Category Archives: Nasehat

Belajar Dari Pengalaman

Belajar Dari Pengalaman
Abu Musa al-Atsari

Dalam mengarungi samudra kehidupan ini, manusia memiliki prinsip dasar hidup yang berbeda-beda. Setiap mereka berpegang teguh dengan norma-norma yang telah diatur dan ditata oleh setiap prinsip masing-masing. Jika ada suatu kelompok yang mengejek atau menghina aturan yang lain, maka mereka tidak terima dan membalas lebih dari sekedar ejekan atau hinaan. Wajar saja jika gesekan antara satu sama lain terkadang tak dapat dihindarkan. Dan akhirnya dapat berwujud permusuhan, saling benci, saling melecehkan, bahkan bisa berbuntut kepada perkelahian dan pembunuhan. Itulah manusia yang memiliki sifat enggan direndahkan dan selalu ingin lebih tinggi dan lebih kuat dari yang lainnya.

Ketika mereka begitu perhatian dengan prinsip dasar hidup masing-masing, tenggelam dengan norma-normanya dan menjunjung tinggi segala aturan adat-istiadat, ternyata mereka lupa atau bahkan sengaja melupakan sebuah aturan yang jauh lebih berhak untuk dipegang dan diikuti dari pada semua aturan yang ada, yaitu aturan agama. Sebuah aturan yang berbuah kedamaian antar sesama. Sebuah prinsip yang menerangi manusia dari gelap-gulitanya ketidaktahuan menuju terangnya cahaya ilmu. Sebuah syariat sempurna yang mengajak kita untuk berfikir bahwa setiap manusia telah diciptakan sama oleh Rabb alam semesta meskipun daerah, suku dan warna kulit saling berbeda. Tidak ada nilai lebih bagi hamba di sisi-Nya melainkan dengan ketakwaan dan keimanan. Inilah agama Islam, agama satu-satunya yang diterima di sisi Allah Yang Maha Kuasa. 

Pena Bermata Dua

Pena Bermata Dua
Nasehat Bagi Para Penulis
Oleh: Syaikh Muhammad Musa Alu Nashr


Semoga Allah memuliakan pena, sebagai makhluk pertama ciptaan-Nya(ulama berselisih tentang makhluk pertama yang Allah ciptakan menjadi dua: kelompok pertama menyatakan, makhluk pertama adalah pena. Kelompok kedua berpendapat makhluk pertama adalah Arsy), sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits shahih dari Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam-. Dan Allah telah bersumpah dengan pena karena kemuliaan yang dimilikinya dan kemuliaan dari tujuan diciptakannya. Allah berfirman:
Nūn, demi qolam (pena) dan apa yang mereka tulis. (QS. al-Qolam: 1)

Allah bersumpah dengan pena bahwa dakwah agama Islam bersandar kepada seseorang Nabi yang ma’shūm yang sempurna akal dan kekuatannya. Oleh sebab itu, Allah meneruskan ayat di atas dengan firman-Nya:

Berkat nikmat Rabb-mu, kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. (QS. al-Qolam: 2)

Sebab, gila merupakan penyakit yang dapat menghalangi diri dari menjalankan kewajiban agama dan menyampaikan dakwah, juga merupakan salah satu faktor penyebab melampaui batas.

Untaian Tali Pernikahan

Untaian Tali Pernikahan

Oleh : Abu Abdirrohman bin Thoyyib, Lc

Nikah, sebuah kata indah nan mempesona. Dialah harapan setiap insan manusia terutama kawula muda. Dengan menikah hidup kan semakin indah dan berharga. Dengan menikah terjalin cinta kasih diatas ikatan suci. Alangkah indahnya pernikahan, alangkah bahagianya mereka yang menikah, hingga pena ini rasanya tak sanggup untuk mengungkapkan dan mengukir keindahan itu diatas kertas. Tidak ada yang lebih bisa menggambarkan keindahan pernikahan ini selain Yang Maha Pencipta lagi Maha Kuasa yang telah berfirman :

[وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ]

Artinya : “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS.Ar-Ruum : 21).

Nikah bukan hanya sekedar mewujudkan fitroh manusia yang selalu mendambakan pendamping dalam hidup ini, tapi lebih dari itu nikah adalah ibadah yang diperintahkan oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya :

[فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ]

Artinya : “maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS.An-Nisaa’ : 3)

Surat Buat Kelompok – Kelompok Dakwah

Surat Buat Kelompok – Kelompok Dakwah
Oleh : Syaikh Muhammad Jamil Zainu

Agama adalah nasehat
Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda :

الدِّينُ النَّصِيْحَةُ. قُلْنَا : لِمَنْ يَارَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ : لِلهِ، وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَ ئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

“Agama adalah nasehat, kami (para sahabat) bertanya : untuk siapa wahai Rasulullah ? Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam –menjawab- : untuk Allah, kitabnya, Rasulnya, dan untuk para pemimpin kaum muslimin dan orang awamnya.”(HR. Muslim).

Dan sebagai aplikasi sabda Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- di atas, maka saya ingin menyampaikan nasehat kepada seluruh kelompok dakwah Islam, agar senantiasa berpegang teguh dengan al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih berdasarkan pemahaman para ulama salaf,seperti : para sahabat, tabi’in, para imam mujtahidin dan orang-orang senantiasa meniti jejak mereka.

Kepada Kelompok Sufi

1. Nasehat saya kepada mereka agar menunggalkan Allah dalam do’a dan isti’anah (meminta pertolongan) sebagai bentuk perwujudan dari firman Allah :

“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.”(QS. Al-Fatihah : 5).
Dan sabda Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- :

الدُّعَاءُ هُوَ اْلعِبَادَةُ

“Doa adalah ibadah.”(HR. Tirmidzi dan beliau berkata : hadits hasan shahih).

Dan wajib bagi mereka untuk meyakini bahwa Allah ada di atas langit, sebagaimana firman-Nya :

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?,”(QS. Al-Mulk : 16).

Ibnu Abbas -radhiallohu anhuma-, berkata Dia adalah Allah (sebagaimana disebutkan Ibnul Jauzi dalam tafsirnya).

Dan Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda :

أَلاَ تَأْمَنُوْنِيْ وَأَنَا أَمِيْنٌ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Tidaklah kalian percaya kepadaku, padahal saya adalah kepercayaan dzat yang di langit”(HR. Bukhari dan Muslim). Dan arti di langit adalah di atas langit.

2. Hendaklah mereka senantiasa mendasari dzikir-dzikir mereka dengan apa yang ada dalam al-Qur’an dan sunnah (yang shohih –ed.) serta amalan para sahabat.

Nasehat Bagi Para Da’i Salafy

Nasehat bagi para da’i salafy
Oleh : Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin

Diantara adab para dai yang wajib untuk mereka jalankan, adalah tolong menolong diantara mereka. Dan tidak selayaknya mereka berkeinginan agar ucapannya saja yang diterima dan harus didahulukan dari pada orang lain. Tapi semestinya keinginan seorang dai adalah agar dakwah (kebenaran), diterima baik lewat dirinya atau orang lain. Selama keinginan anda adalah tegaknya agama Allah (di muka bumi) maka jangan anda perdulikan darimana kebenaran itu kan menyebar, apakah dari anda atau yang lainnya.

Memang benar bahwa seseorang berkeinginan agar kebaikan itu berada ditangannya, tapi tidak boleh dia membenci kalau seandainya kebaikan itu juga ada ditangan orang lain. Yang wajib baginya adalah agar agama Allah tegak darimana saja datangnya. Jika seorang dai telah membangun pemikirannya di atas kaidah ini, maka dia akan membantu saudaranya dalam berdakwah di jalan Allah meskipun manusia lebih banyak condong kepada orang lain dari pada dirinya.

Yang wajib bagi para dai adalah bergotong-royong diantara mereka dan saling bermusyawarah, berpijak di atas satu pijakan dan berjuang karena Allah baik berdua-dua, atau bertiga atau berempat (QS. Saba’ : 46)