Monthly Archives: November 2009

Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- Mencukur Jenggot ?!

Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- Mencukur Jenggot ?!

Oleh: Abu Ashim Muhtar Arifin Marzuqi, Lc

Sebagian kaum muslimin, ketika berpendapat bolehnya mencukur jenggot mengatakan, bahwasanya ada sebuah hadits yang diriwayatkan bahwa Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- pernah mencukur jenggotnya. Benarkah demikian? Bagaimana derajat haditsnya? Bagaimana pendapat para ulama tentang masalah ini? Berikut ini penjelasan singkat dari para ulama seputar masalah ini.

SEBUAH HADITS LEMAH

Dalam hal ini ada sebuah riwayat yang berbunyi:

عَنْ عَمْرٍو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْخُذُ مِنْ لِحْيَتِهِ مِنْ عَرْضِهَا وَطُوْلِهَا

Dari Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya bahwsanya nabi -shollallahu alaihi wa sallam- dahulu memotong dari jenggotnya, dari panjangnya dan lebarnya. (HR. at-Tirmidzi)

Akhir dari Dunia

Akhir Dari Dunia

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menciptakan kehidupan, yang telah menciptakan bumi beserta isi nya dan yang kan menghancurkannya. Sholawat serta salam tercurahkan kepada Nabi Muhammad –shollallahu alaihi wa sallam- yang mengajarkan kita agar beriman kepada Allah dan hari akhir, dan sholawat serta salam tercurahkan kepada keluarga, sahabat dan orang-orang yang senantiasa mengikuti ajaran beliau hingga akhir dari dunia.

Fenomena akhir kehidupan di dunia merupakan suatu hal yang gaib, merupakan sesuatu yang sering dipertanyakan, mulai dari awal Islam hingga dunia benar-benar berakhir. Bahkan sebagian kelompok atau bangsa tertentu berusaha memprediksinya. Akhir kehidupan dunia atau dalam kata lain adalah hari kiamat merupakan sebuah ajaran teologi dari berbagai ajaran, agama atau aliran kepercayaan.

Baru-baru ini berusaha ditampilkan ke permukaan tentang kepercayaan sebuah suku yang tinggal di semenanjung Yucatan, Amerika Tengah yang berbatasan dengan Samudera Pasifik di sebelah barat, dan Laut Karibia di sebelah timur. Suku yang pada zaman batu mencapai kejayaan di bidang teknologinya (250 M hingga 925 M), menghasilkan bentuk karya dan peradaban unik seperti bangunan (Chichen Itza), pertanian (kanal drainase), tanaman jagung dan latex . (http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Maya)

Muncul sebuah film yang terinspirasi oleh ide peristiwa hari kiamat global yang bersamaan dengan akhir putaran Kalender Hitungan Panjang Maya pada atau sekitar 12 Desember 2012 (titik balik matahari musim dingin belahan Bumi utara). Banyak dari kalangan orang awam yang rela berantri-antrian untuk sekedar menonton film ini, di pekan pertamanya, film ini meraih USD 225 juta (sekitar Rp 2,1 triliun) di pasar domestik AS saja, film itu telah meraup USD 65 juta (Rp 609 miliar), sedangkan sisanya berasal dari pasar luar negeri dengan pendapatan USD 17,2 juta (sekitar Rp 161 miliar). Sangat begitu antusias tanggapan dunia bahkan di Indonesia terhadap film ini. Sebuah pencapaian luar biasa, bahkan mungkin tak terprediksikan sebelumnya oleh bangsa Maya yang jadi landasan cerita film itu.

Kalender Maya yang berbasis astronomi akan mencapai siklus penuhnya yang besar selama sekitar 5.200 tahun pada 21 Desember 2012. Meskipun tidak ada bukti-bukti yang kuat bahwa bangsa Maya kuno menganggap tanggal ini signifikan, banyak orang yang telah menduga bahwa inilah “akhir seluruh Jagad raya” menurut perspektif Maya, dan yang lainnya percaya bahwa bangsa Maya memaksudkannya sebagai lambang dari “datangnya perubahan besar.” (http://id.wikipedia.org/wiki/Akhir_zaman#Maya)

Itulah sebuah keyakinan dari suku maya tentang akhir dari dunia. Namun bagaimanakah kita umat Islam? Akankah kita menelan mentah-mentah kabar atau isu yang datangnya dari orang non Islam? Sebuah kepercayaan tentang hari kiamat yang didasari oleh kepercayaan sebuah suku yang bukan beragama Islam.

Kembali Ke Bumi

Kembali ke Bumi

Allah Ta’ala berfirman:

مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى

Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain. (QS. Thoha: 55)

Seorang penyair berkata:

إِنَّ امْرَءًا يَصْفُوْ لَهُ عَيْـشُهُ لَغَافِلٌ عَمَّا تَجِـنُّ الْقُبُوْرُ

نَحْنُ بَنُوْ الأَرْضِ وَ سُكَّانُهَا مِنْهَا خُلِقْنَا وَإِلَيْـهَا نَصِيْرُ

Sungguh orang yang merasakan nikmatnya kehidupan

Dia tidak akan tahu apa yang ada di balik kuburan

Kami ini adalah putra bumi dan para penduduknya

Dari tanah kita diciptakan dan kepadanya dikembalikan

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Ed 55, hal. 60

Ragam Faedah Seputar Siwak

RAGAM FAEDAH SEPUTAR SIWAK
Abu Ashim

[1]. Menghilangkan Rasa Kantuk saat
khutbah jum’at dengan siwak

Ada pertanyaan yang sampai kepada Syaikh al-Utsaimin -rahimahullah- sebagai berikut: “Kapankan menggunakan siwak itu ditekankan? Apa hukum memakai siwak untuk menanti shalat ketika khutbah?”

Syaikh menjawab: “Ditekankan memakai siwak ketika bangun tidur, awal masuk rumah, ketika wudlu ketika berkumur, dan apabila bangun untuk melakukan shalat.

Tidak mengapa bagi orang yang menanti shalat memakai siwak, akan tetapi dalam keadaan khutbah tidak boleh bersiwak, karena menyibukkannya, kecuali apabila ia mengantuk, maka dibolehkan bersiwak untuk menghilangkan rasa kantuknya”. (Fatawa Arkan al-Islam, hlm. 215, no. 133, Dar Tsurayya, Riyadh, cet. 1, 1421 H, dikumpulkan oleh Fahd bin Nashir as-Sulaiman)

[2]. “Mereka bersiwak bersama-sama, tentu akan memakan kita !”

Ada sebuah hikayat batil yang telah disebutkan oleh sebagian penceramah dan pemberi nasihat yang berkaitan dengan siwak. Berikut kisahnya:

Pada suatu hari para sahabat sedang dalam peperangan. Dan ternyata orang-orang kafir berhasil menangkap mereka. Maka mereka bertanya-tanya tentang sebabnya. Kemudian mereka mengingat-ingat sunnah Nabi n apakah yang telah mereka tinggalkan? Kemudian mereka ingat tentang sunnahnya siwak.

Akhirnya mereka bersiwak. Dan musuhpun melihatnya. Kemudian mereka berlari terbirit-birit karena takut dari para sahabat. Mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka membersihkan gigi mereka –yaitu meruncingkannya– untuk memakan kita”. Demikianlah kisahnya.

Mengomentari kisah ini, asy-Syuqairi -rahimahullah- mengatakan: “Tidak ada asalnya. Bila engkau heran, maka yang lebih mengherankan lagi adalah kisah tersebut dibawakan oleh orang-orang yang berpura-pura mengetahui terhadap hikayat ini dan menyebarkannya kepada manusia di suatau perkumpulan dan pelajaran, padahal kisah tersebut batil”. (as-Sunan wa al-Mubtada’at, hlm. 29)

[3]. Meletakkan Siwak di telinga

Berikut ini adalah salah satu bentuk perhatian seorang sahabat terhadap siwak.
Abu Salamah bin Abdurrahman berkata: Aku melihat Zaid1) duduk di masjid dengan siwak berada di telinganya, sebagaimana sebuah pena di telinga seorang penulis. Setiap kali berdiri untuk shalat ia bersiwak”. (Dikeluarkan oleh Abu Dawud, no. 47 dan Syaikh al-Albani mengatakan: Shahih)

Kehidupan Para Nabi Di Alam Barzakh

KEHIDUPAN PARA NABI DI ALAM BARZAKH

Assalamu’alaikum. Ana mau tanya, apa benar ada hadits shahih yang menyebutkan bahwa para nabi hidup di dalam kubur mereka dan melakukan shalat di dalam kuburnya. Tolong dijelaskan. Kandiawan SH, Solo [081548590XXX]

Wa’alaikumussalam. Segala puji bagi Allah sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah, wa ba’du.

Ada sebuah hadits yang menyatakan bahwa para Nabi ‘alaihimusholatu wassalam hidup di dalam kubur dan mereka mengerjakan shalat di dalamnya. Hadits tersebut shahih dan telah dishahihkan oleh para ulama di antaranya al-Baihaqi, al-Munawi dan al-Albani rahimahumullah.

LAFAZH HADITS

Rasulullah -shallallah alaihi wa sallam- bersabda:

الأَنْبِيَاءُ – صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِمْ – أَحْيَاءٌ فِي قُبُوْرِهِمْ يُصَلُّوْنَ

“Para Nabi shalawatullahu ‘alaihim hidup di kubur mereka seraya mengerjakan shalat.”

Karena Itulah Aku Masuk Islam

Karena Itulah Aku Masuk Islam

Al-Husain bin Fahm -rahimahullah- berkata: Aku mendengar Yahya bin Aktsam -rahimahullah- bercerita: Dahulu Ma’mun –dan pada waktu itu ia telah menjadi seorang Amir- mempunyai majlis untuk berdiskusi. Lalu bersamaan dengan masuknya orang-orang masuklah seorang Yahudi yang berpenampilan rapi, berparas tampan dan memakai parfum yang wangi. Tatkala berbicara, perkataan dan ungkapannya pun bagus.

Kemudian tatkala majlis itu telah usai Ma’mun memanggilnya seraya berkata: Anda seorang Yahudi? Ya, jawabnya.
Ma’mun melanjutkan: Masuklah Islam, niscaya aku akan berikan apa yang engkau minta. Lalu ia memberi janji kepada orang itu.

Namun orang itu menjawab: Agamaku adalah agama nenek moyangku (yakni ia tetap memeluk Yahudi, pen). Kemudian ia pun pergi.

Yahya -rahimahullah- melanjutkan: Namun ternyata setelah setahun berlalu orang itu datang kembali majlis kami dalam keadaan telah memeluk agama Islam. 

Edisi 55

ed 55