Mari Sholat Istikhoroh

Oleh: Abu Musa Al-Atsari

Begitu banyak aktivitas seorang muslim dalam kesehariannya. Begitu banyak pula masalah yang dihadapinya, dari yang terkecil kecil hingga menurutnya paling besar. Terkadang ia harus memilih antara dua pilihan atau bahkan lebih. Terkadang pula ia mesti mengambil keputusan tegas antara melanjutkan suatu rencana atau mengurungkannya.

Sikap tepat dalam mengambil keputusan amat sangat kita harapkan sekali, dalam setiap permasalahan atau minimal mayoritasnya. Hanya saja, ketepatan dalam bersikap terkadang luput dari kita. Namun, ketahuilah, ketepatan tersebut sangat bisa kita dapatkan. Dengan mempertimbangkan matang-matang antara beberapa pilihan sesuai kacamata syar’i, meminta nasihat ahlul ilmi, dan dibantu dengan istikhoroh kepada Alloh, semoga diberikan ketepatan, keberkahan, dan kemudahan dalam memutuskan antara beberapa pilihan yang ada.

Seandainya keputusan tersebut adalah baik, semoga Alloh memberikan kemudahan untuk melakukannya. Sebaliknya, bila tidak baik, semoga Alloh menjauhkannya dari kita.

Dan pada edisi kali ini, kami akan menyuguhkan Mutiara Sunnah Nabi n yang berkaitan dengan sholat dan doa istikhoroh. Semoga kita diberikan takdir baik dan dimudahkan untuk mendapatkannya.

Apa itu Istikhoroh

Dari sisi bahasa kata istikhoroh berarti meminta pilihan terbaik. Istikhoroh kepada Alloh artinya meminta pilihan terbaik kepada-Nya. (Lisanul ‘Arob, 4/259)

Sedangkan menurut istilah, istikhoroh artinya memohon pilihan. Maksudnya memohon agar diberi pilihan paling baik dan paling utama di sisi Alloh, dengan cara mengerjakan shalat dan membaca doa tertentu. (al-Mausu’ah al-Kuwaitiyyah, 2413)

Dengan kata lain, istikhoroh merupakan suatu ungkapan tentang doa dari Nabi n, yang dibaca seorang muslim setelah mengerjakan sholat sunnah dua rokaat, tatkala ia memiliki suatu hajat, seperti memilih calon pasangan, perniagaan, safar, dsb. Dia memohon kepada Alloh Ta’ala agar diberikan pilihan terbaik, dimudahkan untuk mendapatkannya, dan agar dijauhkan dari keburukan.

Urgensi Sholat dan Doa Istikhoroh

Manusia adalah makhluk yang sangat lemah. Ia butuh pertolongan dari Alloh ‘Azza wa Jalla dalam segala urusannya. Sebab ia tidak tahu masa depannya, sebagaimana ia tidak tahu apakah sesuatu yang akan dikerjakan adalah baik atau malah sebaliknya. Maka itu, termasuk hikmah dan rahmat Alloh Ta’ala disyariatkannya sholat dan doa istikhoroh yang dapat ia gunakan untuk bertawassul kepadaNya dalam meluruskan langkah dan mendapatkan kebaikan dari pilihannya itu.

Alloh Ta’ala berfirman:

٦٨. وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ
٦٩. وَرَبُّكَ يَعْلَمُ مَا تُكِنُّ صُدُورُهُمْ وَمَا يُعْلِنُونَ
٧٠. وَهُوَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَهُ الْحَمْدُ فِي الْأُولَى وَالْآخِرَةِ وَلَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Dan Tuhanmu menciptakan apa yang dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Alloh dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (denganNya).” (QS. al-Qoshosh: 68-70)

Seorang muslim yakin benar bahwa pengaturan alam semesta -termasuk takdir dirinya- hanya diatur oleh Alloh Ta’ala semata. Maka itu, ia memohon agar diberikan taufiq untuk melakukan yang terbaik.

Al-Qurthubi rohimahulloh berkata, “Sebagian ulama berkata, “Tidak sepatutnya seseorang mengerjakan perkara dunia hingga ia memohon pilihan kepada Alloh dengan mengerjakan sholat dua rokaat.”” (al-Jami’ li Ahkam al-Qur`an, 13/202)

An-Nawawi rohimahulloh berkata ketika menyarah hadits Zainab rodhiyallohu ‘anha yang melakukan istikhoroh sebelum dipersunting Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Hadits ini mengandung anjuran untuk sholat istikhoroh bagi orang yang memiliki kepentingan, baik secara zhohir urusan itu baik atau tidak.” (Syarh Shohih Muslim, 9/229-230)

Istikhoroh adalah Sunnah

Ketahuilah, sholat dan doa istikhoroh merupakan Sunnah Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam. Adapun tentang hukumnya, tidak ada khilaf di antara ulama bahwa hukumnya adalah sunnah.

Al-Iroqi berkata, “Aku tidak mengetahui seorang ulamapun yang mewajibkan istikhoroh.” (Fathul Bari, 11/221-222)

Imam asy-Syafi’i rohimahulloh berkata, “Sholat istikhoroh hukumnya sunnah.” (al-Majmu’, 3/546)

Demikian pula para ulama yang lain menerangkan bahwa hukum sholat istikhoroh adalah sunnah.

Istikhoroh dalam Segala Urusan

Isikhoroh disunnahkan dalam segala urusan yang hukumnya mubah, seperti memilih calon pasangan, perniagaan, safar, dll. Demikian pula pada ibadah-ibadah yang hukumnya sunnah, apabila terjadi kontradiksi di antara beberapa ibadah tersebut (bimbang mana yang semestinya diamalkan di antara beberapa ibadah yang hukumnya sunnah).

Adapun dalam melaksanakan kewajiban, seperti sholat lima waktu, atau meninggalkan hal yang diharamkan, seperti minum khomr, maka tidak ada yang namanya istikhoroh. Sebab kewajiban wajib dilaksanakan, dan hal haram wajib ditinggalkan.

Tata Cara Istikhoroh

Secara umum tata cara pelaksanaan istikhoroh, doa, dan sholatnya, diterangkum dalam hadits Jabir bin Abdulloh rodhiyallohu ‘anhuma berikut. Ia berkata:

كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الاِسْتِخَارَةَ فِي اْلأُمُوْرِ كُلِّهَا كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّوْرَةَ مِنَ الْقُرْآنِ، يَقُوْلُ: إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيْضَةِ ثُمَّ لِيَقُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ -أَوْ قَالَ: عَاجِلِ أَمْرِيْ وَآجِلِهِ- فَاقْدُرْهُ لِيْ وَيَسِّرْهُ لِيْ ثُمَّ بَارِكْ لِيْ فِيْهِ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ شَرٌّ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ -أَوْ قَالَ: فِيْ عَاجِلِ أَمْرِيْ وَآجِلِهِ- فَاصْرِفْهُ عَنِّيْ وَاصْرِفْنِيْ عَنْهُ وَاقْدُرْ لِيْ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِيْ بِهِ. قَالَ: وَيُسَمِّيْ حَاجَتَهُ.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dahulu mengajarkan kepada kami istikhoroh dalam segala urusan sebagaimana beliau mengajarkan kepada kami surat di dalam al-Qur`an, beliau bersabda:
Apabila seorang dari kalian ingin melakukan suatu urusan, hendaklah ia mengerjakan sholat dua rokaat tidak wajib kemudian berdoa: Ya Alloh, sesungguhnya aku memohon kepadaMu pilihan terbaik dengan ilmuMu, aku memohon kepadaMu keputusan terbaik dengan takdirMu, dan aku memohon kepadaMu dari karuniaMu yang agung, karena Engkau Maha menentukan sedang aku tidak, Engkau Maha mengetahui sedang aku tidak, dan Engkau Maha mengetahui perkara-perkara ghaib. Ya Alloh, apabila Engkau tahu bahwa urusanku ini baik bagiku, bagi agamaku, hidupku, dan kesudahan urusanku –atau berkata: baik urusanku sekarang atau akan datang-, maka takdirkanlah terjadi padaku, mudahkanlah ia bagiku, kemudian berkahilah aku padanya. Dan apabila Engkau tahu bahwa urusan ini buruk bagiku, bagi agamaku, hidupku dan kesudahan urusanku –atau berkata: baik urusanku sekarang atau yang akan datang-, maka palingkanlah ia dariku dan palingkanlah aku darinya, dan takdirkanlah bagiku kebaikan di manapun ia berada, kemudian jadikanlah aku ridho dengannya.

Beliau bersabda, “Lalu (hendaklah) ia menyebutkan hajatnya.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad, 11/250, no. 4642, al-Bukhori, no. 1162, 6382, 7390, Abu Dawud, 2/91, no. 1583, at-Tirmidzi 2/345, no. 480, an-Nasa`i, 3/3389, no. 3253, dll. Lafazh ini milik al-Bukhori di no. 1162.

  1. Waktu Pelaksanaan
  2. Dari hadits Jabir rodhiyallohu ‘anhu di atas dapat kita ketahui bahwa istikhoroh dilakukan ketika seseorang berniat atau berhasrat untuk melaksanakan suatu urusan.

    Perlu dijelaskan di sini, orang yang akan melakukan istikhoroh hendaklah tidak condong kepada keinginan yang ada pada dirinya. Akan tetapi ia mengosongkan diri dari kecenderungan itu dan menyerahkan urusannya tersebut kepada Alloh Ta’ala.

  3. Cara Sholat Istikhoroh
  4. Tata cara sholat istikhoroh sebagaimana dijelaskan pada hadits di atas adalah sebanyak dua rokaat, dengan niat sholat sunnah, ikhlas karena Alloh Ta’ala. Pelaksanaan dua rokaat tersebut seperti sholat dua rokaat lainnya, namun dibedakan dari sisi niat.


Selengkapnya bisa disimak di Adz-Dzakhiirah, edisi 67, halaman 52-59


Daftar Isi Edisi 67 | Daftar Agen Majalah Adz-Dzakhiirah

Segera terbit: Majalah Islami Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah, edisi 71!

Tinggalkan Balasan