Kisah Tragis Dalam Sejarah Hari Raya

Kisah Tragis Dalam Sejarah Hari Raya
Abu Ashim Muhtar Arifin Marzuqi, Lc

Ketika menjelaskan tentang biografi Muhammad bin Hubuli -rahimahullah-, yaitu seorang Imam yang menjadi Qadhi di kota Barqah, Imam adz-Dzahabi -rahimahullah- menceritakan bahwa Amir kota Barqah mendatangi beliau. Lalu Amir itu berkata: “Besok adalah hari raya”.

Imam menjawab: “(Kami tidak mau berhari raya) sampai melihat hilal, dan aku tidak (ingin) mengajak manusia untuk berbuka, lalu aku yang menanggung dosa mereka”.

Amir berkata: “Ini adalah isi surat yang berasal dari al-Manshur”.

Inilah di antara pendapat Ubaidiyyah, yaitu menyeru rakyat untuk berbuka dengan berdasarkan hisab dan mereka tidak menghiraukan terlihatnya hilal. Sedangkan pada saat itu hilal belum terlihat.

Keesokan harinya Amir itu (menabuh) gendang, (menegakkan) bendera-bendera yang besar.

Imam yang menjadi Qadhi tersebut berkata: “Aku tidak mau keluar dan tidak melakukan shalat (id)”.

Lalu Amir itu memerintahkan seseorang untuk berkhutbah dan menulis (melaporkan) apa yang terjadi tersebut kepada al-Manshur, lalu dia meminta agar Qadhi tersebut datang kepadanya, lalu beliau pun didatangkan.

Al-Manshur berkata: “Keluarlah engkau (untuk merayakan id-pen), niscaya aku akan memaafkanmu”.

Akan tetapi beliau tidak mau melakukannya. Lalu ia memerintahkan agar beliau di gantungkan di bawah terik matahari sampai meninggal dunia. Pada saat itu beliau meminta bantuan karena kehausan, akan tetapi tidak diberi air. Akhirnya beliau disalib di atas sebuah kayu”.

Setelah membawakan kisah ini Imam adz-Dzhahabi -rahimahullah- berkata: “Semoga Allah melaknat orang-orang yang zhalim”.

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah ED 54, hal. 67

Tinggalkan Balasan