Monthly Archives: Desember 2009

Terorisme … Anak Kandung Khawarij

TERORISME … ANAK KANDUNG KHOWARIJ

Kitab Iqro’ Mashiraka Qobla an Tufajjir, Karya  Dr. Khalid bin Ali Al-Anbari. Diterjemahkan oleh Abdurrahman Hadi

Sesungguhnya kaum muslimin sekarang, hidup di zaman yang penuh dengan terjangan badai yang berhembus dari fitnah takfir, terorisme, ekstrimisme dan sikap ghuluw (berlebih-lebihan). Fitnah terorisme ini, telah menyibukkan dunia internasional, sehingga muktamar-muktamar dan konferensi-konferensi diselenggarakan untuk mempelajari dan membahas seluk beluk terorisme, akar dan sumbernya. Hanya saja, di dalam muktamar-muktamar tersebut masih terjadi perselisihan seputar pengertian (definisi) terorisme dan solusi untuk menanggulanginya.

Akan tetapi, dari definisi terorisme yang hampir mencapai titik temu, yaitu dalam hal adanya beberapa unsur, dan yang paling berbahaya adalah munculnya ancaman, suasana yang mencekam dan menakutkan, tertumpahnya darah, terbunuhnya orang-orang yang tidak bersalah, diledakkannya tempat tinggal, hancurnya sarana-sarana umum dan porak-porandanya infrastruktur dan lain sebagainya, yang ini semua termasuk hal yang disepakati kaum muslimin atas keharamannya dan merupakan tindak kriminal yang mana para pelakunya dianggap termasuk orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi.

Tidak diragukan lagi, bahwa terorisme merupakan anak kandung yang sah dari pemikiran takfir. Hal ini dapat dibuktikan dari fenomena aktivitas terorisme dan pengakuan sendiri para pelakunya. Kedurjanaan tindakan terorisme yang kita saksikan di banyak negara, hal ini sejatinya adalah buah yang ditanam cukup lama selama bertahun-tahun yang berasal dari pohon pemikiran takfir, yang mana hal ini senantiasa kita peringatkan akan bahayanya, baik malam maupun siang, baik di dalam kitab-kitab, makalah-makalah maupun dalam ceramah-ceramah, baik yang terekam maupun tidak.

Dialog Antara Ilmu & Akal

Dialog Antara Ilmu dan Akal

عِلْمُ اْلعَلِيْمِ وَعَقْلُ اْلعَاقِلِ اخْتَلَفَا                مَنْ ذَا الَّذِي فِيْهِمَا قَدْ أَحْرَزَ الْشَّرَفَا

فَالْعِلْمُ قَالَ: أَنَا أَحْرَزْتُ غَايَتَهُ                 وَالْعَقْلُ قَالَ: أَنَا الرَّحْمَنُ بِي عُرِفَا

!فَأَفْصَحَ اْلعِلْمُ إِفْصَاحًا وَقَالَ لَهُ                بِأَيِّنَا اللهُ فِي قُرْآنِهِ اتَّصَفَا ؟

فَأَيْقَنَ اْلعَقْلُ أَنَّ اْلعِلْمَ سَيِّدُهُ                    فَقَبَّلَ اْلعَقْلُ رَأْسَ اْلعِلْمِ وَانْصَرَفَا

Ilmunya orang alim dan akalnya orang yang berakal berselisih

Siapakah di antara keduanya yang paling berhak mendapatkan kemuliaan?

Sang ilmu mengatakan: Sayalah yang berhak mendapatkan puncak kemuliaan

Sang akal menjawab: (Sayalah yang paling berhak) karena hanya denganku Allah bisa dikenal!

Maka ilmu menjawab dengan penuh kefasihan seraya mengatakan, dengan siapakah di antara kita yang Allah sifati dengannya dalam al-Qur`an? (Artinya, apakah Allah tersifati dengan al-‘Alim atau al-‘Aqil?)

Akalpun menyerah dan meyakini bahwa ilmu adalah tuannya, sehingga akal mencium ilmu dan berpisah.

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Ed 56 hal. 60

Perbanyak Berdzikir Ketika Hujan dan Mendengar Petir

Perbanyak Berdzikir Ketika Hujan dan Mendengar Petir

Oleh: Abu Ashim

Islam adalah agama yang penuh dengan adab-adab yang mulia. Dengan mengamalkannya, seorang muslim akan mendapatkan karunia yang amat besar, diantaranya yaitu ittiba’ (mengikuti) sunnah Rasulullah  -shallallahu alaihi wa sallam-.

Pada saat-saat ini, Allah -subhanahu wa ta’ala- banyak menurunkan hujan di daerah kita. Oleh karena itu, sudah sepantasnya bagi kita bersama mengingat beberapa dzikir dan doa yang berkaitan dengan hujan. Di antaranya yaitu:

1. Berdoa ketika melihat hujan

Apabila kita melihat hujan sedang turun, maka disyariatkan untuk membaca doa:

اَللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا

Ya Allah, (jadikanlah) hujan ini adalah hujan yang bermanfaat.

Dalilnya adalah

عَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهَا – قَالَتْ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ  – صلى الله عليه وسلم –  إِذَا رَأَى نَاشِئًا فِيْ أُفُقٍ مِنْ آفَاقِ السََّمَاءِ، تَرَكَ عَمَلَهُ – وَإِنْ كَانَ فِيْ صَلاَتِهِ – ثُمَ أَقْبَلَ عَلَيْهِ، فَإِنْ كَشَفَهُ اللهُ حَمِدَ اللهُ، وَإِنْ مَطَرَتْ قَالَ : اَللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا

Dari Aisyah -radhiallahu anha- ia berkata, “Dahulu Rasulullah  -shallallahu alaihi wa sallam- apabila melihat mendung di ufuk langit, maka beliau meninggalkan aktivitasnya, meskipun dalam keadaan shalat, kemudian menghadap kepadanya. Apabila Allah menyingkapnya, maka beliau memuji-Nya dan apabila turun hujan, beliau berdoa, ‘Ya Allah jadikanlah hujan ini adalah hujan yang bermanfaat’.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, no. 530/686, Ibnu Majah, no. 3889. Lafal ini dalam al-Adab al-Mufrad. Syaikh al-Albani dalam Shahih Adab Mufrad berkata: Shahih). Lihat pula Misykat al-Mashabih, no. 1520, ash-Shahihah, no.2757)

5 Faedah Menawan Seputar Hujan

Lima Faidah Menawan Seputar Hujan

Abu Ashim Muhtar Arifin Lc

1. Meski Doanya Minta Hujan dikabulkan, tidak belajar kepadanya

Ilmu agama adalah perkara yang dapat menentukan keadaan selamatnya seseorang di dunia dan akhirat.

Oleh karena itu, dalam memilih guru, pengajar, ustadz dan syaikh harus berhati-hati dan waspada dengan teliti. Jangan sampai keliru belajar kepada orang yang sesat atau tidak memiliki keahlian masalah ilmu agama, meskipun dia adalah orang yang shalih dan banyak beribadah. Hal itu karena dapat mendatangkan bahaya, apabila sembarangan.

Dalam sebuah riwayat Imam Malik -rahimahullah- berkata, ”Aku telah bertemu dengan segolongan kaum di negeri ini yang mana mereka sekiranya meminta hujan, tentu akan diberi hujan, dan sungguh mereka telah mendengar hadits yang banyak, tetapi aku tidak mengambil dari salah seorang di antara mereka”. (Tartiib al-Madarik wa Taqriib al-Masaalik, karya al-Qadhi Iyadh bin Musa as-Sibti, I/137)

Beliau juga berkata, ”Aku pernah melihat Ayyub as-Sikhtiyani di Mekah ketika melakukan dua kali haji, maka akupun tidak belajar dari beliau. Pada kali yang ketiga aku melihat beliau duduk di halaman air zamzam. Apabila disebut Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- di sisinya beliau menangis sampai aku mengasihani beliau. Setelah mengetahui hal itu, akupun belajar dari beliau. (Tartiib, I/139).

2. Amanah Ilmiyyah Imam al-Muzani tampak dalam menyebutkan ayat hujan.

Imam al-Muzani mengatakan, “Bab Thaharah” Imam Syafi’i berkata, “Allah -azza wa jalla- berfirman:

وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا

Dia-lah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih. (QS. al-Furqan: 48)”. (Mukhtashar al-Muzani, hlm. 1)

Edisi 56

Cover ed 56