Jadilah Agen Majalah adz-Dzakhiirah al-Islamiyyah

Persyaratan Agen Majalah adz-Dzakhiirah al-Islamiyyah Mengirimkan fotocopy tanda pengenal KTP/SIM atau yang lainnya. Alamat lengkap untuk pengiriman majalah. (Apabila alamat tanda pengenal tidak sama dengan alamat tempat tinggal Anda sekarang) Pemesanan majalah Selengkapnya »

 

Edisi 55

ed 55

Adzan Jum'at Dua Kali

ADZAN JUM’AT DUA KALI ?!

Assalamu’alaikum. Mengenai adzan shalat jum’at, ada yang membuat dua kali, apa ada dasar(sunnah)nya? Jazakumullah khairan. [081275435XXX]

Wa’alaikumussalam wa rahmatullahi wa barokatuh.

Segala puji bagi Allah. Sholawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah. Wa ba’du.

Adzan jum’at dua kali memang ada dasarnya, yakni sebuah atsar Utsman bin Affan -radhiallohu anhu-. Berikut ini kami bawakan secara lengkap atsar tersebut, sebagaimana yang telah dibawakan oleh Syaikh al-Albani -rahimahullah- pada kitab al-Ajwibah an-Nafi’ah ‘an As`ilah Lajnah Masjid al-Jami’ah, hlm. 8-9.

HADITS ADZAN JUM’AT DUA KALI

Imam az-Zuhri -rahimahullah- berkata: as-Sa`ib bin Yazid mengabarkan kepadaku: 

Menyebarkan Hadiah Berharga di Hari Raya

Menyebarkan Hadiah Berharga di Hari Raya
Abu Ashim Muhtar Arifin Marzuqi, Lc

Membaca merupakan salah satu kunci untuk dapat memperoleh hidayah dan banyak kebaikan. Ayat yang diturunkan oleh Allah -subhanahu wa ta’ala- pertama kali juga perintah untuk membaca.

Ketika bercerita tentang sebuah kitab, ada yang berkata:

يُفِيْدُوْنَنَا مِنْ رَأْيِهِمْ عِلْمَ مَنْ مَضَى             وَ عَقْلاً وَتَأْدِيْبًا وَرَأْيًا مُسَدَّدَا

بِلاَ مُؤْنَةٍ تُخْشَى وَلاَ سُوْءِ عِشْرَةٍ               وَلاَ نَتَّقِيْ مِنْهُمْ لِسَانًا وَلاَ يَداَ

Dia memberi kita faedah berupa ilmu tentang generasi masa lalu
Tentang akal, tata krama dan pemikiran yang lurus

Tanpa ada beban yang ditakutkan dan tidak pula jeleknya perangai
Dan tidak pula kita berhati-hati secara lisan dan tidak pula tangan

Salah satu cara untuk mememberi semangat masyarakat dan sanak saudara untuk membaca yang benar sehingga dapat mengerti al-haq, salah satunya adalah dengan memberi hadiah buku dalam momen yang tepat seperti ramadhan, hari raya, resepsi pernikahan, pembagian daging aqiqah, dsb. (Kaifa Taqra`u Kitaban, karya Dr. Zaid bin Muhamamad ar Rummani, cet. 1, Darul Hadharah)

Apabila ada sepuluh orang saja yang menerima selebaran dakwah atau fotocopian suatu masalah syar’i, lalu mereka mengamalkannya, maka alangkah banyaknya orang yang akan mendapatkan petunjuk tanpa kita menyampaikan ceramah yang panjang? Alangkah banyaknya pahala yang akan terus mengalir menjadi amal jariyah? ”Barang siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka dia akan mendapat pahala seperti orang yang mengamalkannya”. (HR. Muslim)

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Ed 54, hal. 64

Kisah Tragis Dalam Sejarah Hari Raya

Kisah Tragis Dalam Sejarah Hari Raya
Abu Ashim Muhtar Arifin Marzuqi, Lc

Ketika menjelaskan tentang biografi Muhammad bin Hubuli -rahimahullah-, yaitu seorang Imam yang menjadi Qadhi di kota Barqah, Imam adz-Dzahabi -rahimahullah- menceritakan bahwa Amir kota Barqah mendatangi beliau. Lalu Amir itu berkata: “Besok adalah hari raya”.

Imam menjawab: “(Kami tidak mau berhari raya) sampai melihat hilal, dan aku tidak (ingin) mengajak manusia untuk berbuka, lalu aku yang menanggung dosa mereka”.

Amir berkata: “Ini adalah isi surat yang berasal dari al-Manshur”.

Inilah di antara pendapat Ubaidiyyah, yaitu menyeru rakyat untuk berbuka dengan berdasarkan hisab dan mereka tidak menghiraukan terlihatnya hilal. Sedangkan pada saat itu hilal belum terlihat.

Keesokan harinya Amir itu (menabuh) gendang, (menegakkan) bendera-bendera yang besar.

Imam yang menjadi Qadhi tersebut berkata: “Aku tidak mau keluar dan tidak melakukan shalat (id)”.

Lalu Amir itu memerintahkan seseorang untuk berkhutbah dan menulis (melaporkan) apa yang terjadi tersebut kepada al-Manshur, lalu dia meminta agar Qadhi tersebut datang kepadanya, lalu beliau pun didatangkan.

Al-Manshur berkata: “Keluarlah engkau (untuk merayakan id-pen), niscaya aku akan memaafkanmu”.

Akan tetapi beliau tidak mau melakukannya. Lalu ia memerintahkan agar beliau di gantungkan di bawah terik matahari sampai meninggal dunia. Pada saat itu beliau meminta bantuan karena kehausan, akan tetapi tidak diberi air. Akhirnya beliau disalib di atas sebuah kayu”.

Setelah membawakan kisah ini Imam adz-Dzhahabi -rahimahullah- berkata: “Semoga Allah melaknat orang-orang yang zhalim”.

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah ED 54, hal. 67

Diantara Guru Kita, Khatib Para Hari Raya

Diantara Guru Kita, Khatib Para Hari Raya
Abu Ashim Muhtar Arifin Marzuqi, Lc

Syaikh bin Baz -rahimahullah- pernah ditanya: ”Telah tersebar di kalangan sebagian orang, bahwa ”Orang yang tidak memiliki guru, maka gurunya adalah setan”. Apa pengarahan Syaikh untuk mereka?”.

Beliau menjawab: ”Ini adalah kesalahan orang umum dan suatu bentuk kejahilan dari sebagian orang-orang sufi untuk menmengajak manusia agar berhubungan dengan mereka, bertaklid kepada mereka dalam bid’ah-bid’ah dan kesesatan-kesesatan mereka.

Sesungguhnya apabila seseorang mendalami agama dengan menghadiri halaqah-halaqah ilmiah dan agama, atau dengan mentadabburi al-Qur`an atau sunnah dan mengambil faedah dan pelajaran darinya, maka dikatakan bahwa dia telah bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, bahkan dikatakan: ”Ia telah mendapatkan kebaikan yang banyak”.

Sudah sepantasnya bagi penuntut ilmu untuk berhubungan dengan para ulama yang telah dikenal dengan kelurusan aqidahnya dan kebaikan perilakunya, bertanya kepada mereka tentang kesulitan yang dihadapinya, karena apabila ia tidak bertanya kepada ahli ilmu, maka kadang-kadang ia akan banyak salahnya dan permasalahan-permasalahan akan terjadi kerancuan.

Adapun apabila dia menghadiri halaqah-halaqah ilmiah dan mendengarkan nasihat-nasihat dari ahli ilmu, maka dengan cara inilah dia akan mendapatkan kebaikan yang banyak dan pelajaran-pelajaran yang bermacam-macam, meskipun dia tidak memiliki guru tertentu.

Tidak diragukan lagi bahwa orang yang menghadiri halaqah-halaqah ilmu dan mendengarkan khutbah-khutbah jum’at, hari-hari raya dan ceramah-ceramah yang diadakan di masjid-masjid, maka para gurunya menjadi banyak, meskipun dia tidak menisbatkan kepada salah satu di antara mereka, lalu bertaklid dan mengikuti pendapatnya”.

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Ed 54, hal. 66

Jadwal Daurah Ramadhan 1430 H

Jadwal Daurah Ramadhan 1430 H

Sabtu 12 Sep 09

09.00 – 10.15 Wib      Ust. Abdurrahman Hadi (1)
10.30 – 11.45 Wib       Ust Mubarak Bamuallim(1)
15.45 – 17.00 Wib      Ust Salim Ghanim(1)

Minggu 13 Sep 09

09.00 – 10.15 Wib    Ust. Abdurrahman Hadi (2)
10.30 – 11.45 Wib      Ust Salim Ghanim (2)
15.45 – 17.00 Wib     Ust Abdurrahman Thayyib (1)

Senin 14 Sep 09

09.00 – 10.15 Wib     Ust. Imam Wahyudi (1)
10.30 – 11.45 Wib     Ust Mubarak Bamu’allim (2)
15.45 – 17.00 Wib     Ust Abdurrahman Thayyib (2)

Selasa 15 Sep 09

09.00 – 10.15 Wib    Ust. Abdurrahman Hadi (3)
10.30 – 11.45 Wib     Ust Imam Wahyudi (2)
15.45 – 17.00 Wib     Ust Mubarak Bamu’allim (3)

Rabu 16 Sep 09

09.00 – 10.15 Wib      Ust. Imam Wahyudi (3)
10.30 – 11.45 Wib      Ust Abdurrahman Thayyib (3)
15.45 – 17.00 Wib      Ust Salim Ghanim (3)

Kamis 17 Sep 09

09.00 – 10.15 Wib     Ust. Abdurrahman Hadi (4)
10.30 – 11.45 Wib      Ust Imam Wahyudi (4)
15.45 – 17.00 Wib      Ust Salim Ghanim (4)

Jum’at 18 Sep 09

09.00 – 10.15 Wib     Ust Abdurrahman Thayyib (4) + Penutupan

Keterangan:
1. Ust Mubarak = Kitab Fikih Bulughul Maram
2. Ust Salim =
3. Ust Abdurrahman Thayyib = Akidah Shufi dalam Timbangan al-Qu’an & Sunnah
4. Ust Imam Wahyudi = Anjuran Memperbanyak Kebaikan di Hari Tua
5. Ust. Abdurrahman Hadi = Jalan Menuju Allah dan Hari Akhir

Daurah Ramadhan 1430 H

Insya Allah disiarkan langsung via streaming dzakhirah, http://dzakhirah.sytes.net:8028/listen.pls

brosur ramadhan

Antara Utara dan Selatan Adalah Qiblat

Antara Utara dan Selatan Adalah Qiblat

Disusun oleh Abul Mundzir Abdur Rohman Hadi, Lc.
(Dosen STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya)

Alhamdulillah washsholatu wassalamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa man walah, la haula wa la quwwata illa billah, amma ba’du.

Sudah lama kita mendengar isu di negeri kita ini yang mengandung anjuran merubah arah qiblat masjid-masjid yang di rasa tidak lurus dengan Ka’bah, baik di Internet, dari lembaga-lembaga resmi, maupun perorangan. Akan tetapi, semakin hari semakin marak dan semakin banyak antusias para ta’mir untuk menyambut anjuran tersebut. Bisa jadi hal itu dikarenakan niat baik yang didorong kecemburuan agama yang tanpa didasari dengan ilmu dan tanpa pertimbangan, sehingga banyak menimbulkan keributan, kebingungan di tengah-tengah masyarakat, bahkan perpecahan kaum muslimin.

Salah satu contoh di Jawa Timur, ada salah satu masjid yang setelah didatangi petugas yang mengurusi masalah ini, jama’ahnya menjadi kebingungan, dan apabila sholat berjamaah antara satu makmum dengan yang lainya jadi berbeda arah, bahkan antara makmum dengan imamnya pun berbeda karena sebagian mengikuti arah masjid dan sebagian mengikuti arahan petugas tersebut. Bahkan yang lebih parah lagi, sebagian masjid didatangi kemudian langsung diubah dan digarisi shof-shofnya dengan cat dan dengan tanpa bertanya terlebih dahulu kepada ahli ilmu tentang masalah ini, wallohul musta’an.

Oleh karena itu, demi persatuan dan kesatuan, dan agar fitnah ini tidak meluas, maka kami terdorong memberikan sumbangsih makalah singkat yang berisikan fatwa-fatwa para ulama, yang mudah-mudahan bisa meyakinkan orang-orang yang selama ini ragu, memantapkan orang-orang yang yakin, dan menambah ilmu bagi kita yang belum memahami permasalahan ini. Selamat menyimak, wallohu waliyuttaufiq!

Sesungguhnya menghadap qiblat dalam sholat termasuk syarat sah sholat yang apabila seseorang sholat dengan tidak menghadap qiblat maka sholatnya tidaklah sah, kecuali bagi yang tidak mengetahui arah atau tidak mampu menghadap ke qiblat seperti ketika kondisi khouf (takut) dan sakit, atau bagi yang sholat sunnah di atas kendaraan, atau hal-hal lain yang dibolehkan oleh syari’at.

Serba-Serbi Seputar Shaum

Serba-Serbi Seputar Shaum

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin -rahimahullah-
Diterjemahkan oleh Abu Ahmad Fuad Hamzah bin Mubarak Baraba’, Lc

Segala puji bagi Allah Pemelihara seluruh alam. Sholawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya. Amma ba’du,

Tulisan ini adakah ringkasan yang berkaitan dengan puasa, hukum-hukumnya, kelompok manusia ketika berpuasa, juga seputar pembatal-pembatal puasa dan beberapa faedah lainnya.

Shaum adalah ibadah kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- dengan cara meninggalkan hal-hal yang membatalkannya dari mulai terbit fajar sampai terbenamnya matahari.

Puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam yang agung. Hal ini berdasarkan sabda Nabi -shollallahu alaihi wa sallam :

بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ الْبَيْتِ الْحَرَامِ

Islam itu di bangun di atas lima perkara: Bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak untuk diibadahi keculi Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan shaum di bulan ramadhan, dan melaksanakan ibadah haji ke baitullah al-haram. (HR. al-Bukhari & Muslim)

KELOMPOK MANUSIA KETIKA BERPUASA

1. Puasa wajib bagi setiap muslim yang baligh, berakal, mampu melaksanakanya dan dalam keadaan bermukim.

2. Orang kafir tidak wajib berpuasa, dan ia tidak wajib mengqadha apabila masuk Islam.

3. Anak kecil yang belum baligh belum wajib untuk berpuasa ,akan tetapi ia dilatih untuk melaksanakannya supaya terbiasa.

4. Orang gila tidak wajib puasa dan tidak pula wajib membayar fidyah meskipun sudah tua. Demikian pula orang yang kurang akalnya yang tidak dapat membedakan benar atau salah.

Edisi 54

Cover ed 54