Category Archives: Manhaj

Majalah adz Dzakhiirah AL ISLAMIYYAH Edisi 97

COVER UTAMA (1)

Segala puji hanya milik Allah , shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi kita, Muhammad j beserta keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti petunjuk-Nya sampai hari kiamat, amma ba’du.

Para pembaca yang mudah-mudahan selalu dalam lindungan Allah, beberapa hari atau beberapa minggu yang lalu kita semua telah melepas kepergian bulan suci Ramadhan, semoga Allah  menerima seluruh amal ibadah yang kita lakukan di bulan tersebut. Amin.

Dengan berputarnya waktu yang begitu cepat, tidak lama lagi sebagian dari saudara- saudara kita dari kaum muslimin akan menyempurnakan rukun Islam yang kelima, mereka akan menyambut panggilan Allah untuk melaksanakan ibadah haji. Allah  berfirman :

“Dan hanya untuk Allah, ibadah haji itu diwajibkan atas manusia bagi orang-orang yang mampu untuk melakukannya, barangsiapa yang mengingkari maka sungguh Allah Maha Cukup dari seluruh makhluk-Nya”. (QS. Ali Imran: 97)

Setiap muslim/muslimah pasti bercitacita menjadi haji yang mabrur, karena balasannya adalah surga yang penuh kenikmatan. Pada edisi ke-97 kali ini, kami berusaha menyajikan ke hadapan pembaca sekalian mengenai penjelasan ulama terdahulu tentang makna dari kalimat atau istilah mabrur itu sendiri, dengan harapan siapa saja yang mengidam-idamkan haji yang mabrur hendaknya kembali kepada penjelasan tersebut.

Kemudian kami juga menghadirkan pembahasan dari sebuah peristiwa (ujian) yang belum lama ini menimpa saudara-saudara
kita di Tolikara, Papua, dari penganiayaan dan pembakaran masjid serta beberapa kios oleh musuh-musuh Islam. Dan juga ada
pembahasan-pembahasan lainnya yang bisa menambah perbekalan ilmu kita .

Masukan, kritik dan saran tetap kami harapkan dari para pembaca sekalian, sehingga majalah kita ini menjadi lebih berkualitas untuk kedepannya. Atas perhatian dan partisipasinya kami ucapkan jazakumullahu khairan.

SOROTAN
• Islam Nusantara: Akrab Dengan Budaya Lokal dan Anti Arabisasi

FIKIH
• Hukum-hukum Seputar Hajar Aswad

MANHAJ

• Penjelasan Kaum Salaf Tentang Haji Mabrur

TAUHID

•Aneka Ragam Faedah dari Tauhid Ibadah (Serial Tauhid Kelima)

NASEHAT

•Pesan dan Nasehat Untuk Para Calon Jamaah Haji

IBADAH

•Mengobati Penyakit Was-Was

REALITA

•Belajar dari Kasus Tolikora

FAWAID

•Dahsyatnya Neraka

AKHLAK

•Ketika Saudaramu Sakit

RENUNGAN

•Di Antara Dua Pilihan

SHIROH

•Innaka Laa Tahdi Man Ahbabta

TAZKIYATUN NUFUS

•Sifat-sifat Ibadurrahman

HADIST

•Siapakah yang Akan Menemani Kita?

Dapatkan Majalahnya…
Hubungi: WA : 0817 520 3992.
Pin BB: 79B54FBF
Berminat Menjadi Agen Majalah adz-Dzakhiirah al-Islamiyyah ?
Dapatkan diskon hingga 35% dan juga keuntungan lainnya.
Segera Hubungi 0817 520 3992 (Choirul Makrom)
[Senin-sabtu]

Ahlul Bait dalam Pandangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah

AHLU BAIT DALAM PANDANGAN AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH

 oleh : Ust. Abu Abdillah Fadlan Fahamsyah, Lc. M.H.I

(Dosen STAI Ali bin Abi Thalib Suarabaya)


Segala puji hanya milik Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan dari-Nya, memohon ampunan kepada-Nya, dan kita bertaubat kepada-Nya. Kita pun berlindung kepada Allah dari keburukan-keburukan jiwa, dan dari kejelekan-kejelekan perbuatan kita. Barangsiapa yang Allah berikan petunjuk kepadanya, maka tidak ada seorang pun yang mampu menyesatkannya. Dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada seorang pun yang mampu memberikan petunjuk kepadanya.

Semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada nabi kita Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, para sahabatnya dan orang-orang yang senantiasa mengikuti jalannya sampai yaumil qiyamah. Amma ba’du.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِى أَهْلِ بَيْتِى

“Aku ingatkan kalian kepada Allah akan hak-hak ahli baitku (keluargaku).” (HR. Muslim no. 6378)

Bertolak dari hadits inilah, kami goreskan pena ini untuk mengenal lebih jauh siapakah ahli bait nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Agar dengannya kita bisa lebih mencintai mereka, menyelami kehidupan mereka dan meneladani budi pekerti mereka.

A.      SIAPAKAH AHLU BAIT NABI shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Yang dimaksud ahli bait dalam pandangan Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah semua kerabat nabi yang diharamkan atas mereka untuk menerima sedekah, mereka adalah para istri nabi dan anak cucu beliau, dan setiap muslim dan muslimah yang berasal dari nasab keturunan bani Hasyim dan bani Muththalib.

Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al-Badr hafidzahullah berkata:

القولُ الصَّحِيْحُ فِيْ المُرَادِ بِآلِ بَيْتِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – هُمْ مَنَ تَحْرُمُ عَلَيْهِمْ الصَّدَقَةُ، وَهُمْ أزوَاجُهُ وَذُرِّيَّتُهُ، وَكُلُّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ مِنْ نَسْلِ عَبْدِ الْمُطَّلِبْ، وَهُمْ بنُوْ هَاشِمِ بْنِ عَبْدِ مَنَافٍ

“Pendapat yang shahih tentang maksud dari ahli bait nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mereka (kerabat nabi) yang diharamkan memakan harta sedekah, yaitu para istri nabi dan anak cucu beliau, dan setiap muslim laki-laki maupun wanita dari keturunan Abdul Muththalib, mereka adalah anak keturunan Hasyim bin Abdi Manaf.”[1]

Sebagian para ulama, di antaranya al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah menambahkan bani Muththalib[2] (saudaranya Hasyim) ke dalam ahli bait karena bani Hasyim dan bani Muththalib itu satu (tidak terpisahkan baik di kala jahiliyah maupun Islam).[3]

Al-Imam Muslim rahimahullah menulis sebuah bab dalam kitab shahih beliau:

“بَابُ تَحْرِيمِ الزَّكَاةِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- وَعَلَى آلِهِ وَهُمْ بَنُوْ هَاشِمٍ وَبَنُوْ الْمُطَّلِبِ دُوْنَ غَيْرِهِمْ”

“Bab: Tentang haramnya zakat untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para keluarganya yaitu Banu Hasyim dan Banu Muththalib, tidak diharamkan selain mereka.”[4]

Dari keterangan di atas bisa diperinci bahwa ahli bait nabi adalah sebagai berikut:

1.     Istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Adapun nama istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam pendapat yang masyhur adalah sebagai berikut:

1). Khadijah binti Khuwailid

2). Saudah binti Zam’ah

3). Aisyah binti Abu Bakar ash-Siddiq

4). Hafshah binti Umar bin Khaththab

5). Zainab binti Khuzaimah

6). Ummu Salamah Hindun Binti Abi Umayyah

7). Zainab binti Jahsy

8). Juwairiyyah binti al-Harits

9). Shafiyah binti Huyay Bin Akhthab

10). Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan

11). Maimunah binti al-Harits al-Hilaliyyah[5] radhiyallahu ‘anhunna jami’an

 

Di antara dalil yang menunjukkan bahwa istri-istri nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk Ahli bait adalah Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِير

“Dan hendaklah kalian (para isteri nabi) tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, hai ahlul bait dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.” (QS. al-Ahzab [33]: 33)

 

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Dan tidak ada keraguan bagi orang yang mentadabburi al-Qur’an, bahwa istri-istri rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam termasuk dalam Firman Allah ta’ala di atas.”[6]

2.     Putra-putri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Putra-putri Rasulullah shallallahu ‘‘alaihi wa sallam ada tujuh orang, tiga laki-laki dan empat perempuan:

1). Al-Qasim, dari nama inilah nabi dipanggil kunyahnya, sehingga nabi dipanggil dengan sebutan Abul Qasim.

2). Abdullah, beliau diberi julukan at-Thahir dan at-Thayyib.

3). Ibrahim, beliau adalah anak nabi yang paling kecil.

4). Zainab

5). Ruqayyah

6). Ummu Kultsum

7). Fathimah

Semua anak-anak nabi lahir dari rahim Khadijah kecuali Ibrahim, beliau terlahir dari budak nabi Mariyah al-Qibtiyyah semoga Allah meridhai mereka semua.[7]

3.     Cucu-cucu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dari putri-putri beliau, rasulullah mempunyai beberapa cucu, yaitu:

1). Umamah (anak Zainab binti rasul dengan suaminya Abil Ash bin Rabi’)

2). Ali (anak Zainab binti Rasulullah dengan suaminya Abil Ash bin Rabi’), meninggal waktu kecil.

3). Abdullah (anak Ruqayyah binti rasulullah dengan suaminya Utsman bin Affan)

4). Hasan (anak Fathimah binti rasulullah dengan suaminya Ali bin Abi Thalib) dan keturunannya.

5). Husain (anak Fathimah binti rasulullah dengan suaminya Ali bin Abi Thalib) dan keturunannya.[8]

6). Muhsin (anak Fathimah binti rasulullah dengan suaminya Ali bin Abi Thalib), meninggal waktu kecil.

7). Ummu Kultsum (anak Fathimah binti rasulullah dengan suaminya Ali bin Abi Thalib

8). Zainab (anak Fathimah binti rasulullah dengan suaminya Ali bin Abi Thalib)[9] radhiyallahu anhum jami’an

4.       Keturunan bani Hasyim

Keturunan bani Hasyim sangatlah banyak, di antaranya adalah:

  1. Hamzah bin Abdul Muththalib bin Hasyim dan keturunannya, di antaranya tiga orang anaknya yaitu Ya’la, ‘Imarah, dan Umamah
  2. Abbas bin Abdul Muththalib bin Hasyim dan keturunannya, di antaranya Abdullah ibnu Abbas dan Fadhl bin Abbas
  3. Keturunan Harits bin Abdul Muththalib bin Hasyim, seperti Abu Sufyan bin al-Harits dan keturunannya.
  4. Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muththalib bin Hasyim, dan keturunannya meskipun selain dari rahim Fathimah seperti Muhammad bin al-Hanafiyah.
  5. Ja’far bin Abi Thalib bin Abdul Muththalib bin Hasyim, dan keturunannya, seperti: Muhammad, Aun dan Abdullah bin Ja’far.
  6. Aqil bin Abi Thalib bin Abdul Muththalib bin Hasyim, dan keturunannya.
  7. Keluarga Abu Lahab bin Abdul Muththalib bin Hasyim yang masuk Islam, seperti anaknya abu Lahab yang bernama: Utbah dan Mut’ib beserta keturunannya.
  8. Shafiyyah bin Abdul Muththalib bin Hasyim. Radhiyallahu ‘anhum jami’an
  9. Dan lain-lain.[10]

Adapun dalil yang menunjukkan bahwa anak-anak dari paman-paman nabi (keturunan Bani Hasyim) termasuk Ahli Bait, adalah riwayat yang mengatakan bahwa rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata di hadapan cucu al-Harits bin Abdul Muththalib bin Hasyim dan juga Fadhl bin al-Abbas bin Abdul Muththalib bin Hasyim:

إِنَّ اَلصَّدَقَةَ لَا تَنْبَغِي لِآلِ مُحَمَّدٍ، إِنَّمَا هِيَ أَوْسَاخُ اَلنَّاسِ

“Sesungguhnya sedekah tidak pantas untuk keluarga Muhammad, karena ia adalah kotoran harta manusia.” (HR. Muslim: 1072)

5.       Keturunan bani al-Muththalib.

Semua keturunan al-Muththalib yang masuk Islam adalah ahli bait, di antaranya adalah Ubaidah bin al-Harits bin al-Muththalib,[11] beliau gugur setelah perang Badr -semoga Allah meridhai beliau-.

Termasuk juga Imam asy-Syafi’i rahimahullah, karena beliau adalah keturunan bani Muththalib, nama lengkap beliau adalah: Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin As-Saib bin Ubaid bin Abdu Yazid bin Hasyim bin al-Muththalib bin Abdu Manaf bin Qushay. [12]

Ahlu bait menurut syiah:

Adapun ahli bait menurut syiah, maka mereka berseberangan dengan pendapat Ahlus Sunnah di atas, mereka membatasi bahwa yang dimaksud dengan ahli bait kenabian hanya empat orang, yaitu: Ali, Fathimah, Hasan dan Husain, adapun selain dari empat orang tersebut, maka mereka mengeluarkannya dari ahli bait nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan mereka juga mempunyai pendapat ekstrim yaitu mengeluarkan anak-anak Ali sendiri yang bukan dari Fathimah, seperti Muhammad ibnul Hanafiyah. Bahkan yang lebih ekstrim lagi, mereka mengeluarkan tiga anak perempuan nabi selain Fathimah, yaitu Zainab, Ummu Kultsum dan Ruqayyah radhiyallahu ‘anhunna. Begitu juga suami-suami mereka dan anak-anak mereka. Semua tidak mereka anggap sebagai ahlu bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.[13]

B.       SIKAP AHLUS SUNNAH TERHADAP AHLU BAIT

Ahlus Sunnah wal Jamaah sangat mencintai ahlu bait dan memuliakan mereka, karena mencintai mereka adalah bagian dari kecintaan terhadap rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

“Sesungguhnya Ahlus Sunnah mencintai keluarga nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, menjaga wasiat beliau kepada mereka, sebagaimana yang beliau katakan pada hari Ghadir Khum: ‘Aku ingatkan kalian (agar memuliakan) ahli baitku’, dan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berkata kepada pamannya al-Abbas radhiyallahu ‘anhu ketika ia mengeluhkan sikap Quraisy yang meremehkan Bani Hasyim, beliau berkata: ‘Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, mereka tidak beriman sampai mereka mencintai kalian (ahli baitku)….’ Ahlus Sunnah juga loyal (setia) kepada istri-istri rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka adalah ibu orang-orang yang beriman dan mereka adalah istri-istri nabi di dunia dan akhirat.”[14]

 Meskipun Ahlus Sunnah mencintai dan memuliakan ahli bait, akan tetapi Ahlus Sunnah tidak melampaui batas dan ghuluw (ekstrim) dalam mencintai mereka, Ahlus Sunnah mencintai ahlu bait selama mereka mengikuti sunnah rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berada di jalan yang lurus, Ahlus Sunnah berlepas diri dari mereka jika menyimpang dari agama, meskipun mereka adalah ahli bait -apalagi yang hanya mengaku-ngaku menjadi ahli bait-, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا عَبَّاسُ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ لاَ أُغْنِيْ عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا يَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ رَسُولِ اللَّهِ لاَ أُغْنِيْ عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِيْنِيْ مَا شِئْتِ لاَ أُغْنِيْ عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا

“Wahai Abbas bin Abdil Muththalib (paman nabi), sedikitpun aku tidak bisa memberikan manfaat kepadamu di hadapan Allah, wahai Shafiyyah bibi rasulullah sedikitpun aku tidak bisa memberikan manfaat kepadamu di hadapan Allah, wahai Fathimah binti Muhammad mintalah hartaku sesuka hatimu, tapi sedikitpun aku tidak bisa memberikan manfaat kepadamu di hadapan Allah.” (HR. Bukhari: 2753)

C.       Sikap Syiah Terhadap Ahli Bait

Adapun sikap Syiah kepada ahlu bait dan imam-imam yang mereka anggap keturunan Ali radhiyallahu ‘anhu, mereka percaya bahwa semuanya terhindar dari dosa (ma’sum), bahkan mereka percaya bahwa imam-imam mereka lebih mulia dari pada para nabi dan rasul ‘alaihimussalam, dan lebih mulia dari para malaikat terdekat ‘alaihimussalam.

Hal ini sebagaimana yang diungkapkan al-Khumaini dalam kitabnya Wilayatul Faqih: “Di antara pokok-pokok madzhab kami adalah bahwasanya tidak ada seorang pun yang mendapatkan kedudukan manawiyah ruhiyah yang dimiliki oleh para imam-imam kami, meskipun malaikat yang dekat dan nabi yang diutus.”[15]

D.      KEUTAMAAN AHLI BAIT

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِير

“Dan hendaklah kalian (para isteri nabi) tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, hai ahlul bait dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.” (QS. al-Ahzab [33]: 33)

 

Ayat di atas menunjukkan betapa sayangnya Allah subhanahu wa ta’ala kepada para istri nabi (keluarga nabi), sehingga Allah ‘azza wa jalla ingin menjadikan mereka terhindar dari fitnah dan dosa.

Isteri seseorang adalah merupakan bagian dari keluarganya. Sebagaimana ketika Allah ta’ala menceritakan tentang keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

قَالُوا أَتَعْجَبِيْنَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ رَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

“Para malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlul bait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” (QS. Hud [11]: 73)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berwasiat di hadapan para sahabat sekembalinya beliau dari haji wada’, di sebuah tempat antara Makkah dan Madinah yang bernama Ghadir Khum, beliau bersabda:

أَمَّا بَعْدُ أَلَا أَيُّهَا النَّاسُ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ يُوْشِكُ أَنْ يَأْتِيَ رَسُولُ رَبِّيْ فَأُجِيْبَ وَأَنَا تَارِكٌ فِيْكُمْ ثَقَلَيْنِ أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللَّهِ فِيْهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوْا بِكِتَابِ اللَّهِ وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ. فَحَثَّ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ وَرَغَّبَ فِيْهِ ثُمَّ قَالَ وَأَهْلُ بَيْتِيْ أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِيْ أَهْلِ بَيْتِيْ أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِيْ أَهْلِ بَيْتِيْ أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِيْ أَهْلِ بَيْتِيْ.

Amma ba’du; Ketahuilah wahai para manusia! Sesungguhnya aku adalah seorang manusia, bisa jadi sudah dekat kedatangan utusan Rabbku, lalu aku menjawabnya. Dan aku tinggalkan di antara kalian dua perkara; pertama; Kitabullah (al-Qur’an). Di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, maka ambillah dan berpegang teguhlah dengannya.” (Perawi berkata): maka beliau memotivasi dan menganjurkan untuk berpegang teguh dengannya. Kemudian Nabi Sallallahu ‘alaihi Wa Sallam berkata: “Dan yang kedua keluargaku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang (hak-hak) keluargaku. Beliau mengulangnya tiga kali.” (HR. Muslim no. 6378)

Dalam hadits di atas nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan kepada para sahabat bahwa ajal beliau sudah sangat dekat sehingga beliau menyampaikan wasiat ini, hal ini menunjukkan juga bahwa dua hal yang diwasiatkan oleh rasulullah di atas sangatlah penting dan harus ditunaikan oleh umatnya. Yaitu berpegang teguh dengan al-Qur’an kitabullah dan menunaikan hak-hak ahli bait (keluarga nabi).

E.       PARA SALAF DAN AHLI BAIT

Para salaf dari kalangan para sahabat dan generasi sesudahnya sangat mencintai dan memuliakan ahli bait.

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah mencantumkan riwayat dalam kitabnya al-Bidayah wan Nihayah: “Dahulu ketika Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu, bertemu dengan al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma (cucu nabi) dan Abdullah bin Zubair radhiyallahu ‘anhuma, maka beliau berkata kepada al-Hasan: ‘Marhaban wa ahlan untuk cucu rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam’, kemudian beliau memberikan kepada al-Hasan tiga ratus ribu (dinar), kemudian beliau berkata kepada Abdullah bin Zubair: ‘Marhaban wa ahlan untuk anak dari bibinya rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam’, kemudian beliau memberikan kepadanya seratus ribu (dinar).”[16]

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah Berkata kepada Abdullah bin Hasan bin Husain radhiyallahu ‘anhum “Jika engkau ada kebutuhan, maka kirimkanlah surat kepadaku! Sesungguhnya aku malu kepada Allah bila Ia melihat engkau (berdiri) di depan pintu rumahku. Tidak ada di muka bumi ini keluarga yang lebih aku cintai daripada kalian. Sungguh kalian lebih aku cintai dari pada keluargaku sendiri.”[17]

Sengaja kami cantumkan di sini perkataan Muawiyah radhiyallahu ‘anhu dan Umar bin Abdul Aziz rahimahullah untuk membantah prasangka buruk yang senantiasa dituduhkan oleh sekelompok orang terhadap keluarga Bani Umayyah, bahwa mereka memusuhi atau membenci ahlul bait.

F.       ULAMA’ AHLUS SUNNAH DAN AHLI BAIT

Para ulama Ahlus Sunnah sangat mencintai ahli bait dan memuliakan mereka, berikut kami cantumkan beberapa nukilan dari mereka:

Al-Imam Abu Bakar Muhammad bin Husain al-Ajurri rahimahullah berkata:

وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ مَحَبَّةُ أَهْلِ بَيْتِ رَسُوْلِ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، بَنُوْ هَاشِمْ: عَلِيُّ بْنُ أَبِيْ طَالِبٍ وَوَلَدُهُ وَذُرِّيَّتُهُ، وَفَاطِمَةُ وَوَلَدُهَا وَذُرِّيَّتُهَا، وَالْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ وَأَوْلَادُهُمَا وَذُرِّيَّتُهُمَا، وَجَعْفَرُ الطَّيَّارُ وَوَلَدُهُ وَذُرِّيَّتُهُ، وَحَمْزَةُ وَوَلَدُهُ، وَالْعَبَّاسُ وَوَلَدُهُ وَذُرِّيَّتُهُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ، هَؤُلَاءِ أَهْلُ بَيْتِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، وَاجِبٌ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ مَحَبَّتُهُمْ وَإِكْرَامُهُمْ

“Diwajibkan atas setiap orang mukmin laki-laki dan orang mukmin perempuan mencintai keluarga (ahlul bait) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu: Bani Hasyim; Ali bin Abi Thalib beserta anak dan cucu-cucunya, Fathimah beserta anak dan cucu-cucunya, Hasan dan Husain beserta anak dan cucu-cucunya, Ja’far ath-Thayyaar beserta anak dan cucu-cucunya, Hamzah beserta anak dan cucu-cucunya, Abbas beserta anak dan cucu-cucunya. Mereka itulah keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diwajibkan atas orang-orang muslim untuk mencintai dan memuliakan mereka.”[18]

Al-Imam as-Sa’di rahimahullah berkata: “Mencintai Ahli bait hukumnya wajib karena beberapa sebab, yang pertama: karena keislaman, keutamaan dan dahulunya mereka masuk Islam, kedua: karena mereka adalah kerabat nabi dan senasab dengan beliau, ketiga: karena nabi memerintahkan kita mencintai dan memuliakan mereka.[19]

Begitulah para ulama Ahlus Sunnah, mereka sangat mencintai dan memuliakan ahli bait nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

G.      Penutup

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kita di antara orang-orang yang mencintai keluarga nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum, dan semoga Allah mengumpulkan kita bersama mereka di surga-Nya kelak. Amin ya Rabbal alamin.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ… وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

.

REFERENSI:

  1. 1.   Fadhl Ahli Bait wa Uluwwi Makanatihi, Abdul Muhsin bin Hamd al-Badr (Riyadh: Dar Ibn Atsir, 1422 H)
  2. 2.   Ar-Rahiq al-Makhtum, Shafiyurrahman al-Mubarakfuri (al-Manshurah: Dar el-Wafa’, 1425 H)
  3. 3.   Zadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibad, Ibnu Qoyyim al-Jauziyah (Beirut: Muassasah ar-Risalah, 1415 H)
  4. 4.   As-Syiah wa Ahlu Bait, Dr. Ihsan Ilahi Dzahir (Lahore: Idarah Turjuman as-Sunnah), hal: 25-26
  5. 5.   Al-Aqidah al-Wasitiyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Dar Ibnu al-Jauzi)
  6. 6.   At-Tanbihat al-Lathifah fiima Ihtawat ‘Alaihi al-Wasitiyah, karya Imam Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di (Riyadh: Dar at-Tayyibah: 1414 H), Maktabah Syamilah.
  7. 7.   Al-Isti’ab fi Ma’rifati al-Ashhab, Ibnu Abdil Barr
  8. 8.   Dan kitab-kitab lainnya.

 


[1] Fadhl Ahli Bait wa Uluwwi Makanatihi, Abdul Muhsin bin Hamd al-Badr hafidzahullah (Riyadh: Dar Ibn Atsir, 1422) hal: 7. Bandingkan juga dengan yang dikatakan Syaikh Shalih Fauzan hafidzahullah dalam Aqidah at-Tauhid, Dar al-Qasim hal: 162.

[2] Muththalib di sini bukanlah Abdul Muththalib, akan tetapi Muththalib di sini adalah saudaranya Hasyim, sedang Hasyim punya anak namanya Abdul Muththalib, sehingga Muththalib adalah pamannya Abdul Muththalib…sebenarnya Abdi Manaf mempunyai anak empat: Hasyim, Muththalib, Novel dan Abd Syams, akan tetapi yang masuk ahli bait di antara mereka hanyalah anak keturunan Hasyim dan anak keturunan Muththalib saja.

[3] Fadhl Ahli Bait wa Uluwwi Makanatihi, Abdul Muhsin bin Hamd al-Badr, hal: 7.

[4] Lihat Shahih Muslim, 3/177 cet. Dar al-Jil, Beirut.

[5] Ar-Rahiq al-Makhtum, Shafiyurrahman Mubarakfuri (al-Manshurah: Dar el-Wafa’, 1425 H), hal: 406-407.

[6] Tafsir al-Qur’an al-Azhim, al-Imam Ibnu Katsir (Dar al-Thayyibah): 6/415.

[7] Zadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibad, Ibnu Qoyyim al-Jauziyah (Beirut: Muassasah ar-Risalah, 1415 H), 1/103

[8] Maksudnya Hasan dan Husain beserta anak keturunannya adalah ahli bait, karena bapak mereka berdua adalah Ali bin Abi Thalib seorang keturunan dari bani Hasyim, berbeda dengan menantu-menantu nabi yang lain yang bukan dari bani Hasyim.

[9] Semua cucu-cucu nabi dari anak-anak perempuan beliau, karena semua anak laki-laki nabi meninggal di usia kecil.

[10] Bani Hasyim di sini sangatlah banyak, yang mana di dalamnya mencakup paman-paman dan bibi-bibi nabi beserta anak keturunan mereka, akan tetapi yang dikatakan ahli bait adalah yang masuk Islam di antara mereka. Kami mencantumkan nama-nama di atas dari berbagai kitab-kitab siroh, dan untuk mengetahui nama-nama bani Abdul Muththalib bin Hayim, di antaranya silahkan lihat kitab: Zadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibad, Ibnu Qoyyim al-Jauziyah (Beirut: Muassasah ar-Risalah, 1415 H), 1/104-105.

[11] Lihat: al-Isti’ab fi Ma’rifati al-Ashhab, Ibn Abdil Barr: 2/99.

[12] Siyar A’lamin Nubala’ karya al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah, 10/5-6, dan Tahdzibul Asma’ wal Lughat karya al-Imam an-Nawawi rahimahullah, 1/44.

[13] Pembahasan ini telah kami bahas panjang lebar pada majalah kita edisi 66, vol. 8 hal. 12 tahun 1432 H/2010.

[14] Al-Aqidah al-Wasitiyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Dar Ibnu al-Jauzi, hal: 188.

[15] Wilayat al-Faqih, al-Khumaini cet. Teheran, hal: 57. Lihat juga as-Syiah wa Ahl Bait Dr. Ihsan Ilahi Dzahir (Lahore: Idarah Turjuman as-Sunnah), hal: 25-26.

[16] Al-Bidayah wan Nihayah, al-Imam abul Fida’ Ibnu Katsir : 8/146.

[17] (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dalam “Thabaqaat Al Kubra”: 5/333-334).

[18] Lihat: asy-Syari’ah, karya al-Imam al-Ajurri : 3/3.

[19] Lihat: At-Tanbihat al-Lathifah fiima Ihtawat ‘Alaihi al-Wasithiyah, karya Imam Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di (Riyadh: Dar at-Tayyibah: 1414 H), Maktabah Syamilah. hal. 102.

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah adz Dzakhiirah al Isalmiyyah Edisi 86 Vol.10 No.08 Th. 1435 H/ 2014 M)

Syiah dan Ahlul Bait

SYI’AH DAN AHLU  BAIT

Oleh: Abu Abdillah Fadlan Fahamsyah, Lc. M.H.I
(Dosen STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya)

Syi’ah adalah firqoh sesat yang jauh menyimpang dari ajaran Islam, mereka adalah sejelek-jelek manusia yang mengklaim bahwa mereka menyintai sebaik-baik manusia (ahlu bait). Tetapi itu hanyalah sebatas pengakuan atau omong kosong yang selalu mereka nyanyikan, dibalik itu mereka menyembunyikan niat busuk, rencana jahat, makar, pengkhianatan terhadap Islam, dan penghinaan terhadap sahabat Nabi, kemudian mereka memolesnya dan menutupinya dengan “kecintaan terhadap ahlu bait” atau dengan kata lain “Syi’ah membajak nama ahlu bait.”

SIAPAKAH  AHLU BAIT?  

Ahlu bait menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah keluarga Nabi Muhammad  yang diharamkan atas mereka untuk memakan shodaqoh, di antaranya adalah keluarga Ali, Ja’far, Aqil, al-Abbas, anak-anak al-Harits bin Abdil Muththolib dan seluruh istri-istri Rosululloh  dan juga anak-anak perempuan belilau.[1]

Adapun dalil yang menunjukkan bahwa istri-istri Rosululloh  termasuk ahlu bait adalah firman Alloh Ta’ala:

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ

Sesungguhnya Alloh bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS. al-Ahzab: 33)

Imam Ibnu Katsir v berkata, “Dan tidak ada keraguan bagi orang yang mentadabburi al-Qur’an bahwa istri-istri Rosululloh  termasuk dalam firman Alloh di atas. Hal itu didukung oleh konteks kalimat, sehingga Alloh mengatakan sesudahnya:

Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Alloh dan Hikmah (sunnah Nabimu). (QS. al-Ahzab: 33)

Artinya, dan ingatlah (wahai istri-istri nabi) apa saja yang dibacakan dirumah kalian berupa ayat-ayat Alloh dan hikmah[2].

Adapun dalil yang menunjukkan bahwa anak-anak dari paman-paman Rosul termasuk ahlu bait, adalah riwayat yang mengatakan bahwa Rosululloh  pernah berkata dihadapan cucu al-Harits bin Abdul Muththolib dan juga al-Fadhl bin al-Abbas:

إِنَّ الصَّدَقَةَ لاَ تَنْبَغِي لآلِ مُحَمَّدٍ، إِنَّمَا هِيَ أَوْسَاخُ النَّاسِ

Sesungguhnya shodaqoh tidak pantas untuk keluarga Muhammad, karena ia adalah kotoran manusia.[3]

Sebagian ulama juga ada yang memasukkan Bani Muththolib dalam ahlu bait, karena Bani Hasyim dan Bani Muththolib syai’un wahid (keluarga yang satu).[4]

Adapun Syi’ah berpendapat kebalikan dari hal di atas. Mereka membatasi bahwa yang dimaksud dengan ahlu bait kenabian hanya empat orang, yaitu: Ali, Fathimah, Hasan dan Husain. Selain dari empat orang tersebut mereka keluarkan dari ahlu bait Nabi. Bahkan mereka juga mempunyai pendapat yang ekstrim yaitu mengeluarkan anak-anak Ali sendiri yang bukan dari Fathimah, seperti Muhammad Ibnul Hanafiyah. Bahkan yang lebih ekstrim lagi, mereka mengeluarkan tiga anak perempuan Rosululloh  selain Fathimah, yaitu Zainab, Ummu Kultsum dan Ruqoyyah radliyAllohu ‘anhunna. Begitu juga suami-suami mereka dan anak-anak mereka. Semua tidak mereka anggap sebagai ahlu bait Nabi.[5]

SIKAP AHLUS SUNNAH DAN SYI’AH TERHADAP AHL BAIT

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah  berkata, “Sesungguhnya Ahlus Sunnah mencintai keluarga Nabi, loyal kepada mereka, menjaga wasiat beliau kepada mereka, sebagaimana yang beliau katakan pada hari ghodir ghum:  ‘Aku ingatkan kalian (agar memuliakan)  ahlu baitku.’ Dan Rosululloh  juga berkata kepada al-Abbas ketika dia mengeluhkan sikap Quraisy yang meremehkan Bani Hasyim, beliau berkata, ‘Demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya, sesungguhnya mereka tidak beriman sampai mereka menyintai kalian (ahlu bait)….’ Ahlus Sunnah juga loyal kepada istri-istri Rosululloh , mereka adalah ibu-ibu orang-orang yang beriman, dan mereka adalah istri-istri Rosululloh di dunia dan di akhirat.[6]

Ahlus Sunnah menyintai ahlu bait dan memuliakan mereka, karena mencintai mereka adalah bagian dari kecintaan kepada Rosul, meskipun demikian Ahlus Sunnah tidak melampaui batas dan ghuluw dalam mencintai mereka. Ahlus Sunnah mencintai ahlu bait selama mereka mengikuti sunnah Rosululloh  dan berada di jalan yang lurus, dan Ahlus Sunnah berlepas diri dari mereka jika mereka menyimpang dari agama, meskipun mereka adalah ahlu bait. Karena Rosululloh  bersabda:

وَيَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِيْنِيْ مَا شِئْتِ مِنْ مَالِي لاَ أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا

Wahai Fathimah putri Muhammad mintalah hartaku sesuka hatimu, tapi sedikitpun aku tidak bisa memberikan manfaat kepadamu di hadapan Alloh.[7]

Adapun sikap Syi’ah kepada ahlu bait dan imam-imam yang mereka anggap keturuna Ali , mereka percaya semuanya terhindar dari dosa (ma’shum), bahkan mereka percaya bahwa imam-imam mereka lebih mulia dari pada para Nabi dan Rosul, dan lebih mulia dari pada para malaikat yang terdekat.

Hal itu sebagaimana yang diungkapkan al-Khumainy dalam kitabnya Wilayatul Faqih: Di antara pokok-pokok madzhab kami adalah bahwasanya tidak ada seorangpun yang mendapatkan kedudukan ma’nawiyah ruhiyah yang dimiliki oleh para imam-imam kami, meskipun malaikat yang dekat dan Rosul yang diutus.[8]

              

PERTENTANGAN ANTARA SYI’AH DAN AHLU BAIT

Syi’ah yang mengklaim mencintai ahlu bait ternyata mereka banyak menyelisihi ahlu bait, maka kecintaan mereka hanyalah sebatas pengakuan dan bukan kenyataan. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan penyair:


لَوْ كَانَ حُبُّكَ صَادِقاً لأَطَعْتَهُ

إِنَّ الْمُحِبَّ لِمَنْ يُحِبُّ مُطِيْعُ

Jika benar cintamu itu sejati, pasti engkau akan menaatinya

Sesungguhnya pecinta menaati sang kekasih

Di antara pertentangan antara Syi’ah dan ahlu bait adalah bahwasanya ahlu bait mencintai para sahabat Nabi. Berbeda halnya dengan Syi’ah Rofidhoh mereka melecehkan, menghina, bahkan mengkafirkan mayoritas sahabat Nabi.

Di antara bukti bahwa ahlu bait mencintai sahabat Nabi adalah perkataan Ali bin Abi Tholib , -imam yang mereka anggap ma’shum- beliau berkata ketika berada di atas mimbar kufah, “Sebaik-baik umat ini sesudah Nabinya adalah Abu Bakar dan Umar.”[9]

Beliau juga berkata, “Aku sering mendengar Rosululloh  bersabda, ‘Aku pergi bersama Abu Bakar dan Umar, aku masuk bersama Abu Bakar dan Umar, aku keluar bersama Abu Bakar dan Umar’.[10]

Hal ini menunjukkan bahwa Ali  memuji Abu Bakar dan Umar karena kedekatannya dengan Rosululloh .

Diriwayatkn pula bahwa beliau berkata, “Sungguh aku lihat semua sahabat Muhammad , tidak seorangpun dari kalian yang bisa menyamai mereka, mereka berambut kusut dan berdebu (karena berjuang di medan laga), berjaga di tengah malam untuk bersujud dan berdiri sholat malam, di kening dan kedua pipi mereka selalu kelihatan kegesitan bekerja, kening-kening mereka menebal karena lama sujud, apabila mereka mengingat Alloh maka mengalirlah air mata mereka sampai membasahi baju mereka.[11]        

Diriwayatkan dari Majlisi[12] dari ath-Thusi, tentang Ali bin Abi Tholib, bahwa beliau mengatakan kepada sahabat-sahabat beliau: “Saya wasiatkan kamu tentang sahabat-sahabat Rosululloh, jangan kamu mencaci mereka, karena mereka adalah sahabat Nabimu, mereka tidak pernah mengadakan dalam agama sedikit pun, tidak pernah membenarkan ahlu bid’ah. Ya demikianlah Rosululloh mewasiatkan kepada saya tentang mereka.[13]

Demikianlah sikap ahlu bait terhadap sahabat-sahabat Rosululloh, mereka mencintai dan menghormati mereka, dan masih banyak lagi nukilan-nukilan dari ahlu bait yang menunjukkan kecintaan mereka kepada para sahabat yang tidak mungkin kita cantumkan semua di makalah ini.

Adapun Syi’ah, mereka mencela, menghina bahkan mengkafirkan para sahabat, dan ini adalah salah satu  bentuk pembangkangan dan pengkhianatan terhadap ahlu bait  yang mana mereka menghormati para sahabat.

Hal ini sebagaimana yang dikatakan ‘Bukhori’ mereka yaitu Muhammad Ya’qub al-Kulany, dia berkata, “Semua manusia sepeninggal Rosululloh  telah murtad keculi 3 orang, yaitu al-Miqdad, Abu Dzar aL-Ghifary, dan Salman al-Farisy.”[14]

Dan di antara pertentangan Syi’ah terhadap ahlu bait adalah mereka mencela dan melaknat 3 Khulafaur Rosyidin Abu Bakar, Umar, dan Utsman g, kemudian  menyifati mereka dengan berhala, murtad dan merampas kekholifaan Ali. Hal itu sebagaimana yang diungkapkan dedengkot mereka Muhammad Kazhim, ia membawa riwayat palsu atas nama Ali Zainal Abidin bahwa beliau berkata, “Siapa yang melaknat al-jibt/berhala (Abu Bakar) dan ath-thoghut (Umar) sekali laknat, maka dia akan mendapatkan 70.000 atau beribu-ribu kebaikan ….”[15]  Semoga Alloh melaknat orang yang melaknat para sahabat Nabi .

 

KEDUSTAAN SYI’AH ATAS NAMA AHLU BAIT

Di antara kedustaan Syi’ah yang mereka sandarkan ke ahlu bait adalah

1. Mut’ah

    Mereka menisbatkan perbuatan keji dan dosa ini kepada Rosululloh . Katanya beliau bersabda, “Barangsiapa meninggal dunia tanpa nikah mut’ah, maka kelak dia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan terpotong hidungnya.”[16]

2. Memamerkan kemaluan

Bersamaan dengan mut’ah, kaum Syi’ah membolehkan memamerkan kemaluan kepada orang lain. Yang demikian itu sebagaimana yang mereka riwayatkan dari Abul Hasan ath-Thori’, bahwa ia berkata, “Aku bertanya kepada Abu Abdillah   tentang seorang perempuan yang memperlihatkan kemaluannya, maka dia menjawab, ‘Tidak mengapa’.”[17]

3. Nikah tanpa wali

Kaum Syi’ah meriwayatkan secara dusta bahwa Ja’far berkata, “Tidak mengapa seorang perawan menikah tanpa izin kedua orang tuanya jika ia ridho.”[18]

4. Celaan ahlu bait terhadap para sahabat.

Kaum Syi’ah banyak meriwayatkan hadits-hadits palsu yang mereka nisbatkan kepada ahlu bait tentang celaan mereka terhadap para sahabat, di antaranya adalah yang mereka riwayatkan dari Ali Zainal Abidin bahwa baliau berkata, “Dan kami Bani Hasyim memerintahkan orang-orang tua dan anak-anak kecil kami untuk mencaci maki Abu Bakar dan Umar serta berlepas diri dari keduanya.”[19]

Dan masih banyak lagi kedustaan-kedustaan Syi’ah yang disandarkan kepada ahlu bait.[20]

 

PENGHINAAN SYI’AH TERHADAP AHLU BAIT

Syi’ah yang telah mendakwahkan diri, bahwa mereka mencintai dan mendukung ahlu bait ternyata mereka mencela dan merendahkan ahlu bait. Berikut ini kami nukilkan ucapan-ucapan mereka dari kitab-kitab mereka sendiri.[21]

  1. 1.       Syi’ah merendahkan putri-putri Rosululloh .

Ahli sejarah Syi’ah Hasan al-Amin –semoga Alloh memburukkannya– berkata, “Para ahli sejarah menyebutkan bahwa Rosululloh  mempunyai empat putri, tetapi setelah kami teliti kembali berdasarkan teks-teks sejarah, kami tidak menjumpai dalil yang menunjukkan bahwa mereka adalah putri-putri Rosululloh  kecuali Fathimah az-Zahro, adapun selain beliau adalah anak-anak Khadijah dari suaminya yang pertama.[22]

  1. 2.       Syi’ah merendahkan Ali .

Mereka menyifati Ali sebagai seorang penakut dan lemah yang tidak bisa mempertahankan miliknya, mereka mengatakan bahwa Ali sebenarnya tidak rela menikahkan Ummu Kultsum –anaknya– dengan Umar, tetapi karena dia takut kepada Umar maka dia akhirnya mewakilkan al-Abbas pamannya untuk menikahkan putrinya tersebut dengan Umar.[23]

  1. 3.       Syi’ah menghina Fathimah

Kaum Syi’ah merendahkan Fathimah dengan menyandarkan kepada beliau perbuatan-perbuatan yang tidak layak dilakukan oleh seorang muslimah manapun. Di antaranya adalah mereka mengatakan bahwa Fathimah pernah mendatangi Abu Bakar dan Umar untuk menyelesaikan kasus fada’, kemudian terjadi pertengkaran di antara mereka, sehingga Fathimah mengoceh, dan (mengumpat) serta berteriak-teriak di tengah-tengah manusia.[24]

Demikianlah mereka merendahkan Fathimah, dan masih banyak lagi cerita-cerita bohong lainnya yang mereka sandarkan kepada beliau.

  1. 4.       Syi’ah merendahkan Hasan .

Ketika Ali  terbunuh, kaum Syi’ah mengangkat dan mendukung Hasan menjadi kholifah, tetapi belum lama menjadi kholifah kaum Syi’ah sudah mengkhianati dan menghinakan beliau. Hal ini diakui oleh ahli sejarah mereka ath-Thobrisy, dia mengatakan dalam kitabnya al-Ihtijaj, Hasan berkata, “Demi Alloh aku melihat Mu’awiyah lebih baik dari pada Syi’ah yang mengaku mendukungku, mereka menginginkan kematianku dan ingin mengambil hartaku, sesungguhnya berdamai dengan Mu’awiyah untuk menjaga darahku dan keluargaku itu lebih baik dari pada kaum Syi’ah membunuhku dan menyia-nyiakan ahlu baitku.”[25]

5. Syi’ah merendahkan Husain .

Para ahli hadits Syi’ah mengatakan: Sesungguhnya Fathimah membenci untuk mengandung Husain, dan karena kebencian ibunya ini, Husain tidak mau menyusu kepada Fathimah.[26]

 

SIKAP AHLU BAIT TERHADAP SYI’AH ROFIDHOH

Imam-imam ahlu bait seperti Ahlus Sunnah lainnya dalam menyikapi Syi’ah, mereka mengingkari dengan keras akan kesesatan akidah mereka, dan kedustaan-kedustaan yang mereka nisbatkan kepada diri mereka. Berikut akan kami nukilkan perkataan-perkataan para imam ahlu bait dalam mencela Syi’ah Rofidhoh.[27]

1. Ali bin Abi Tholib .

Beliau berkata:

لاَ يُفَضِّلُنِي أَحَدٌ عَلَى أَبِي بَكْرٍ وَعُمَر إِلاَّ جَلَدْتُهُ حَدَّ الْمُفْتَرِي

“Tidaklah seseorang melebihkan diriku atas syaikhoini (Abu Bakar dan Umar) melainkan aku cambuk dia sebagai hukuman bagi pendusta.”[28]

2. Al-Hasan bin Ali  .

Diriwayatkan dari Amr bin A’shom, dia berkata kepada al-Hasan, “Sesungguhnya kaum Syi’ah menyangka bahwa Ali diutus sebelum hari kiamat, kemudian beliau menjawab, ‘Mereka berdusta, demi Alloh mereka bukanlah pengikut kami’.”[29]

3. Al-Husain  bin Ali  .

Beliau berkata kepada kaum Syi’ah yang ada di Irak setelah mereka menyuruh beliau untuk pindah ke Irak untuk dibaiat dan dijanjikan pertolongan, tetapi mereka mengingkari janji dan bahkan menyerahkan beliau ke tangan musuhnya, beliau berkata, “Ya Alloh sesungguhnjya ahlu Irak menipuku dan mengkhianatiku, dan sebelumnya mereka juga berbuat kejahatan kepada saudaraku (Hasan). Ya Alloh cerai beraikanlah mereka.”[30]

4. Ali bin al-Husain bin Ali .

Diriwayatkan secara shohih bahwa beliau berkata, “Wahai penduduk Irak (kaum Syi’ah) cintailah kami secara Islam dan janganlah kalian mencintai kami seperti kecintaan terhadap berhala, kalau kalian senantiasa mencintai kami dengan cara seperi ini, maka itu menjadi celaan bagi kami.”[31]

5. Muhammad bin Ali al-Baqir .

Beliau berkata, “Semua keturunan Fathimah telah sepakat bahwa mereka tidak berkata tentang Abu Bakar dan Umar kecuali dengan sebaik-baik perkataan.”

Diriwayatkan pula bahwa beliau berkata, “Sesungguhnya kaum Syi’ah di Irak mengira bahwa mereka mencintai kami ahlu bait, kemudian mereka mencela dan menghina Abu Bakar dan Umar , dan mereka mengira bahwa aku menyuruh mereka untuk melakukan itu, maka kabarkan kepada mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka, dan Alloh pun berlepas diri dari mereka. Demi Alloh jika aku mempunyai kekuasaan, aku akan mendekatkan diriku kepada Alloh dengan menumpahkan darah-darah mereka, sesungguhnya aku tidak akan mendapatkan syafaat Muhammad  jika aku tidak mendoakan kebaikan untuk mereka berdua (Abu Bakar dan Umar ).”[32]

6. Zaid bin Ali .

Beliau berkata, “Abu Bakar adalah imam bagi orang-orang yang bersyukur, berlepas diri dari Abu Bakar dan Umar berarti berlepas diri dari Ali radhiyAllohu ‘anhum jami’an.”[33]

7. Ja’far bin Muhammad .

Beliau ditanya tentang Abu Bakar dan Umar, maka beliau berkata, “Dukunglah (cintailah) keduanya dan berlepas dirilah dari musuh-musuhnya, mereka berdua adalah imamul huda. Apakah ada orang yang mencela kakeknya? Sesungguhnya Abu Bakar adalah kakekku, aku tidak akan mendapatkan syafaat Muhammad  jika aku tidak loyal kepada keduanya dan berlepas diri dari musuh-musuhnya.”[34]

Dalam riwayat yang lain beliau mengatakan, “Kalian menanyakan kepadaku tentang dua orang yang telah merasakan manisnya buah surga.”[35]

Riwayat-riwayat di atas yang kami nukilkan dari para imam ahlu bait merupakan bantahan telak terhadap kaum Syi’ah yang telah mengkafirkan dan melecehkan Abu Bakar dan Umar . Semoga Alloh meridhoi para sahabat Nabi , dan membinasakan dengan segera kaum Syi’ah Rofidhoh di dunia dan akhirat. Amiin wAllohu a’lam.


[1] Aqidah at-Tawhid oleh asy-Syaikh DR. Soleh bin Fauzan, cet. Darul Qosim, hal. 162.

[2] Tafsir Ibnu Katsir, cet. Dar el-Taybah, Juz 6, hal, 415.

[3] HR. Muslim no. 1072

[4] Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah al-Imam asy-Syafi’i dan Imam Ahmad, lihat Fadhlu Ahlul Bait wa

‘Uluum ’Inda Ahlis Sunnah oleh asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad.

[5] Untuk memperjelas masalah ini silahkan anda lihat kitab asy-Syi’ah wa Ahlul Bait oleh DR. Ihsan Ilahi Zhohir yang diterbitkan oleh Idaroh Turjumanu el-Sunnah, Lahore-Pakistan. Beliau adalah salah seorang ulama dari Pakistan  yang  sangat gigih dalam menyingkap rahasia dan kebohongan Syi’ah, beliau membantahnya melalui kitab-kitab ulama Syi’ah sendiri, hingga perjuangannya ini mengakibatkan beliau dibunuh oleh kelompok Syi’ah. Semoga Alloh merahmati beliau dan membinasakan Syi’ah Rofidhoh

[6] Al-Aqidah al-Washithiyah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah hal. 188, cet. Dar Ibnu el-Jauzi.

[7]  HR. Bukhori no. 2753.

[8] Lihat Wilayatul Faqih oleh al-Khumainy, dalam bab Wilayat Takwin, hal. 57 cet, Teheran. Dan perkataan senada juga sering di ungkpkan pembesar dan ulama-ulama Syi’ah yang lain seperti Muhammad bin Hasan al-Masyghory, al-Kulany, al-Qumy dan lain-lainnya, lihat kitab asy-Syi’ah wa Ahlu Bait, hal. 25-26, oleh DR. Ihsan Ilahi Zhohir yang diterbitkan oleh Idaroh Turjumanu el-Sunnah, Lahore-Pakistan.

[9] Di riwayatkan Imam Ahmad dalam al-Musnad 1/106 dan di shohihkan al-Albani dalam Zhilalul Jannah. Dan diriwayatkan pula oleh al-Lalka’i 7/1366.

[10] Hal ini menujukkan kedekatan Rosululloh dengan Abu Bakar dan Umar. Hadits ini di riwayatkan al-Bukhori 3685. Dan Muslim 2389 dalam manaqib atau keutamaan Umar.

[11] Lihat Nahjul Balaghoh, hal. 143, cet. Dar el-Kutub Beirut 1387 H.

[12]Al-Majlisi adalah Mulla Muhammad Baqir al-Majlisi, pemimpin Syi’ah yang paling keras permusuhannya terhadap sunnah dan Ahlus Sunnah, binasa pada tahun 1110 H.

[13] Hayatul Qulub oleh al-Majlisi, juz 11, hal. 261, kami nukil dari kitab Syi’ah wa Ahlu Bait oleh DR. Ihsan Ilahi Zhohir yang diterbitkan oleh Idaroh Turjumanu el-Sunnah, Lahore-Pakistan, hal. 36.

[14]  Kitab ar-Raudhoh minal Kafy, juz 8, hal. 245, hal senada dikatakan pula oleh al-Majlisi dalam kitabnya Hayatul Qulub oleh al-Majlisi, juz 1, hal. 640, kami nukil dari kitab Syi’ah wa Ahlu Bait oleh DR. Ihsan Ilahi Zhohir yang diterbitkan oleh Idaroh Turjumanu el-Sunnah, Lahore-Pakistan, hal. 42-43.

[15] `Ajmaul Fadhoih Mula Kazhim: Dhiya’ush Sholihin, hal. 513, lihat asy-Syi’ah wa Ahlu Bait, hal. 140.

[16] Kitab Syi’ah: Tafsir Minhajush Shodiqin, oleh al-Kasyani, juz 2, hal. 48.

[17] Lihat kitab Syi’ah wa Ahlu Bait oleh DR. Ihsan Ilahi Zhohir, hal. 203, beliau menukil dari kitab al-Istibshor oleh at-Thufi, juz 3, hal. 141.

[18] Lihat Tahdzibul Ahkam, juz 7, hal. 254.

[19] Rijalul Kusyaiy, hal. 180, lihat Syi’ah wa Ahlu Bait, hal. 140.

[20] Silahkan lihat kitab Syi’ah wa Ahlu Bait oleh DR. Ihsan Ilahi Zhohir yang diterbitkan oleh Idaroh Turjumanu el-Sunnah, Lahore-Pakistan, hal. 194-222.

[21]Lihat kitab Syi’ah wa Ahlu Bait oleh DR. Ihsan Ilahi Zhohir, hal. 238-251.

[22]  Lihat Dairotul Ma’arif al-Islamiyah as-Syi’iyyah 1/27, cet. Beirut.

[23] Hadiqotu asy-Syi’ah oleh al-Maqdis, hal. 277.

[24] Lihat kitab Salim bin Qois, hal. 253. Lihat juga kitab ar-Roudhoh Minal Kafi, juz 8, hal. 238.

[25] Lihat Ihtijaj, hal. 148, oleh Thobrosi.

[26]lihat kitab asy-Syi’ah wa Ahlu Bait, hal. 251, oleh DR. Ihsan Ilahi Zhohir yang diterbitkan oleh Idaroh Turjumanu el-Sunnah, Lahore-Pakistan.

[27] Lihat kitab al-Intishor  Lishshohbi wal Aal, oleh DR. Ibrohim ar-Ruhailly, hal. 78-83.

[28]Di riwayatkan Abdullah bin Ahmad dalam as-Sunnah 2/562 dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah, hal. 561.

[29] Di riwayatkan Imam Ahmad dalam al-Musnad 1/175 dan dicantumkan adz-Dzahabi dalam as-Siyar 3/263.

[30] Dicantumkan adz-Dzahabi dalam as-Siyar 3/302.

[31] Di riwayatkan al-Lalkai dalam Syarh Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah 7/1398.

[32]Dicantumkan al-Baihaqi dalam kitab al-I’tiqod, hal. 361. Lihat kitab ar-Rod ‘Ala Rofidhoh oleh Abu Hamid al-Maqdisy, hal. 303.

[33] Diriwayatkan al-Lalkai dalam Syarh Ushul I’tiqod 7/1302. Adz-Dzahabi dalam as-Siyar 5/390. Muhmamad bin Abd Wahid dalam an-Nahyu ‘an Sabbu al-Ashhab, hal. 75.

[34]  Diriwayatkan Abdullah bin Ahmad dalam kitab as-Sunnah 2/558, al-Lalkai dalam Syarh Ushul 7/1301, adz-Dzahabi dalam as-Siyar 6/258.

[35] Adz-Dzahabi dalam as-Siyar 6/259.

(Artikel ini telah dimuat di Majalah adz Dzakhiirah al Islamiyyah edisi 66 Vol.8 No 12 Tahun 1432 H/2010 M)

Hak al-Qur’an al-Karim yang Harus Diperhatikan Umat Islam

Islam adalah agama yang indah, sempurna dan paripurna, menjelas-kan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh umatnya, serta memberikan segala yang punya hak akan haknya. Berikut ini adalah sebagaian dari perhatian Islam akan permasalahan hak, yang telah di sampaikan oleh Syaikh Abu Islam Sholeh Toha dalam bukunya Tabshirotul Anam Bil Huquq Fil Islam dan kami suguhkan intisarinya kapada pembaca sekalian dengan sedikit penambahan, mudah-mudahan  bermanfaat.

Al-Qur`an al-Karim adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam melalui Jibril ‘alaihissalam. Al-Qur`an adalah tali Allah yang kuat, cahaya yang jelas, serta jalan yang lurus, Barangsiapa yang berpegang teguh dengannya, maka akan selamat. Di dalamnya terdapat berita tentang apa-apa yang terjadi sebelum dan sesudah kita, pemberi keputusan kepada kita. Barangsiapa yang meninggalkannya karena kesombongan maka Allah akan membinasakannya dan barangsiapa yang mencari petunjuk kepada selainnya maka Allah akan menyesatkannya. Dan sungguh Allah telah menjamin bagi siapa yang mengamalkan, bahwa dia tidak akan tersesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat.

Terorisme … Anak Kandung Khawarij

TERORISME … ANAK KANDUNG KHOWARIJ

Kitab Iqro’ Mashiraka Qobla an Tufajjir, Karya  Dr. Khalid bin Ali Al-Anbari. Diterjemahkan oleh Abdurrahman Hadi

Sesungguhnya kaum muslimin sekarang, hidup di zaman yang penuh dengan terjangan badai yang berhembus dari fitnah takfir, terorisme, ekstrimisme dan sikap ghuluw (berlebih-lebihan). Fitnah terorisme ini, telah menyibukkan dunia internasional, sehingga muktamar-muktamar dan konferensi-konferensi diselenggarakan untuk mempelajari dan membahas seluk beluk terorisme, akar dan sumbernya. Hanya saja, di dalam muktamar-muktamar tersebut masih terjadi perselisihan seputar pengertian (definisi) terorisme dan solusi untuk menanggulanginya.

Akan tetapi, dari definisi terorisme yang hampir mencapai titik temu, yaitu dalam hal adanya beberapa unsur, dan yang paling berbahaya adalah munculnya ancaman, suasana yang mencekam dan menakutkan, tertumpahnya darah, terbunuhnya orang-orang yang tidak bersalah, diledakkannya tempat tinggal, hancurnya sarana-sarana umum dan porak-porandanya infrastruktur dan lain sebagainya, yang ini semua termasuk hal yang disepakati kaum muslimin atas keharamannya dan merupakan tindak kriminal yang mana para pelakunya dianggap termasuk orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi.

Tidak diragukan lagi, bahwa terorisme merupakan anak kandung yang sah dari pemikiran takfir. Hal ini dapat dibuktikan dari fenomena aktivitas terorisme dan pengakuan sendiri para pelakunya. Kedurjanaan tindakan terorisme yang kita saksikan di banyak negara, hal ini sejatinya adalah buah yang ditanam cukup lama selama bertahun-tahun yang berasal dari pohon pemikiran takfir, yang mana hal ini senantiasa kita peringatkan akan bahayanya, baik malam maupun siang, baik di dalam kitab-kitab, makalah-makalah maupun dalam ceramah-ceramah, baik yang terekam maupun tidak.

Ibnu Katsir -rahimahulla- Bukan Khawarij

Ibnu Katsir -rahimahullah- Bukan Khawarij

Oleh: Abu Abdirrahman bin Thoyyib

Khawarij merupakan salah satu kelompok sesat yang pertama muncul di tengah kaum muslimin. Meskipun tidak ada pada zaman ini kelompok yang bernama Khawarij, namun pemikiran mereka banyak diadopsi oleh gerakan-gerakan Islam kontemporer. Diantara ciri khas mereka adalah mengkafirkan penguasa kaum muslimin yang tidak berhukum dengan hukum Allah, secara mutlak tanpa perincian. Dan mereka berusaha untuk mencari-cari dalih dan dalil, meskipun bukan pada tempatnya, atau mereka sendiri tidak paham akan apa yang mereka sampaikan.

Diantara syubhat mereka adalah ucapan Imam Ibnu Katsir v yang berkaitan dengan tafsir surat al-Maidah ayat 50, yang secara sepintas mereka pahami, bahwa beliau secara mutlak mengkafirkan penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Allah. Padahal maksud ucapan beliau bukan seperti apa yang mereka pahami.

Imam Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata : “Allah mengingkari orang yang keluar dari hukum Allah yang muhkam (jelas), yang meliputi semua kebaikan dan yang melarang dari segala kejelekan, lalu dia condong kepada selain hukum Allah baik berupa pendapat-pendapat, hawa nafsu dan istilah-istilah yang dibuat-buat oleh tokoh-tokohnya, tanpa landasan dari syariat Allah. Sebagaimana keadaan orang-orang jahiliyah yang berhukum dengan kesesatan dan kebodohan yang mereka buat sendiri dengan akal dan hawa nafsu mereka.

Kilas Balik Pencetus Takfir

Kilas Balik Pencetus Takfir
Oleh: Abu Abdirrahman bin Thoyyib

Berbicara mengenai terorisme dan pengeboman yang terjadi akhir-akhir ini di berbagai negara, khususnya Indonesia dan Saudi Arabia, tidak terlepas dari pembahasan masalah takfir/pengkafiran. Tidaklah mereka yang berani dan nekad serta tega membunuh kaum muslimin, entah dengan bom bunuh diri atau bom waktu dan yang lainnya, melainkan telah mengakar dalam hatinya pemikiran takfir. Mereka menganggap bahwa kaum muslimin sekarang ini tidak ada bedanya dengan orang-orang kafir (Yahudi maupun Nashoro). Maka dari itu mereka menghalalkan darah, harta dan kehormatan kaum muslimin.

Sejarah telah membuktikan akan hal ini. Tidaklah orang-orang Khowarij[1] menghalalkan darah Ali dan para sahabat yang lain rodhiyallohu ‘anhum, melainkan dilatarbelakangi oleh keyakinan mereka, bahwa Ali dan para sahabat itu telah kafir. Oleh karena itu simak dengan seksama hal-hal berikut ini :

A- Peringatan akan bahaya takfir

Masalah takfir adalah masalah yang amat sensitif. Tidak boleh seseorang berbicara dalam masalah ini, kecuali dengan ilmu serta petunjuk dari para ulama. Karena barangsiapa yang mengkafirkan saudaranya muslim tanpa ilmu, maka dia telah melakukan dua kesalahan fatal, yaitu :

1- Berbicara terhadap Allah tanpa ilmu. Padahal Allah berfirman :

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا

“Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah.” (QS. Al-An’am : 21).

Dan Dia juga berfirman :

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”.” (QS.Al-A’roof : 33)

Dan Allah berfirman :

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS.Al-Isra’ : 36)

Antara bantahan dan Ghibah

Antara bantahan dan Ghibah
Oleh: Abu Abdirrahman bin Thoyyib as-Salafy

Sering kita mendengar celotehan sebagian orang jika dia menyaksikan seseorang membantah/menyingkap kesesatan kelompok-kelompok/dai-dai yang menyelisihi al-Qur’an dan Sunnah serta manhaj salaf (ahli sunnah wal jama’ah), dia mengatakan (entah dimimbar-mimbar jum’at atau dimajlis-majlisnya) : “Jagalah lisanmu, janganlah engkau mengghibah (ngrasani) saudaramu sendiri sesama muslim, bukankah Allah berfirman : ‘Janganlah sebagian kamu menghibah (menggunjing) sebagian yang lain sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?’”. (QS. Al-Hujurat : 12).

Apakah benar celotehan mereka ini??? Mari kita simak bersama sebagian ucapan-ucapan emas para ulama ahlus sunnah dalam masalah ini. Selamat menikmati -semoga Allah menampakkan yang benar itu benar dan memberi kita kekuatan untuk mengikutinya dan semoga Allah menampakkan yang batil itu batil serta memberi kita kekuatan untuk menjauhinya- :

1. Imam Nawawi –rahimahullah- (salah seorang ulama madzhab Syafi’i yang meninggal tahun 676 H) mengatakan dalam kitabnya “Riyadhus Shalihin” bab “penjelasan ghibah yang dibolehkan” :
“Ketahuilah bahwa ghibah dibolehkan untuk tujuan yang benar dan disyariatkan, yang tidak mungkin tujuan itu tercapai kecuali dengan ghibah tersebut. Hal ini ada dalam enam perkara :

a. Mengajukan kedzaliman orang lain. Dibolehkan bagi orang yang didzalimi untuk mengajukan yang mendzaliminya kepada penguasa atau hakim dan selain keduanya dari orang-orang yang memiliki kekuasaan atau kemampuan untuk mengadili sidzalim itu. Orang yang didzalimi itu boleh mengatakan si fulan itu telah mendzalimi/menganiaya diriku.

b. Meminta pertolongan untuk merubah kemungkaran dan mengembalikan orang yang berbuat dosa kepada kebenaran. Seseorang boleh mengatakan kepada yang memiliki kekuatan yang ia harapkan bisa merubah kemungkaran: si fulan itu berbuat kejahatan ini dan itu, maka nasehati dia dan larang dia berbuat jahat. Maksud ghibah disini adalah merubah kemungkaran/kejahatan, jika tidak bermaksud seperti ini maka ghibah tersebut haram.

c. Meminta fatwa. Orang itu mengatakan kepada sang pemberi fatwa : ayahku atau saudaraku atau suamiku telah mendzalimi diriku, apakah hal ini boleh? Bagaimana jalan keluarnya?. Ghibah seperti ini boleh karena suatu kebutuhan/tujuan (yang syar’i-pent). Tapi yang lebih utama tidak disebutkan (personnya/namanya) semisal: Bagaimana pendapat Syaikh tentang seorang suami atau ayah yang begini dan begitu? Hal ini juga bisa dilakukan dan dapat mencapai tujuan yang diinginkan meskipun tanpa menyebut nama/personnya. Tapi menyebutkan nama/personnya dalam hal ini hukumnya boleh seperti yang akan disebutkan dalam hadits Hindun -insya Allah-

Ciri Khas Pengikut Harakah

Ciri khas pengikut harakah*

Orang-orang harokah adalah suatu kaum yang (kelihatannya) berjuang untuk Islam. Mereka berpendapat bahwa memahami agama ini tidaklah cukup untuk memperjuangkan Islam, sampai setiap individu bergabung di dalam suatu gerakan dakwah, yang didalamnya mereka diperintah dan dilarang, (mereka harus) mendengar dan taat. Kegiatan ini kebanyakannya disertai dengan bai’at dan sumpah setia, meskipun mereka berada di dalam suatu negara yang dipimpin oleh penguasa muslim.

Oleh karena itu, kita bisa memahami sebab penamaan diri mereka dengan sebutan “para pengikut harokah”, yaitu karena persangkaan buruk mereka bahwa fikih agama ini tidak bisa menggerakkan[1a], maksudnya tidak bisa menggerakkan (manusia) untuk memberontak singgasana para penguasa. Mereka menganggap para ulama tak ubahnya seperti gelandangan yang tidak diatur oleh suatu gerakan. Hal itu dikarenakan para ulama tersebut telah menjadi kaki tangan para penguasa, sedangkan mereka tidak sadar.

Adapun harokah, bagi para pengikutnya merupakan suatu hal yang bisa menjadikan para ulama tersebut mengetahui rencana-rencana pemerintah, serta berbagai kelemahan peraturan-peraturannya. Harokah juga membuka mata para ulama tersebut dari suatu fikih yang mereka masih buta terhadapnya, yang dinamakan “fiqhul waqi’ ” (fikih kenyataan). Mereka itulah orang-orang harokah yang sebenarnya, dimanapun mereka berada.

Jadi, mereka (orang-orang harokah) itu bergerak atas nama Islam untuk menggulingkan singgasana para penguasa dan para pemimpin yang mereka anggap tidak berbuat adil.[1b] Maka mereka secara lahir bergerak untuk Islam, tapi secara batin (mereka) sangat haus dengan kekuasaan. Bukti semua ini adalah : mereka tidak memelihara hukum-hukum Alloh di dalam pergerakan mereka. Jika perasaan mereka bertentangan dengan batasan-batasan syariat, maka mereka akan mendahulukan perasaan mereka. Bukankah kalian telah melihat, bahwa mereka benar-benar menolak hukum Alloh tentang haramnya memberontak terhadap penguasa muslim yang dholim[2], dan mereka memberikan opini kepada masyarakat, bahwa tindakan tersebut[3] merupakan bentuk penghinaan terhadap rakyat!!

Kewajiban Pemerintah Dan Rakyat

Kewajiban Pemerintah Dan Rakyat
Oleh : Syaikh Walid bin Muhammad Saif An Nasr حفظه اللهَ

Melihat adanya beberapa kelompok yang hendak menyalakan api kerusuhan dan mengancam keamanan umat Islam dan kaum muslimin, mereka mengkafirkan pemerintahan Islam dan menyebut kesalahan-kesalahan penguasa di atas mimbar, dan menganggap tindakan mereka adalah jihad untuk meninggikan bendera Islam.

Maka dalam upaya menyingkap kebatilan mereka dan menepis kedustaan-kedustaan mereka serta menjelaskan cara yang benar dalam bermua’malah antara rakyat dan pemerintah, kami hadirkan di hadapan para pembaca makalah yang ditulis oleh Fadhilatus syaikh Walid bin Muhammad Saif An Nasr hafidzohulloh (salah seorang murid Syaikh al-Albani di Bahrain).

Semoga menjadi air yang menyegarkan rasa haus orang-orang yang mencari kebenaran dan sekaligus menjadi obat yang menyembuhkan sakit hati orang-orang yang mau kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman Salaful Ummah.

KEWAJIBAN PEMERINTAH (UNTUK BERBUAT ADIL) TERHADAP RAKYATNYA
Allah berfirman :

“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan (memerintahkan kalian) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kalian menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. “ (QS. An-Nisa’ : 58 )
“Sesungguhnya Allah memerintahkan(kalian) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat dan Allah melarang dari perbuatan keji ,kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. “ (QS. An-Nahl : 90 )