Majalah adz Dzakhiirah AL ISLAMIYYAH Edisi 97

Segala puji hanya milik Allah , shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi kita, Muhammad j beserta keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti petunjuk-Nya sampai hari kiamat, amma ba’du. Para pembaca Selengkapnya »

 

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 88

Cover Majalah Islami Adz-Dzakhirah Al-Islamiyyah Edisi 87 Tahun 1435 / 2013

Cover Majalah Islami Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 88 Tahun 1435 H / 2014 M

Segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala, shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad beserta keluarga, sahabatnya serta orang-orang yang menempuh jalan dengan petunjuknya.

Cinta kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah menjadi kewajiban kaum muslimin. Di antara konsekuensi dari kecintaan tersebut adalah mencintai apa saja yang dicintai Allah ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta membenci apa yang dibenci Allah ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sikap inilah yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam sebagai tauladan bagi orang-orang yang mengikutinya. Allah ‘azza wa jalla berfirman:

Sungguh telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata kepada kaumnya: Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami mengingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu ada permusuhan dan kebencian selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS. al-Mumtahanah [60]: 4)

Allah ‘azza wa jalla telah menjelaskan bahwa hakikat walaa’ (loyalitas) hanyalah mutlak milik-Nya, Rasul-Nya dan kaum Mukminin, bukan kepada mereka orang-orang kuffar. Sehingga tidaklah dibenarkan sama sekali bagi siapa saja dari kaum Muslimin untuk berkasih sayang dengan orang-orang di luar Islam, sekalipun masih tergolong kaum kerabat atau sanak familinya.

Untuk itulah pada edisi kali ini akan kami ketengahkan tema “Loyalitas dalam Perspektif Islam”. Dan tidak lupa kami hadirkan pula tema-tema menarik lainnya. Semoga bermanfaat.

Pena Redaksi

SUARA PEMBACA: Hukum Mengeraskan Bacaan Dzikir untuk Pembelajaran

AKIDAH: Akidah Walaa’ dan Baraa’ dalam Perspektif Islam
Oleh: al-Ustadz Hermawan, Lc.

FADHAIL: Wudhu dan Dzikir Sebelum Tidur
Oleh: al-Ustadz Askar Wardhana WS., Lc.

MUTIARA SALAF: Penyebab Doa Mustajab

TAFSIR: Betapa Berat Mengemban Amanat
Oleh: al-Ustadz Andy Fahmi Halim, Lc.

FATAWA:
1. Mengapa Ada Kemaksiatan dan Kekufuran
2. Memindah Anak-anak ke Shaf Belakang
3. Menjawab Salam yang Terdengar dari Radio
4. Wanita Memotong Rambutnya, Bolehkah?

ADAB: Penghormatan Islam kepada Mereka yang Berusia Senja
Oleh: al-Ustadz Fajar Basuki, Lc.

FAWAID: Aku Diberi Rezeki Mencintainya
Oleh: al-Ustadz Abu Hasan Arif

NASIHAT: Hati-hati dengan Kamus al-Munjid
Oleh: al-Ustadz Saparudin, Lc.

Dapatkan segera majalahnya……via SMS ke 0817 520 3992

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 87

Cover Majalah Islami Adz-Dzakhirah Al-Islamiyyah Edisi 87 Tahun 1435 / 2013

Cover Majalah Islami Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 87 Tahun 1435 H / 2014 M

Segala puji hanya milik Allah subhanahu wa ta’ala, shalawat dan salam kepada junjungan Nabi kita, Muhammad, amma ba’du.

Nasihat, sebuah kata yang mudah diucapkan. Sering pula didengar oleh telinga. Namun, tidak banyak yang meyakini akan keagungannya. Nasihat memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam ajaran agama Islam. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun telah menyebut nasihat sebagai agama, atau agama adalah nasihat. Sebagaimana beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Agama adalah nasihat”. Para sahabat bertanya: “Untuk siapa?” Beliau menjawab: “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para imam kaum muslimin dan umat muslim seluruhnya” (HR. Muslim: 55)

Atas dasar hadits tersebut, nasihat memiliki kedudukan yang sangat agung dalam agama Islam. Dan nasihat juga memiliki peranan yang sangat penting dalam memperbaiki umat. Nasihat sangatlah dibutuhkan oleh seluruh lapisan masyarakat khususnya di zaman ini, yang mana kebanyakan manusia sudah tidak mempedulikan lagi mana harta yang halal maupun yang haram. Kezaliman terjadi dimana-mana. Maka dari itu, salah satu cara untuk memperbaiki kondisi tersebut adalah dengan cara memberi nasihat. Memberikan nasihat tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, sehingga orang yang dinasihati akan dengan mudah menerima nasihat tersebut. Maka memberi nasihat pun ada caranya sehingga diharapkan orang yang diberi nasihat akan mudah menerima nasihat. Terlebih lagi jika yang ingin dinasihati adalah seorang pemimpin, ulama atau orang yang memiliki kedudukan. Maka adab-adab memberi nasihat lebih harus dijaga, tetap disertai rasa hormat dan memuliakan mereka.

Imam at-Turtusi mengatakan: “Manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka memuliakan penguasa dan ulama, jika mereka memuliakan keduanya, Allah akan memperbaiki urusan dunia dan akhiratnya, dan jika meremehkan keduanya, maka Allah akan merusak dunia dan akhiratnya.”

Oleh karenanya, bagi kaum muslimin yang ingin menasihati saudaranya maka harus memperhatikan adab-adab dalam memberi nasihat, sebagaimana ia juga harus berusaha memperhatikan sebab-sebab diterimanya nasihat. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang dapat mengajarkan kebaikan dan memberi manfaat kepada orang lain, serta dapat beramar ma’ruf dan nahi munkar di mana pun berada.

Pena Redaksi

SUARA PEMBACA: Wajibkah Zakat, Emas untuk Pelunasan Sisa Biaya Haji?

BAHASAN UTAMA: Peran Nasihat dalam Memperbaiki Umat
Oleh: al-Ustadz Abdurrahman Hadi, Lc.

AKIDAH: Sarana-Sarana Kesyirikan Menurut Imam asy-Syafi’i
Oleh: al-Ustadz Saparudin, Lc.

MUTIARA SALAF: Jangan Lupakan Dia Saat Engkau Bahagia

AKHLAK: Indahnya Berteman dalam Islam
Oleh: al-Ustadz Musta’in Syahri, Lc.

FATAWA:
1. Hukum Memberi Hadiah untuk Mengingat Hari Pernikahan
2. Merayakan Hari Valentine?
3. Berpahalakah Membaca Hadits?

FADHAILKeutamaan Sifat Malu
Oleh: al-Ustadz Askar Wardhana, Lc.

MUTIARA SALAF: Ketika Dosa Hendak Menyapa, Berdzikirlah Segera

TAFSIR: Bahaya Beramal untuk Dunia?
Oleh: al-Ustadz Andy Fahmi Halim, Lc.

TAZKIYATUN NUFUS: Semua Tentang Cinta
Oleh: al-Ustadz Nur Cholis, S.Pd.I.

KENANGAN: Al-Ustadz Imam Wahyudi dalam Kenangan dan Doa
Oleh: al-Ustadz Abdurrahman Hadi, Lc.

FAWAID: Jangan Remehkan Senyumanmu
Oleh: al-Ustadz Askar Wardhana, Lc.

KENANGAN: Selamat Jalan Sobatku, Imam Wahyudi, Lc.
Oleh: al-Ustadz Abdurrahman Thoyib, Lc.

Dapatkan segera majalahnya……via SMS ke 0817 520 3992

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 86

Cover Majalah Islami Adz-Dzakhirah Al-Islamiyyah Edisi 86 Tahun 1434 / 2013

Cover Majalah Islami Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 86 Tahun 1435 H / 2014 M

Segala puji hanya milik Allah subhanahu wa ta’ala, shalawat dan salam kepada junjungan Nabi kita, Muhammad, amma ba’du.
Pembaca budiman rahimakumullah, ketika berbicara tentang anugerah atau karunia Allah bagi semesta alam, maka pembicaraan masalah ini tidak akan pernah berhenti. Bagaimana tidak, anugerah yang diberikan oleh Allah kepada seluruh alam, khususnya kaum muslimin tidak terhitung jumlahnya dan tidak mungkin manusia mampu menghitungnya. Itulah salah satu bentuk kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala kepada hamba-Nya.
Dan di antara anugerah tersebut yang wajib untuk selalu disyukuri oleh kaum muslimin adalah diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada mereka. Keadaan manusia pada masa jahiliyah benar-benar terpuruk dan dalam keadaan hina. Mereka menyembah berhala dan berbuat syirik kepada Allah, manusia kehilangan harga diri dan kehormatan, sehingga yang tersisa hanyalah berbangga-bangga terhadap suku dan golongan. Merekapun tidak gembira tatkala lahir bayi perempuan di tengah­tengah mereka, sehingga mereka pun membunuhnya karena dianggap suatu aib. Bahkan jika mereka khawatir akan kemiskinan, mereka pun membunuh anak-anak mereka. Na’udzu billah min dzalik.
Maka, sebagai wujud dari kasih sayang Allah kepada manusia, diutuslah Rasulullah agar dapat memperbaiki kehidupan masyarakat jahiliyah. Dan inilah yang menjadi sebab mengapa diutusnya Rasulullah j sebagai kenikmatan terbesar bagi kaum muslimin.
Untuk itulah, wajib bagi kaum muslimin untuk mensyukuri nikmat yang agung ini. Dan diantaranya adalah dengan mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mengerjakan segala perintah beliau, dan tidaklah beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Banyak dari kaum muslimin yang mengaku cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka senantiasa bershalawat atas Rasulullah. Namun, sudah benarkah cara mereka mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Sudah sesuaikah shalawat mereka dengan shalawat yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Untuk mengetahui jawabannya, marilah kita simak majalah pada edisi kali ini. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang dicintai oleh-Nya.
‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu dan perbuatan yang mengantarkanku kepada cinta-Mu. Ya Allah, jadikanlah ‘cinta-Mu’ lebih aku cintai daripada diriku sendiri, keluargaku dan dari air yang dingin’.”

Pena Redaksi

SUARA PEMBACA: Tidak Mendapatkan Khutbah Jum’at Sahkah Shalatku? ?

IBADAH: Kecintaan Tanpa Perayaan
Oleh: al-Ustadz Askar Wardhana, Lc.

AKHLAK: Bukti Cinta kepada Rasulullah
Oleh: al-Ustadz Musta’in Syahri, Lc.

TAFSIR: Karunia Diutusnya Rasulullah
Oleh: al-Ustadz Andi Fahmy Halim, Lc.

FATWA:
1. Benarkah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hadir dalam majelis perayaan maulid?
2. Benarkah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam lebih dahulu diciptakan daripada Nabi Adam ‘alaihissalam?
3. Semua makhluk diciptakan dari cahaya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, benarkah??

FAWAID: Mimpi Melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
Oleh: al-Ustadz Imam Wahyudi, Lc., M.Pd.I. rahimahullah

FADHAIL: Sudah Benarkah Shalawat Anda?
Oleh: al-Ustadz Mubarak Bamualim, Lc. MHI.

AKIDAH: Ahli Bait dalam Pandangan Ahlus Sunnah wal Jamaah
Oleh: al-Ustadz Fadlan Fahamsyah, Lc. MHI.

MUTIARA SALAF
1. Masihkah Kita Berpaling dari Sunnah Nabi Kita?
2. Siapkah Engkau Ditanya?
Oleh: al-Ustadz Abdul Basith, Lc.

SEJARAH: 12 Rabi’ul Awwal
Oleh: al-Ustadz Abu Hasan Arif

MANHAJ: Masa Depan Pasti Milik Islam
Oleh: al-Ustadz Abdurrahman Hadi, Lc.

Dapatkan segera majalahnya……via SMS ke 0817 520 3992

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 85

Cover Majalah Islami Adz-Dzakhirah Al-Islamiyyah Edisi 83 Tahun 1434 / 2013

Cover Majalah Islami Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 85 Tahun 1435 H / 2013 M

Segala puji hanya milik Allah subhanahu wa ta’ala, shalawat dan salam kepada junjungan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, amma ba’du.
Pembaca budiman rahimakumullah,
Allah ta’ala telah menciptakan manusia dengan tujuan agung yaitu ibadah kepada-Nya. Dan untuk mewujudkan tujuannya, Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan kitab-Nya, mengutus para rasul-Nya, terutama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sungguh keberadaan beliau di muka bumi benar-benar digunakan untuk menghambakan diri kepada Allah, menunaikan risalah-Nya, menyebarkan kebaikan dan menghilangkan kejelekan. Ucapannya adalah syariat, perbuatannya adalah panutan, ketetapannya merupakan tuntunan. Semua itu tampak dalam praktik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang telah para sahabat riwayatkan itu semua kepada ge­nerasi berikutnya dengan sempurna, utuh lagi terjaga sampai hari kiamat.
Oleh karena itu, apabila seorang hamba sudah mendapatkan nikmat terbesar berupa Islam, maka seyogyanya pengenalannya terhadap agamanya tidak hanya sebatas nama dan KTP atau sebatas pada apa yang didapat dari orang tua atau lingkungan sekitar, akan tetapi ada tugas yang lebih besar dari itu, yaitu usaha agar ibadahnya sesuai de­ngan yang diinginkan oleh Allah dan yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Untuk merealisasikan cita-cita yang agung ini, rasanya perlu kami menyuguhkan tema “Kewajiban setiap Muslim terhadap Agamanya”, mudah-mudahan memberikan pencerahan kepada kita semua.
Dan tidak lupa kami ketengahkan pula tema-tema menarik lainnya, mudah-mudahan menjadi perbendaharaan ilmu yang bermanfaat di dunia dan akhirat, amiin.

Pena Redaksi

SUARA PEMBACA: Mentalak lewat SMS ?

AKHLAK: Keutamaan Sifat Lemah Lembut
Oleh: al-Ustadz Askar Wardhana, Lc.

KAMUS ISLAMI:
Pengertian :
1. Tahrif
2. Ta’thil
3. Takyif
4. Tamtsil
5. Tasybih
Oleh: al-Ustadz Abdul Basith, Lc.

TAZKIYATUN NUFUS: Penghancur Segala Kelezatan
Oleh: al-Ustadz Fadlan Fahamsyah, Lc. MHI.

IBADAH: Kewajiban Setiap Muslim Terhadap Agamanya
Oleh: al-Ustadz Abdurrahman Hadi, Lc.

TAFSIR: Menyelami Hukum Sihir Menurut Al-Qur’an
Oleh: al-Ustadz Andi Fahmy, Lc.

FATWA:
1. Membaca Al-Qur’an di Masjid dengan suara nyaring?
2. Sahkah Shalat di Belakang Shaf Perempuan?
3. Jin Mengetahui Perkara Ghaib?
4. Keluar Mani Lagi Setelah Mandi Jinabat, Haruskah Mandi Lagi?
5. Tidur Saat Khutbah Jum’at, Apakah Harus Wudhu Lagi?
6. Membantu Fakir Miskin dengan Uang Riba

AKIDAH: Hukum Tathayyur dalam Kaca Mata Syari’at
Oleh: al-Ustadz Hermawan, Lc.

FADHAIL: Keutamaan Membaca Surat al-Kahfi Pada Hari Jum’at
Oleh: Sofyan Hadi as-Sasaky, S.Pd.I.

SYAIR: Sakaratul Maut, Sesuatu yang Pasti
Oleh: al-Ustadz Hermawan, Lc.

MUTIARA SALAF
1. Pejamkanlah Matamu Sejenak
2. Mensyukuri Nikmat Anggota Badan
3. Hakikat Kesehatan
Oleh: al-Ustadz Abdul Basith, Lc.

ADAB: Bekal Berharga untuk Musafir
Oleh: al-Ustadz Musta’in Syahri, Lc.

Dapatkan segera majalahnya……via SMS ke 0817 520 3992

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 84

Cover Majalah Islami Adz-Dzakhirah Al-Islamiyyah Edisi 83 Tahun 1434 / 2013

Cover Majalah Islami Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 84 Tahun 1435 / 2013

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah subhanahuwata’ala, shalawat dan salam
kepada junjungan Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, amma ba’du.Pembaca budiman, –rahimakumullah– gemuruh kudeta di Timur Tengah masih terasa panas, percaturan politik di negeri inipun kian memuncak dengan semakin dekatnya pemilu. Semua yang terjun mengklaim bahwa diri dan partainya lah yang paling berhak memegang tampuk epemimpinan dan paling berhak diberi dukungan oleh rakyat.Ketika melihat realita semacam ini, janganlah tertipu dengan slogan dan propaganda yang ada, walaupun sebagian mereka mengatasnamakan agama dan dakwah, karena dakwah melalui parlemen dan politik praktis sendiri sama sekali tidak memajukan dakwah, bahkan menjadikan prinsip-prinsip dasar yang harus dipegang erat (terutama yang berkaitan dengan akidah dan manhaj) dapat menjadi pudar, baik
karena alasan mengeruk massa maupun mencari simpatisan, sehingga lebih menuruti keinginan massa tanpa memandang apakah itu syirik, bid’ah, maksiat, ataupun berbagai alasan yang lain.Ini bukanlah hal baru, tapi sudah lama dicoba dan dibuktikan saudara-saudara kita di negeri ini atau di negara lain, mereka ingin mengubah tapi diri mereka sendiri lah yang justru berubah, dan mereka ingin memberikan pengaruh tapi justru mereka yang terpengaruh.tidak ada akidah (tauhid) yang mereka dakwahkan, tidak ada sunnah yang dapat mereka tegakkan, tidak ada syirik yang mereka peringatkan
umat darinya dan tidak pula bid’ah yang mereka ingkari, naasnya tak ada satu jengkalpun tanah di bumi yang mereka dapatkan. Inilah yang hendaknya kita perhatikan demi menjaga akidah, prinsip serta agama secara utuh, yang mana itu lebih mahal daripada dunia dan seisinya.Marilah kita berdakwah dengan benar, mengajak manusia kepada agama Allah, perhatikan bagaimana dakwah para Rasul dan lihat pula bagaimana kekuatan Islam terbangun saat Sulhul Hudaibiyyah.
Pembaca budiman yang dimuliakan Allah , pada edisi kali ini kami ketengahkan ke ruang baca Anda, materi aktual dengan judul “Aku Taubat dari Berpolitik, Pelajaran dari Tragedi Mesir” dan simak pula tema-tema lain yang tak kalah menarik. Mudah-mudahan menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua.
Pena Redaksi

Tanya Jawab: Kapan mengaqiqahi anak ?

Tanya Jawab: Bagaiamana hukum berobat ke dokter non Muslim? ?

AKIDAH: Mengobati Umat dengan Kalimat Laa Ilaaha Illalllah
Oleh: Abdurrahman Hadi, Lc

AKIDAH: Kilas Tradisi Bulan Suro dalam Tinjauan Akidah
oleh: Hermawan, Lc.

FADHAIL:Bulan-Bulan yang Dimuliakan
Oleh: Andi Fahmi, Lc.

KAMUS ISLAMI:
Pengertian :
1. Tabarruk
2. Isti’adzah
3. Isti’anah
4. Istighatsah
Oleh: Abdul Basith, Lc.

MANHAJ:Aku Taubat dari Berpolitik
oleh: Abdurrahman Hadi, Lc.

FATWA:
1. Apa yang hendaknya dilakukan ketika masuk masjid saat adzan dikumandangkan?
2. Bagaiamana hukumnya jika jenazah tidak segera dikubur karena menunggu keluarga yang jauh?
3. Apa hukumnya berjabat tangan setelah shalat?
4. Benarkah kepala Husain dikubur di Mesir?

NASIHAT: Berburu derajat di surga
oleh: Askar Wardhana, Lc.

SUARA PEMBACA: Siapakah sebenarnya Ibnu Sina?
oleh: Hermawan, Lc

ADAB: Agar Ziarah kubur membawa berkah
oleh: Musta’in, Lc.

SEJARAH: Mencintai Muawiyah bin Abi Sufyan
oleh: Abu Hasan Arif

Segera dapatkan majalah ini via SMS ke 0817 520 3992

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 83

Cover Majalah Islami Adz-Dzakhirah Al-Islamiyyah Edisi 83 Tahun 1434 / 2013

Cover Majalah Islami Adz-Dzakhirah Al-Islamiyyah Edisi 83 Tahun 1434 / 2013

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu.

Segala puji bagi Allah yang telah berfirman: “Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Qur`an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.” (QS. at-Taubah: 33)
Dan segala puji bagi Rasulullah yang Allah puji dengan Firman-Nya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS. al-Ahzab: 21)
Pembaca budiman –rahimakumullah–, pada ayat yang pertama, Allah menjanjikan kepada Rasulullah dan kaum muslimin akan kemena­ngan Islam. Pada ayat yang kedua di atas Allah memerintahkan kita untuk mencontoh beliau saw dalam segala hal. Termasuk dalam mewujudkan kemenangan agama Islam. Sesuatu yang menjadikan generasi Rasulullah itu baik maka itu pula yang menjadikan umat belakangan akan baik.
Kalau kita cermati bahwa jalan beliau adalah dengan beberapa cara, di antaranya adalah, pertama: memperbaiki akidah dan pemurnian tauhid manusia. Rasulullah selama 13 tahun di Mekkah menyibukkan diri dengan dakwah kepada tauhid dan tidak kepada yang lainnya, walaupun para sahabatnya ada yang disiksa atau bahkan dibunuh. Saat itu Rasulullah tidak memiliki daya kecuali hanya mengatakan kepada keluarga Yasir: “Sabarlah wahai keluarga Yasir sesungguhnya balasan bagi kalian adalah surga.”
Dan beliau tidak memerintahkan balas dendam dan tidak pula berperang karena kondisi umat Islam masih lemah.
Kedua: Dengan menciptakan kondisi aman dan memanfaatkan untuk lebih giat dalam mendakwahkan Islam dengan potret aslinya, sebagaimana yang Allah firmankan dan Rasulullah praktikkan serta ajarkan kepada para sahabat. Karena kekuatan Islam ada pesonanya yang indah dan hujjah serta dalil yang kuat. Itu semua akan menyebabkan manusia tertarik dan berbondong-bondong masuk Islam, sebagaimana terjadi pada saat Perjanjian Hudaibiyyah yang bisa disimak pada rubrik manhaj.
Para pembaca budiman, pada edisi kali ini, disamping materi manhaj yang menarik, kita juga mengangkat materi-materi lain yang penting seperti akidah, ibadah terkait bulan Dzulhijjah, dll. yang mudah-mudahan menjadi tambahan ilmu dan amal shalih.

Pena Redaksi

Tanya Jawab: Memperlakukan Lebih dari Sekedar Mahram?

 

FADHAIL:Menyambut 10 Hari Pertama Bulan Dzulhiijjah
Oleh: Askar Wardhana, Lc

Tafsir : Tafsir Surat al Baqarah 196-197 Oleh: Andi Fahmi, Lc.

NASIHAT:Dua Jenis Wanita
Oleh: Abdurrahman Hadi, Lc.

IBADAH: Berkurban Sesuai Tuntunan Oleh: Abdurrahman Hadi, Lc.

Adab: Adab Masuk Mekkah dan Madinah
oleh: Musta’in, Lc.

Kamus Islami:
Pengertian :
1. Haji
2. Haji Tamattu’
3. Haji Qiran
4. Haji Ifrad
5. Talbiyah
6. Miqat

Oleh: Abdul Basith, Lc.

FATAWA:
1. Wajibkah haji bagi orang yang punya tanggungan hutang?
2. Apa hukumnya orang yang melakukan umrah namun dia melampaui miqat dan tidak memulai ihram dari miqat tersebut?
3. Bagaimana apabila ketika seseorang melakukan thawaf lalu dikumandangkan iqamat shalat, apakah dia mengulangi thawaf dari awal?
4. Apakah wanita yang melakukan ihram diperbolehkan memakai sarung tangan dan kaos kaki?
5. Orang yang sedang melaksanakan haji lalu melakukan kemaksiatan, apakah pahala hajinya berkurang?

(Fatawa al-‘Aqidah wa Arkanil Islam, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin) Diterjemahkan oleh: Abdul Basith, Lc.

FIKIH: Fikih Praktis Shalat Ghaib
oleh: Nur Cholis, S.Pd.I

BAHASAN UTAMA: Perdamaian Jalan Menggapai Kemenangan
oleh: Abdurrahaman Hadi, Lc.

AKIDAH: Pelajaran Akidah dari Ibadah Haji
oleh: Hermawan, Lc.

FAWAID: Aku Tidak Peduli Selama Aku Terbunuh dalam Keadaan Muslim

oleh: Abu Hasan Arif
Segera dapatkan majalah ini via SMS ke 0817 520 3992

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 82 (Edisi Khusus Ramadhan)

Cover Majalah Islami Adz-Dzakhirah Al-Islamiyyah Edisi 82 Tahun 1434 / 2013

Cover Majalah Islami Adz-Dzakhirah Al-Islamiyyah Edisi 82 Tahun 1434 / 2013

Daftar Isi:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu
Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam kepada junjungan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, amma ba’du:
Pembaca yang budiman, di antara nama Allah yang mulia adalah al-Hakim (Maha Bijaksana), Dia memilih apa yang dikehendaki-Nya. Di antara manusia ada hamba pilihan-Nya yaitu para Nabi, para Rasul, Ulul ‘azmi, Khalilaini (dua kekasih-Nya yaitu Ibrahim dan Muhammad), kemudian dari keduanya Allah pilih lagi Rasulullah, Sayyidul ‘awwaliin wal al-Akhiriin, begitupula Allah memilih para sahabat. Allah juga memilih di antara waktu-waktu dalam setahun, yaitu hari Jum’at, sepuluh hari pada bulan Dzulhijjah, bulan-bulan Haram, dll. dan Allah telah mengisyaratkan hal tersebut dalam Firman-Nya yang artinya: “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilih apa yang dikehendaki-Nya.” (QS. al-Qashash [28]: 68) Pembaca yang budiman, di antara bulan pilihan-Nya juga adalah Ramadhan yang sekarang telah menatap kita, bulan yang telah lama kita nanti-nantikan kedatangannya. Akan tetapi, ada satu hal yang hendaknya penjadi perhatian kita semua, bahwa suatu ibadah itu diterima Allah jika sesuai dengan syari’at Islam sedang ibadah tidak akan sesuai tuntunan (syari’at) kecuali apabila didasari dengan ilmu agama Allah , al-Qur`an dan as-Sunnah. Oleh karena itu, kewajiban bagi kita semua adalah berilmu sebelum berucap dan berbuat termasuk dalam hal ibadah pada bulan yang mulia ini.
Pada kesempatan kali ini, kami mengangkat edisi khusus Ramadhan–Syawwal, kami berusaha menyuguhkan materi-materi
sebagai panduan dalam beribadah di bulan yang mulia ini secara tuntas, walaupun sebenarnya kami telah menambah jumlah halaman,ternyata tetap saja masih banyak materi yang harus ngantri tahun depan. Maka kami katakan: مَا لَ يُدْرَكُ كُلُّهُ لَمْ يُتْرَكْ بَعْضُهُ , (Apa yang tidak mungkin dicapai semuanya, tidak lantas ditinggalkan sebagiannya),
sehingga harapan kami mudah-mudahan suguhan sederhana ini merupakan ilmu yang bermanfaat bagi kami dan kaum muslimin dan menjadi bekal dalam mengarungi lautan kebaikan di bulan nan berkah.
وَصَلَّى اللَّهُ وَ سَلَّمَ وَ بَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
وَالسَّلَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللَّهِ وَ بَرَكَاتُهُ
Pena Redaksi

Tanya Jawab: jika
seorang yang puasa wajib (Ramadhan) tidak makan sahur karena ketiduran, apakah puasanya sah?

FADHAIL: Ramadhan Bulan Doa
Oleh: Muhammad Chusnul Yaqin M.Pd.I.

ADAB: Bagaimana Membaca al-Qur’an?
Oleh: Abu Hasan Arif

NASIHAT: Polemik Penentuan Awal Ramadhan & Syawwal Beserta Solusinya
Oleh: Abdurrahman Hadi, Lc.

IBADAH: Pernak-Pernik Shalat Tarawih Oleh: Askar Wardhana, Lc

KAMUS ISLAMI: Makna kata: “shiyam atau shaum”, “Hilal”, “mathali'”, “Qiyamul Lail”, “Qiyam Ramadhan”, “Shalat Tarawih”, “I’tikaf”,”Fidyah”
oleh: Abdul Basith, Lc.

KOREKSI: Kesalahan-kesalahan di Bulan Ramadhan
Oleh: Fadlan Fahamsyah Lc.

FATAWA:
Bagaimana hukum suntik di Siang Hari Bulan Ramadhan
Bagaimana hukum mengakhirkan qada` puasa sampai datang Ramadhan berikutnya?
Bagaimana hukum membayar zakat fitri untuk orang yang berada di luar daerah? 
Bagaimana hukum tidak puasa karena kerja berat?
Apa onani membatalkan Puasa?
Bagaimana hukum menonton TV ketika puasa?
(Fatawa Manar al-Islam, 2/338-339, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin)

FAWAID: Mengenal Lebih Dekat Malam Lailatul Qodar
oleh: Hermawan, Lc

FIKIH: Mereka yang mendapat udzur di Bulan Ramadhan dan Konsekuensinya
oleh: Fadlan Fahamsyah, Lc. dan Abdurrahman hadi, Lc.

FAEDAH: Faedah Seputar Ramadhan dan Puasa
oleh: Muhtar Arifin, Lc.

SYAIR: Lailatul Qodar

Segera dapatkan majalah ini via SMS ke 0817 520 3992

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 81

edisi 81
Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam kepada junjungan Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam para Sahabatnya dan peniti jejaknya sampai hari kiamat, amma ba’du:
Pembaca yang budiman, semua manusia pasti mendambakan kebahagiaan, akan tetapi untuk meraihnya, mereka menempuh beraneka ragam cara, sebagian ada yang dengan cara mengumpulkan harta sebanyak mungkin, ada yang dengan wisata dan rekreasi, ada yang malah menempuhnya dengan cara berbuat zina, makan dan minum yang diharamkan oleh agama, seperti narkoba, sabu-sabu, dll. Begitu pula ada yang memperebutkan kursi kekuasaan. Semua itu, walaupun dipandang oleh manusia sebagai sumber kebahagiaan, pada hakikatnya itu adalah kebahagiaan yang semu. Adapun sumber kebahagiaan yang hakiki adalah apa yang diberitakan Allah Subhanahu wat’ala, Tuhannya manusia. Sebagaimana Allah Subhanahu wat’ala yang menciptakan manusia, maka Dia pula yang paling mengetahui sumber kebahagiaan yang hakiki tersebut. Allah Subhanahu wat’ala dalam al-Qur`an dan rasul-Nya dalam Sunnahnya telah banyak menjelaskan permasalahan agung ini, di antaranya adalah Firman Allah Subhanahu wat’ala:

“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS.an-Nahl [16]: 97)

Untuk mengetahui pembahasan ini, silahkan simak tema utama kita kali ini dengan judul Tiga Pilar Kebahagiaan. Tidak lupa pula kami sajikan materi-materi menarik lainnya. Mudah-mudahan menjadikan ilmu yang bermanfaat yang membuahkan amal shalih.
Wa shallallahu ala Nabiyyina Muhammad Wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.

Daftar Isi:

Pena Redaksi

Tanya Jawab: Hukum Tawasul

 

FADHAIL: Menjadikan Umur Kita Lebih Berkah
Oleh: Askar Wardhana, Lc.

TAZKIYATUN NUFUS: Agar Tetesan Air Mata Menjadi Pahala
Oleh: Fadlan Fahamsyah, Lc

FAWAID: Kaidah dan Faedah Seputar Dzikir
Oleh: Abdurrahman Hadi, Lc.

Khotbah: Tiga Pilar Kebahagiaan: Syukur, Sabar, Istighfar Prof. Dr. Syaikh Abdurrazzaq bun Abdul Muhsin al-Badr diterjemahkan oleh Muhammad Sulhan Jauhari, Lc.

MUTIARA HADITS: Hadits Niat Terjemahan dari Fathu al-Qawwi al-Matin, Karya Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad

MANHAJ: Tauhid Dakwah Prioritas Oleh: Hermawan, Lc.

NASIHAT:Bagaiamana Kita Membaca Sejarah Oleh: Abu HAsan Arif

FATAWA:
Adakah Zakat Mobil Pribadi?
Apa Hukumnya seorang istri mengunjungi tetangga tanpa sepengetahuan suami?
Kapan disyariatkan shalat ghaib?
Apa hukumnya berdiri ketika kencing?
Wajibkah shalat bagi orang yang pingsan?
Apa hukmnya melaknat syaitan?

SYAIR: Menyongsong Surga dengan Bekal Takwa

Segera dapatkan majalah ini via SMS ke 0817 520 3992

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 80

Majalah ada Dzakhiirah AL ISLAMIYYAH edisi 80

Majalah ada Dzakhiirah AL ISLAMIYYAH edisi 80

Majalah Islami Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah, volume 10, nomor 02, edisi 80, tahun 1434 H / Mei 2013.
Daftar Agen Majalah adz-Dzakhiirah, segera dapatkan di toko dan agen terdekat di kota Anda!

Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad , para Sahabat dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka sampai hari kiamat, amma ba’du.
Dalam bermuamalah dengan penguasa manusia terbagi menjaditiga golongan, yang pertama: Mereka yang menganggap bahwa penguasa adalah manusia yang ma’shum (terjaga) dari segala kesalahan. Segala tindakannya adalah benar dan tidak boleh diselisihi. Kedudukannya layaknya seorang nabi dalam segala tindakan dan ucapan. Demikian menurut pandangan Rafidhah (Syi’ah).
Sedangkan kelompok kedua memiliki pandangan dan sikap yang berseberangan dengan yang pertama. Yaitu, apabila penguasa melakukan sebuah kesalahan, maka kesalahan itu dibesar-besarkan, dibongkar di atas mimbar-mimbar, disebarluaskan di berbagai media, bahkan terkadang sang penguasa dikafirkan karenanya. Menurut golongan ini, wajib melakukan pemberontakan dan kudeta dalam rangka menggulingkannya.
Dua golongan tersebut bertentangan dengan Sunnah Nabi Muhammad. Adapun golongan yang ketiga adalah Ahlul haq, Ahlus Sunnah berada di posisi pertengahan, dengan mengatakan, seorang penguasa adalah manusia biasa. Dia memiliki potensi melakukan kebenaran dan kesalahan, ketaatan dan kemaksiatan, sebagian tindakannya ada yang benar, dan ada tindakannya yang salah. Namun, munculnya kesalahan tidak berarti diperbolehkan untuk memberontak, mencaci, menghina kehormatannya, serta menumbuhkan di hati masyarakat sikap antipati kepadanya. Yang seharusnya dilakukan adalah menasihatinya dan menjelaskan kesalahannya melalui aturan yang dibenarkan oleh syariat dengan mempertimbangkan maslahat dan mafsadah.
Pada edisi kali ini kita sajikan tema utama: “Penguasa Potret dari Rakyatnya dan Kudeta dan Politik dalam Pandangan Ahlus Sunnah”. Tak lupa tentunya masih banyak tema menarik lainnya yang menanti untuk Anda baca.
وَ آخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
وَالسَّلَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللّٰهِ وَ بَرَكَاتُهُ

Daftar Isi:

Pena Redaksi

Tanya Jawab: Empat rahasia zuhd Imam Hasan al-Bashri

Kisah: Perang Dzatur Riqa’.

Syaikh Ali Hasan al-Halabi Murid Syaikh Al-Albani ???

Oleh: Abu Mundzir

Pada edisi 41 hal. 44-50 telah kami muat artikel yang berkenaan dengan biografi singkat Syaikh Ali Hasan al-Halabi, dan pada edisi kali ini sekali lagi kami muat untuk para pembaca artikel yang berkaitan dengan Syaikh Ali Hasan dengan judul “Sekali Lagi Tentang Ali al-Halabi”.

I. Sekilas tentang Syaikh Ali Hasan al-Halabi

Beliau dilahirkan di kota Zarqo, Yordania pada 29 Jumadil Tsani 1380 H (1960 M). Nama beliau adalah Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid al-Yafi al-Halabi al-Atsari. Al-Yafi nisbat pada tempat asal beliau (Jaffa, di barat daya Palestina). Al-Halabi nisbat beliau kepada Aleppo, Syria. Al-Urduni nisbat pada tempat keluarganya berhijrah, Yordania. Dan al-Atsari menunjukkan manhaj beliau sebagai pengikut Atsar.

Beliau mulai mencari ilmu ketika berusia 20 tahun lebih sedikit. Guru beliau yang paling masyhur adalah ulama besar, ahli Hadits, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani , kemudian ulama ahli sastra, Syaikh Abdul Wadud az-Zarori , dan ulama lainnya.

Beliau memiliki ijazah (pengakuan) dalam bidang agama secara umum dan hadits secara khususnya, dari beberapa ulama seperti Syaikh Badi`uddin as-Sindi, Syaikh Muhammad asy-Syanqithi dan lainnya.

II. Syaikh Ali dan Syaikh al-Albani

Syaikh Ali al-Halabi merupakan pentahqiq (peneliti), ahli Hadits dan beliau termasuk murid dan sahabat Syaikh al-Albani, bahkan termasuk murid dan sahabat khusus. Beliau banyak bermulazamah (duduk belajar) terhadap ulama, imam besar dalam ilmu dan dakwah ini yaitu Syaikh al-Albani.

Syaikh Ali mendampingi al-Imam al-Albani dalam sebagian safarnya dan banyak mendampingi pada saat mukimnya, menghadiri majelis-majelis beliau baik yang bersifat khusus maupun yang bersifat umum, mengikuti pertemuan-pertemuan ilmiah yang banyak nan beraneka ragam, dan itu berjalan dalam kurun waktu yang sangat lama sekali tidak kurang dari 1/4 abad. Dengan demikian Syaikh Ali sangat banyak mendapatkn manfaat dari jawaban-jawaban, pelajaran-pelajaran dan ilmu-ilmu yang beraneka ragam dari Syaikh al-Albani, yang hal ini hampir tidak didapat oleh yang lainnya.

Syaikh Ali banyak membantu Imam al-Albani menyiapkan banyak karya-karyanya untuk diterbitkan, baik terkait dengan Hadits maupun lainnya, menyiapkan kegiatan-kegiatan ilmiah lainnya, bermulazamah di akhir-akhir hidup Imam Albani di rumahnya dan di perustakaannya.

Hubungan keduanya sangatlah erat, sehingga dengan banyak pertemuan-pertemuan Syaikh Ali bertambah dalam dan kuat ilmunya dan dapat menimba ilmu dari mata air salaf yaitu Imam al-Albani, mengambil metode ahli Hadits dalam belajar, memahami, menuntut ilmu dan pengamalan. Setelah itu, disebarluaskanlah ilmu yang banyak dan beraneka ragam yang telah didapat tersebut dalam bentuk buku-buku yang banyak, yang membahas dakwah, dan juga banyak menulis makalah-makalah berharga terkait dengan manhaj yang dimuat dalam majalah, surat kabar dan yang lainnya. Semua itu pada masa hidup Imam Albani.

Dengan kerendahan hati ketika menulis, Syaikh Ali menyodorkan karya-karyanya kepada Syaikhnya dan gurunya (yaitu Imam Albani) untuk dimuroja’ah (membacanya kembali), dan Imam Albani pun membaca kembali sebagian karyanya dan bahkan Imam Albani pun ridho untuk ditulis namanya di samping nama muridnya.

III. Pujian Syaikh al-Albani kepada Syaikh Ali Hasan al-Halabi

Syaikh Albani benar-benar mengetahui karya-karya muridnya ini, yang berada di atas manhaj yang benar dan hujjah yang kuat, sehingga banyak memujinya dan mengarahkan para pembaca bukunya untuk membaca dan menelaah karya-karyanya. Imam Albani mengatakan tentangnya, “Dia (Syaikh Ali) termasuk saudara kita yang kuat dalam ilmu ini yaitu ilmu Hadits.” (Lihat as-Silsilah as-Shohihah: 2/720, as-Silsilah ad-Dho’ifah: 1/7, as-Silsilah as-Shohihah: 7/354-371 dan Su’al wa Jawab Haula Fiqil Waqi’: 26, karya Imam al-Albani)

Dan Syaikh Albani mensifati Syaikh Ali dengan “sahabat kita yang mulia” dalam kitab Arrodul Mufhim: 79, mensifati bantahan-bantahan Syaikh Ali dengan sebutan “bantahan yang berharga”, sebagaimana disebutkan dalam Adabuz Zifaf: 7-8, menyebutkan dalam as-Silsilah as-Shohihah: 7/947 tentang Ibnu Hajar ketika membawakan Hadits dalam kitabnya Atroful Musnad: ”Telah memberikan faidah kepadaku saudara Ali Hasan melalui telepon, jazahullohu khoiron“ dan mengatakan dalam as-silsiah as-Shohihah: 6/8: “Demikian pula saudara Ali al-Halabi, sungguh saya telah mendapatkan komentar-komentarnya yang ditulis pada kitab asli yang masih saya tulis dengan tanganku…”

Dan Syaikh Albani memanggil Syaikh Ali di awal kitab ar-Roudhoh Nadiah: 1/4 dengan sebutan ”Anak kami, sahabat kami, saudara Abul Harits” dan memanggilnya juga ”.. kepada sahabat kami dan tilmidz (murid) kami yang muda Ali al-Halabi…” demikian yang tertulis dalam kitab Hukmi Tariki as-Sholat: 45.

Bahkan tatkala muncul fitnah Abu Ruhayyim yang berbuat dzolim dan menuduh Syaikh Ali al-Halabi tentang akidahnya, maka Syaikh Albani mengatakan kepada Abu Ruhoyyim: “Apabila akidahmu seperti akidahnya 3 syaikh yang kamu bela yaitu Bin Baz, Ibnu Utsaimin dan al-Albani, padahal akidah saudara Ali seperti mereka. Dan apabila akidahmu berbeda dengan akidahnya saudara Ali maka saya siap duduk denganmu (untuk berdiskusi, pent).” Hal ini telah disebutkan oleh Syaikh Azmi al-Jawabiroh dalam risalahnya yang hal itu dipersaksikan juga oleh 2 saudara yang mulia Lafi asy-Syatorot dan Kamil al-Qoshshosh, itu terjadi pada tanggal 20 Robiul Awwal 1422H, dan Syaikh Azmi al-Jawabiroh menukil ucapan imam Albani, beliau mengatakan “saudara al-Halabi sebanding seribu satu Abu Ruhayyim”.

Syaikh Abdul Aziz as-Sadhan menukil dari Syaikh al-Albani bahwa Syaikh Albani menjuluki Syaikh Ali sebagai “pemilik pena yang berjalan dan seorang ustadz yang produktif”. Sebagaimana yang disebutkan dalam kitab al-Imam al-Albani Durusun al-Mawaqif wa al-Ibar, hal. 170.

Disebutkan juga dalam risalah yang berjudul Sofahat Baidho’ min Hayati al-Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani, hal. 52 bersumber dari sebagian cucu Syaikh al-Albani, bahwasanya Syaikh al-Albani mengatakan: “Dua orang yang paling menguasai ilmu hadits sekarang adalah Ali al-Halabi dan Abu Ishaq al-Khuwaini.”

Syaikh yang mulia Abu Abdillah Azad pernah mendengar Syaikh al-Albani di rumah saudara Abdurrohim di Yordania bahwa beliau pernah ditanya tentang suatu hadits, tapi beliau tidak ingat dan tidak hapal derajatnya, beliau mengisyaratkan kepada Syaikh Ali ”Tanyakan al-Hafidz Ali al-Halabi”, maka kami pun menanyakan kepadanya pada saat Syaikh al-Albani ada di situ dan Syaikh Ali menjawab, ”Hadits itu shohih”, kemudian beliau berdiri dan masuk ke maktabah saudara Abdurrohim dan mengeluarkan hadits dari Shohih al-Jami’.”

Abu Abdillah Azat juga pernah mengatakan, aku juga pernah bertanya pada Syaikh al-Albani ketika beliau hendak safar ke emirat, “Siapa yang paling layak kami tanya setelah Anda wahai Syaikh?” Maka beliau menjawab, “Bertanyalah kepada Ali al-Halabi karena dia paling dekat dengan sunnah.”

Ini menunjukkan banyaknya pujian Syaikh al-Albani kepada muridnya yaitu Syaikh Ali al-Halabi dan kitab-kitabnya seraya mensifati dengan panggilan saudara, murid, syaikh, sahabat, dan lain sebagainya dari panggilan-panggilan penghormatan yang itu menunjukkan keistimewaannya dalam berbagai macam ilmu, dan syaikh Ali banyak ikut serta dalam berbagai macam tugas dan proyek ilmiah baik itu dalam masalah fikih, hadits, manhaj, sehingga tidak heran ketika syaikh Ali paling banyak disebutkan dalam kitab-kitab Syaikh Albani.

IV. Perkataan Para Ulama Terhadap Syaikh Ali Hasan

Sesungguhnya dalam hidup, yang namanya pujian itu perkara yang biasa terjadi. Dan pujian kalau datang dari orang jahil maka kurang berarti, berbeda apabila pujian itu bersumber dari para ulama dan rekomendasi dari mereka, maka ini mengandung arti dan bertambah berarti lagi apabila datang fitnah dan tuduhan yang tidak-tidak di arahkan kepada seseorang. Oleh karena itu berikut ini kami nukilkan pujian para ulama kepada Syaikh Ali Hasan dan rekomendasi yang diarahkan kepadanya, untuk menghilangkan kedzoliman:

1. Pujian Syaikh Bin Baz.

Beliau mengatakan dalam memberikan taqridz terhadap kitab Syaikh Ali yang membantah Dr. al-Askar: Saya memandang agar bantahan ini disebarkan karena mengandung faidah yang besar dan untuk menghilangkan kerancuan. Mudah-mudahan Alloh membalas Anda dengan balasan yang baik, dan saya telah memerintahkan untuk menyebarkanya di majalah al-Buhuts al-Islamiyah karena faidah yang dikandungnya.

Dan beliau Syaikh Bin Baz juga mengatakan tentang kitab yang sama: Dari Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz yang ditujukan kepada saudara yang mulia, shohibul fadhilah Syaikh Ali bin Hasan bin Abdul Hamid al-Halabi -waffaqohulloh lima fihi ridhohu-, salaamun ‘alaikum warohmatulloh wabarokatuh, amma ba’du, surat Anda telah sampai kepadaku pada tanggal 25/11/1418H mudah-mudahan Alloh senantiasa memberikan hidayah dan petunjuk. Saya telah menelaah kitab bantahan Anda terhadap kitab Dr. Abdul Aziz al-Askar (tentang diri yang mulia as-Syaikh al-‘Allamah Muhammad Nashiruddin al-Albani), saya menilai bahwa bantahan Anda adalah bantahan yang sangat berharga, membawa berkah lagi sangat memuaskan. Dan sungguh Anda telah menggunakan gaya bahasa yang bagus, dan Alloh telah memberikan taufiq kepadamu untuk bersikap lembut terhadap orang yang Anda bantah, saya meminta kepada Alloh agar melipatgandakan pahala…”

2. Pujian Syaikh Ibnu al-‘Utsaimin.

Berkata Ahmad bin Ismail as-syaukani, telah menceritakan kepadaku Abdulloh Qomaruddin al-Bakistani as-Salafi, beliau berkata, “As-Syaikh al-Imam Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin pernah ditanya tentang berbagai macam pertanyaan di musim haji tahun (1420 H) dan beliau menjawabnya, kemudian dalam sebagian pertanyaan beliau mengisyaratkan kepada Syaikh Ali sambil mengatakan, “Tanyakanlah kepada al-Bahr (lautan, istilah untuk orang yang banyak ilmunya)”. Maka Syaikh Ali mengatakan, “Saya kira ini bercanda, saya bukan al-Bahr (lautan) dan tidak pula an-Nahr (sungai) tidak pula lainnya, nastaghfirulloh dan kita mengharap husnul khotimah (akhir kehidupan yang baik)”, kemudian berdo’a seperti do’a yang diucapkan Abu Bakar ash-Shiddiq tatkala mendapat pujian: “Ya Alloh jangan kau siksa saya sebab apa yang yang mereka ucapkan, dan ampunilah saya terhadap apa yang tidak mereka ketahui dan jadikanlah saya lebih baik dari apa yang mereka duga”. Dan masih ada pujian al-Imam Ibnu ‘Utsaimin terhadap Syaikh Ali di kesempatan-kesempatan lainnya.

3. Pujian Syaikh ahli Hadits madinah, al-Allamah Hammad bin Muhammad al- Anshori

Beliau memuji Syaikh Ali dan kehebatannya dalam bidang hadits sebagaimana dinukil oleh anaknya yang bernama Abdul Awwal bin Hammad al-Anshori dalam kitabnya al-Majmu’ fi Tarjamati al-Muhaddits as-Syaikh Hammad al-Anshori (2/598) dari bapaknya berkata, “Saya menduga bahwa Ali Hasan Abdul Hamid yang akan mengantikan Syaikh al-Albani.”

4. Syaikh Sholih bin Abdul Aziz Alu Syaikh, menteri urusan agama, bimbingan dan wakaf, Kerajaan Arab Saudi.

Beliau punya hubungan yang sangat baik dengan Syaikh Ali sejak 20 tahunan, bahkan setelah datang fatwa lajnah, beliau pun mengundangnya dengan undangan resmi untuk menghadiri acara an-Nadwah al-Ilmiyah al-Qur’aniyah di Madinah tanggal 11 Jumadil Akhir 1421 H.

Ketika Syaikh Sholih Alu Syaikh menulis kitab Hadzihi Mafahiimuna… mengirimkan kepada Syaikh Ali dan mengatakan tentang hadiahnya: Kepada saudara yang baik, peneliti yang jeli, pemilik akal yang cemerlang dan pandangan yang tajam, Ali Hasan Abdul Hamid, mudah-mudahan Alloh senantiasa memberikan kekuatan untuk meninggikan bendera Sunnah sesuai petunjuk salaf…

Begitu pula ketika menulis kitab at-Takmil Lima Fata Tahrijuhu min Irwa’ al-Gholil dan memberikan hadiah dan pujian dengan sebutan-sebutan penghormatan mirip di atas.

5. Pujian Syaikh Abdulloh al-Ubailan ditanya tentang celaan yang di arahkan kepada Syaikh Ali Hasan disebabkan menulis kitab Manhaj as-Salaf as-Sholih maka beliau menjawab, ”Saudara kita asy-Syaikh al-Allamah Ali adalah termasuk pembesar penyeru kepada dakwah salaf di Yordania dan negara-negara Syam, wala nuzakki allalloh ahada. Saya berharap perselisian antara kedua belah pihak adalah masuk dalam perselisihan dalam lingkup ijtihad Ahlus Sunnah, dan perkaya ini wajar terjadi, karena para salaf juga berselisih dalam hal yang lebih besar dari ini akan tetapi tidak saling mencela antara satu dengan yang lainnya…” kemudian Syaikh Ubailan menyebutkan ucapan Syaikhul Islam….”

6. Dan Syaikh ahli Hadits Abdul Muhsin al-Abbad baru-baru ini di tanya tentang Syaikh Ali, yaitu pada tanggal 28 Nopember 2010 (21 Dzul Hijjah 1431), beliau menjawab, ”Saya mengetahui, beliau di atas sunnah, ambillah ilmu darinya.”

7. Begitu pula Syaikh al-Ubaikan pada tanggal 3 Januai 2011 pernah ditanya seseorang dari Iraq tentang Syaikh Ali Hasan dan seorang ulama dari Iraq, beliau menjawab, ”Kami tidak mengetahui tentang Syaikh kecuali kebaikan.”

Dan masih banyak pujian para ulama baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia tentang Syaikh Ali di antaranya: Syaikh al-Muhadits Muqbil al-Wadi’i, Syaikh Sa’ad al-Husyoyyin, (al-Mustasyar ad-Dini Saudi di Yordania,) Syaikh Husain bin Abdul Aziz Ali Syaikh, (Imam dan khotib serta pengajar di masjid Nabawi, serta Hakim di Mahkamah Kubro), Syaikh Washiulloh Abbas, Syaikh Ibrohim ar-Ruhaili, ahli tafsir Muhammad Nasif ar-Rifa’i, as-Syaikh Hamd as-Syitwi, Syaikh Muhammad bin Syaikh Ali bin Adam al-Itsyuni, Syaikh Abdul Karim Khudair, Syaikh Abdul Malik ar-Romadhoni al-Jazairi dll. Termasuk salah seorang guru Syaikh Robi’ al-Madkholi yang berrnama Syaikh Abdul Wahab bin Marzuq al-Banna sangat memuji Syaikh Ali, beliau mengatakan, ”Perumpamaan al-Halabi kepada al-Albani adalah seperti Ibnul Qoyyim kepada Ibnu Taimiyah.” Sebagaimana yang telah didengar Syaikh Abdulloh Baibani al-A’shimi.

Inilah sebagian kemuliaan Syaikh Ali, ilmu, manhaj dan akidahnya. Dan kami dalam menyebutkan ini bukan berarti kami mengajak berbuat ghuluw (berlebih-lebihan) dan mengkultuskan serta menganggapnya ma’sum, sekali-kali tidak, akan tetapi ini semua agar kita mengetahui dan menghormati para ulama sebagaimana sabda Rosululloh:

لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

“Bukanlah termasuk golonganku orang yang tidak memuliakan yang tua, menyayangi yang muda dan mengenal hak orang alim di antara kami.” (HR Ahmad)

Wa shollollohu ‘ala nabiyina muhammad wa ‘ala ‘alihi wa shohbihi wa sallam.

Sumber:
1. Al-Jawab al-‘I’laami.
2. Su’alat al-Halabi.
3. Al-Imam al-Albani Durusun Mawaqif wa ‘Ibar.
4. http://kulalsalafiyee.com.

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Ed 67, hal. 45-51