Jadilah Agen Majalah adz-Dzakhiirah al-Islamiyyah

Persyaratan Agen Majalah adz-Dzakhiirah al-Islamiyyah Mengirimkan fotocopy tanda pengenal KTP/SIM atau yang lainnya. Alamat lengkap untuk pengiriman majalah. (Apabila alamat tanda pengenal tidak sama dengan alamat tempat tinggal Anda sekarang) Pemesanan majalah Selengkapnya »

 

Majalah Islami Adz-Dzakhirah Edisi 70

Cover Majalah Islami Adz-Dzakhirah Al-Islamiyyah Edisi 70 Tahun 1432 / 2011

Cover Majalah Islami Adz-Dzakhirah Al-Islamiyyah Edisi 70 Tahun 1432 / 2011

Majalah Islami Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah, volume 9, nomor 04, Edisi 70, tahun 1432 / 2011.
Daftar Agen Majalah adz-Dzakhiirah, segera dapatkan di toko dan agen terdekat di kota Anda!

Daftar Isi:

Pena Redaksi
Tanya-Jawab

Di antara Nama Alloh yang Indah, asy-Syahiid dan ar-Roqiib
Oleh: Abul Mundzir Abdurrahman Hadi, Lc.

Takut kepada Neraka Meski dengan Secuil Kurma
Oleh: Muhtar Arifin, Lc.

Sepenggal Kisah dari Keikhlasan Para Salaf
Oleh: Abu Abdillah Fadlan Fahamsyah, Lc.

Anugrah yang Dianggap Musibah
Oleh: Fadlan Fahamsyah, Lc.

Amalan Paling Ringan, Berpahala Paling Besar

Majalah Islami Adz-Dzakhirah Edisi 69

Cover Majalah Islami Adz-Dzakhirah Al-Islamiyyah Edisi 69 Tahun 1432 / 2011

Cover Majalah Islami Adz-Dzakhirah Al-Islamiyyah Edisi 69 Tahun 1432 / 2011

Majalah Islami Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah, volume 9, nomor 03, Edisi 69, tahun 1432 / 2011.
Daftar Agen Majalah adz-Dzakhiirah, segera dapatkan di toko dan agen terdekat di kota Anda!

Daftar Isi:

Pena Redaksi
Suara Pembaca

Kenapa Kupilih Jalan Dakwah
Oleh: Fuad Hamzah Baraba’, Lc.

Di antara Nama Allah yang Indah, al-Qowiy dan al-Matin
Oleh: Abul Mundzir Abdurrahman Hadi, Lc.

Istiqomah dalam Ketaatan
Oleh: Farid Muhammad al-Bathothy, Lc.

Menjadi Pegawai yang Amanah
Oleh: Dr. Ali Mushri Semjan Putra, MA.

Majalah Islami Adz-Dzakhirah Edisi 68

Cover Majalah Islami Adz-Dzakhirah Al-Islamiyyah Edisi 68 Tahun 1432 / 2011

Cover Majalah Islami Adz-Dzakhirah Al-Islamiyyah Edisi 68 Tahun 1432 / 2011

Majalah Islami Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah, volume 9, nomor 02, Edisi 68, tahun 1432 / 2011.
Daftar Agen Majalah adz-Dzakhiirah, segera dapatkan di toko dan agen terdekat di kota Anda!

Daftar Isi:

Pena Redaksi
Suara Pembaca

Dua Hal yang Memasukkan Manusia ke Surga
Oleh: Abu Ahmad Fuad Hamzah Baraba’, Lc.

Kemungkaran di Kuburan
Oleh: Ahmad Jamil bin Alim

Di Antara Nama Alloh yang Indah, Al-Kabir dan Al-‘Adhim
Oleh: Abul Mundzir Abdurrahman Hadi, Lc.

Urgensi Bahasa Arab dalam Memahami Syariat
Oleh: Abu ‘Ashim Muhtar Arifin, Lc.

Dosa-dosa yang Disegerakan Adzabnya

Buah Istikhoroh

Imam adz-Dzahabi rohimahulloh menceritakan bahwasanya pernah ada suatu perjalanan yang mengumpulkan empat orang ulama yang sama-sama bernama Muhammad: Muhammad bin Jarir ath-Thobari, Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah, Muhammad bin Nashr al-Marwazi, Muhammad bin Harun ar-Ruyani rahimahumulloh jami’an. Bekal perjalanan mereka sama-sama habis sehingga mereka sama-sama lapar. Lalu mereka berkumpul di dalam satu rumah dan mengundi, barangsiapa yang keluar namanya, maka ia mendapat tugas untuk meminta sedekah kepada orang-orang.

Ternyata undian jatuh kepada Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah. Ia berkata, “Tunggu sejenak, biarkan aku sholat istikhoroh terlebih dahulu.”

Setelah itu ia bertolak menuju ke pintu untuk keluar. Namun tiba-tiba ia melihat beberapa buah lilin ada di depan pintu yang dibawa oleh beberapa tentara utusan. Mereka mengetuk pintu, dan Muhammad bin Ishaq membukakan pintu untuk mereka.

Mereka (para tentara utusan) berkata, “Siapa dari kalian yang bernama Muhammad bin Nashr?.” Lalu mereka mengeluarkan pundi uang sejumlah 50 dinar dan memberikan kepadanya.

Mereka bertanya lagi, “Mana yang namanya Muhammad bin Jarir?” Lalu mereka memberinya 50 dinar. Demikian seterusnya hingga keempat Muhammad mendapatkan 50 dinar.

Kemudian utusan itu menjelaskan bahwa Amir (Pemimpin) mereka telah bermimpi dan melihat keempat Muhammad kelaparan, maka itu ia mengirimkan pundi-pundi uang itu kepada mereka. Dan dia bersumpah, apabila uang-uang tersebut habis, hendaklah mereka mengabarkan kepada Amir tersebut.

(Siyar A’lamun Nubala`, adz-Dzahabi, 14/270 & 508. Dinukil dari kitab Jami’ Mukhtashor al-‘Ulum, Dr. Fakhruddin bin az-Zubair al-Muhsi, hal. 24)


Dari: Majalah Islami, adz-Dzakhiirah al-Islamiyyah, edisi 67, tahun 1432 H / 2011, halaman 71.


Segera terbit: Majalah Islami Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah, edisi 68!

Keutamaan Mekkah

(Disarikan dari makalah Najlah Sholih yang berjudul Fadlu Mekkah al-Mukarromah dan makalah lainnya, oleh Abu Hasan Arif.)

Di antara tempat/negeri yang memiliki keutamaan dan keagungan adalah Ummul Quro, “Mekkah al-Mukarromah”, di tempat ini terdapat Ka’bah, rumah yang dibangun untuk ibadah kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala. Ka’bah adalah kiblat kaum muslimin baik yang masih hidup maupun yang telah tiada. Sesungguhnya negeri Mekkah adalah tempat turunnya wahyu Alloh, dan risalah (agama Islam), tidak ada seorangpun dari kalangan muslimin yang mengingkari keutamaan negeri Mekkah. Mekkah adalah tempat yang paling dicintai Alloh.

Dari Abdulloh bin Adi bin Hamro rodhiyallohu ‘anhu, ia berkata:

رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاقِفًا عَلَى الْحَزْوَرَةِ، فَقَالَ: وَاللَّهِ إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ، وَأَحَبُّ أَرْضِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ، وَلَوْلاَ أَنِّي أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ.

“Saya melihat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam berdiri di Hazwaroh (salah satu daerah di Mekkah), lalu beliau bersabda, “Demi Alloh, sesungguhnya engkau sebaik-baik bumi Alloh, dan negeri Alloh yang paling dicintai Alloh, kalau bukan lantaran aku dikeluarkan darimu [1], niscaya aku tidak keluar.” (HR. Tirmidzi dan ia menshohihkannya, Nasa’i dalam Sunan al-Kubro, Ibnu Majah, al-Hakim dalam al-Mustadrok dan ia menshohihkannya.)

DI ANTARA KEUTAMAAN KOTA MEKKAH

Alloh Ta’ala memuliakan penduduk kota Mekkah dengan adanya Baitulloh al-Harom rumah peribadatan pertama kali di muka bumi.
Alloh Ta’ala berfirman:

٩٦. إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكاً وَهُدًى لِّلْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitulloh yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS. Ali Imron: 96)

Majalah Islami Adz-Dzakhirah Edisi 67

Cover Majalah Islami Adz-Dzakhirah Al-Islamiyyah Edisi 67 Tahun 1432 / 2011

Cover Majalah Islami Adz-Dzakhirah Al-Islamiyyah Edisi 67 Tahun 1432 / 2011

Majalah Islami Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah, volume 9, nomor 01, Edisi 67, tahun 1432 / 2011.
Daftar Agen Majalah adz-Dzakhiirah, segera dapatkan di toko dan agen terdekat di kota Anda!

Daftar Isi:

Pena Redaksi
Suara Pembaca

Wabah Syirik Menjangkiti Umat
Oleh: Abu Nafiisah Abdurrahman Toyyib, Lc.

Di Antara Nama Alloh yang Indah, al-‘Afwu, al-Ghofur, dan at-Tawwab
Oleh: Abul Mundzir Abdurrahman Hadi, Lc.

Hakekat Hidup Hina dan Mulia
Oleh: Imam Wahyudi, Lc.

3 (Tiga) Wasiat Rosululloh
Oleh: Muhammad Farid al-Bathothy, Lc.

Kami akan Terus Membelamu, Wahai Ibu Kami, ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anhaa

Penulis: Ustadz Mubarak Bamualim, Lc. MHI (hafidzohullohu)

Siapa tidak mengenal Ummul Mukminin ‘Aisyah ash-Shiddiqoh binti Abu Bakar ash-Shiddiq rodhiyallohu ‘anhumaa? Sungguh pulpen ini lemah dan tidak mampu mengungkapkan tentang Ummul Mukminin ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anhaa setelah Alloh Ta’ala menurunkan wahyu tentang beliau, wahyu yang dibaca sepanjang masa. Apakah ada kalimat yang lebih baik, yang lebih benar dan yang lebih sempurna dari kalimat Alloh Robbul ‘Alamin??!

Namun, karena masih ada saja orang-orang yang memakan daging wanita yang disucikan Alloh dari tujuh lapis langit, oleh karena itu kami sajikan kepada pembaca budiman tulisan ini sebagai bentuk pembelaan terhadap kehormatan Ibu kami, Ibu Kaum Mukminin -‘Aisyah binti Abu Bakar- sebagai wujud pelaksanaan apa yang disebutkan Alloh dalam al-Qur’an yang mulia:

١٦٤. وَإِذَ قَالَتْ أُمَّةٌ مِّنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْماً اللّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَاباً شَدِيداً قَالُواْ مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata, “Mengapa kamu menasihati kaum yang Alloh akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab, “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Robb kamu[1], dan supaya mereka bertakwa.” (QS al-A’roof: 164)

Ummul Mukminin, Sayyidah ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anhaa dan Manaqib (berbagai kemuliaan) beliau:

Apa yang Telah Kau Perbuat dengan Ilmumu?

Seorang hamba akan ditanya tentang ilmunya, apa yang dikerjakan dengan ilmu tersebut…

Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa manusia kelak pada hari kiamat akan ditanya tentang ilmu yang dia peroleh, apa yang telah ia lakukan dengan ilmu tersebut? Sebagaimana hadits dari Abi Barzah al-Aslami rodhiyallohu ‘anhu, bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah bergesar kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga dia ditanya tentang empat hal –dan disebutkan di antaranya- tentang ilmunya, apa yang telah diperbuat dengan ilmu tersebut.” (HR Tirmidzi: 2417)

Diriwatakan dari Abi Darda’ rodhiyallohu anhu, beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam berkata, “Sesungguhnya yang sangat saya takutkan pada hari kiamat adalah tatkala Robbku memanggilku, kemudian berkata, ‘Wahai Uwaimir! Apa yang kamu kerjakan dari hal-hal yang kamu ketahui?’

Ini merupakan perkara yang besar, keadaan yang sangat mengkhwatirkan, setiap dari ilmu yang diperoleh seorang hamba kelak hari kiamat akan ditanya: apa yang kamu kerjakan dari hal-hal yang kamu ketahui? Karena maksud dari ilmu adalah amal, sebab itu setiap manusia akan ditanya tentang ilmunya yang telah ia pelajari.

Ilmu dan Amal Tujuan dari Penciptaan

Ilmu dan amal perbuatan adalah tujuan dari penciptaan

Kebutuhan ilmu kepada amal perbuatan sangat jelas terlihat tatkala kedua perkara tersebut merupakan tujuan dari penciptaan, Alloh Subhanahu wa Ta’ala menciptakan makhluk agar mereka mengetahuiNya, dan Alloh menciptakan mereka agar mereka menyembah Alloh.

Dalil pertama yang menunjukkan hal tersebut adalah firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala dalam akhir ayat dari surat ath-Tholaq:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. perintah Allah Berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan Sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. (QS ath-Tholaq: 12)

Kalimat dalam firman Alloh: kholaqo (Allah menciptakan), kemudian lita’lamu (agar kamu mengetahui), maka ilmu itu tujuan dari penciptaan.

Dalil yang kedua: firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala pada akhir dari surat adz-Dzariyat:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah kepadaKu. (QS adz-Dzariyat: 56)

Memulai Hari dengan Kalimat Tauhid

Di antara doa-doa agung yang dipanjatkan oleh Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam setiap pagi hari, diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Abdurrohman bin Abza rodhiyallohu ‘anhu berkata: “Dahulu Nabi (shollallohu ‘alaihi wasallam) jika waktu telah pagi, beliau berkata:

أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ اْلإِسْلاَمِ وَعَلَى كَلِمَةِ اْلإِخْلاَصِ وَعَلَى دِيْنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّم وَعَلَى مِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْراَهِيْمَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

Di waktu pagi kami berada di atas fithroh Islam, di atas kalimat ikhlas, di atas agama Nabi kami Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, di atas agama ayah kami, Ibrohim ‘alaihissalam, yang berdiri di atas jalan yang lurus, seorang muslim, dan bukan termasuk di antara orang-orang musyrik.

Hal apa yang paling indah di pagi hari, tatkala seorang muslim baru membuka matanya, baru bangun dari kematian kecil, tiada yang lebih indah dengan cara memulai dengan bacaan doa di atas, dengan kalimat-kalimat agung di atas yang mencakup tentang pembaharuan keimanan seorang hamba, pengumuman tentang ketauhidan, pengokohan akan kesungguhan mengikuti agama Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, dan mengikuti agama kekasih Alloh -Nabi Ibrohim alaihissalam-, agama yang lurus nan selamat, dan jauh dari kesyirikan, baik yang kecil maupun yang besar.