Monthly Archives: Agustus 2009

Adab-Adab Seputar Puasa

Adab-Adab Seputar Puasa

1. Seorang muslim berpuasa karena mengharap wajah Allah ta’ala, dengan penuh keimanan dan mengharap pahala.
Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, niscaya akan diampuni apa yang telah lampau dari dosanya. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

2. Berniat untuk berpuasa pada malam harinya, sebagaimana sabda Nabi shollallahu alaihi wa sallam :

مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ

Barangsiapa yang tidak meniatkan puasa dari malam harinya, maka tidak ada puasa baginya. (HR. Ahmad, Abu Daud, an-Nasa`i dan Ibnu Majah).

3. Tidak menganggap remeh makan sahur, Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda:

السَّحُوْرُ كُلُّهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوْهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِيْنَ

Sahur itu seluruhnya adalah barokah, maka itu janganlah kalian meninggalkannya walaupun hanya dengan seteguk air, sesungguhnya Allah dan para Malaikatnya bershalawat kepada orang-orang yang bersahur.” (HR. Ibnu Hibban dan ath-Thabrani)

Nashoih Ramadhoniyyah

نَصَائِحُ رَمَضَانِيَّةٌ

Bulan Qiyam dan Shiyam

لاَ تَجْعَلْ رَمَضَانَ شَهْرَ فُكَاهَةٍ                   تُلْهِيْكَ فِيْهِ مِنَ الْحَدِيْثِ فُنُوْنُهُ

واعْلَمْ بأنَّكَ لاَ تَنَالُ ثَوَابَهُ                        حَتَّى تَكُوْنَ تَصُوْمُهُ وَتَقُوْمُهُ

Janganlah kau jadikan Ramadhan bulan gelak tawa

Hingga beragam obrolan dapat melalaikanmu darinya

Ketahuilah, kau tidak akan mendapatkan pahalanya

Hingga menghidupkannya dengan shalat dan puasa

[Jadzwah al-Iqtibas, jilid 1, hlm. 57]

Beberapa Larangan Di Bulan Ramadhan

Beberapa Larangan Di Bulan Ramadhan

Berikut kami paparkan beberapa larangan yang berkaitan dengan ibadah puasa di bulan Ramadhan dalam rangka menyambut bulan suci nan penuh berkah.

I. Larangan berpuasa sebelum melihat hilal.

Dari Abdullah bin Umar -radhiallohu anhuma, Nabi -shollallohu alaihi wa sallam- bersabda:

لاَ تَصُوْمُوْا حَتَّى تَرَوْا الْهِلاَلَ وَلاَ تُفْطِرُوْا حَتَّى تَرَوْهُ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوْا لَهُ

Janganlah kalian berpuasa (ramadhan) sampai kalian melihat hilal, dan janganlah kalian berbuka (berhari raya) sampai kalian melihat hilal, jika awan menutupi hilal maka sempurnakanlah bulan (menjadi 30 hari). (HR. al-Bukhari & Muslim)

FAEDAH PEMBAHASAN:

1. Bagi umat Islam agar memperhatikan jumlah hari dalam bulan Sya’ban dalam rangka menyambut bulan ramadhan, karena tiap bulan terkadang 29 atau 30 hari, maka berpuasalah jika melihat hilal, jika hilal terhalang mendung/awan maka sempurnakanlah bilangan menjadi 30 hari.

2. Penentuan awal Ramadhan dan Syawal dengan Ru’yah hilal (melihat hilal), bukan dengan hisab atau ilmu falak.
Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah rah berkata: “Tidak diragukan bahwa telah tetap dari Sunnah yang shahihah dan kesepakatan para sahabat bahwa tidak dibolehkan bersandar kepada hisab/perbintangan dalam penetapan awal puasa Ramadhan atau Syawal, sebagaimana riwayat dalam shahihain (shahih al-Bukhari dan Muslim).