS SUNNAH DAN AHLI BAIT

Para ulama Ahlus Sunnah sangat mencintai ahli bait dan memuliakan mereka, berikut kami cantumkan beberapa nukilan dari mereka:

Al-Imam Abu Bakar Muhammad bin Husain al-Ajurri rahimahullah berkata:

وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ مَحَبَّةُ أَهْلِ بَيْتِ رَسُوْلِ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، بَنُوْ هَاشِمْ: عَلِيُّ بْنُ أَبِيْ طَالِبٍ وَوَلَدُهُ وَذُرِّيَّتُهُ، وَفَاطِمَةُ وَوَلَدُهَا وَذُرِّيَّتُهَا، وَالْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ وَأَوْلَادُهُمَا وَذُرِّيَّتُهُمَا، وَجَعْفَرُ الطَّيَّارُ وَوَلَدُهُ وَذُرِّيَّتُهُ، وَحَمْزَةُ وَوَلَدُهُ، وَالْعَبَّاسُ وَوَلَدُهُ وَذُرِّيَّتُهُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ، هَؤُلَاءِ أَهْلُ بَيْتِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، وَاجِبٌ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ مَحَبَّتُهُمْ وَإِكْرَامُهُمْ

“Diwajibkan atas setiap orang mukmin laki-laki dan orang mukmin perempuan mencintai keluarga (ahlul bait) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu: Bani Hasyim; Ali bin Abi Thalib beserta anak dan cucu-cucunya, Fathimah beserta anak dan cucu-cucunya, Hasan dan Husain beserta anak dan cucu-cucunya, Ja’far ath-Thayyaar beserta anak dan cucu-cucunya, Hamzah beserta anak dan cucu-cucunya, Abbas beserta anak dan cucu-cucunya. Mereka itulah keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diwajibkan atas orang-orang muslim untuk mencintai dan memuliakan mereka.”[18]

Al-Imam as-Sa’di rahimahullah berkata: “Mencintai Ahli bait hukumnya wajib karena beberapa sebab, yang pertama: karena keislaman, keutamaan dan dahulunya mereka masuk Islam, kedua: karena mereka adalah kerabat nabi dan senasab dengan beliau, ketiga: karena nabi memerintahkan kita mencintai dan memuliakan mereka.[19]

Begitulah para ulama Ahlus Sunnah, mereka sangat mencintai dan memuliakan ahli bait nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

G.      Penutup

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kita di antara orang-orang yang mencintai keluarga nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum, dan semoga Allah mengumpulkan kita bersama mereka di surga-Nya kelak. Amin ya Rabbal alamin.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ… وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

.

REFERENSI:

  1. 1.   Fadhl Ahli Bait wa Uluwwi Makanatihi, Abdul Muhsin bin Hamd al-Badr (Riyadh: Dar Ibn Atsir, 1422 H)
  2. 2.   Ar-Rahiq al-Makhtum, Shafiyurrahman al-Mubarakfuri (al-Manshurah: Dar el-Wafa’, 1425 H)
  3. 3.   Zadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibad, Ibnu Qoyyim al-Jauziyah (Beirut: Muassasah ar-Risalah, 1415 H)
  4. 4.   As-Syiah wa Ahlu Bait, Dr. Ihsan Ilahi Dzahir (Lahore: Idarah Turjuman as-Sunnah), hal: 25-26
  5. 5.   Al-Aqidah al-Wasitiyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Dar Ibnu al-Jauzi)
  6. 6.   At-Tanbihat al-Lathifah fiima Ihtawat ‘Alaihi al-Wasitiyah, karya Imam Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di (Riyadh: Dar at-Tayyibah: 1414 H), Maktabah Syamilah.
  7. 7.   Al-Isti’ab fi Ma’rifati al-Ashhab, Ibnu Abdil Barr
  8. 8.   Dan kitab-kitab lainnya.

 


[1] Fadhl Ahli Bait wa Uluwwi Makanatihi, Abdul Muhsin bin Hamd al-Badr hafidzahullah (Riyadh: Dar Ibn Atsir, 1422) hal: 7. Bandingkan juga dengan yang dikatakan Syaikh Shalih Fauzan hafidzahullah dalam Aqidah at-Tauhid, Dar al-Qasim hal: 162.

[2] Muththalib di sini bukanlah Abdul Muththalib, akan tetapi Muththalib di sini adalah saudaranya Hasyim, sedang Hasyim punya anak namanya Abdul Muththalib, sehingga Muththalib adalah pamannya Abdul Muththalib…sebenarnya Abdi Manaf mempunyai anak empat: Hasyim, Muththalib, Novel dan Abd Syams, akan tetapi yang masuk ahli bait di antara mereka hanyalah anak keturunan Hasyim dan anak keturunan Muththalib saja.

[3] Fadhl Ahli Bait wa Uluwwi Makanatihi, Abdul Muhsin bin Hamd al-Badr, hal: 7.

[4] Lihat Shahih Muslim, 3/177 cet. Dar al-Jil, Beirut.

[5] Ar-Rahiq al-Makhtum, Shafiyurrahman Mubarakfuri (al-Manshurah: Dar el-Wafa’, 1425 H), hal: 406-407.

[6] Tafsir al-Qur’an al-Azhim, al-Imam Ibnu Katsir (Dar al-Thayyibah): 6/415.

[7] Zadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibad, Ibnu Qoyyim al-Jauziyah (Beirut: Muassasah ar-Risalah, 1415 H), 1/103

[8] Maksudnya Hasan dan Husain beserta anak keturunannya adalah ahli bait, karena bapak mereka berdua adalah Ali bin Abi Thalib seorang keturunan dari bani Hasyim, berbeda dengan menantu-menantu nabi yang lain yang bukan dari bani Hasyim.

[9] Semua cucu-cucu nabi dari anak-anak perempuan beliau, karena semua anak laki-laki nabi meninggal di usia kecil.

[10] Bani Hasyim di sini sangatlah banyak, yang mana di dalamnya mencakup paman-paman dan bibi-bibi nabi beserta anak keturunan mereka, akan tetapi yang dikatakan ahli bait adalah yang masuk Islam di antara mereka. Kami mencantumkan nama-nama di atas dari berbagai kitab-kitab siroh, dan untuk mengetahui nama-nama bani Abdul Muththalib bin Hayim, di antaranya silahkan lihat kitab: Zadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibad, Ibnu Qoyyim al-Jauziyah (Beirut: Muassasah ar-Risalah, 1415 H), 1/104-105.

[11] Lihat: al-Isti’ab fi Ma’rifati al-Ashhab, Ibn Abdil Barr: 2/99.

[12] Siyar A’lamin Nubala’ karya al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah, 10/5-6, dan Tahdzibul Asma’ wal Lughat karya al-Imam an-Nawawi rahimahullah, 1/44.

[13] Pembahasan ini telah kami bahas panjang lebar pada majalah kita edisi 66, vol. 8 hal. 12 tahun 1432 H/2010.

[14] Al-Aqidah al-Wasitiyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Dar Ibnu al-Jauzi, hal: 188.

[15] Wilayat al-Faqih, al-Khumaini cet. Teheran, hal: 57. Lihat juga as-Syiah wa Ahl Bait Dr. Ihsan Ilahi Dzahir (Lahore: Idarah Turjuman as-Sunnah), hal: 25-26.

[16] Al-Bidayah wan Nihayah, al-Imam abul Fida’ Ibnu Katsir : 8/146.

[17] (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dalam “Thabaqaat Al Kubra”: 5/333-334).

[18] Lihat: asy-Syari’ah, karya al-Imam al-Ajurri : 3/3.

[19] Lihat: At-Tanbihat al-Lathifah fiima Ihtawat ‘Alaihi al-Wasithiyah, karya Imam Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di (Riyadh: Dar at-Tayyibah: 1414 H), Maktabah Syamilah. hal. 102.

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah adz Dzakhiirah al Isalmiyyah Edisi 86 Vol.10 No.08 Th. 1435 H/ 2014 M)

Categories
Informasi Manhaj

Syiah dan Ahlul Bait

SYI’AH DAN AHLU  BAIT

Oleh: Abu Abdillah Fadlan Fahamsyah, Lc. M.H.I
(Dosen STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya)

Syi’ah adalah firqoh sesat yang jauh menyimpang dari ajaran Islam, mereka adalah sejelek-jelek manusia yang mengklaim bahwa mereka menyintai sebaik-baik manusia (ahlu bait). Tetapi itu hanyalah sebatas pengakuan atau omong kosong yang selalu mereka nyanyikan, dibalik itu mereka menyembunyikan niat busuk, rencana jahat, makar, pengkhianatan terhadap Islam, dan penghinaan terhadap sahabat Nabi, kemudian mereka memolesnya dan menutupinya dengan “kecintaan terhadap ahlu bait” atau dengan kata lain “Syi’ah membajak nama ahlu bait.”

SIAPAKAH  AHLU BAIT?  

Ahlu bait menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah keluarga Nabi Muhammad  yang diharamkan atas mereka untuk memakan shodaqoh, di antaranya adalah keluarga Ali, Ja’far, Aqil, al-Abbas, anak-anak al-Harits bin Abdil Muththolib dan seluruh istri-istri Rosululloh  dan juga anak-anak perempuan belilau.[1]

Adapun dalil yang menunjukkan bahwa istri-istri Rosululloh  termasuk ahlu bait adalah firman Alloh Ta’ala:

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ

Sesungguhnya Alloh bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS. al-Ahzab: 33)

Imam Ibnu Katsir v berkata, “Dan tidak ada keraguan bagi orang yang mentadabburi al-Qur’an bahwa istri-istri Rosululloh  termasuk dalam firman Alloh di atas. Hal itu didukung oleh konteks kalimat, sehingga Alloh mengatakan sesudahnya:

Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Alloh dan Hikmah (sunnah Nabimu). (QS. al-Ahzab: 33)

Artinya, dan ingatlah (wahai istri-istri nabi) apa saja yang dibacakan dirumah kalian berupa ayat-ayat Alloh dan hikmah[2].

Adapun dalil yang menunjukkan bahwa anakanak dari paman-paman Rosul termasuk ahlu bait, adalah riwayat yang mengatakan bahwa Rosululloh  pernah berkata dihadapan cucu al-Harits bin Abdul Muththolib dan juga al-Fadhl bin al-Abbas:

إِنَّ الصَّدَقَةَ لاَ تَنْبَغِي لآلِ مُحَمَّدٍ، إِنَّمَا هِيَ أَوْسَاخُ النَّاسِ

Sesungguhnya shodaqoh tidak pantas untuk keluarga Muhammad, karena ia adalah kotoran manusia.[3]

Sebagian ulama juga ada yang memasukkan Bani Muththolib dalam ahlu bait, karena Bani Hasyim dan Bani Muththolib syai’un wahid (keluarga yang satu).[4]

Adapun Syi’ah berpendapat kebalikan dari hal di atas. Mereka membatasi bahwa yang dimaksud dengan ahlu bait kenabian hanya empat orang, yaitu: Ali, Fathimah, Hasan dan Husain. Selain dari empat orang tersebut mereka keluarkan dari ahlu bait Nabi. Bahkan mereka juga mempunyai pendapat yang ekstrim yaitu mengeluarkan anak-anak Ali sendiri yang bukan dari Fathimah, seperti Muhammad Ibnul Hanafiyah. Bahkan yang lebih ekstrim lagi, mereka mengeluarkan tiga anak perempuan Rosululloh  selain Fathimah, yaitu Zainab, Ummu Kultsum dan Ruqoyyah radliyAllohu ‘anhunna. Begitu juga suami-suami mereka dan anak-anak mereka. Semua tidak mereka anggap sebagai ahlu bait Nabi.[5]

SIKAP AHLUS SUNNAH DAN SYI’AH TERHADAP AHL BAIT

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah  berkata, “Sesungguhnya Ahlus Sunnah mencintai keluarga Nabi, loyal kepada mereka, menjaga wasiat beliau kepada mereka, sebagaimana yang beliau katakan pada hari ghodir ghum:  ‘Aku ingatkan kalian (agar memuliakan)  ahlu baitku.’ Dan Rosululloh  juga berkata kepada al-Abbas ketika dia mengeluhkan sikap Quraisy yang meremehkan Bani Hasyim, beliau berkata, ‘Demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya, sesungguhnya mereka tidak beriman sampai mereka menyintai kalian (ahlu bait)….’ Ahlus Sunnah juga loyal kepada istri-istri Rosululloh , mereka adalah ibu-ibu orang-orang yang beriman, dan mereka adalah istri-istri Rosululloh di dunia dan di akhirat.[6]

Ahlus Sunnah menyintai ahlu bait dan memuliakan mereka, karena mencintai mereka adalah bagian dari kecintaan kepada Rosul, meskipun demikian Ahlus Sunnah tidak melampaui batas dan ghuluw dalam mencintai mereka. Ahlus Sunnah mencintai ahlu bait selama mereka mengikuti sunnah Rosululloh  dan berada di jalan yang lurus, dan Ahlus Sunnah berlepas diri dari mereka jika mereka menyimpang dari agama, meskipun mereka adalah ahlu bait. Karena Rosululloh  bersabda:

وَيَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِيْنِيْ مَا شِئْتِ مِنْ مَالِي لاَ أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا

Wahai Fathimah putri Muhammad mintalah hartaku sesuka hatimu, tapi sedikitpun aku tidak bisa memberikan manfaat kepadamu di hadapan Alloh.[7]

Adapun sikap Syi’ah kepada ahlu bait dan imam-imam yang mereka anggap keturuna Ali , mereka percaya semuanya terhindar dari dosa (ma’shum), bahkan mereka percaya bahwa imam-imam mereka lebih mulia dari pada para Nabi dan Rosul, dan lebih mulia dari pada para malaikat yang terdekat.

Hal itu sebagaimana yang diungkapkan al-Khumainy dalam kitabnya Wilayatul Faqih: Di antara pokok-pokok madzhab kami adalah bahwasanya tidak ada seorangpun yang mendapatkan kedudukan ma’nawiyah ruhiyah yang dimiliki oleh para imam-imam kami, meskipun malaikat yang dekat dan Rosul yang diutus.[8]

              

PERTENTANGAN ANTARA SYI’AH DAN AHLU BAIT

Syi’ah yang mengklaim mencintai ahlu bait ternyata mereka banyak menyelisihi ahlu bait, maka kecintaan mereka hanyalah sebatas pengakuan dan bukan kenyataan. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan penyair:


لَوْ كَانَ حُبُّكَ صَادِقاً لأَطَعْتَهُ

إِنَّ الْمُحِبَّ لِمَنْ يُحِبُّ مُطِيْعُ

Jika benar cintamu itu sejati, pasti engkau akan menaatinya

Sesungguhnya pecinta menaati sang kekasih

Di antara pertentangan antara Syi’ah dan ahlu bait adalah bahwasanya ahlu bait mencintai para sahabat Nabi. Berbeda halnya dengan Syi’ah Rofidhoh mereka melecehkan, menghina, bahkan mengkafirkan mayoritas sahabat Nabi.

Di antara bukti bahwa ahlu bait mencintai sahabat Nabi adalah perkataan Ali bin Abi Tholib , -imam yang mereka anggap ma’shum- beliau berkata ketika berada di atas mimbar kufah, “Sebaik-baik umat ini sesudah Nabinya adalah Abu Bakar dan Umar.”[9]

Beliau juga berkata, “Aku sering mendengar Rosululloh  bersabda, ‘Aku pergi bersama Abu Bakar dan Umar, aku masuk bersama Abu Bakar dan Umar, aku keluar bersama Abu Bakar dan Umar’.[10]

Hal ini menunjukkan bahwa Ali  memuji Abu Bakar dan Umar karena kedekatannya dengan Rosululloh .

Diriwayatkn pula bahwa beliau berkata, “Sungguh aku lihat semua sahabat Muhammad , tidak seorangpun dari kalian yang bisa menyamai mereka, mereka berambut kusut dan berdebu (karena berjuang di medan laga), berjaga di tengah malam untuk bersujud dan berdiri sholat malam, di kening dan kedua pipi mereka selalu kelihatan kegesitan bekerja, kening-kening mereka menebal karena lama sujud, apabila mereka mengingat Alloh maka mengalirlah air mata mereka sampai membasahi baju mereka.[11]        

Diriwayatkan dari Majlisi[12] dari ath-Thusi, tentang Ali bin Abi Tholib, bahwa beliau mengatakan kepada sahabat-sahabat beliau: “Saya wasiatkan kamu tentang sahabat-sahabat Rosululloh, jangan kamu mencaci mereka, karena mereka adalah sahabat Nabimu, mereka tidak pernah mengadakan dalam agama sedikit pun, tidak pernah membenarkan ahlu bid’ah. Ya demikianlah Rosululloh mewasiatkan kepada saya tentang mereka.[13]

Demikianlah sikap ahlu bait terhadap sahabat-sahabat Rosululloh, mereka mencintai dan menghormati mereka, dan masih banyak lagi nukilan-nukilan dari ahlu bait yang menunjukkan kecintaan mereka kepada para sahabat yang tidak mungkin kita cantumkan semua di makalah ini.

Adapun Syi’ah, mereka mencela, menghina bahkan mengkafirkan para sahabat, dan ini adalah salah satu  bentuk pembangkangan dan pengkhianatan terhadap ahlu bait  yang mana mereka menghormati para sahabat.

Hal ini sebagaimana yang dikatakan ‘Bukhori’ mereka yaitu Muhammad Ya’qub al-Kulany, dia berkata, “Semua manusia sepeninggal Rosululloh  telah murtad keculi 3 orang, yaitu al-Miqdad, Abu Dzar aL-Ghifary, dan Salman al-Farisy.”[14]

Dan di antara pertentangan Syi’ah terhadap ahlu bait adalah mereka mencela dan melaknat 3 Khulafaur Rosyidin Abu Bakar, Umar, dan Utsman g, kemudian  menyifati mereka dengan berhala, murtad dan merampas kekholifaan Ali. Hal itu sebagaimana yang diungkapkan dedengkot mereka Muhammad Kazhim, ia membawa riwayat palsu atas nama Ali Zainal Abidin bahwa beliau berkata, “Siapa yang melaknat al-jibt/berhala (Abu Bakar) dan ath-thoghut (Umar) sekali laknat, maka dia akan mendapatkan 70.000 atau beribu-ribu kebaikan ….”[15]  Semoga Alloh melaknat orang yang melaknat para sahabat Nabi .

 

KEDUSTAAN SYI’AH ATAS NAMA AHLU BAIT

Di antara kedustaan Syi’ah yang mereka sandarkan ke ahlu bait adalah

1. Mut’ah

    Mereka menisbatkan perbuatan keji dan dosa ini kepada Rosululloh . Katanya beliau bersabda, “Barangsiapa meninggal dunia tanpa nikah mut’ah, maka kelak dia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan terpotong hidungnya.”[16]

2. Memamerkan kemaluan

Bersamaan dengan mut’ah, kaum Syi’ah membolehkan memamerkan kemaluan kepada orang lain. Yang demikian itu sebagaimana yang mereka riwayatkan dari Abul Hasan ath-Thori’, bahwa ia berkata, “Aku bertanya kepada Abu Abdillah   tentang seorang perempuan yang memperlihatkan kemaluannya, maka dia menjawab, ‘Tidak mengapa’.”[17]

3. Nikah tanpa wali

Kaum Syi’ah meriwayatkan secara dusta bahwa Ja’far berkata, “Tidak mengapa seorang perawan menikah tanpa izin kedua orang tuanya jika ia ridho.”[18]

4. Celaan ahlu bait terhadap para sahabat.

Kaum Syi’ah banyak meriwayatkan hadits-hadits palsu yang mereka nisbatkan kepada ahlu bait tentang celaan mereka terhadap para sahabat, di antaranya adalah yang mereka riwayatkan dari Ali Zainal Abidin bahwa baliau berkata, “Dan kami Bani Hasyim memerintahkan orang-orang tua dan anak-anak kecil kami untuk mencaci maki Abu Bakar dan Umar serta berlepas diri dari keduanya.”[19]

Dan masih banyak lagi kedustaan-kedustaan Syi’ah yang disandarkan kepada ahlu bait.[20]

 

PENGHINAAN SYI’AH TERHADAP AHLU BAIT

Syi’ah yang telah mendakwahkan diri, bahwa mereka mencintai dan mendukung ahlu bait ternyata mereka mencela dan merendahkan ahlu bait. Berikut ini kami nukilkan ucapan-ucapan mereka dari kitab-kitab mereka sendiri.[21]

  1. 1.       Syi’ah merendahkan putri-putri Rosululloh .

Ahli sejarah Syi’ah Hasan al-Amin –semoga Alloh memburukkannya– berkata, “Para ahli sejarah menyebutkan bahwa Rosululloh  mempunyai empat putri, tetapi setelah kami teliti kembali berdasarkan teks-teks sejarah, kami tidak menjumpai dalil yang menunjukkan bahwa mereka adalah putri-putri Rosululloh  kecuali Fathimah az-Zahro, adapun selain beliau adalah anak-anak Khadijah dari suaminya yang pertama.[22]

  1. 2.       Syi’ah merendahkan Ali .

Mereka menyifati Ali sebagai seorang penakut dan lemah yang tidak bisa mempertahankan miliknya, mereka mengatakan bahwa Ali sebenarnya tidak rela menikahkan Ummu Kultsum –anaknya– dengan Umar, tetapi karena dia takut kepada Umar maka dia akhirnya mewakilkan al-Abbas pamannya untuk menikahkan putrinya tersebut dengan Umar.[23]

  1. 3.       Syi’ah menghina Fathimah

Kaum Syi’ah merendahkan Fathimah dengan menyandarkan kepada beliau perbuatan-perbuatan yang tidak layak dilakukan oleh seorang muslimah manapun. Di antaranya adalah mereka mengatakan bahwa Fathimah pernah mendatangi Abu Bakar dan Umar untuk menyelesaikan kasus fada’, kemudian terjadi pertengkaran di antara mereka, sehingga Fathimah mengoceh, dan (mengumpat) serta berteriak-teriak di tengah-tengah manusia.[24]

Demikianlah mereka merendahkan Fathimah, dan masih banyak lagi cerita-cerita bohong lainnya yang mereka sandarkan kepada beliau.

  1. 4.       Syi’ah merendahkan Hasan .

Ketika Ali  terbunuh, kaum Syi’ah mengangkat dan mendukung Hasan menjadi kholifah, tetapi belum lama menjadi kholifah kaum Syi’ah sudah mengkhianati dan menghinakan beliau. Hal ini diakui oleh ahli sejarah mereka ath-Thobrisy, dia mengatakan dalam kitabnya al-Ihtijaj, Hasan berkata, “Demi Alloh aku melihat Mu’awiyah lebih baik dari pada Syi’ah yang mengaku mendukungku, mereka menginginkan kematianku dan ingin mengambil hartaku, sesungguhnya berdamai dengan Mu’awiyah untuk menjaga darahku dan keluargaku itu lebih baik dari pada kaum Syi’ah membunuhku dan menyia-nyiakan ahlu baitku.”[25]

5. Syi’ah merendahkan Husain .

Para ahli hadits Syi’ah mengatakan: Sesungguhnya Fathimah membenci untuk mengandung Husain, dan karena kebencian ibunya ini, Husain tidak mau menyusu kepada Fathimah.[26]

 

SIKAP AHLU BAIT TERHADAP SYI’AH ROFIDHOH

Imam-imam ahlu bait seperti Ahlus Sunnah lainnya dalam menyikapi Syi’ah, mereka mengingkari dengan keras akan kesesatan akidah mereka, dan kedustaan-kedustaan yang mereka nisbatkan kepada diri mereka. Berikut akan kami nukilkan perkataan-perkataan para imam ahlu bait dalam mencela Syi’ah Rofidhoh.[27]

1. Ali bin Abi Tholib .

Beliau berkata:

لاَ يُفَضِّلُنِي أَحَدٌ عَلَى أَبِي بَكْرٍ وَعُمَر إِلاَّ جَلَدْتُهُ حَدَّ الْمُفْتَرِي

“Tidaklah seseorang melebihkan diriku atas syaikhoini (Abu Bakar dan Umar) melainkan aku cambuk dia sebagai hukuman bagi pendusta.”[28]

2. Al-Hasan bin Ali  .

Diriwayatkan dari Amr bin A’shom, dia berkata kepada al-Hasan, “Sesungguhnya kaum Syi’ah menyangka bahwa Ali diutus sebelum hari kiamat, kemudian beliau menjawab, ‘Mereka berdusta, demi Alloh mereka bukanlah pengikut kami’.”[29]

3. Al-Husain  bin Ali  .

Beliau berkata kepada kaum Syi’ah yang ada di Irak setelah mereka menyuruh beliau untuk pindah ke Irak untuk dibaiat dan dijanjikan pertolongan, tetapi mereka mengingkari janji dan bahkan menyerahkan beliau ke tangan musuhnya, beliau berkata, “Ya Alloh sesungguhnjya ahlu Irak menipuku dan mengkhianatiku, dan sebelumnya mereka juga berbuat kejahatan kepada saudaraku (Hasan). Ya Alloh cerai beraikanlah mereka.”[30]

4. Ali bin al-Husain bin Ali .

Diriwayatkan secara shohih bahwa beliau berkata, “Wahai penduduk Irak (kaum Syi’ah) cintailah kami secara Islam dan janganlah kalian mencintai kami seperti kecintaan terhadap berhala, kalau kalian senantiasa mencintai kami dengan cara seperi ini, maka itu menjadi celaan bagi kami.”[31]

5. Muhammad bin Ali al-Baqir .

Beliau berkata, “Semua keturunan Fathimah telah sepakat bahwa mereka tidak berkata tentang Abu Bakar dan Umar kecuali dengan sebaik-baik perkataan.”

Diriwayatkan pula bahwa beliau berkata, “Sesungguhnya kaum Syi’ah di Irak mengira bahwa mereka mencintai kami ahlu bait, kemudian mereka mencela dan menghina Abu Bakar dan Umar , dan mereka mengira bahwa aku menyuruh mereka untuk melakukan itu, maka kabarkan kepada mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka, dan Alloh pun berlepas diri dari mereka. Demi Alloh jika aku mempunyai kekuasaan, aku akan mendekatkan diriku kepada Alloh dengan menumpahkan darah-darah mereka, sesungguhnya aku tidak akan mendapatkan syafaat Muhammad  jika aku tidak mendoakan kebaikan untuk mereka berdua (Abu Bakar dan Umar ).”[32]

6. Zaid bin Ali .

Beliau berkata, “Abu Bakar adalah imam bagi orang-orang yang bersyukur, berlepas diri dari Abu Bakar dan Umar berarti berlepas diri dari Ali radhiyAllohu ‘anhum jami’an.”[33]

7. Ja’far bin Muhammad .

Beliau ditanya tentang Abu Bakar dan Umar, maka beliau berkata, “Dukunglah (cintailah) keduanya dan berlepas dirilah dari musuh-musuhnya, mereka berdua adalah imamul huda. Apakah ada orang yang mencela kakeknya? Sesungguhnya Abu Bakar adalah kakekku, aku tidak akan mendapatkan syafaat Muhammad  jika aku tidak loyal kepada keduanya dan berlepas diri dari musuh-musuhnya.”[34]

Dalam riwayat yang lain beliau mengatakan, “Kalian menanyakan kepadaku tentang dua orang yang telah merasakan manisnya buah surga.”[35]

Riwayat-riwayat di atas yang kami nukilkan dari para imam ahlu bait merupakan bantahan telak terhadap kaum Syi’ah yang telah mengkafirkan dan melecehkan Abu Bakar dan Umar . Semoga Alloh meridhoi para sahabat Nabi , dan membinasakan dengan segera kaum Syi’ah Rofidhoh di dunia dan akhirat. Amiin wAllohu a’lam.


[1] Aqidah at-Tawhid oleh asy-Syaikh DR. Soleh bin Fauzan, cet. Darul Qosim, hal. 162.

[2] Tafsir Ibnu Katsir, cet. Dar el-Taybah, Juz 6, hal, 415.

[3] HR. Muslim no. 1072

[4] Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah al-Imam asy-Syafi’i dan Imam Ahmad, lihat Fadhlu Ahlul Bait wa

‘Uluum ’Inda Ahlis Sunnah oleh asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad.

[5] Untuk memperjelas masalah ini silahkan anda lihat kitab asy-Syi’ah wa Ahlul Bait oleh DR. Ihsan Ilahi Zhohir yang diterbitkan oleh Idaroh Turjumanu el-Sunnah, Lahore-Pakistan. Beliau adalah salah seorang ulama dari Pakistan  yang  sangat gigih dalam menyingkap rahasia dan kebohongan Syi’ah, beliau membantahnya melalui kitab-kitab ulama Syi’ah sendiri, hingga perjuangannya ini mengakibatkan beliau dibunuh oleh kelompok Syi’ah. Semoga Alloh merahmati beliau dan membinasakan Syi’ah Rofidhoh

[6] Al-Aqidah al-Washithiyah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah hal. 188, cet. Dar Ibnu el-Jauzi.

[7]  HR. Bukhori no. 2753.

[8] Lihat Wilayatul Faqih oleh al-Khumainy, dalam bab Wilayat Takwin, hal. 57 cet, Teheran. Dan perkataan senada juga sering di ungkpkan pembesar dan ulama-ulama Syi’ah yang lain seperti Muhammad bin Hasan al-Masyghory, al-Kulany, al-Qumy dan lain-lainnya, lihat kitab asy-Syi’ah wa Ahlu Bait, hal. 25-26, oleh DR. Ihsan Ilahi Zhohir yang diterbitkan oleh Idaroh Turjumanu el-Sunnah, Lahore-Pakistan.

[9] Di riwayatkan Imam Ahmad dalam al-Musnad 1/106 dan di shohihkan al-Albani dalam Zhilalul Jannah. Dan diriwayatkan pula oleh al-Lalka’i 7/1366.

[10] Hal ini menujukkan kedekatan Rosululloh dengan Abu Bakar dan Umar. Hadits ini di riwayatkan al-Bukhori 3685. Dan Muslim 2389 dalam manaqib atau keutamaan Umar.

[11] Lihat Nahjul Balaghoh, hal. 143, cet. Dar el-Kutub Beirut 1387 H.

[12]Al-Majlisi adalah Mulla Muhammad Baqir al-Majlisi, pemimpin Syi’ah yang paling keras permusuhannya terhadap sunnah dan Ahlus Sunnah, binasa pada tahun 1110 H.

[13] Hayatul Qulub oleh al-Majlisi, juz 11, hal. 261, kami nukil dari kitab Syi’ah wa Ahlu Bait oleh DR. Ihsan Ilahi Zhohir yang diterbitkan oleh Idaroh Turjumanu el-Sunnah, Lahore-Pakistan, hal. 36.

[14]  Kitab ar-Raudhoh minal Kafy, juz 8, hal. 245, hal senada dikatakan pula oleh al-Majlisi dalam kitabnya Hayatul Qulub oleh al-Majlisi, juz 1, hal. 640, kami nukil dari kitab Syi’ah wa Ahlu Bait oleh DR. Ihsan Ilahi Zhohir yang diterbitkan oleh Idaroh Turjumanu el-Sunnah, Lahore-Pakistan, hal. 42-43.

[15] `Ajmaul Fadhoih Mula Kazhim: Dhiya’ush Sholihin, hal. 513, lihat asy-Syi’ah wa Ahlu Bait, hal. 140.

[16] Kitab Syi’ah: Tafsir Minhajush Shodiqin, oleh al-Kasyani, juz 2, hal. 48.

[17] Lihat kitab Syi’ah wa Ahlu Bait oleh DR. Ihsan Ilahi Zhohir, hal. 203, beliau menukil dari kitab al-Istibshor oleh at-Thufi, juz 3, hal. 141.

[18] Lihat Tahdzibul Ahkam, juz 7, hal. 254.

[19] Rijalul Kusyaiy, hal. 180, lihat Syi’ah wa Ahlu Bait, hal. 140.

[20] Silahkan lihat kitab Syi’ah wa Ahlu Bait oleh DR. Ihsan Ilahi Zhohir yang diterbitkan oleh Idaroh Turjumanu el-Sunnah, Lahore-Pakistan, hal. 194-222.

[21]Lihat kitab Syi’ah wa Ahlu Bait oleh DR. Ihsan Ilahi Zhohir, hal. 238-251.

[22]  Lihat Dairotul Ma’arif al-Islamiyah as-Syi’iyyah 1/27, cet. Beirut.

[23] Hadiqotu asy-Syi’ah oleh al-Maqdis, hal. 277.

[24] Lihat kitab Salim bin Qois, hal. 253. Lihat juga kitab ar-Roudhoh Minal Kafi, juz 8, hal. 238.

[25] Lihat Ihtijaj, hal. 148, oleh Thobrosi.

[26]lihat kitab asy-Syi’ah wa Ahlu Bait, hal. 251, oleh DR. Ihsan Ilahi Zhohir yang diterbitkan oleh Idaroh Turjumanu el-Sunnah, Lahore-Pakistan.

[27] Lihat kitab al-Intishor  Lishshohbi wal Aal, oleh DR. Ibrohim ar-Ruhailly, hal. 78-83.

[28]Di riwayatkan Abdullah bin Ahmad dalam as-Sunnah 2/562 dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah, hal. 561.

[29] Di riwayatkan Imam Ahmad dalam al-Musnad 1/175 dan dicantumkan adz-Dzahabi dalam as-Siyar 3/263.

[30] Dicantumkan adz-Dzahabi dalam as-Siyar 3/302.

[31] Di riwayatkan al-Lalkai dalam Syarh Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah 7/1398.

[32]Dicantumkan al-Baihaqi dalam kitab al-I’tiqod, hal. 361. Lihat kitab ar-Rod ‘Ala Rofidhoh oleh Abu Hamid al-Maqdisy, hal. 303.

[33] Diriwayatkan al-Lalkai dalam Syarh Ushul I’tiqod 7/1302. Adz-Dzahabi dalam as-Siyar 5/390. Muhmamad bin Abd Wahid dalam an-Nahyu ‘an Sabbu al-Ashhab, hal. 75.

[34]  Diriwayatkan Abdullah bin Ahmad dalam kitab as-Sunnah 2/558, al-Lalkai dalam Syarh Ushul 7/1301, adz-Dzahabi dalam as-Siyar 6/258.

[35] Adz-Dzahabi dalam as-Siyar 6/259.

(Artikel ini telah dimuat di Majalah adz Dzakhiirah al Islamiyyah edisi 66 Vol.8 No 12 Tahun 1432 H/2010 M)

Categories
Nasehat

Penyejuk Hati

Penyejuk Hati
Diterjemahkan oleh ust. Fadlan Fahamsyah, Lc. M.H.I.(dimuat di majalah Adz Dzakhiirah Al Islamiyyah edisi 69 Hal. 71

Categories
Sya'ir

Hinanya Dunia

Syair: Hinanya Dunia
Diterjemahkan oleh ust. Fadlan Fahamsyah, Lc. M.H.I.
Majalah adz Dzakhiirah al Islamiyyah Edisi 74

Categories
Bantahan

Syaikh Ali Hasan al-Halabi Murid Syaikh Al-Albani ???

Oleh: Abu Mundzir

Pada edisi 41 hal. 44-50 telah kami muat artikel yang berkenaan dengan biografi singkat Syaikh Ali Hasan al-Halabi, dan pada edisi kali ini sekali lagi kami muat untuk para pembaca artikel yang berkaitan dengan Syaikh Ali Hasan dengan judul “Sekali Lagi Tentang Ali al-Halabi”.

I. Sekilas tentang Syaikh Ali Hasan al-Halabi

Beliau dilahirkan di kota Zarqo, Yordania pada 29 Jumadil Tsani 1380 H (1960 M). Nama beliau adalah Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid al-Yafi al-Halabi al-Atsari. Al-Yafi nisbat pada tempat asal beliau (Jaffa, di barat daya Palestina). Al-Halabi nisbat beliau kepada Aleppo, Syria. Al-Urduni nisbat pada tempat keluarganya berhijrah, Yordania. Dan al-Atsari menunjukkan manhaj beliau sebagai pengikut Atsar.

Beliau mulai mencari ilmu ketika berusia 20 tahun lebih sedikit. Guru beliau yang paling masyhur adalah ulama besar, ahli Hadits, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani , kemudian ulama ahli sastra, Syaikh Abdul Wadud az-Zarori , dan ulama lainnya.

Beliau memiliki ijazah (pengakuan) dalam bidang agama secara umum dan hadits secara khususnya, dari beberapa ulama seperti Syaikh Badi`uddin as-Sindi, Syaikh Muhammad asy-Syanqithi dan lainnya.

II. Syaikh Ali dan Syaikh al-Albani

Syaikh Ali al-Halabi merupakan pentahqiq (peneliti), ahli Hadits dan beliau termasuk murid dan sahabat Syaikh al-Albani, bahkan termasuk murid dan sahabat khusus. Beliau banyak bermulazamah (duduk belajar) terhadap ulama, imam besar dalam ilmu dan dakwah ini yaitu Syaikh al-Albani.

Syaikh Ali mendampingi al-Imam al-Albani dalam sebagian safarnya dan banyak mendampingi pada saat mukimnya, menghadiri majelis-majelis beliau baik yang bersifat khusus maupun yang bersifat umum, mengikuti pertemuan-pertemuan ilmiah yang banyak nan beraneka ragam, dan itu berjalan dalam kurun waktu yang sangat lama sekali tidak kurang dari 1/4 abad. Dengan demikian Syaikh Ali sangat banyak mendapatkn manfaat dari jawaban-jawaban, pelajaran-pelajaran dan ilmu-ilmu yang beraneka ragam dari Syaikh al-Albani, yang hal ini hampir tidak didapat oleh yang lainnya.

Syaikh Ali banyak membantu Imam al-Albani menyiapkan banyak karya-karyanya untuk diterbitkan, baik terkait dengan Hadits maupun lainnya, menyiapkan kegiatan-kegiatan ilmiah lainnya, bermulazamah di akhir-akhir hidup Imam Albani di rumahnya dan di perustakaannya.

Hubungan keduanya sangatlah erat, sehingga dengan banyak pertemuan-pertemuan Syaikh Ali bertambah dalam dan kuat ilmunya dan dapat menimba ilmu dari mata air salaf yaitu Imam al-Albani, mengambil metode ahli Hadits dalam belajar, memahami, menuntut ilmu dan pengamalan. Setelah itu, disebarluaskanlah ilmu yang banyak dan beraneka ragam yang telah didapat tersebut dalam bentuk buku-buku yang banyak, yang membahas dakwah, dan juga banyak menulis makalah-makalah berharga terkait dengan manhaj yang dimuat dalam majalah, surat kabar dan yang lainnya. Semua itu pada masa hidup Imam Albani.

Dengan kerendahan hati ketika menulis, Syaikh Ali menyodorkan karya-karyanya kepada Syaikhnya dan gurunya (yaitu Imam Albani) untuk dimuroja’ah (membacanya kembali), dan Imam Albani pun membaca kembali sebagian karyanya dan bahkan Imam Albani pun ridho untuk ditulis namanya di samping nama muridnya.

III. Pujian Syaikh al-Albani kepada Syaikh Ali Hasan al-Halabi

Syaikh Albani benar-benar mengetahui karya-karya muridnya ini, yang berada di atas manhaj yang benar dan hujjah yang kuat, sehingga banyak memujinya dan mengarahkan para pembaca bukunya untuk membaca dan menelaah karya-karyanya. Imam Albani mengatakan tentangnya, “Dia (Syaikh Ali) termasuk saudara kita yang kuat dalam ilmu ini yaitu ilmu Hadits.” (Lihat as-Silsilah as-Shohihah: 2/720, as-Silsilah ad-Dho’ifah: 1/7, as-Silsilah as-Shohihah: 7/354-371 dan Su’al wa Jawab Haula Fiqil Waqi’: 26, karya Imam al-Albani)

Dan Syaikh Albani mensifati Syaikh Ali dengan “sahabat kita yang mulia” dalam kitab Arrodul Mufhim: 79, mensifati bantahan-bantahan Syaikh Ali dengan sebutan “bantahan yang berharga”, sebagaimana disebutkan dalam Adabuz Zifaf: 7-8, menyebutkan dalam as-Silsilah as-Shohihah: 7/947 tentang Ibnu Hajar ketika membawakan Hadits dalam kitabnya Atroful Musnad: ”Telah memberikan faidah kepadaku saudara Ali Hasan melalui telepon, jazahullohu khoiron“ dan mengatakan dalam as-silsiah as-Shohihah: 6/8: “Demikian pula saudara Ali al-Halabi, sungguh saya telah mendapatkan komentar-komentarnya yang ditulis pada kitab asli yang masih saya tulis dengan tanganku…”

Dan Syaikh Albani memanggil Syaikh Ali di awal kitab ar-Roudhoh Nadiah: 1/4 dengan sebutan ”Anak kami, sahabat kami, saudara Abul Harits” dan memanggilnya juga ”.. kepada sahabat kami dan tilmidz (murid) kami yang muda Ali al-Halabi…” demikian yang tertulis dalam kitab Hukmi Tariki as-Sholat: 45.

Bahkan tatkala muncul fitnah Abu Ruhayyim yang berbuat dzolim dan menuduh Syaikh Ali al-Halabi tentang akidahnya, maka Syaikh Albani mengatakan kepada Abu Ruhoyyim: “Apabila akidahmu seperti akidahnya 3 syaikh yang kamu bela yaitu Bin Baz, Ibnu Utsaimin dan al-Albani, padahal akidah saudara Ali seperti mereka. Dan apabila akidahmu berbeda dengan akidahnya saudara Ali maka saya siap duduk denganmu (untuk berdiskusi, pent).” Hal ini telah disebutkan oleh Syaikh Azmi al-Jawabiroh dalam risalahnya yang hal itu dipersaksikan juga oleh 2 saudara yang mulia Lafi asy-Syatorot dan Kamil al-Qoshshosh, itu terjadi pada tanggal 20 Robiul Awwal 1422H, dan Syaikh Azmi al-Jawabiroh menukil ucapan imam Albani, beliau mengatakan “saudara al-Halabi sebanding seribu satu Abu Ruhayyim”.

Syaikh Abdul Aziz as-Sadhan menukil dari Syaikh al-Albani bahwa Syaikh Albani menjuluki Syaikh Ali sebagai “pemilik pena yang berjalan dan seorang ustadz yang produktif”. Sebagaimana yang disebutkan dalam kitab al-Imam al-Albani Durusun al-Mawaqif wa al-Ibar, hal. 170.

Disebutkan juga dalam risalah yang berjudul Sofahat Baidho’ min Hayati al-Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani, hal. 52 bersumber dari sebagian cucu Syaikh al-Albani, bahwasanya Syaikh al-Albani mengatakan: “Dua orang yang paling menguasai ilmu hadits sekarang adalah Ali al-Halabi dan Abu Ishaq al-Khuwaini.”

Syaikh yang mulia Abu Abdillah Azad pernah mendengar Syaikh al-Albani di rumah saudara Abdurrohim di Yordania bahwa beliau pernah ditanya tentang suatu hadits, tapi beliau tidak ingat dan tidak hapal derajatnya, beliau mengisyaratkan kepada Syaikh Ali ”Tanyakan al-Hafidz Ali al-Halabi”, maka kami pun menanyakan kepadanya pada saat Syaikh al-Albani ada di situ dan Syaikh Ali menjawab, ”Hadits itu shohih”, kemudian beliau berdiri dan masuk ke maktabah saudara Abdurrohim dan mengeluarkan hadits dari Shohih al-Jami’.”

Abu Abdillah Azat juga pernah mengatakan, aku juga pernah bertanya pada Syaikh al-Albani ketika beliau hendak safar ke emirat, “Siapa yang paling layak kami tanya setelah Anda wahai Syaikh?” Maka beliau menjawab, “Bertanyalah kepada Ali al-Halabi karena dia paling dekat dengan sunnah.”

Ini menunjukkan banyaknya pujian Syaikh al-Albani kepada muridnya yaitu Syaikh Ali al-Halabi dan kitab-kitabnya seraya mensifati dengan panggilan saudara, murid, syaikh, sahabat, dan lain sebagainya dari panggilan-panggilan penghormatan yang itu menunjukkan keistimewaannya dalam berbagai macam ilmu, dan syaikh Ali banyak ikut serta dalam berbagai macam tugas dan proyek ilmiah baik itu dalam masalah fikih, hadits, manhaj, sehingga tidak heran ketika syaikh Ali paling banyak disebutkan dalam kitab-kitab Syaikh Albani.

IV. Perkataan Para Ulama Terhadap Syaikh Ali Hasan

Sesungguhnya dalam hidup, yang namanya pujian itu perkara yang biasa terjadi. Dan pujian kalau datang dari orang jahil maka kurang berarti, berbeda apabila pujian itu bersumber dari para ulama dan rekomendasi dari mereka, maka ini mengandung arti dan bertambah berarti lagi apabila datang fitnah dan tuduhan yang tidak-tidak di arahkan kepada seseorang. Oleh karena itu berikut ini kami nukilkan pujian para ulama kepada Syaikh Ali Hasan dan rekomendasi yang diarahkan kepadanya, untuk menghilangkan kedzoliman:

1. Pujian Syaikh Bin Baz.

Beliau mengatakan dalam memberikan taqridz terhadap kitab Syaikh Ali yang membantah Dr. al-Askar: Saya memandang agar bantahan ini disebarkan karena mengandung faidah yang besar dan untuk menghilangkan kerancuan. Mudah-mudahan Alloh membalas Anda dengan balasan yang baik, dan saya telah memerintahkan untuk menyebarkanya di majalah al-Buhuts al-Islamiyah karena faidah yang dikandungnya.

Dan beliau Syaikh Bin Baz juga mengatakan tentang kitab yang sama: Dari Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz yang ditujukan kepada saudara yang mulia, shohibul fadhilah Syaikh Ali bin Hasan bin Abdul Hamid al-Halabi -waffaqohulloh lima fihi ridhohu-, salaamun ‘alaikum warohmatulloh wabarokatuh, amma ba’du, surat Anda telah sampai kepadaku pada tanggal 25/11/1418H mudah-mudahan Alloh senantiasa memberikan hidayah dan petunjuk. Saya telah menelaah kitab bantahan Anda terhadap kitab Dr. Abdul Aziz al-Askar (tentang diri yang mulia as-Syaikh al-‘Allamah Muhammad Nashiruddin al-Albani), saya menilai bahwa bantahan Anda adalah bantahan yang sangat berharga, membawa berkah lagi sangat memuaskan. Dan sungguh Anda telah menggunakan gaya bahasa yang bagus, dan Alloh telah memberikan taufiq kepadamu untuk bersikap lembut terhadap orang yang Anda bantah, saya meminta kepada Alloh agar melipatgandakan pahala…”

2. Pujian Syaikh Ibnu al-‘Utsaimin.

Berkata Ahmad bin Ismail as-syaukani, telah menceritakan kepadaku Abdulloh Qomaruddin al-Bakistani as-Salafi, beliau berkata, “As-Syaikh al-Imam Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin pernah ditanya tentang berbagai macam pertanyaan di musim haji tahun (1420 H) dan beliau menjawabnya, kemudian dalam sebagian pertanyaan beliau mengisyaratkan kepada Syaikh Ali sambil mengatakan, “Tanyakanlah kepada al-Bahr (lautan, istilah untuk orang yang banyak ilmunya)”. Maka Syaikh Ali mengatakan, “Saya kira ini bercanda, saya bukan al-Bahr (lautan) dan tidak pula an-Nahr (sungai) tidak pula lainnya, nastaghfirulloh dan kita mengharap husnul khotimah (akhir kehidupan yang baik)”, kemudian berdo’a seperti do’a yang diucapkan Abu Bakar ash-Shiddiq tatkala mendapat pujian: “Ya Alloh jangan kau siksa saya sebab apa yang yang mereka ucapkan, dan ampunilah saya terhadap apa yang tidak mereka ketahui dan jadikanlah saya lebih baik dari apa yang mereka duga”. Dan masih ada pujian al-Imam Ibnu ‘Utsaimin terhadap Syaikh Ali di kesempatan-kesempatan lainnya.

3. Pujian Syaikh ahli Hadits madinah, al-Allamah Hammad bin Muhammad al- Anshori

Beliau memuji Syaikh Ali dan kehebatannya dalam bidang hadits sebagaimana dinukil oleh anaknya yang bernama Abdul Awwal bin Hammad al-Anshori dalam kitabnya al-Majmu’ fi Tarjamati al-Muhaddits as-Syaikh Hammad al-Anshori (2/598) dari bapaknya berkata, “Saya menduga bahwa Ali Hasan Abdul Hamid yang akan mengantikan Syaikh al-Albani.”

4. Syaikh Sholih bin Abdul Aziz Alu Syaikh, menteri urusan agama, bimbingan dan wakaf, Kerajaan Arab Saudi.

Beliau punya hubungan yang sangat baik dengan Syaikh Ali sejak 20 tahunan, bahkan setelah datang fatwa lajnah, beliau pun mengundangnya dengan undangan resmi untuk menghadiri acara an-Nadwah al-Ilmiyah al-Qur’aniyah di Madinah tanggal 11 Jumadil Akhir 1421 H.

Ketika Syaikh Sholih Alu Syaikh menulis kitab Hadzihi Mafahiimuna… mengirimkan kepada Syaikh Ali dan mengatakan tentang hadiahnya: Kepada saudara yang baik, peneliti yang jeli, pemilik akal yang cemerlang dan pandangan yang tajam, Ali Hasan Abdul Hamid, mudah-mudahan Alloh senantiasa memberikan kekuatan untuk meninggikan bendera Sunnah sesuai petunjuk salaf…

Begitu pula ketika menulis kitab at-Takmil Lima Fata Tahrijuhu min Irwa’ al-Gholil dan memberikan hadiah dan pujian dengan sebutan-sebutan penghormatan mirip di atas.

5. Pujian Syaikh Abdulloh al-Ubailan ditanya tentang celaan yang di arahkan kepada Syaikh Ali Hasan disebabkan menulis kitab Manhaj as-Salaf as-Sholih maka beliau menjawab, ”Saudara kita asy-Syaikh al-Allamah Ali adalah termasuk pembesar penyeru kepada dakwah salaf di Yordania dan negara-negara Syam, wala nuzakki allalloh ahada. Saya berharap perselisian antara kedua belah pihak adalah masuk dalam perselisihan dalam lingkup ijtihad Ahlus Sunnah, dan perkaya ini wajar terjadi, karena para salaf juga berselisih dalam hal yang lebih besar dari ini akan tetapi tidak saling mencela antara satu dengan yang lainnya…” kemudian Syaikh Ubailan menyebutkan ucapan Syaikhul Islam….”

6. Dan Syaikh ahli Hadits Abdul Muhsin al-Abbad baru-baru ini di tanya tentang Syaikh Ali, yaitu pada tanggal 28 Nopember 2010 (21 Dzul Hijjah 1431), beliau menjawab, ”Saya mengetahui, beliau di atas sunnah, ambillah ilmu darinya.”

7. Begitu pula Syaikh al-Ubaikan pada tanggal 3 Januai 2011 pernah ditanya seseorang dari Iraq tentang Syaikh Ali Hasan dan seorang ulama dari Iraq, beliau menjawab, ”Kami tidak mengetahui tentang Syaikh kecuali kebaikan.”

Dan masih banyak pujian para ulama baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia tentang Syaikh Ali di antaranya: Syaikh al-Muhadits Muqbil al-Wadi’i, Syaikh Sa’ad al-Husyoyyin, (al-Mustasyar ad-Dini Saudi di Yordania,) Syaikh Husain bin Abdul Aziz Ali Syaikh, (Imam dan khotib serta pengajar di masjid Nabawi, serta Hakim di Mahkamah Kubro), Syaikh Washiulloh Abbas, Syaikh Ibrohim ar-Ruhaili, ahli tafsir Muhammad Nasif ar-Rifa’i, as-Syaikh Hamd as-Syitwi, Syaikh Muhammad bin Syaikh Ali bin Adam al-Itsyuni, Syaikh Abdul Karim Khudair, Syaikh Abdul Malik ar-Romadhoni al-Jazairi dll. Termasuk salah seorang guru Syaikh Robi’ al-Madkholi yang berrnama Syaikh Abdul Wahab bin Marzuq al-Banna sangat memuji Syaikh Ali, beliau mengatakan, ”Perumpamaan al-Halabi kepada al-Albani adalah seperti Ibnul Qoyyim kepada Ibnu Taimiyah.” Sebagaimana yang telah didengar Syaikh Abdulloh Baibani al-A’shimi.

Inilah sebagian kemuliaan Syaikh Ali, ilmu, manhaj dan akidahnya. Dan kami dalam menyebutkan ini bukan berarti kami mengajak berbuat ghuluw (berlebih-lebihan) dan mengkultuskan serta menganggapnya ma’sum, sekali-kali tidak, akan tetapi ini semua agar kita mengetahui dan menghormati para ulama sebagaimana sabda Rosululloh:

لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

“Bukanlah termasuk golonganku orang yang tidak memuliakan yang tua, menyayangi yang muda dan mengenal hak orang alim di antara kami.” (HR Ahmad)

Wa shollollohu ‘ala nabiyina muhammad wa ‘ala ‘alihi wa shohbihi wa sallam.

Sumber:
1. Al-Jawab al-‘I’laami.
2. Su’alat al-Halabi.
3. Al-Imam al-Albani Durusun Mawaqif wa ‘Ibar.
4. http://kulalsalafiyee.com.

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Ed 67, hal. 45-51

Categories
Nasehat

Wasiat Emas Imam Syafi’i seputar Menuntut Ilmu

Abu ‘Ashim Muhtar Arifin, Lc.

Nama Imam Syafi’i rohimahulloh tak asing lagi di telinga kaum muslimin. Bahkan kebanyakan kaum muslimin di negeri ini menisbatkan dirinya kepada madzhab beliau rohimahulloh.

Untuk itulah, perlu kiranya kita mengetahui bagaimana Imam Syafi’i ini mewajibkan para penuntut ilmu agar kembali merujuk kepada dalil-dalil syar’i dalam mempelajari ilmu syar’i.

Mutiara Emas Imam Syafi’i.

Imam Syafi’i rohimahulloh telah membuat perumpamaan bagi penuntut ilmu syar’i yang tidak berdasarkan hujjah. Beliau berkata:

مَثَلُ الَّذِيْ يَطْلُبُ الْعِلْمَ بِلاَ حُجَّةٍ كَمَثَلِ حَاطِبِ لَيْلٍ، يَحْمِلُ حُزْمَةَ حَطَبٍ وَفِيْهِ أَفْعَى تَلْدَغُهُ وَهُوَ لاَ يَدْرِيْ.

Perumpamaan orang yang mencari ilmu tanpa hujjah adalah seperti orang yang mencari kayu bakar pada malam hari, ia membawa seikat kayu, di mana di dalamnya terdapat ular yang siap mematuknya, sedangkan dia tidak mengetahuinya.” (Manaqib Syafi’i, karya al-Baihaqi, jilid 2, hal. 143; al-Madkhol, karya beliau juga, no. 262, hal. 211; Hilyah al-Auliya`, jilid IX, hal. 125; Adab asy-Syafi’i, karya Abu Hatim, hal. 100; Tawaali at-Ta`siis, karya al-Hafidz Ibnu Hajar, hal. 135)

Dari pernyataan ini dapat diketahui bahwa beliau rohimahulloh menganjurkan para penuntut ilmu ketika menuntut ilmu harus berdasarkan kepada hujjah yang berasal dari al-Qur`an dan Sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.

Apabila seseorang mempelajari ilmu agama, akan tetapi tidak merujuk kepada sumbernya yang asli, yaitu Kitabulloh dan Sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka bisa saja ia akan mendapatkan masalah-masalah yang disangka termasuk agama, padahal bukan, sehingga akibatnya dapat terjatuh ke dalam penyimpangan.

Makna Ilmu

Para ulama telah menjelaskan bahwa kata ilmu apabila disebutkan secara mutlak dalam al-Qur`an, as-Sunnah, dan ungkapan para ulama adalah ilmu syar’i.

Imam Syafi’i rohimahulloh sendiri telah menyatakan:

كُلُّ الْعُلُوْمِ سِوَى الْقُرْآنِ مَشْغَلَةٌ
إِلاَّ الْحَدِيْثَ وَعِلْمَ الْفِقْهِ فِي الدِّيْنِ
الْعِلْمُ مَا كَانَ فِيْهِ قَالَ حَدَّثَنَا
وَمَا سِوَى ذَلِكَ وَسْوَاسُ الشَّيْطَانِ

Setiap ilmu selain al-Qur`an adalah kesibukan,
Kecuali al-Hadits dan ilmu tentang pemahaman agama.
Ilmu itu apa yang padanya mengandung “ungkapan telah menyampaikan kepada kami” (sanad).
Sedangkan selain itu, adalah bisikan-bisikan setan.

(Diwan Imam Syafi’i, hal. 30, Darul Manar)

Categories
Akhlak Karimah Tazkiyatun Nufus

Anugerah yang Dianggap Musibah

Fadlan Fahamsyah, Lc.
Dosen di STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

“Seandainya manusia mengetahui bahwa nikmat Alloh yang ada dalam musibah itu tidak lain seperti halnya nikmat Alloh yang ada dalam kesenangan, niscaya hati dan lisannya akan selalu sibuk untuk mensyukurinya.”

Imam Ibnu Qoyyim rohimahulloh

Dunia adalah negeri ujian, tidak ada seorang manusiapun melainkan akan diuji dengan kesehatan dan kelapangan untuk mengetahui sejauh mana ia akan mensyukurinya dan ia juga akan diuji dengan musibah dan kesempitan untuk mengetahui sejauh mana ia akan bersikap sabar menghadapi ujian tersebut.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

١٦٨. … وَمِنْهُمْ دُونَ ذَلِكَ وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (QS. al-A’rof: 168)

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ.

Sungguh menakjubkan perkara kaum mukmin, sesungguhnya semua perkaranya adalah kebaikan, dan itu tidak akan terjadi kecuali bagi orang beriman. Jika ia dianugrahi nikmat ia bersyukur dan itu baik baginya , jika ia tertimpa musibah ia bersabar maka itu baik baginya.” (HR. Muslim: 2999)

Imam Ibnu Qoyyim rohimahulloh berkata, “Seandainya manusia mengetahui bahwa nikmat Alloh yang ada dalam musibah itu tidak lain seperti halnya nikmat Alloh yang ada dalam kesenangan, niscaya hati dan lisannya akan selalu sibuk untuk mensyukurinya.” (Syifaa`ul ‘Aliil: 525)

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

٢١٦. … وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. al-Baqoroh: 216)

Maka dari itu, hendaklah seorang hamba yang ditimpa penyakit, tidak merasa cemas, takut, dan selalu dirundung duka, akan tetapi hendaklah ia bersabar dan menjadikan rasa sakitnya sebagai wahana beribadah. Ketahuilah, rasa sakit itu datang sebagai kasih sayang Alloh yang dikirim untuk menghapuskan dosa dan mengangkat derajat seorang hamba.

Dan sesungguhnya di balik sakit itu terdapat hikmah dan pelajaran bagi siapa saja yang mau memikirkannya, di antaranya adalah:

1. Menghapuskan dosa dan menyucikan jiwa.

Alloh Ta’ala berfirman:

٣٠. وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ

Apa saja musibah yang menimpa kamu maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Alloh memaafkan sebagian besar (dari kesalahan kesalahanmu).” (QS. asy-Syuro: 30)

Categories
Doa

Mari Sholat Istikhoroh

Oleh: Abu Musa Al-Atsari

Begitu banyak aktivitas seorang muslim dalam kesehariannya. Begitu banyak pula masalah yang dihadapinya, dari yang terkecil kecil hingga menurutnya paling besar. Terkadang ia harus memilih antara dua pilihan atau bahkan lebih. Terkadang pula ia mesti mengambil keputusan tegas antara melanjutkan suatu rencana atau mengurungkannya.

Sikap tepat dalam mengambil keputusan amat sangat kita harapkan sekali, dalam setiap permasalahan atau minimal mayoritasnya. Hanya saja, ketepatan dalam bersikap terkadang luput dari kita. Namun, ketahuilah, ketepatan tersebut sangat bisa kita dapatkan. Dengan mempertimbangkan matang-matang antara beberapa pilihan sesuai kacamata syar’i, meminta nasihat ahlul ilmi, dan dibantu dengan istikhoroh kepada Alloh, semoga diberikan ketepatan, keberkahan, dan kemudahan dalam memutuskan antara beberapa pilihan yang ada.

Seandainya keputusan tersebut adalah baik, semoga Alloh memberikan kemudahan untuk melakukannya. Sebaliknya, bila tidak baik, semoga Alloh menjauhkannya dari kita.

Dan pada edisi kali ini, kami akan menyuguhkan Mutiara Sunnah Nabi n yang berkaitan dengan sholat dan doa istikhoroh. Semoga kita diberikan takdir baik dan dimudahkan untuk mendapatkannya.

Apa itu Istikhoroh

Dari sisi bahasa kata istikhoroh berarti meminta pilihan terbaik. Istikhoroh kepada Alloh artinya meminta pilihan terbaik kepada-Nya. (Lisanul ‘Arob, 4/259)

Categories
Ibroh

Buah Istikhoroh

Imam adz-Dzahabi rohimahulloh menceritakan bahwasanya pernah ada suatu perjalanan yang mengumpulkan empat orang ulama yang sama-sama bernama Muhammad: Muhammad bin Jarir ath-Thobari, Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah, Muhammad bin Nashr al-Marwazi, Muhammad bin Harun ar-Ruyani rahimahumulloh jami’an. Bekal perjalanan mereka sama-sama habis sehingga mereka sama-sama lapar. Lalu mereka berkumpul di dalam satu rumah dan mengundi, barangsiapa yang keluar namanya, maka ia mendapat tugas untuk meminta sedekah kepada orang-orang.

Ternyata undian jatuh kepada Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah. Ia berkata, “Tunggu sejenak, biarkan aku sholat istikhoroh terlebih dahulu.”

Setelah itu ia bertolak menuju ke pintu untuk keluar. Namun tiba-tiba ia melihat beberapa buah lilin ada di depan pintu yang dibawa oleh beberapa tentara utusan. Mereka mengetuk pintu, dan Muhammad bin Ishaq membukakan pintu untuk mereka.

Mereka (para tentara utusan) berkata, “Siapa dari kalian yang bernama Muhammad bin Nashr?.” Lalu mereka mengeluarkan pundi uang sejumlah 50 dinar dan memberikan kepadanya.

Mereka bertanya lagi, “Mana yang namanya Muhammad bin Jarir?” Lalu mereka memberinya 50 dinar. Demikian seterusnya hingga keempat Muhammad mendapatkan 50 dinar.

Kemudian utusan itu menjelaskan bahwa Amir (Pemimpin) mereka telah bermimpi dan melihat keempat Muhammad kelaparan, maka itu ia mengirimkan pundi-pundi uang itu kepada mereka. Dan dia bersumpah, apabila uang-uang tersebut habis, hendaklah mereka mengabarkan kepada Amir tersebut.

(Siyar A’lamun Nubala`, adz-Dzahabi, 14/270 & 508. Dinukil dari kitab Jami’ Mukhtashor al-‘Ulum, Dr. Fakhruddin bin az-Zubair al-Muhsi, hal. 24)

Dari: Majalah Islami, adz-Dzakhiirah al-Islamiyyah, edisi 67, tahun 1432 H / 2011, halaman 71.

Segera terbit: Majalah Islami Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah, edisi 68!