Sunnahnya Siwak dan Bid'ahnya Dongeng

Sunnahnya Siwak dan Bid’ahnya Dongeng


Dari zaman ke zaman, para ulama salaf selalu memperingatkan kaum muslimin agar menjauhi kisah-kisah yang berisi kedustaan meskipun niatnya adalah baik yaitu untuk memperbaiki kaum muslimin dan memberi nasihat.

Hal itu karena banyak di antara para pendongeng yang tidak memperhatikan kebenaran dongengannya dan banyak juga yang menceritakan kisah-kisah yang berdasarkan pada riwayat yang lemah, palsu atau tidak ada asalnya dalam syariat dan riwayat yang benar. Oleh karena itu, pengingkaran para ulamapun selalu ada dari zaman ke zaman.

Berikut ini ada dua kisah yang diriwayatkan tentang perbandingan antara sunnahnya memakai siwak di masjid dan bid’ah mendongeng di dalamnya.

Kisah Pertama.

Ath-Thurtusyi berkata, “Abu Ma’mar berkata, ‘Aku pernah melihat Sayyar Abul Hakam bersiwak di pintu mesjid, sedangkan di dalam masjid ada seorang pendongeng yang sedang mendongeng’.”

Aku berkata kepadanya, “Wahai Abul Hakam, orang-orang memperhatikanmu”.

Beliau menjawab, “Sesungguhnya aku dalam keadaan yang lebih baik daripada mereka. Aku di sini berada di atas sunnah, sedangkan mereka di atas bid’ah”.

(Tahdzir al-Khawwash, hlm. 214, cet. al-Maktab al-Islami, Bairut, cet. 2, 1392/1974).

Kisah Kedua.

Dari Fadhl bin Musa as-Sinani ia berkata, “Aku pernah mendatangi ar-Raqqasyi sedangkan dia dalam keadaan mendongeng. Lalu aku bersiwak”.

Ia berkata, “Engkau di sini?”.

Aku jawab, “Aku di sini berada dalam sunnah, sedangkan engkau dalam bid’ah”.

(Tahdzir al-Khawwash, hlm. 219 dan as-Suyuti menisbatkannya kepada Abu Hasan al-Farra’ dalam Fawaid-nya).

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Ed 56, hal 59

2 Responses to Sunnahnya Siwak dan Bid'ahnya Dongeng

  1. Ad? berkata:

    Maksudnya apa?…mendongeng itu gak boleh?

    • Majalah Islami Adz-Dzakhiirah berkata:

      Jikalau memang dongeng itu benar, tidak ada kebohongan, dan tidak ada pelanggaran terhadap syariat, maka boleh.
      Namun jika dongeng tersebut mengandung kebohongan dan pelanggaran syariat Islam, maka tidak boleh.

      Semoga kita diberikan taufik oleh Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, Amin.

Tinggalkan Balasan