Antara Utara dan Selatan Adalah Qiblat

Antara Utara dan Selatan Adalah Qiblat

Disusun oleh Abul Mundzir Abdur Rohman Hadi, Lc.
(Dosen STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya)

Alhamdulillah washsholatu wassalamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa man walah, la haula wa la quwwata illa billah, amma ba’du.

Sudah lama kita mendengar isu di negeri kita ini yang mengandung anjuran merubah arah qiblat masjid-masjid yang di rasa tidak lurus dengan Ka’bah, baik di Internet, dari lembaga-lembaga resmi, maupun perorangan. Akan tetapi, semakin hari semakin marak dan semakin banyak antusias para ta’mir untuk menyambut anjuran tersebut. Bisa jadi hal itu dikarenakan niat baik yang didorong kecemburuan agama yang tanpa didasari dengan ilmu dan tanpa pertimbangan, sehingga banyak menimbulkan keributan, kebingungan di tengah-tengah masyarakat, bahkan perpecahan kaum muslimin.

Salah satu contoh di Jawa Timur, ada salah satu masjid yang setelah didatangi petugas yang mengurusi masalah ini, jama’ahnya menjadi kebingungan, dan apabila sholat berjamaah antara satu makmum dengan yang lainya jadi berbeda arah, bahkan antara makmum dengan imamnya pun berbeda karena sebagian mengikuti arah masjid dan sebagian mengikuti arahan petugas tersebut. Bahkan yang lebih parah lagi, sebagian masjid didatangi kemudian langsung diubah dan digarisi shof-shofnya dengan cat dan dengan tanpa bertanya terlebih dahulu kepada ahli ilmu tentang masalah ini, wallohul musta’an.

Oleh karena itu, demi persatuan dan kesatuan, dan agar fitnah ini tidak meluas, maka kami terdorong memberikan sumbangsih makalah singkat yang berisikan fatwa-fatwa para ulama, yang mudah-mudahan bisa meyakinkan orang-orang yang selama ini ragu, memantapkan orang-orang yang yakin, dan menambah ilmu bagi kita yang belum memahami permasalahan ini. Selamat menyimak, wallohu waliyuttaufiq!

Sesungguhnya menghadap qiblat dalam sholat termasuk syarat sah sholat yang apabila seseorang sholat dengan tidak menghadap qiblat maka sholatnya tidaklah sah, kecuali bagi yang tidak mengetahui arah atau tidak mampu menghadap ke qiblat seperti ketika kondisi khouf (takut) dan sakit, atau bagi yang sholat sunnah di atas kendaraan, atau hal-hal lain yang dibolehkan oleh syari’at.

Walaupun demikian, Islam adalah agama yang mudah dan tidak membebani pemeluknya dengan apa yang tidak mampu dipikulnya. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Alloh menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. al-Baqoroh: 185)

Dalam ayat yang lain:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Alloh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. al-Baqoroh: 286)

Maka dalam hal ini, walaupun Islam menjadikan menghadap kiblat sebagai syarat sah sholat, akan tetapi tidak mewajibkan untuk menghadap lurus dengan benda Ka’bah bagi yang tidak melihatnya, tapi cukup dengan menghadap ke arah Ka’bah.

Dan Rosulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ قِبْلَةٌ

“Antara timur dan barat adalah kiblat.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah. Berkata Syaikh al-Albani, “Hadits shohih sebagaimana yang telah saya takhrij dalam Irwa`ul Gholil, no. 292, lihat Ashlu Shifati Sholati an-Nabi, jilid 1/71, karya Imam al-Albani rohimahulloh.)

Oleh karena itu, dengan melihat dalil-dalil di atas, dan dengan melihat maslahat bagi kaum muslimin secara umum terutama orang-orang yang lemah iman, dan agar tidak menjadi bahan ejekan bagi orang-orang yang benci terhadap Islam ketika ada perombakan-perombakan arah kiblat, maka kita perlu mempertimbangkan maslahat ini, -setelah ketetapan dalil di atas, sebagaimana Rosulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam sangat mempertimbangkannya ketika ingin mengubah Ka’bah dan mengembalikannya ke bentuk aslinya seperti yang dibangun Nabi Ibrohim ‘alaihis salam, akan tetapi diurungkan keinginannya dikarenakan khawatir akan muncul fitnah, padahal beliau mengetahui bahwa bangunannya tidak sesuai dengan bangunan aslinya. Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا عَائِشَةُ لَوْلاَ أَنَّ قَوْمَكِ حَدِيْثُوْ عَهْدٍ بِشِرْكٍ وَ لَيْسَ عِنْدِيْ مِنَ النَّفَقَةِ مَا يُقَوِّي عَلَى بِنَائِهِ لَأَنْفَقْتُ كَنْزَ اْلكَعْبَةِ فِي سَبِيْلِ اللَّهِ وَ لَهَدَمْتُ اْلكَعْبَةَ فَأَلْزَقْتُهَا بِاْلأَرْضِ ثُمَّ لَبَنَيْتُهَا عَلَى أَسَاسِ إِبْرَاهِيْمَ

“Wahai ‘Aisyah, kalau kaummu bukan dekat masanya dengan kesyirikan–, dan saya tidak memiliki biaya untuk membangunnya, niscaya akan saya infakkan (kurbankan) perbendaharaan Ka’bah di jalan Alloh- dan akan saya hancurkan Ka’bah dan ratakan dengan tanah, kemudian akan saya bangun sesuai dengan asas (pondasi) yang diletakkan Nabi Ibrohim…” (HR. al-Bukhori, dll. Lihat kelengkapan hadits dan takhrijnya dalam Silsilah Ahadits Shohihah: 1/43), karya Imam al-Albani rohimahulloh.)

Maka masjid-masjid yang sudah permanen tidak perlu diadakan perubahan, walaupun ahli di bidang ini mengatakan kiblatnya tidak lurus (segaris dengan Ka’bah, ed), karena dalil mengatakan “Antara Timur dan Barat adalah kiblat” (bagi penduduk Madinah atau yang searah dengannya, yang berada di utara atau selatan Ka’bah), maka tentunya antara utara dan selatan adalah kiblat bagi kita (di mana kita berada di timur atau barat Ka’bah).

Dan untuk memperjelas dan memperkuat apa yang kami uraikan di atas, berikut fatwa-fatwa dan penjelasan para ulama berkaitan dengan pembahasan ini:

  1. Fatwa al-Lajnah ad-Da’imah li al-Buhuts al-‘llmiyah wa al-Ifta’ (Komisi Tetap Bagian Studi Ilmiah dan Fatwa) di Kerajaan Arab Saudi, no. 3534, pimpinan Imam Abdul ‘Aziz bin Baz rohimahulloh dengan redaksi pertanyaan dan jawaban sebagai berikut.

    Pertanyaan: Di negeri kami banyak masjid-masjid yang mihrobnya miring ke arah kanan, hal ini disebabkan sebagian manusia meyakini sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam: “Antara timur dan barat adalah kiblat.” Dari sini, apakah cukup imam saja yang harus menghadap ke arah kiblat sedangkan makmumnya tidak?

    Jawaban: Wajib bagi imam dan makmumnya untuk menghadap ke arah kiblat, sebagaimana firman Alloh:

    فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ

    “Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (QS. al-Baqoroh: 144)

    Dan sabda Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam: “Antara timur dan barat adalah kiblat.” (HR. Tirmidzi dan beliau mengatakan, “Hadits ini hasan shohih.”)

    Hadits ini ditujukan kepada penduduk Madinah dan daerah yang serupa dengannya, yaitu yang berada di utara Ka’bah atau selatannya. Dhohir hadits ini menunjukkan bahwa antara keduanya (antara timur dan barat), semuanya adalah kiblat. Adapun bagi yang berada di arah timur dan barat dari Ka’bah, maka kiblat baginya adalah antara arah utara dan selatan, karena kalau seandainya yang dimaksudkan adalah lurus segaris benda Ka’bah, niscaya sholatnya orang-orang yang berada di shof yang panjang di atas satu garis lurus, demikian pula sholatnya dua orang yang berjauhan yang menghadap ke arah satu kiblat tidak akan sah, karena mustahil semuanya bisa menghadap ke ka’bah padahal panjang shofnya melebihi ukuran Ka’bah. Wabillahi at-Taufiq wa sholallohu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa alihi wa shohbihi wa sallam. (Lajnah Da’imah: 6/312-313)

2. Fatwa Imam Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin -rahimahullah-.

Beliau -rahimahullah- di tanya tentang suatu masjid yang kiblatnya miring dari arah kiblat yang sebenarnya seukuran kira-kira tiga derajat menurut alat penentu arah kiblat. Dan manusia sudah terbiasa sholat sesuai posisi arah masjid dikarenakan kebanyakan mereka tidak mengetahui kemiringan masjid dari arah kiblat. Apakah hal ini mempengaruhi keabsahan sholat?

Beliau menjawab: Apabila kemiringan tidak mengeluarkan manusia dari arah (antara timur dan barat, pen), maka hal itu tidak membahayakan, dan tidak diragukan lagi bahwa menetapi yang sudah ada adalah lebih baik. Adapun apabila kemiringan tersebut mengeluarkan manusia dari arah kiblat, seperti menghadap ke selatan padahal kiblatnya di timur, atau menghadap ke utara padahal kiblatnya di barat, atau menghadap ke arah timur padahal kiblatnya di selatan, maka tidak diragukan lagi masjid tersebut harus di rubah atau cukup menghadap ke arah kiblat walaupun arah masjidnya berbeda (Majmu’ fatawa wa Rosail Fadilatis Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin: (329/ 12/414)

3. Penjelasan Syaikh Abdulloh Alu Bassam -rahimahullah-.

Dalam menjelaskan hadits Bulughul Marom ke: 167. Dari Abu Huroiroh -radhiallohu anhu- berkata, Rosulullah -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda “Antara timur dan barat adalah kiblat” (HR. Tirmidzi dan dikuatkan oleh Bukhori)
Beliau mengatakan, yang bisa diambil fa’idah hukum dari hadits ini adalah:

a. Arah pokok ada empat, utara, selatan, timur dan barat. Dan jarak antara timur dan barat adalah (180) derajat, yang semuanya merupakan kiblat bagi yang tidak menyaksikan ka’bah. Dan seperti ini juga ukuran untuk arah yang lain.

b. Hadits ini menunjukkan, bahwa bagi orang yang menyaksikan ka’bah, maka sholatnya harus menghadap ke (benda) ka’bah. Sebagamana hadits ini menunjukkan pula, bahwa antara dua arah adalah kiblat dan cukup hanya menghadap ke arahnya. (Taudihul al-Ahkam min Bulughil marom: 1/449).

Dan senada dengan di atas apa yang di ukir oleh Imam al-Albani -rahimahullah- dalam kitabnya Aslu Sifatis Sholatin Nabi : (1/71) dan ulama’ lainnya, Akan tetapi tiga fatwa di atas saya kira cukup untuk memahamkan dan memberikan penerangan kepada kita tentang permasalahan ini. Dan mudah-mudahan memberikan manfaat bagi kita semua, Amin.

3 Responses to Antara Utara dan Selatan Adalah Qiblat

  1. Telah dibuka, forum komunikasi internet (saat ini) khusus mahasiswa dan alumni STAI Ali Bin Abi Thalib Surabaya ( Ma’had Ali Al-Irsyad Al-Islami) di http://komunitas.stai-ali.ac.id/
    Mohon disebar luaskan.

  2. Fahrul berkata:

    Asssalamu ‘alaikum
    Saya mau tanyakan bagaimana hukum shalat di masjid yang arahnya sekitar 30 derajat dari barat ke selatan,sah atau tidak? . Mohon penjelasannya Ustadz,Jazakallah

Tinggalkan Balasan