Category Archives: Manhaj

Kaidah Dalam Berjihad

Kaidah Dalam Berjihad[1]

Ini adalah pembahasan yang amat penting dalam masalah jihad, yaitu memahami bahwa jihad yang disyariatkan dalam Islam adalah yang sesuai dengan kaidah-kaidah dan syarat-syarat yang dijelaskan dalam Al-Qur’an maupun sunnah Rasul -shollallahu alaihi wa sallam- serta atsar para salafush sholeh. Tidak akan sempurna jihad dijalan Allah dan tidak akan termasuk amal sholeh tanpa memperhatikan syarat-syarat tersebut.

Diantara kaidah-kaidah serta syarat-syarat jihad adalah sebagai berikut :

1- Jihad harus dilandasi oleh 2 hal yang merupakan syarat diterimanya amal ibadah, yaitu ikhlas dan mutaba’ah (mengikuti sunnah Rasul -shollallahu alaihi wa sallam-). Allah ta’ala tidak akan menerima jihadnya seseorang hingga dia mengikhlaskan niatnya karena Allah dan mengharapkan keridhoan-Nya. Jika dia hanya mengharapkan dengan jihadnya tersebut keuntungan pribadi atau jabatan atau yang lainnya dari perkara-perkara dunia maka jihadnya ini tidak diterima oleh Allah ta’ala. Demikian pula, Allah tidak akan menerima jihad seseorang apabila dia tidak mengikuti sunnah Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- dalam berjihad. Seseorang yang ingin berjihad haruslah terlebih dahulu memahami bagaimana dahulu Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- berjihad kemudian dia mencontohnya.

2- Jihad tersebut harus sesuai dengan maksud dan tujuan disyariatkannya jihad yaitu untuk meninggikan kalimat Allah dan agar agama ini hanyalah milik Allah, sebagaimana Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- pernah ditanya : Wahai Rasulullah ! ada seseorang yang berperang karena keberaniannya, ada lagi karena fanatik (golongan), ada juga karena riya’, mana diantara mereka yang termasuk berjihad di jalan Allah ? maka beliau menjawab : “Barangsiapa yang berperang di jalan Allah agar kalimat Allah tinggi maka dia di jalan Allah” (HR.Bukhari 7458 dan Muslim 1904).

Jihad Dalam Islam

Jihad Dalam Islam[1]

Jihad merupakan tulang punggung dan kubah Islam. Kedudukan orang-orang yang berjihad amatlah tinggi di surga, begitu juga di dunia. Mereka mulia di dunia dan di akhirat. Rasulullah r adalah orang yang paling tinggi derajatnya dalam jihad. Beliau telah berjihad dalam segala bentuk dan macamnya. Beliau berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad, baik dengan hati, dakwah, keterangan (ilmu), pedang dan senjata. Semua waktu beliau hanya untuk berjihad dengan hati, lisan dan tangan beliau. Oleh karena itulah, beliau amat harum namanya (di sisi manusia-pent) dan paling mulia di sisi Allah.

Allah ta’ala memerintahkan beliau untuk berjihad semenjak beliau diutus sebagai Nabi, Allah berfirman :

وَلَوْ شِئْنَا لَبَعَثْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ نَذِيرًا

فَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا

“Dan andaikata Kami menghendaki, benar-benarlah Kami utus pada tiap-tiap negeri seorang yang memberi peringatan (rasul). Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Qur’an dengan jihad yang besar.” (QS. Al-Furqon : 51-52).

Surat ini termasuk surat Makiyah yang didalamnya terdapat perintah untuk berjihad melawan orang-orang kafir dengan hujjah dan keterangan serta menyampaikan Al-Qur’an. Demikian juga, jihad melawan orang-orang munafik dengan menyampaikan hujjah karena mereka sudah ada dibawah kekuasaan kaum muslimin, Allah ta’ala berfirman :

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

“Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya.” (QS. At-Taubah : 73).

Jihad melawan orang-orang munafik (dengan hujjah-pent) lebih sulit daripada jihad melawan orang-orang kafir (dengan pedang-pent), karena (jihad dengan hujjah-pent) hanya bisa dilakukan orang-orang khusus saja yaitu para pewaris nabi (ulama). Yang bisa melaksanakannya dan yang membantu mereka adalah sekelompok kecil dari manusia. Meskipun demikian, mereka adalah orang-orang termulia di sisi Allah.[2]

Bersatu di atas al-Qur'an dan Sunnah

Bersatu di atas al-Qur’an dan Sunnah

Syaikh Dr. Ibrahim bin Amir ar-Ruhaily

Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah, kami memuji, meminta pertolongan dan memohon ampun kepada-Nya. Kami berlindung kepada-Nya dari kejahatan diri-diri kami dan dari kejelekan amal perbuatan kami. Siapa saja yang Allah telah berikan hidayah kepadanya maka tidak seorangpun yang dapat menyesatkannya, dan siapa saja yang telah disesatkan, maka tidak seorangpun yang mampu menunjukinya. Kami bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak diibadahi dengan sebenar-benarnya kecuali Allah, dan kami bersaksi bahwasanya Muhammad itu adalah hamba dan rasul Allah. Ya Allah, sampaikanlah shalawat, salam serta keberkahan kepada hamba dan Rasul-Mu, yaitu Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya semua.

Sesungguhnya Allah telah memerintahkan dalam kitab-Nya untuk berpegang teguh dengan agama dan tali Allah, serta bersatu di atasnya, sebagaimana firman-Nya :

“Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali agama Allah dan janganlah bercerai berai”(QS. Ali imron : 103).

Maka hendaklah kita amati apa yang terkandung di dalam ayat ini, bahwasannya Allah -subhanahu wa ta’ala- telah memerintahkan untuk berpegang teguh dengan tali agama-Nya dan melarang perpecahan. Semua ini mengisyaratkan bahwa berpegang teguh dengan agama Allah tidak mendatangkan perpecahan, dan perpecahan sendiri bukanlah bagian dari berpegang teguh dengan agama Allah. Sekiranya berpegang teguh dengan agama Allah menyebabkan perpecahan, niscaya Allah tidak akan memerintahkan untuk berpegang teguh dengan agama-Nya dan melarang perpecahan, dikarenakan pada hal seperti ini terdapat kontradiksi yang jelas antara yang satu dengan yang lain, maka sekali lagi bahwa berpegang teguh dengan agama Allah bukan penyebab perpecahan jama’ah kaum muslimin. Bahkan bersatu di atas agama Allah merupakan bagian dari berpegang teguh dengan agama-Nya.

Kebanyakan orang salah kaprah memahami arti al-I’tisham (berpegang teguh), dan dari kesalahpahaman ini bisa jadi sebagian orang beranggapan bahwa dirinya telah berpegang teguh dengan agama Allah tatkala dia bersikukuh terhadap apa-apa yang dia yakini, sehingga dia berteman, memusuhi serta memecah belah umat dengan klaim dan dakwaan bahwa dirinya berpegang teguh terhadap agama Allah. Maka dari itu, sangatlah perlu untuk memahami apa arti berpegang teguh itu dan apa pula makna bersatu.

Gelar Al-Atsary ?!?

Hukum Penisbatan Diri Kepada Atsar
Oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Abdul Hamid al-Halabi al-Atsari

Segala puji bagi Allah dan sholawat serta salam semoga senantiasa terlimpah kepada Rasulullah n dan kepada keluarga, sahabat serta orang-orang yang mengikuti beliau.
Sebagian ikhwah telah bertanya kepadaku –semoga Allah memberi balasan kebaikan kepada mereka- tentang hukum penisbatan diri kepada Sunnah atau Atsar?
Semua itu dikarenakan adanya ucapan dari ahli ilmu yang dipahami melarang akan hal tersebut
Maka saya katakan –dengan memohon taufik dari Allah-:
Sesungguhnya penisbatan kepada Atsar merupakan penisbatan yang sudah ada sejak zaman dahulu (suatu hal yang telah turun menurun/warisan) diterima oleh kalangan ahli ilmu
Berkata as-Sam’ani (meninggal tahun 562 H) dalam kitabnya al-Ansab 1/136 : Penisbatan kepada Atsar yaitu hadits dan mencari ilmu hadits serta mengikuti hadits.
Dan bait syair pertama di dalam al-Alfiyah al-Haditsiyyah yang telah masyhur oleh al-Hafidh al-Iraqi (meninggal tahun 806 H), beliau berkata :

Dakwah Salafiyyah dan Dakwah IM

Garis Pemisah Antara Dakwah Salafiyyah Dengan Dakwah Ikhwanul Muslimin (1)
oleh : Syaikh Abu Abdussalam Hasan bin Qasim al-Hasani ar-Riimi.

HAKIKAT DAKWAH
• Dakwah Salafiyah
Berdakwah kepada al-Kitab (al-Qur’an) dan as-Sunnah sesuai dengan pemahaman salaful ummah, yaitu dakwah kepada manhaj yang ma’shum (terbebas dari kesalahan) manhajnya salafus shalih dari kalangan sahabat, tabi’in dan generasi yang utama.
• Dakwah Ikhwanul Muslimin
Berdakwah kepada perorangan/tokoh tertentu atau dakwah yang dinisbatkan kepada Hasan al-Banna as-Shufi, dan ini merupakan dakwah yang baru, yang umurnya tidak lebih dari tujuh puluh tahun.(2)

Atsar Ibnu Abbas "Kufrun Duuna Kufrin"

Benarkah atsar Ibnu Abbas -Radhiallohuanhuma- “Kufrun Duuna kufrin” ?

Oleh : Syaikh Salim bin Ied al-Hilaly

Anak cucu Khawarij masih eksis di tengah-tengah medan dakwah, mereka selalu mengembar-gemborkan warisan nenek moyang mereka, yaitu pengkafiran terhadap penguasa kaum muslimin. Segala cara mereka upayakan demi kelancaran tipu daya mereka terhadap kaum muslimin.
Mereka mencoba untuk melariskan dagangan mereka dengan membawakan ayat 44 dari surat Al-Maidah untuk mengkafirkan semua penguasa kaum muslimin. Oleh karenanya, Dakwah Salafiyah berusaha untuk membongkar kedok dan kesesatan mereka dengan membawakan atsar Abdullah bin Abbas c seorang ahli tafsir Al-Qur’an dari kalangan sahabat Rasulullah -Shollallah alaihi wa sallam- serta ucapan para ulama salaf yang lain tentang ayat tersebut.
Ketika mereka tidak sanggup untuk melawan atsar Ibnu Abbas c tersebut, mereka pun berpindah cara dengan menyatakan atsar tersebut lemah, padahal makar mereka lah yang lebih lemah dari sarang laba-laba.