Category Archives: Aqidah

Keluar dari Thariqot Tijaniyah II

Keluar Dari Thariqot Tijaniyah
Oleh: Syaikh Muhammad Taqyuddin al-Hilali

Dalam edisi sebelumnya pembaca budiman telah membaca bagaimana syaikh Muhammad al-Arabi al-Alawi mematahkan hujjah syaikh Muhammad Taqiyuddin al-Hilali yang kala itu masih menjadi pengikut thariqat at-Tijaniyyah, hingga menyebabkan syaikh Muhammad Taqiyuddin al-Hilali keluar dari thariqat ini. Kemudian, supaya pembaca mengetahui apa itu thariqat at-Tijaniyyah, bagaimana ajarannya yang menyimpang dari ajaran Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya, insya Allah, dengan meminta pertolongan kepada-Nya, kami akan berusaha melanjutkan kisah ini dengan mengetengahkannya secara bersambung. Inilah kisah lanjutan perjalanan hidup syaikh Muhammad Taqiyuddin al-Hilali salah seorang ulama yang pernah menjadi dosen di Universitas Islam Madinah, silakan menyimak ! (pent).

Syaikh Muhammad Taqiyuddin al-Hilali berkata :

Akupun tidak mempunyai jawaban kecuali seperti apa yang telah aku kemukakan, akan tetapi aku belum menerima pendapat Syaikh Muhammad bin al-Arabi al-Alawi. Maka syaikh berkata : Pikirkanlah dalil-dalil ini, kita akan membahas lagi dalam pertemuan yang lain. Berikutnya, terjadi tujuh kali pertemuan yang kami lakukan setelah shalat maghrib hingga menjelang isya. Setelah itu aku yakin bahwa aku berada dalam kesesatan, akan tetapi aku ingin menambah keyakinanku, maka kukatakan pada syaikh : “Siapakah ulama disini (Maroko) yang beraqidah seperti ini, karena suatu masalah baik itu aqidah ataupun furu’ (parsial) wajib kita paparkan sekuat tenaga, (sekalipun) wawasan kita terhadap al-Qur’an dan sunnah tidak banyak.

Syaikh Muhammad bin al-Arabi al-Alawi menjawab : ulama yang beraqidah sepertiku ini adalah ulama yang terkemuka pada thariqat at-Tijaniyyah di seluruh Maroko, yaitu syaikh al-Fatimi asy-Syaradi. Hampir-hampir aku tidak mempercayainya, karena telah mashur di seluruh penjuru Maroko bahwa syaikh al-Fatimi asy-Syaradi termasuk ulama terkemuka, dan salah seorang “Muqaddim” thariqat at-Tijaniyyah (tokoh terkemuka, bukan muqaddam sebagaimana tertulis dalam edisi sebelumnya, pent.), aku tidak mengatakannya sebagai syaikh at-Tijani, karena syaikh at-Tijani melarang seorang menjadi syaikh selainnya, karena julukan syaikh terkadang difahami orang bahwa selain diri syaih at-Tijani diperbolehkan membuat wirid-wirid thariqat beserta keutamaan dan aqidah-aqidahnya, dan hal ini terlarang, karena yang mengajarkan thariqah ini adalah Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- dalam keadaan syaikh at-Tijani tidak tidur dan bukan bermimpi sebagaimana penjelasan lalu. Dan orang yang pertama kali diajari Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- adalah syaikh Ahmad at-Tijani, dan Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- menamainya syaikh thariqat ini. Dan setiap orang penyebar thariqat ini dan pengajar wirid-wiridnya dinamai “Muqaddim”, dan thariqat hanya mempunyai satu sumber dan satu syaikh, dan tidak diperbolehkan bagi thariqat mempunyai lebih dari satu sumber dan lebih dari satu syaikh sebagaimana hal ini tertera dalam kitab-kitab thariqat.

Mengapa Saya Keluar Dari Thariqot Tijaniyah…

Mengapa saya keluar dari Thoriqot Tijaniyah…

Oleh: Syaikh Muhammad Taquddin al-Hilali

Segala puji milik Allah yang mengutus Muhammad –shollallahu alaihi wa sallam- sebagai penutup para nabi dan imam para rasul, sebagai rahmat bagi semesta alam, pemberita kabar gembira, yaitu kemenangan yang nyata bagi mereka yang beriman dan mengikuti petunjuknya, dan juga sebagai pemberi peringatan akan adanya siksa yang menghinakan bagi mereka yang kafir dan menyelisihi sunnahnya, dan shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan atas Muhammad, istri-istri dan keturunan beliau.

Asy-Syaikh Taqiyuddin bin Abdul Qadir al-Husaini al-Hilali berkata :
Aku tinggal di negeri Sajlamaanah, ketika berusia 12 tahun aku telah hafal al-Qur’an, aku lihat penduduk negeriku penganut fanatik berbagai thariqat Sufiyah, hampir-hampir anda tidak menjumpai seorangpun diantara mereka, baik itu seorang yang berilmu maupun orang bodoh melainkan pasti dia pengikut salah satu thariqat Sufiyah, dan mempunyai hubungan sangat erat dengan seorang syaikh seperti jalinan seseorang yang amat sangat mencintai kekasihnya, ia beristighasah pada syaikhnya di saat susah, meminta pertolongan padanya tatkala mendapatkan musibah-musibah, serta senantiasa bersyukur dan memujinya, dan jika ia mendapatkan kenikmatan, ia bersyukur kepadanya, jika tertimpa musibah ia menuduh dirinya masih kurang taat dan kurang cinta terhadap syaikhnya serta kurang berpegang teguh pada thariqatnya.

Tidak terlintas dalam benaknya bahwa syaikhnya itu lemah tidak mampu melakukan sesuatu baik itu di langit maupun di bumi, (bahkan ia meyakini) syaikhnya mampu melakukan segala sesuatu. Dan aku mendengar masyarakat berkata : “Barangsiapa tidak mempunyai syaikh maka setan itu adalah syaikhnya.”

Aku melihat ada dua kelompok tasawuf yang tersebar di negeri kami :

Pertama : Kelompok tasawuf yang diikuti oleh para ulama dan para tokoh masyarakat.

Kedua : Kelompok tasawuf yang diikuti masyarakat awam.

Adapun aku lebih condong pada kelompok pertama, dan aku dengar ayahku dimana beliau termasuk ulama di negeri kami sering berujar :
Kalau bukan lantaran thariqat Tijaniyah melarang pengikutnya berziarah kubur ke makam para wali, dan meminta bantuan dan hajat kepada mereka, terkecuali kuburannya Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya, dan juga terkecuali kuburan syaikh at-Tijani, dan kuburan orang-orang yang mengikuti thariqatnya dari kalangan para wali, kalau bukan karena hal ini tentu saya akan mengikuti thariqat Tijaniyah, karena saya tidak dapat meninggalkan ziarah kubur kakek kami (yang bukan penganut thariqat at-Tijaniyyah) yang bernama Abdul Qadir bin Hilal, dan kakek kami ini mashur sebagai orang yang baik, dan kuburnya dikunjungi manusia, dan dia dianggap termasuk dari kalangan para wali di daerah timur laut negeri Maroko.

Yahudi Musuh Agama

Yahudi Musuh Agama

Musuh-musuh Islam dan orang-orang bodoh yang mengikuti mereka, berusaha menggambarkan bahwa hakikat permusuhan kita melawan Yahudi hanyalah permusuhan merebutkan wilayah perbatasan, permasalahan pengungsi dan sumber air. Dan permusuhan seperti ini mungkin bisa diselesaikan dengan cara hidup berdamai, dan mengganti para pengungsi yang kehilangan tempat tinggal dengan tempat tinggal baru, serta memperbaiki kondisi kehidupan mereka, menempatkan mereka di berbagai wilayah, dan mendirikan pemerintahan sekuler yang hidup dibawah kaki tangan Yahudi ; yang menjadi dinding keamanan bagi Negara Yahudi.

Tidakkah mereka semuanya mengetahui, bahwa permusuhan kita dengan Yahudi adalah permusuhan yang terjadi semenjak dahulu kala, semenjak pemerintahan Islam pertama berdiri di Madinah al-Munawwarah dengan pimpinan Rasul (utusan Allah) untuk seluruh manusia yaitu Muhammad -shollaallahu alaihi wa sallam-. Allah -ta’ala telah menjelaskan kepada kita tentang hakikat kedengkian Yahudi dan permusuhan mereka terhadap umat Islam, umat Tauhid :

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik….” (al-Maidah : 82)

Lihatlah bagaimana Allah ta’ala mendahulukan Yahudi daripada orang-orang musyrik dalam permusuhan (terhadap umat Islam), padahal millah/kepercayaan orang kafir adalah satu, hanya saja mereka berbeda-beda tingkatan dalam permusuhan mereka terhadap umat Muhammad -shollaallahu alaihi wa sallam- :

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka…” (al-Baqarah : 120)

Semenjak awal kali kaum muslimin menghirup udara Islam ; orang-orang Yahudi telah melakukan permusuhan terhadap umat Islam dan Nabi mereka -shollaallahu alaihi wa sallam-. Nabi kita Muhammad -shollaallahu alaihi wa sallam- tidak luput dari gangguan orang-orang Yahudi. Mereka telah berusaha membunuh Nabi Muhammad -shollaallahu alaihi wa sallam- tiga kali, (pertama) mereka berusaha menimpakan batu ke kepala Nabi Muhammad -shollaallahu alaihi wa sallam-, (kedua) mereka meletakkan racun dalam (makanan) yaitu paha kambing, (ketiga) ketika Labid bin al-‘Asham al-Yahudi – semoga laknat Allah ta’ala ditimpakan kepadanya – menyihir Nabi -shollaallahu alaihi wa sallam-.