Mengganti Nama Setelah Dewasa

MENGGANTI NAMA SETELAH DEWASA

Assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu. ‘afwan ustadz tanya, bagaimana hukumnya mengganti nama seseorang kalau  sudah dewasa?[ +6285642329XXX]

Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokahutuh.

Segala pujian hanya milik Allah semata. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabat beliau serta siapa saja yang mengikuti jejak beliau dengan baik hingga hari akhir kelak. Amma ba’du,

Mengganti nama seseorang hukumnya adalah boleh, baik ketika masih kecil atapun setelah dewasa. Apalagi bila nama sebelumnya mengandung penyelisihan terdapat syariat. Maka itu dapat kita temui pada beberapa riwayat bahwa Nabi –shallallahu alaihi wa salam- pernah mengganti sebagian nama sahabat yang buruk atau mengandung tazkiyah (dakwaan suci) terhadap diri sendiri menjadi nama yang lebih baik dan sejalan dengan Syariat meskipun mereka telah dewasa.

MENGGANTI NAMA KETIKA MASIH KECIL

Pernah suatu ketika Nabi –shallallahu alaihi wa salam- mengganti nama seorang bayi menjadi al-Mundzir.

Dari Sahl ia berkata: al-Mundzir bin Abu Usaid dibawa ke hadapan Nabi –shallallahu alaihi wa salam- setelah ia dilahirkan. Lalu anak itu diletakkan di atas paha beliau. Sementara itu Abu Usaid (ayah anak itu, Red) duduk. Namun Nabi –shallallahu alaihi wa salam- sedang sibuk dengan sesuatu yang ada di hadapannya. Sehingga Abu Usaid memerintahkan (seseorang) untuk mengambil dan menggendong anaknya dari paha Nabi –shallallahu alaihi wa salam-.

Kemudian Nabi –shallallahu alaihi wa salam- baru tersadar dan bertanya: Mana anak tadi? Abu Usaid menjawab: Kami sudah membawanya pulang, wahai Rasulullah.

Beliau bertanya: Siapa namanya? Ayahnya menjawab: Fulan. Kemudian beliau berkata:

لاَ، لَكِنِ اسْمُهُ الْمُنْذِرُ

Jangan (nama) itu, tapi namanya adalah al-Mundzir.

(Sahl berkata): Sejak itulah ayahnya memberi nama anak itu al-Mundzir. (Hadits Shahih. Riwayat al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrod. Lihat Shahih al-Adab al-Mufrod oleh al-Albani NO. 627/816 hlm. 304)

MENGGANTI NAMA SETELAH DEWASA

Demikian pula, Nabi –shallallahu alaihi wa salam- pernah mengganti nama beberapa sahabat telah dewasa. Ada banyak riwayat tentang masalah ini. Di antara adalah sebagai tersebut:

Hadits Pertama

Dari Ibnu Umar bahwasanya Nabi –shallallahu alaihi wa salam- mengganti nama (seorang wanita) ‘Ashiyah (pelaku maksiat) dan berkata: Engkau Jamilah (Cantik/Indah).

Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrod. Lihat kitab Shahih al-Adab al-Mufrod oleh al-Albani no. 630/820, hlm. 306. Lihat pula ash-Shahihah, no. 213

Hadits Kedua

Dari Muhammad bin ‘Amr bin ‘Atho`, bahwasanya ia pernah menemui Zainab binti Abu Salamah. Lalu Zainab bertanya kepada Muhammad tentang nama saudara perempuannya yang ada bersamanya.

Muhammad berkata: Aku menjawab: Namanya adalah Barroh (yang baik/berbakti).

Zainab berkata: Gantilah namanya! karena Nabi –shallallahu alaihi wa salam- menikah dengan Zainab binti Jahsy yang nama (sebelumnya) adalah Barroh, lalu beliau menggantinya menjadi Zinab.

Beliau pernah masuk menemui Ummu Salamah setelah menikah dengannya, dan namaku (dahulu juga) Barroh, kemudian beliau mendengar Ummu Salamah memanggilku, ‘Barroh’, maka beliau bersabda:

لاَ تُزَكُّوْا أَنْفُسَكُمْ، فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ أَعْلَمُ بِالْبَرَّةِ مِنْكُنَّ وَالْفَاجِرَةِ، سَمِّيْهَا زَيْنَبَ

Janganlah kalian menganggap diri kalian suci, karena Allah lebih mengetehui siapa di antara kalian yang barroh (yang baik) dan yang fajiroh (tidak baik). Beri nama dia Zainab.

Ummu Salamah berkata: Dia (namanya sekarang) Zainab.

Aku (Muhammad) bertanya kepadanya (Zainab binti Abu Salamah): Lantas aku beri nama apa?

Zainab menjawab: Gantilah (namanya) dengan nama yang telah diberikan Rasulullah –shallallahu alaihi wa salam-, berilah dia nama Zainab (juga). (Hadits Shahih. Riwayat al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrod. Lihat Shahih al-Adab al-Mufrod oleh al-Albani no. 631/821, hlm. 306-307. Lihat pula ash-Shahihah, no. 210)

Hadits ketiga

Dari Ibnu Abbas: Sesungguhnya nama Juwairiyah dahulu adalah Barroh. Lalu nabi merubah namanya menjadi Juwairiyah.

Hadits ini shohih. Diriwayatkan oleh  al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrod. Lihat Shahih al-Adab al-Mufrod oleh al-Albani no. 636/831, hlm. 309. Lihat pula ash-Shahihah, no. 212.

Hadits keempat

Dari Aisyah –radhiallohu anha- : Pernah disebutkan seorang laki-laki yang bernama Syihab di sisi Rasulullah –shallallahu alaihi wa salam-, lalu Rasulullah –shallallahu alaihi wa salam- bersabda:

بَلْ أَنْتَ هِشَامٌ

Namamu adalah Hisyam.

Hadits ini bernilai hasan. Telah diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrod. Lihat Shahih al-Adab al-Mufrod oleh al-Albani no. 632/825, hlm. 307. Lihat pula ash-Shahihah, no. 215.

Hadits kelima

Dari Sa’id bin al-Musayyib dari ayahnya dari kakeknya: Bahwasanya dia (kakeknya) pernah mendatangi Nabi –shallallahu alaihi wa salam- lalu beliau bertanya: Siapa namamu?

أَنْتَ سَهْلٌ

Ia menjawab: Hazn (sedih). Beliau berkata: Engkau adalah Sahl (mudah).

Ia berkata: Aku tidak mau mengganti naman yang telah diberikan ayahku!

Ibnul Musayyib berkata: Sehingga ia terus-menerus merasa sedih setelah itu. (Hadits shahih diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab al-Adab al-Mufrod. Lihat Shahih al-Adab al-Mufrod, no.  635/841 hlm. 313, ash-Shahihah, no. 214)

Hadits keenam

Dari Laila Istri Basyir, ia bercerita tentang Basyir bin al-Khoshoyishah, yang dahulu namanya adalah Zahm, lalu Nabi –shallallahu alaihi wa salam- menggantinya menjadi Basyir.

Hadits ini berderajat shohih. Telah diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab al-Adab al-Mufrod. Lihat Shahih al-Adab al-Mufrod no. 635/830, hlm. 309, dan ash-Shahihah, no. 2945.

Dan ada pula beberapa riwayat yang lainnya.

Kesimpulan

Dari beberapa riwayat tersebut dapat disimpulkan bahwa mengganti nama seseorang hukumnya adalah boleh. Hanya saja, ketika mengganti nama-nama tersebut, mereka (para sahabat) tidak menyertainya dengan acara syukuran atau ritual lainnya sebagaimana yang banyak terjadi di tengah masyarakat dewasa ini. Andai saja acara semacam ini adalah baik, sungguh mereka dahulu pasti sudah mendahului kita dalam mengamalkannya. Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi –shallallahu alaihi wa salam-. Wallahu ‘alam.

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Ed 61, hal. 5-7

4 Responses to Mengganti Nama Setelah Dewasa

  1. Ridho Amrullah berkata:

    Assalammu’alaikum Redaksi Majalah,

    1. Nama Saya Adalah RIDHO AMRULLAH. Apakah nama saya itu bertentangan dengan syariat alias wajib diubah namanya ?

    2. Dari beberapa riwayat tersebut dapat disimpulkan bahwa mengganti nama seseorang hukumnya adalah boleh.

    Maksudnya, mengganti nama diri sendiri yang jelek itu boleh, jadi nama di akta kelahiran dirubah, atau artikel di atas itu hanya merubah nama orang lain yang sekiranya jelek ?

    Syukron,

    • Majalah Islami Adz-Dzakhiirah berkata:

      Wa’alaikumussalam warohmatulloh…
      1. Mudah-mudahan tidak. Tidak perlu diganti namanya.
      2. Kalaupun seandainya ada yang hendak mengganti nama yang jelek menjadi nama yang baik sesuai syari’at, tidak perlu sampai mengubah keadministrasian (akte,dst) sehingga semakin merepotkan/mempersulit diri sendiri serta banyak melibatkan biaya. cukup mengubah nama panggilan keseharian saja.

      • JT Audit berkata:

        Assalamu’alaikum,

        Maaf mau tanya, “Mengganti nama tidak perlu sampai mengubah keadministrasian”. Lalu ijab-qabul saat akad nikah, nama yang disebut nama sesuai KTP atau sesuai nama yang baru.

        Terima kasih.

        • Majalah Islami Adz-Dzakhiirah berkata:

          Wa’alaikumussalam Warahmatullahi wabarakatuhu…
          Semoga Allah memberkahi Anda..
          Sebagaimana yang kami paparkan , hal tersebut tidak diperbolehkan sebagaimana penjelasan para ulama, maka diusahakan untuk diubah, kalau pun tidak memungkinkan maka paling tidak kita mengganti nama panggilan. Adapun dalam ijab qabul, maka kita memakai nama yang sudah dikenal oleh masyarakat
          Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan