Category Archives: Ramadhan

Jadwal Daurah Ramadhan 1430 H

Jadwal Daurah Ramadhan 1430 H

Sabtu 12 Sep 09

09.00 – 10.15 Wib      Ust. Abdurrahman Hadi (1)
10.30 – 11.45 Wib       Ust Mubarak Bamuallim(1)
15.45 – 17.00 Wib      Ust Salim Ghanim(1)

Minggu 13 Sep 09

09.00 – 10.15 Wib    Ust. Abdurrahman Hadi (2)
10.30 – 11.45 Wib      Ust Salim Ghanim (2)
15.45 – 17.00 Wib     Ust Abdurrahman Thayyib (1)

Senin 14 Sep 09

09.00 – 10.15 Wib     Ust. Imam Wahyudi (1)
10.30 – 11.45 Wib     Ust Mubarak Bamu’allim (2)
15.45 – 17.00 Wib     Ust Abdurrahman Thayyib (2)

Selasa 15 Sep 09

09.00 – 10.15 Wib    Ust. Abdurrahman Hadi (3)
10.30 – 11.45 Wib     Ust Imam Wahyudi (2)
15.45 – 17.00 Wib     Ust Mubarak Bamu’allim (3)

Rabu 16 Sep 09

09.00 – 10.15 Wib      Ust. Imam Wahyudi (3)
10.30 – 11.45 Wib      Ust Abdurrahman Thayyib (3)
15.45 – 17.00 Wib      Ust Salim Ghanim (3)

Kamis 17 Sep 09

09.00 – 10.15 Wib     Ust. Abdurrahman Hadi (4)
10.30 – 11.45 Wib      Ust Imam Wahyudi (4)
15.45 – 17.00 Wib      Ust Salim Ghanim (4)

Jum’at 18 Sep 09

09.00 – 10.15 Wib     Ust Abdurrahman Thayyib (4) + Penutupan

Keterangan:
1. Ust Mubarak = Kitab Fikih Bulughul Maram
2. Ust Salim =
3. Ust Abdurrahman Thayyib = Akidah Shufi dalam Timbangan al-Qu’an & Sunnah
4. Ust Imam Wahyudi = Anjuran Memperbanyak Kebaikan di Hari Tua
5. Ust. Abdurrahman Hadi = Jalan Menuju Allah dan Hari Akhir

Daurah Ramadhan 1430 H

Insya Allah disiarkan langsung via streaming dzakhirah, http://dzakhirah.sytes.net:8028/listen.pls

brosur ramadhan

Serba-Serbi Seputar Shaum

Serba-Serbi Seputar Shaum

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin -rahimahullah-
Diterjemahkan oleh Abu Ahmad Fuad Hamzah bin Mubarak Baraba’, Lc

Segala puji bagi Allah Pemelihara seluruh alam. Sholawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya. Amma ba’du,

Tulisan ini adakah ringkasan yang berkaitan dengan puasa, hukum-hukumnya, kelompok manusia ketika berpuasa, juga seputar pembatal-pembatal puasa dan beberapa faedah lainnya.

Shaum adalah ibadah kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- dengan cara meninggalkan hal-hal yang membatalkannya dari mulai terbit fajar sampai terbenamnya matahari.

Puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam yang agung. Hal ini berdasarkan sabda Nabi -shollallahu alaihi wa sallam :

بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ الْبَيْتِ الْحَرَامِ

Islam itu di bangun di atas lima perkara: Bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak untuk diibadahi keculi Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan shaum di bulan ramadhan, dan melaksanakan ibadah haji ke baitullah al-haram. (HR. al-Bukhari & Muslim)

KELOMPOK MANUSIA KETIKA BERPUASA

1. Puasa wajib bagi setiap muslim yang baligh, berakal, mampu melaksanakanya dan dalam keadaan bermukim.

2. Orang kafir tidak wajib berpuasa, dan ia tidak wajib mengqadha apabila masuk Islam.

3. Anak kecil yang belum baligh belum wajib untuk berpuasa ,akan tetapi ia dilatih untuk melaksanakannya supaya terbiasa.

4. Orang gila tidak wajib puasa dan tidak pula wajib membayar fidyah meskipun sudah tua. Demikian pula orang yang kurang akalnya yang tidak dapat membedakan benar atau salah.

Adab-Adab Seputar Puasa

Adab-Adab Seputar Puasa

1. Seorang muslim berpuasa karena mengharap wajah Allah ta’ala, dengan penuh keimanan dan mengharap pahala.
Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, niscaya akan diampuni apa yang telah lampau dari dosanya. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

2. Berniat untuk berpuasa pada malam harinya, sebagaimana sabda Nabi shollallahu alaihi wa sallam :

مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ

Barangsiapa yang tidak meniatkan puasa dari malam harinya, maka tidak ada puasa baginya. (HR. Ahmad, Abu Daud, an-Nasa`i dan Ibnu Majah).

3. Tidak menganggap remeh makan sahur, Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda:

السَّحُوْرُ كُلُّهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوْهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِيْنَ

Sahur itu seluruhnya adalah barokah, maka itu janganlah kalian meninggalkannya walaupun hanya dengan seteguk air, sesungguhnya Allah dan para Malaikatnya bershalawat kepada orang-orang yang bersahur.” (HR. Ibnu Hibban dan ath-Thabrani)

Nashoih Ramadhoniyyah

نَصَائِحُ رَمَضَانِيَّةٌ

Bulan Qiyam dan Shiyam

لاَ تَجْعَلْ رَمَضَانَ شَهْرَ فُكَاهَةٍ                   تُلْهِيْكَ فِيْهِ مِنَ الْحَدِيْثِ فُنُوْنُهُ

واعْلَمْ بأنَّكَ لاَ تَنَالُ ثَوَابَهُ                        حَتَّى تَكُوْنَ تَصُوْمُهُ وَتَقُوْمُهُ

Janganlah kau jadikan Ramadhan bulan gelak tawa

Hingga beragam obrolan dapat melalaikanmu darinya

Ketahuilah, kau tidak akan mendapatkan pahalanya

Hingga menghidupkannya dengan shalat dan puasa

[Jadzwah al-Iqtibas, jilid 1, hlm. 57]

Beberapa Larangan Di Bulan Ramadhan

Beberapa Larangan Di Bulan Ramadhan

Berikut kami paparkan beberapa larangan yang berkaitan dengan ibadah puasa di bulan Ramadhan dalam rangka menyambut bulan suci nan penuh berkah.

I. Larangan berpuasa sebelum melihat hilal.

Dari Abdullah bin Umar -radhiallohu anhuma, Nabi -shollallohu alaihi wa sallam- bersabda:

لاَ تَصُوْمُوْا حَتَّى تَرَوْا الْهِلاَلَ وَلاَ تُفْطِرُوْا حَتَّى تَرَوْهُ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوْا لَهُ

Janganlah kalian berpuasa (ramadhan) sampai kalian melihat hilal, dan janganlah kalian berbuka (berhari raya) sampai kalian melihat hilal, jika awan menutupi hilal maka sempurnakanlah bulan (menjadi 30 hari). (HR. al-Bukhari & Muslim)

FAEDAH PEMBAHASAN:

1. Bagi umat Islam agar memperhatikan jumlah hari dalam bulan Sya’ban dalam rangka menyambut bulan ramadhan, karena tiap bulan terkadang 29 atau 30 hari, maka berpuasalah jika melihat hilal, jika hilal terhalang mendung/awan maka sempurnakanlah bilangan menjadi 30 hari.

2. Penentuan awal Ramadhan dan Syawal dengan Ru’yah hilal (melihat hilal), bukan dengan hisab atau ilmu falak.
Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah rah berkata: “Tidak diragukan bahwa telah tetap dari Sunnah yang shahihah dan kesepakatan para sahabat bahwa tidak dibolehkan bersandar kepada hisab/perbintangan dalam penetapan awal puasa Ramadhan atau Syawal, sebagaimana riwayat dalam shahihain (shahih al-Bukhari dan Muslim).