Tag Archives: Edisi 54

Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- Mencukur Jenggot ?!

Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- Mencukur Jenggot ?!

Oleh: Abu Ashim Muhtar Arifin Marzuqi, Lc

Sebagian kaum muslimin, ketika berpendapat bolehnya mencukur jenggot mengatakan, bahwasanya ada sebuah hadits yang diriwayatkan bahwa Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- pernah mencukur jenggotnya. Benarkah demikian? Bagaimana derajat haditsnya? Bagaimana pendapat para ulama tentang masalah ini? Berikut ini penjelasan singkat dari para ulama seputar masalah ini.

SEBUAH HADITS LEMAH

Dalam hal ini ada sebuah riwayat yang berbunyi:

عَنْ عَمْرٍو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْخُذُ مِنْ لِحْيَتِهِ مِنْ عَرْضِهَا وَطُوْلِهَا

Dari Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya bahwsanya nabi -shollallahu alaihi wa sallam- dahulu memotong dari jenggotnya, dari panjangnya dan lebarnya. (HR. at-Tirmidzi)

Adzan Jum'at Dua Kali

ADZAN JUM’AT DUA KALI ?!

Assalamu’alaikum. Mengenai adzan shalat jum’at, ada yang membuat dua kali, apa ada dasar(sunnah)nya? Jazakumullah khairan. [081275435XXX]

Wa’alaikumussalam wa rahmatullahi wa barokatuh.

Segala puji bagi Allah. Sholawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah. Wa ba’du.

Adzan jum’at dua kali memang ada dasarnya, yakni sebuah atsar Utsman bin Affan -radhiallohu anhu-. Berikut ini kami bawakan secara lengkap atsar tersebut, sebagaimana yang telah dibawakan oleh Syaikh al-Albani -rahimahullah- pada kitab al-Ajwibah an-Nafi’ah ‘an As`ilah Lajnah Masjid al-Jami’ah, hlm. 8-9.

HADITS ADZAN JUM’AT DUA KALI

Imam az-Zuhri -rahimahullah- berkata: as-Sa`ib bin Yazid mengabarkan kepadaku: 

Menyebarkan Hadiah Berharga di Hari Raya

Menyebarkan Hadiah Berharga di Hari Raya
Abu Ashim Muhtar Arifin Marzuqi, Lc

Membaca merupakan salah satu kunci untuk dapat memperoleh hidayah dan banyak kebaikan. Ayat yang diturunkan oleh Allah -subhanahu wa ta’ala- pertama kali juga perintah untuk membaca.

Ketika bercerita tentang sebuah kitab, ada yang berkata:

يُفِيْدُوْنَنَا مِنْ رَأْيِهِمْ عِلْمَ مَنْ مَضَى             وَ عَقْلاً وَتَأْدِيْبًا وَرَأْيًا مُسَدَّدَا

بِلاَ مُؤْنَةٍ تُخْشَى وَلاَ سُوْءِ عِشْرَةٍ               وَلاَ نَتَّقِيْ مِنْهُمْ لِسَانًا وَلاَ يَداَ

Dia memberi kita faedah berupa ilmu tentang generasi masa lalu
Tentang akal, tata krama dan pemikiran yang lurus

Tanpa ada beban yang ditakutkan dan tidak pula jeleknya perangai
Dan tidak pula kita berhati-hati secara lisan dan tidak pula tangan

Salah satu cara untuk mememberi semangat masyarakat dan sanak saudara untuk membaca yang benar sehingga dapat mengerti al-haq, salah satunya adalah dengan memberi hadiah buku dalam momen yang tepat seperti ramadhan, hari raya, resepsi pernikahan, pembagian daging aqiqah, dsb. (Kaifa Taqra`u Kitaban, karya Dr. Zaid bin Muhamamad ar Rummani, cet. 1, Darul Hadharah)

Apabila ada sepuluh orang saja yang menerima selebaran dakwah atau fotocopian suatu masalah syar’i, lalu mereka mengamalkannya, maka alangkah banyaknya orang yang akan mendapatkan petunjuk tanpa kita menyampaikan ceramah yang panjang? Alangkah banyaknya pahala yang akan terus mengalir menjadi amal jariyah? ”Barang siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka dia akan mendapat pahala seperti orang yang mengamalkannya”. (HR. Muslim)

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Ed 54, hal. 64

Kisah Tragis Dalam Sejarah Hari Raya

Kisah Tragis Dalam Sejarah Hari Raya
Abu Ashim Muhtar Arifin Marzuqi, Lc

Ketika menjelaskan tentang biografi Muhammad bin Hubuli -rahimahullah-, yaitu seorang Imam yang menjadi Qadhi di kota Barqah, Imam adz-Dzahabi -rahimahullah- menceritakan bahwa Amir kota Barqah mendatangi beliau. Lalu Amir itu berkata: “Besok adalah hari raya”.

Imam menjawab: “(Kami tidak mau berhari raya) sampai melihat hilal, dan aku tidak (ingin) mengajak manusia untuk berbuka, lalu aku yang menanggung dosa mereka”.

Amir berkata: “Ini adalah isi surat yang berasal dari al-Manshur”.

Inilah di antara pendapat Ubaidiyyah, yaitu menyeru rakyat untuk berbuka dengan berdasarkan hisab dan mereka tidak menghiraukan terlihatnya hilal. Sedangkan pada saat itu hilal belum terlihat.

Keesokan harinya Amir itu (menabuh) gendang, (menegakkan) bendera-bendera yang besar.

Imam yang menjadi Qadhi tersebut berkata: “Aku tidak mau keluar dan tidak melakukan shalat (id)”.

Lalu Amir itu memerintahkan seseorang untuk berkhutbah dan menulis (melaporkan) apa yang terjadi tersebut kepada al-Manshur, lalu dia meminta agar Qadhi tersebut datang kepadanya, lalu beliau pun didatangkan.

Al-Manshur berkata: “Keluarlah engkau (untuk merayakan id-pen), niscaya aku akan memaafkanmu”.

Akan tetapi beliau tidak mau melakukannya. Lalu ia memerintahkan agar beliau di gantungkan di bawah terik matahari sampai meninggal dunia. Pada saat itu beliau meminta bantuan karena kehausan, akan tetapi tidak diberi air. Akhirnya beliau disalib di atas sebuah kayu”.

Setelah membawakan kisah ini Imam adz-Dzhahabi -rahimahullah- berkata: “Semoga Allah melaknat orang-orang yang zhalim”.

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah ED 54, hal. 67

Diantara Guru Kita, Khatib Para Hari Raya

Diantara Guru Kita, Khatib Para Hari Raya
Abu Ashim Muhtar Arifin Marzuqi, Lc

Syaikh bin Baz -rahimahullah- pernah ditanya: ”Telah tersebar di kalangan sebagian orang, bahwa ”Orang yang tidak memiliki guru, maka gurunya adalah setan”. Apa pengarahan Syaikh untuk mereka?”.

Beliau menjawab: ”Ini adalah kesalahan orang umum dan suatu bentuk kejahilan dari sebagian orang-orang sufi untuk menmengajak manusia agar berhubungan dengan mereka, bertaklid kepada mereka dalam bid’ah-bid’ah dan kesesatan-kesesatan mereka.

Sesungguhnya apabila seseorang mendalami agama dengan menghadiri halaqah-halaqah ilmiah dan agama, atau dengan mentadabburi al-Qur`an atau sunnah dan mengambil faedah dan pelajaran darinya, maka dikatakan bahwa dia telah bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, bahkan dikatakan: ”Ia telah mendapatkan kebaikan yang banyak”.

Sudah sepantasnya bagi penuntut ilmu untuk berhubungan dengan para ulama yang telah dikenal dengan kelurusan aqidahnya dan kebaikan perilakunya, bertanya kepada mereka tentang kesulitan yang dihadapinya, karena apabila ia tidak bertanya kepada ahli ilmu, maka kadang-kadang ia akan banyak salahnya dan permasalahan-permasalahan akan terjadi kerancuan.

Adapun apabila dia menghadiri halaqah-halaqah ilmiah dan mendengarkan nasihat-nasihat dari ahli ilmu, maka dengan cara inilah dia akan mendapatkan kebaikan yang banyak dan pelajaran-pelajaran yang bermacam-macam, meskipun dia tidak memiliki guru tertentu.

Tidak diragukan lagi bahwa orang yang menghadiri halaqah-halaqah ilmu dan mendengarkan khutbah-khutbah jum’at, hari-hari raya dan ceramah-ceramah yang diadakan di masjid-masjid, maka para gurunya menjadi banyak, meskipun dia tidak menisbatkan kepada salah satu di antara mereka, lalu bertaklid dan mengikuti pendapatnya”.

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Ed 54, hal. 66

Edisi 54

Cover ed 54