Category Archives: Ragam Faedah

Majalah adz Dzakhiirah AL ISLAMIYYAH Edisi 97

COVER UTAMA (1)

Segala puji hanya milik Allah , shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi kita, Muhammad j beserta keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti petunjuk-Nya sampai hari kiamat, amma ba’du.

Para pembaca yang mudah-mudahan selalu dalam lindungan Allah, beberapa hari atau beberapa minggu yang lalu kita semua telah melepas kepergian bulan suci Ramadhan, semoga Allah  menerima seluruh amal ibadah yang kita lakukan di bulan tersebut. Amin.

Dengan berputarnya waktu yang begitu cepat, tidak lama lagi sebagian dari saudara- saudara kita dari kaum muslimin akan menyempurnakan rukun Islam yang kelima, mereka akan menyambut panggilan Allah untuk melaksanakan ibadah haji. Allah  berfirman :

“Dan hanya untuk Allah, ibadah haji itu diwajibkan atas manusia bagi orang-orang yang mampu untuk melakukannya, barangsiapa yang mengingkari maka sungguh Allah Maha Cukup dari seluruh makhluk-Nya”. (QS. Ali Imran: 97)

Setiap muslim/muslimah pasti bercitacita menjadi haji yang mabrur, karena balasannya adalah surga yang penuh kenikmatan. Pada edisi ke-97 kali ini, kami berusaha menyajikan ke hadapan pembaca sekalian mengenai penjelasan ulama terdahulu tentang makna dari kalimat atau istilah mabrur itu sendiri, dengan harapan siapa saja yang mengidam-idamkan haji yang mabrur hendaknya kembali kepada penjelasan tersebut.

Kemudian kami juga menghadirkan pembahasan dari sebuah peristiwa (ujian) yang belum lama ini menimpa saudara-saudara
kita di Tolikara, Papua, dari penganiayaan dan pembakaran masjid serta beberapa kios oleh musuh-musuh Islam. Dan juga ada
pembahasan-pembahasan lainnya yang bisa menambah perbekalan ilmu kita .

Masukan, kritik dan saran tetap kami harapkan dari para pembaca sekalian, sehingga majalah kita ini menjadi lebih berkualitas untuk kedepannya. Atas perhatian dan partisipasinya kami ucapkan jazakumullahu khairan.

SOROTAN
• Islam Nusantara: Akrab Dengan Budaya Lokal dan Anti Arabisasi

FIKIH
• Hukum-hukum Seputar Hajar Aswad

MANHAJ

• Penjelasan Kaum Salaf Tentang Haji Mabrur

TAUHID

•Aneka Ragam Faedah dari Tauhid Ibadah (Serial Tauhid Kelima)

NASEHAT

•Pesan dan Nasehat Untuk Para Calon Jamaah Haji

IBADAH

•Mengobati Penyakit Was-Was

REALITA

•Belajar dari Kasus Tolikora

FAWAID

•Dahsyatnya Neraka

AKHLAK

•Ketika Saudaramu Sakit

RENUNGAN

•Di Antara Dua Pilihan

SHIROH

•Innaka Laa Tahdi Man Ahbabta

TAZKIYATUN NUFUS

•Sifat-sifat Ibadurrahman

HADIST

•Siapakah yang Akan Menemani Kita?

Dapatkan Majalahnya…
Hubungi: WA : 0817 520 3992.
Pin BB: 79B54FBF
Berminat Menjadi Agen Majalah adz-Dzakhiirah al-Islamiyyah ?
Dapatkan diskon hingga 35% dan juga keuntungan lainnya.
Segera Hubungi 0817 520 3992 (Choirul Makrom)
[Senin-sabtu]

Sunnahnya Siwak dan Bid'ahnya Dongeng

Sunnahnya Siwak dan Bid’ahnya Dongeng


Dari zaman ke zaman, para ulama salaf selalu memperingatkan kaum muslimin agar menjauhi kisah-kisah yang berisi kedustaan meskipun niatnya adalah baik yaitu untuk memperbaiki kaum muslimin dan memberi nasihat.

Hal itu karena banyak di antara para pendongeng yang tidak memperhatikan kebenaran dongengannya dan banyak juga yang menceritakan kisah-kisah yang berdasarkan pada riwayat yang lemah, palsu atau tidak ada asalnya dalam syariat dan riwayat yang benar. Oleh karena itu, pengingkaran para ulamapun selalu ada dari zaman ke zaman.

Berikut ini ada dua kisah yang diriwayatkan tentang perbandingan antara sunnahnya memakai siwak di masjid dan bid’ah mendongeng di dalamnya.

Kisah Pertama.

Ath-Thurtusyi berkata, “Abu Ma’mar berkata, ‘Aku pernah melihat Sayyar Abul Hakam bersiwak di pintu mesjid, sedangkan di dalam masjid ada seorang pendongeng yang sedang mendongeng’.”

Aku berkata kepadanya, “Wahai Abul Hakam, orang-orang memperhatikanmu”.

Nada Dering HP dengan Al-Qur'an

Nada Dering HP Dengan al-Qur’an, Doa atau Adzan

Soal:

“Apa hukumnya menjadikan nada dering HP dengan doa atau dzikir dan tidak dimatikan ketika melakukan shalat dengan hujjah bahwa nada dering itu termasuk jenis shalat?”

Jawab Syaikh Abdullah bin Ali ar-Rukban:

“Apabila seseorang akan melakukan shalat, hendaknya dia mematikan HP-nya dan hendaklah ia membuat dirinya dan orang lain merasa nyaman. Hal itu karena tindakan tersebut mengganggu, meskipun dengan dzikir atau doa, karena setiap muslim diwajibkan untuk menghadap kepada Allah dengan hatinya dan anggota badannya.

5 Faedah Menawan Seputar Hujan

Lima Faidah Menawan Seputar Hujan

Abu Ashim Muhtar Arifin Lc

1. Meski Doanya Minta Hujan dikabulkan, tidak belajar kepadanya

Ilmu agama adalah perkara yang dapat menentukan keadaan selamatnya seseorang di dunia dan akhirat.

Oleh karena itu, dalam memilih guru, pengajar, ustadz dan syaikh harus berhati-hati dan waspada dengan teliti. Jangan sampai keliru belajar kepada orang yang sesat atau tidak memiliki keahlian masalah ilmu agama, meskipun dia adalah orang yang shalih dan banyak beribadah. Hal itu karena dapat mendatangkan bahaya, apabila sembarangan.

Dalam sebuah riwayat Imam Malik -rahimahullah- berkata, ”Aku telah bertemu dengan segolongan kaum di negeri ini yang mana mereka sekiranya meminta hujan, tentu akan diberi hujan, dan sungguh mereka telah mendengar hadits yang banyak, tetapi aku tidak mengambil dari salah seorang di antara mereka”. (Tartiib al-Madarik wa Taqriib al-Masaalik, karya al-Qadhi Iyadh bin Musa as-Sibti, I/137)

Beliau juga berkata, ”Aku pernah melihat Ayyub as-Sikhtiyani di Mekah ketika melakukan dua kali haji, maka akupun tidak belajar dari beliau. Pada kali yang ketiga aku melihat beliau duduk di halaman air zamzam. Apabila disebut Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- di sisinya beliau menangis sampai aku mengasihani beliau. Setelah mengetahui hal itu, akupun belajar dari beliau. (Tartiib, I/139).

2. Amanah Ilmiyyah Imam al-Muzani tampak dalam menyebutkan ayat hujan.

Imam al-Muzani mengatakan, “Bab Thaharah” Imam Syafi’i berkata, “Allah -azza wa jalla- berfirman:

وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا

Dia-lah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih. (QS. al-Furqan: 48)”. (Mukhtashar al-Muzani, hlm. 1)

Ragam Faedah Seputar Siwak

RAGAM FAEDAH SEPUTAR SIWAK
Abu Ashim

[1]. Menghilangkan Rasa Kantuk saat
khutbah jum’at dengan siwak

Ada pertanyaan yang sampai kepada Syaikh al-Utsaimin -rahimahullah- sebagai berikut: “Kapankan menggunakan siwak itu ditekankan? Apa hukum memakai siwak untuk menanti shalat ketika khutbah?”

Syaikh menjawab: “Ditekankan memakai siwak ketika bangun tidur, awal masuk rumah, ketika wudlu ketika berkumur, dan apabila bangun untuk melakukan shalat.

Tidak mengapa bagi orang yang menanti shalat memakai siwak, akan tetapi dalam keadaan khutbah tidak boleh bersiwak, karena menyibukkannya, kecuali apabila ia mengantuk, maka dibolehkan bersiwak untuk menghilangkan rasa kantuknya”. (Fatawa Arkan al-Islam, hlm. 215, no. 133, Dar Tsurayya, Riyadh, cet. 1, 1421 H, dikumpulkan oleh Fahd bin Nashir as-Sulaiman)

[2]. “Mereka bersiwak bersama-sama, tentu akan memakan kita !”

Ada sebuah hikayat batil yang telah disebutkan oleh sebagian penceramah dan pemberi nasihat yang berkaitan dengan siwak. Berikut kisahnya:

Pada suatu hari para sahabat sedang dalam peperangan. Dan ternyata orang-orang kafir berhasil menangkap mereka. Maka mereka bertanya-tanya tentang sebabnya. Kemudian mereka mengingat-ingat sunnah Nabi n apakah yang telah mereka tinggalkan? Kemudian mereka ingat tentang sunnahnya siwak.

Akhirnya mereka bersiwak. Dan musuhpun melihatnya. Kemudian mereka berlari terbirit-birit karena takut dari para sahabat. Mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka membersihkan gigi mereka –yaitu meruncingkannya– untuk memakan kita”. Demikianlah kisahnya.

Mengomentari kisah ini, asy-Syuqairi -rahimahullah- mengatakan: “Tidak ada asalnya. Bila engkau heran, maka yang lebih mengherankan lagi adalah kisah tersebut dibawakan oleh orang-orang yang berpura-pura mengetahui terhadap hikayat ini dan menyebarkannya kepada manusia di suatau perkumpulan dan pelajaran, padahal kisah tersebut batil”. (as-Sunan wa al-Mubtada’at, hlm. 29)

[3]. Meletakkan Siwak di telinga

Berikut ini adalah salah satu bentuk perhatian seorang sahabat terhadap siwak.
Abu Salamah bin Abdurrahman berkata: Aku melihat Zaid1) duduk di masjid dengan siwak berada di telinganya, sebagaimana sebuah pena di telinga seorang penulis. Setiap kali berdiri untuk shalat ia bersiwak”. (Dikeluarkan oleh Abu Dawud, no. 47 dan Syaikh al-Albani mengatakan: Shahih)

Menyebarkan Hadiah Berharga di Hari Raya

Menyebarkan Hadiah Berharga di Hari Raya
Abu Ashim Muhtar Arifin Marzuqi, Lc

Membaca merupakan salah satu kunci untuk dapat memperoleh hidayah dan banyak kebaikan. Ayat yang diturunkan oleh Allah -subhanahu wa ta’ala- pertama kali juga perintah untuk membaca.

Ketika bercerita tentang sebuah kitab, ada yang berkata:

يُفِيْدُوْنَنَا مِنْ رَأْيِهِمْ عِلْمَ مَنْ مَضَى             وَ عَقْلاً وَتَأْدِيْبًا وَرَأْيًا مُسَدَّدَا

بِلاَ مُؤْنَةٍ تُخْشَى وَلاَ سُوْءِ عِشْرَةٍ               وَلاَ نَتَّقِيْ مِنْهُمْ لِسَانًا وَلاَ يَداَ

Dia memberi kita faedah berupa ilmu tentang generasi masa lalu
Tentang akal, tata krama dan pemikiran yang lurus

Tanpa ada beban yang ditakutkan dan tidak pula jeleknya perangai
Dan tidak pula kita berhati-hati secara lisan dan tidak pula tangan

Salah satu cara untuk mememberi semangat masyarakat dan sanak saudara untuk membaca yang benar sehingga dapat mengerti al-haq, salah satunya adalah dengan memberi hadiah buku dalam momen yang tepat seperti ramadhan, hari raya, resepsi pernikahan, pembagian daging aqiqah, dsb. (Kaifa Taqra`u Kitaban, karya Dr. Zaid bin Muhamamad ar Rummani, cet. 1, Darul Hadharah)

Apabila ada sepuluh orang saja yang menerima selebaran dakwah atau fotocopian suatu masalah syar’i, lalu mereka mengamalkannya, maka alangkah banyaknya orang yang akan mendapatkan petunjuk tanpa kita menyampaikan ceramah yang panjang? Alangkah banyaknya pahala yang akan terus mengalir menjadi amal jariyah? ”Barang siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka dia akan mendapat pahala seperti orang yang mengamalkannya”. (HR. Muslim)

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Ed 54, hal. 64

Kisah Tragis Dalam Sejarah Hari Raya

Kisah Tragis Dalam Sejarah Hari Raya
Abu Ashim Muhtar Arifin Marzuqi, Lc

Ketika menjelaskan tentang biografi Muhammad bin Hubuli -rahimahullah-, yaitu seorang Imam yang menjadi Qadhi di kota Barqah, Imam adz-Dzahabi -rahimahullah- menceritakan bahwa Amir kota Barqah mendatangi beliau. Lalu Amir itu berkata: “Besok adalah hari raya”.

Imam menjawab: “(Kami tidak mau berhari raya) sampai melihat hilal, dan aku tidak (ingin) mengajak manusia untuk berbuka, lalu aku yang menanggung dosa mereka”.

Amir berkata: “Ini adalah isi surat yang berasal dari al-Manshur”.

Inilah di antara pendapat Ubaidiyyah, yaitu menyeru rakyat untuk berbuka dengan berdasarkan hisab dan mereka tidak menghiraukan terlihatnya hilal. Sedangkan pada saat itu hilal belum terlihat.

Keesokan harinya Amir itu (menabuh) gendang, (menegakkan) bendera-bendera yang besar.

Imam yang menjadi Qadhi tersebut berkata: “Aku tidak mau keluar dan tidak melakukan shalat (id)”.

Lalu Amir itu memerintahkan seseorang untuk berkhutbah dan menulis (melaporkan) apa yang terjadi tersebut kepada al-Manshur, lalu dia meminta agar Qadhi tersebut datang kepadanya, lalu beliau pun didatangkan.

Al-Manshur berkata: “Keluarlah engkau (untuk merayakan id-pen), niscaya aku akan memaafkanmu”.

Akan tetapi beliau tidak mau melakukannya. Lalu ia memerintahkan agar beliau di gantungkan di bawah terik matahari sampai meninggal dunia. Pada saat itu beliau meminta bantuan karena kehausan, akan tetapi tidak diberi air. Akhirnya beliau disalib di atas sebuah kayu”.

Setelah membawakan kisah ini Imam adz-Dzhahabi -rahimahullah- berkata: “Semoga Allah melaknat orang-orang yang zhalim”.

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah ED 54, hal. 67

Diantara Guru Kita, Khatib Para Hari Raya

Diantara Guru Kita, Khatib Para Hari Raya
Abu Ashim Muhtar Arifin Marzuqi, Lc

Syaikh bin Baz -rahimahullah- pernah ditanya: ”Telah tersebar di kalangan sebagian orang, bahwa ”Orang yang tidak memiliki guru, maka gurunya adalah setan”. Apa pengarahan Syaikh untuk mereka?”.

Beliau menjawab: ”Ini adalah kesalahan orang umum dan suatu bentuk kejahilan dari sebagian orang-orang sufi untuk menmengajak manusia agar berhubungan dengan mereka, bertaklid kepada mereka dalam bid’ah-bid’ah dan kesesatan-kesesatan mereka.

Sesungguhnya apabila seseorang mendalami agama dengan menghadiri halaqah-halaqah ilmiah dan agama, atau dengan mentadabburi al-Qur`an atau sunnah dan mengambil faedah dan pelajaran darinya, maka dikatakan bahwa dia telah bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, bahkan dikatakan: ”Ia telah mendapatkan kebaikan yang banyak”.

Sudah sepantasnya bagi penuntut ilmu untuk berhubungan dengan para ulama yang telah dikenal dengan kelurusan aqidahnya dan kebaikan perilakunya, bertanya kepada mereka tentang kesulitan yang dihadapinya, karena apabila ia tidak bertanya kepada ahli ilmu, maka kadang-kadang ia akan banyak salahnya dan permasalahan-permasalahan akan terjadi kerancuan.

Adapun apabila dia menghadiri halaqah-halaqah ilmiah dan mendengarkan nasihat-nasihat dari ahli ilmu, maka dengan cara inilah dia akan mendapatkan kebaikan yang banyak dan pelajaran-pelajaran yang bermacam-macam, meskipun dia tidak memiliki guru tertentu.

Tidak diragukan lagi bahwa orang yang menghadiri halaqah-halaqah ilmu dan mendengarkan khutbah-khutbah jum’at, hari-hari raya dan ceramah-ceramah yang diadakan di masjid-masjid, maka para gurunya menjadi banyak, meskipun dia tidak menisbatkan kepada salah satu di antara mereka, lalu bertaklid dan mengikuti pendapatnya”.

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Ed 54, hal. 66

Serba-Serbi Seputar Shaum

Serba-Serbi Seputar Shaum

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin -rahimahullah-
Diterjemahkan oleh Abu Ahmad Fuad Hamzah bin Mubarak Baraba’, Lc

Segala puji bagi Allah Pemelihara seluruh alam. Sholawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya. Amma ba’du,

Tulisan ini adakah ringkasan yang berkaitan dengan puasa, hukum-hukumnya, kelompok manusia ketika berpuasa, juga seputar pembatal-pembatal puasa dan beberapa faedah lainnya.

Shaum adalah ibadah kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- dengan cara meninggalkan hal-hal yang membatalkannya dari mulai terbit fajar sampai terbenamnya matahari.

Puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam yang agung. Hal ini berdasarkan sabda Nabi -shollallahu alaihi wa sallam :

بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ الْبَيْتِ الْحَرَامِ

Islam itu di bangun di atas lima perkara: Bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak untuk diibadahi keculi Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan shaum di bulan ramadhan, dan melaksanakan ibadah haji ke baitullah al-haram. (HR. al-Bukhari & Muslim)

KELOMPOK MANUSIA KETIKA BERPUASA

1. Puasa wajib bagi setiap muslim yang baligh, berakal, mampu melaksanakanya dan dalam keadaan bermukim.

2. Orang kafir tidak wajib berpuasa, dan ia tidak wajib mengqadha apabila masuk Islam.

3. Anak kecil yang belum baligh belum wajib untuk berpuasa ,akan tetapi ia dilatih untuk melaksanakannya supaya terbiasa.

4. Orang gila tidak wajib puasa dan tidak pula wajib membayar fidyah meskipun sudah tua. Demikian pula orang yang kurang akalnya yang tidak dapat membedakan benar atau salah.

Lima Faidah Penting Seputar Anjing

Lima Faidah Penting Seputar Anjing

Abu Ashim Muhtar Arifin Lc

[1] Masuk Islam Setelah Berdialog Tentang
Jenggot dan Ekor Anjing !

Ada sebuah dialog antara seorang muslim yang aktif dalam berdakwah di jalan Allah ta’ala dengan seorang laki-laki kafir. Seorang da’i tersebut memiliki jenggot yang lebat, karena dia adalah orang yang komitmen dalam mengamalkan sunnah Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- yang mulia. Ketika orang kafir itu melihat jenggotnya yang panjang, maka ia ingin merendahkan, mengejek dan memperolok-oloknya. Orang kafir itu bertanya untuk mengejek jenggotnya : ”Mana yang lebih utama, jenggot ini ataukah ekor anjing?”

Da’i yang bijak dan sabar tersebut menjawab: ”Apabila jenggot ini akan berada di surga, maka ia lebih baik daripada ekor seekor anjing. Akan tetapi apabila jenggot ini akan berada di neraka, maka ekor seekor anjing lebih utama dari jenggot ini.”

Orang kafir itu pun segera mengatakan: ”Asyhadu alla ilâha illallah wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullâh (Saya bersaksi bahwa tiada ilâh yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah).”

Segala puji bagi Allah, akhirnya ia memeluk agama Islam dan termasuk orang-orang yang komitmen dalam menjalankannya. Semoga Allah memberi kita semua ketegaran dan istiqamah dalam memegang satu-satunya agama yang haq dan mulia ini.