Monthly Archives: Maret 2010

Edisi 60

Sunnahnya Siwak dan Bid'ahnya Dongeng

Sunnahnya Siwak dan Bid’ahnya Dongeng


Dari zaman ke zaman, para ulama salaf selalu memperingatkan kaum muslimin agar menjauhi kisah-kisah yang berisi kedustaan meskipun niatnya adalah baik yaitu untuk memperbaiki kaum muslimin dan memberi nasihat.

Hal itu karena banyak di antara para pendongeng yang tidak memperhatikan kebenaran dongengannya dan banyak juga yang menceritakan kisah-kisah yang berdasarkan pada riwayat yang lemah, palsu atau tidak ada asalnya dalam syariat dan riwayat yang benar. Oleh karena itu, pengingkaran para ulamapun selalu ada dari zaman ke zaman.

Berikut ini ada dua kisah yang diriwayatkan tentang perbandingan antara sunnahnya memakai siwak di masjid dan bid’ah mendongeng di dalamnya.

Kisah Pertama.

Ath-Thurtusyi berkata, “Abu Ma’mar berkata, ‘Aku pernah melihat Sayyar Abul Hakam bersiwak di pintu mesjid, sedangkan di dalam masjid ada seorang pendongeng yang sedang mendongeng’.”

Aku berkata kepadanya, “Wahai Abul Hakam, orang-orang memperhatikanmu”.

Keyakinan Muslim Sejati

Keyakinan Muslim Sejati

dialihbahasakan dari karya Syaikh Muhammad Jamil Zainu

إِنْ كَانَ تَابِعُ أَحْمَدٍ مُتَوَهِّبًا
فَأَنَا الْمُقِرُّ بِأَنَّنِيْ وَهَّابِيْ

Jika pengikut setia Ahmad1) dijuluki WAHABI2)
Maka aku adalah seorang wahabi

أَنْفِي الشَّرِيْكَ عَنِ اْلإِلَهِ فَلَيْسَ لِيْ
رَبٌّ سِوَى الْمُتَفَرِّدِ اْلوَهَّابِ

Kutolak sekutu bagi Allah, bagiku
Tiada Ilah selain Yang Maha Tunggal AL-WAHHAB3)

لاَ قُبَةٌ تُرْجَى وَلاَ وَثَنٌ وَلاَ
قَبْرٌ لَهُ سَبَبٌ مِنَ اْلأَسْبَابِ

Bukan kubah, berhala maupun kuburan
Yang diharapkan sebagai penyebab segala sesuatu

كَلاَّ وَلاَ حَجَرٌ، وَلاَ شَجَرٌ وَلاَ
عَيْنٌ وَلاَ نُصُبٌ مِنَ اْلأَنْصَابِ

Sekali bukan tetap bukan, demikian juga
Bukan batu, pohon, mata air4) dan monumen5)

Menafsirkan Al-Qur'an Tanpa Ilmu

MENFASIRKAN AL-QUR`AN TANPA ILMU

Assalamu’alaikum. Ustadz, apakah shahih atsar (hadits) dari Ibnu Abbas, “Barang siapa yang berkata tentang al-Qur`an dengan akalnya atau tanpa ilmu, maka hendaknya mengambil tempat duduknya di neraka.” Shahihkah? [Abu Zaki, Pontianak, 085650900XXX]

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuhu.

Alhamdulillah washolatu wassalamu ‘ala rosulillah wa ba’du,

Ada sebuah hadits yang diriwayatkan dari jalan Abdul A’la bin Abu Amir ats-Tsa’labi dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas dari Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam-:

اِتَّقُوْا الْحَدِيْثَ عَنِّيْ إِلاَّ مَا عَلِمْتُمْ، وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّداً فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ، وَمَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Bertakwalah dalam menceritakan hadits dariku kecuali apa yang telah kalian ketahui, dan barang siapa yang berdusta atas namaku hendaklah ia mengambil tempat duduknya di neraka, dan barang siapa yang berkata tentang al-Qur`an dengan akalnya maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di neraka.