Majalah adz Dzakhiirah AL ISLAMIYYAH Edisi 97

Segala puji hanya milik Allah , shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi kita, Muhammad j beserta keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti petunjuk-Nya sampai hari kiamat, amma ba’du. Para pembaca Selengkapnya »

 

Jalan Keselamatan

Barang siapa yang berharap selamat
Tak ada jalan selain mengikuti Muhammad
Itulah jalan yang lurus, sedang yang lain adalah
jalan sesat, menyimpang dan kebinasaan
Ikutilah kitab Allah dan sunnah yang shahih
Bila engkau mengikutinya, maka itulah petunjuk
Jauhi pertanyaan dengan mengapa dan bagaimana
Itu adalah pintu yang membutakan orang yang berilmu
Agama ialah sabda Rasul n dan para sahabatnya
dan dititi generasi Tabi’in dan para pengikutnya
مَنْ كَانَ يَرْغَبُ فِـي النَّجَاةِ فَـمَا لَـهُ
غَيْرُ اتِّبَاعِ الْمُصْطَـفَى فِيْـمَا أَتَـى
ذَاكَ سَـبِيْلُ الْمُسْتَـقِيْـمُ وَغَـيْرُهُ
سُبُلُ الضَّلاَلَـةِ وَالْغِوَايَـةِ وَالرَّدَى
فَاتْبَعْ كِتَابَ اللَّـهِ وَالسُّـنَنَ الَّتِـيْ
صَحَّتْ فَذَاكَ إِنِ اتَّبَعْتَ هُوَ الْهُدَى
وَدَعِ السُّـؤَالَ بِلِمَ وَكَيْـفَ فَإِنَّـهُ
بَابٌ يَجُرُّ ذَوِيْ الْبَصِيْرةِ لِلْعَـمَـى
الدِّيْنُ مَا قَالَ الرَّسُـوْلُ وَصَحْـبُـهُ
وَالتَّابِعُـوْنَ وَمَنْ مَنَاهِجَهُمْ قَــفَا

[Siyar A’lam an-Nubala’, jilid 23, hlm. 314, Muassasah ar-Risalah, cet. 7, Bairut, Libanon, tahqiq Dr. Basysyar Awwad Ma’ruf dan Dr. Muhyi Hilal as-Sarhan, Ma’a Syaikhinaa Naashir as-Sunnah wa ad-Diin, Muhammad Nashiruddin al-Albani, karya Syaikh Ali Hasan al-Halabi, hlm. 30]

Dari: Majalah Islami, Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah, Edisi 62, halaman 80

Hak al-Qur’an al-Karim yang Harus Diperhatikan Umat Islam

Islam adalah agama yang indah, sempurna dan paripurna, menjelas-kan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh umatnya, serta memberikan segala yang punya hak akan haknya. Berikut ini adalah sebagaian dari perhatian Islam akan permasalahan hak, yang telah di sampaikan oleh Syaikh Abu Islam Sholeh Toha dalam bukunya Tabshirotul Anam Bil Huquq Fil Islam dan kami suguhkan intisarinya kapada pembaca sekalian dengan sedikit penambahan, mudah-mudahan  bermanfaat.

Al-Qur`an al-Karim adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam melalui Jibril ‘alaihissalam. Al-Qur`an adalah tali Allah yang kuat, cahaya yang jelas, serta jalan yang lurus, Barangsiapa yang berpegang teguh dengannya, maka akan selamat. Di dalamnya terdapat berita tentang apa-apa yang terjadi sebelum dan sesudah kita, pemberi keputusan kepada kita. Barangsiapa yang meninggalkannya karena kesombongan maka Allah akan membinasakannya dan barangsiapa yang mencari petunjuk kepada selainnya maka Allah akan menyesatkannya. Dan sungguh Allah telah menjamin bagi siapa yang mengamalkan, bahwa dia tidak akan tersesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat.

Mohon Maaf, Situs Majalah Islami Adz-Dzakhiirah Sedang dalam Perbaikan

Assalamu’alaikum warohmatullohi wabaroatuh.

Berkaitan dengan satu dan lain hal, kami selaku administrator situs Majalah Islami Adz-Dzakhiirah yang semoga senantiasa diridloi Alloh, hendak menyampaikan bahwa situs ini sedang dalam perbaikan.
Perbaikan ini berdasarakn beberapa masalah teknis yang terjadi baik di internal engine/platform situs maupun beberapa teknis lainnya.

Untuk itu, kami memohon maaf sebesar-besarnya jika terjadi kegagalan akses setelah tulisan ini diumumkan.

Menanggapi beberapa pertanyaan yang masuk dan belum sempat kita tanggapi, semoga bisa kita balas melalui edisi cetak Majalah Islami Adz-Dzakhiirah. Kami mohon kesabarannya kepada Anda untuk menunggu terjawab/diresponnya saran/pertanyaan/komentar Anda di situs ini. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Semoga kami bisa lebih baik, baik cetak maupun online.

Tentu kami tidak lupa mengharap doa dari pembaca setia Majalah Islami Adz-Dzakkhiirah mengenai kelancaran teknis situs ini, tentu saja demikian pula harapan tentang kelancaran dan keberlangsungan dakwah Majalah Islami Adz-Dzakhiirah.

Jazakumulloh khoyron.

Surabaya, 22 Syawwal 14 Syawwal 1431 / 30 September 2010

Administrator Majalah Islami Adz-Dzakhiirah

Alhamdulillah, situs Majalah Islami, adz-Dzakhiirah al-Islamiyyah telah aktif kembali.

Mohon perhatian untuk memperbaiki/mengoreksi link-link berkaitan dengan majalah adz-Dzakhirah dengan benar. Atau berikan link ke situs majalah ini agar memperkuat dakwah yang haq ini. Wallohul musta’an. Simak tulisan berikut.
Panduan dan Revisi Pertautan (Link) Majalah Islami Adz-Dzakhirah

Jazakumullohu khoiron.

Edisi 62

Nama "Syamsuddin", Bolehkah?!

Nama “Syamsuddin”, Bolehkah?! (dengan sambungan ad-Din)

Abu Ashim Muhtar Arifin

Salah satu penamaan yang banyak dipakai masyarkat adalah disandarkannya nama seseorang kepada agama, yaitu dengan menambahkan kata Din (agama). Sejak kapan penamaan seperti ini ada? Bagaimana pendapat ulama tentang hal ini? Berikut uraian ringkasnya. Semoga bermanfaat.

Asal mula penamaan yang dinisbatkan kepada Din.

Penamaan dengan laqob (gelar/julukan) yang menisbatkan kepada agama ini bukan berasal dari tiga generasi pertama dan utama, tapi terjadi setelahnya.

Ketika menjelaskan seputar laqob Ibnu Hajar al-Asqalani, as-Sakhawi mengatakan:

“Aku berkata: Pemilik biografi ini (yaitu Ibnu Hajar) telah memberi faedah –sebagiamana yang aku baca dalam tulisannya– bahwa pemberian laqob yang dinisbatkan/disandarkan kepada Din terjadi pada permulaan Dinasti Turki di Baghdad yang telah menguasai Dailam.

Dahulu, pada zaman Dailam, mereka menyandarkan laqob tersebut kepada kata Daulah (Negara). Di antara orang yang paling akhir dalam hal ini adalah Jalaluddaulah bin Buwaih (dalam manuskrip lain disebutkan: Jalaluddin bin Buwaih,). Dan orang pertama yang menjadi raja Turki adalah Tughrl Bik, lalu mereka memberinya laqob Nushrotuddin. Sejak itulah, tersebar laqob seperti ini, dan itu tidak banyak digunakan melainkan beberapa waktu setelahnya.

Nilai-Nilai Ketauhidan dari Surah Al-Fatihah

Nilai-Nilai Ketauhidan dari Surah Al-Fatihah

Abd Muhsin Maryono

Telah maklum bagi kita bahwa tauhid terbagi menjadi tiga. Pertama, Tauhid Uluhiyyah adalah mentauhidkan Allah dalam setiap perbuatan seorang hamba, seperti berdoa, beristghosah, menyembelih, nadzar dll. Ke dua Tauhid Rububiyyah adalah mentahidkan Allah dalam setiap perbuatan-Nya, seperti menciptakan, memberi rizki, menghidupkan, mematikan dll. Ke tiga, Tauhid Asma Wa Sifat adalah menetapkan terhadap apa-apa yang telah Allah tetapkan atas diri-Nya dan yang telah ditetapkan oleh Rasul-Nya dari nama-nama dan sifat-sifat Allah atas segi yang berkaitan dengan kesempurnaan dan ketinggian Allah, tanpa menyerupakan atau membagaimanakan, dan tanpa merubah atau meniadakan.

Pembagian tauhid menjadi tiga, terdefinisikan atas dasar pembacaan dari Nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah. Dalam uraian ringkas ini kita akan melihat bagaimana tauhid tersebut ada dalam salah satu surah dari surah-surah yang ada dalam al-Qur’an, yaitu surah pembuka, surah al-Fatihah yang telah banyak dihafal oleh kaum muslimin sedunia. Uraian ini kami nukil dari kitab Qotfu al-Jana ad-Dani Syarh Muqoddimah Risalah Ibn Abi Zaid al-Qoirawani oleh Syaikh Abdul Muhsin bin Hamad Al-Abbad Al-Badr –hafidhohullah- hal 56-58. Semoga bermanfaat.

Ayat pertama:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”

Ayat Alhamdulillahi Rabbil alamin di dalamnya tercakup atas berbagai jenis tauhid, yaitu Alhamdu liLLAH, di dalamnya terkandung tauhid uluhiyyah, karena penisbatan sebuah pujian (alhamdu) kepada Allah oleh seorang hamba adalah sebuah ibadah. Dan kata Rabbil alamin adalah penetapan tauhid rububiyyah, pada dasarnya Allah adalah Tuhan semesta alam, dan alam adalah segala sesuatu kecuali Allah, karena tidak ada di alam semesta ini kecuali pencipta dan ciptaan, dan Allah adalah Sang Pencipta, dan segala sesuatu selain San Pecipta adalah yang dicipta atau makhluk. Dan di antara nama-nama Allah adalah Ar-Rabb.

Mengganti Nama Setelah Dewasa

MENGGANTI NAMA SETELAH DEWASA

Assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu. ‘afwan ustadz tanya, bagaimana hukumnya mengganti nama seseorang kalau  sudah dewasa?[ +6285642329XXX]

Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokahutuh.

Segala pujian hanya milik Allah semata. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabat beliau serta siapa saja yang mengikuti jejak beliau dengan baik hingga hari akhir kelak. Amma ba’du,

Mengganti nama seseorang hukumnya adalah boleh, baik ketika masih kecil atapun setelah dewasa. Apalagi bila nama sebelumnya mengandung penyelisihan terdapat syariat. Maka itu dapat kita temui pada beberapa riwayat bahwa Nabi –shallallahu alaihi wa salam- pernah mengganti sebagian nama sahabat yang buruk atau mengandung tazkiyah (dakwaan suci) terhadap diri sendiri menjadi nama yang lebih baik dan sejalan dengan Syariat meskipun mereka telah dewasa.

MENGGANTI NAMA KETIKA MASIH KECIL

Pernah suatu ketika Nabi –shallallahu alaihi wa salam- mengganti nama seorang bayi menjadi al-Mundzir.

Dari Sahl ia berkata: al-Mundzir bin Abu Usaid dibawa ke hadapan Nabi –shallallahu alaihi wa salam- setelah ia dilahirkan. Lalu anak itu diletakkan di atas paha beliau. Sementara itu Abu Usaid (ayah anak itu, Red) duduk. Namun Nabi –shallallahu alaihi wa salam- sedang sibuk dengan sesuatu yang ada di hadapannya. Sehingga Abu Usaid memerintahkan (seseorang) untuk mengambil dan menggendong anaknya dari paha Nabi –shallallahu alaihi wa salam-.

Kemudian Nabi –shallallahu alaihi wa salam- baru tersadar dan bertanya: Mana anak tadi? Abu Usaid menjawab: Kami sudah membawanya pulang, wahai Rasulullah.

Edisi 61

Menentang dan Membangkan Penguasa

Kisah Taubat Seorang yang Menuduh Syaikh Muh bin Abdul Wahhab Sesat

Kisah Taubat Seorang yang Menuduh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Sesat

Abu Ashim Muhtar Arifin

Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh (wafat 1389 H) rahimahullah mengatakan:

“Aku sekarang akan menyebutkan sebuah kisah tentang Abdurrahman al-Bakri, salah seorang penduduk kota Najd.

Pada mulanya ia adalah salah seorang thalibul ‘ilmi (penuntut ilmu) yang belajar kepada pamannya, yaitu Syaikh Abdullah bin Abdullathif Alu Syaikh dan para syaikh yang lain. Kemudian beliau ingin membuka sebuah madrasah di Aman.

Di sana beliau mengajarkan tauhid dari biaya sendiri. Apabila harta yang dimilikinya telah habis, maka beliau mengambil barang dagangan dari seseorang dan pergi ke India. Terkadang beliau menghabiskan waktu selama setengah tahun di India.

Syaikh al-Bakri mengatakan:

“Aku pernah berada di sisi sebuah masjid di India. Di sana terdapat seorang guru, yang mana apabila seusai mengajar mereka melaknat Ibnu Abdul Wahhab, yakni Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Edisi 60