Monthly Archives: Mei 2009

Kajian & Bedah Buku Ust Abu Ihsan & Ustadzah Ummu Ihsan

Kajian Akhwat

Pemateri: Ustadzah Ummu Ihsan

Hari/Tanggal: Sabtu/30 Mei 2009

Waktu: 08.30 wib – Selesai

Tempat: Rumah Ibu Eni Krispantoro – Jl. Klampis Indah X No. 10 (Wisma Mukti) Surabaya

Materi: Nasehat Untuk Wanita

Untuk Umum Khusus Akhwat

————————————————————————————————————————————————-

Kajian Akhwat

Pemateri: Ustadzah Ummu Ihsan

Hari/Tanggal: Sabtu/30 Mei 2009

Waktu: Ba’da Ashar – Selesai

Tempat: Darut Tarbiyatul Ummah – Jl. Pegirian No. 234 Surabaya

Materi: Penyakit Hati

Untuk Umum Khusus Akhwat

————————————————————————————————————————————————-

Surga Itu Di Bawah Telapak Kaki Ibu

Surga Itu Di Bawah Telapak Kaki Ibu

SURGA DI BAWAH TELAPAK KAKI IBU

Telah kita ketengahkan pada edisi sebelumnya[1] sebuah hadits yang berbunyi:

اَلْجَنَّةُ تَحْتَ أَقْدَامِ الأُمَّهَاتِ، مَنْ شِئْنَ أَدْخَلْنَ وَ مَنْ شِئْنَ أَخْرَجْنَ

Surga itu di bawah telapak kaki ibu, siapa yang ia kehendaki maka akan dimasukkan dan siapa yang ia ingini maka akan dikeluarkan. (Silsilah al-Ahâdîts adh-Dha’îfah, no. 593)

Kemudian kita jelaskan bahwa hadits dengan lafazh di atas adalah palsu. Dan ada juga yang lemah. (lihat: Dha’îf al-Jâmi’ ash-Shaghîr, no. 2666)

Setelah itu kami tegaskan bahwa ungkapan yang masyhur ini adalah ucapan manusia semata (bukan hadits)[2]. Dan sampai di sini pembahasan singkat kita pada waktu itu.

LAFAZH LAIN BERDERAJAT HASAN

Namun perlu diketahui, ada riwayat lain yang semakna dengan hadits di atas dengan lafazh yang berbeda yang berderajat hasan. Yang mana secara maknanya menunjukkan bahwa surga itu di bawah telapak kaki ibu. Berikut bunyi hadits tersebut:

Edisi 51

edisi-51

Adzan dan Iqomah di Telinga Bayi

Adzan dan Iqomah di Telinga Bayi

Assalâmu’alaikum, ana mau tanya, apakah adzan dan iqomat di telinga bayi yang baru lahir itu bid’ah? Syukran. [+62881559xxxx]

Wa’alaikumussalâm, sebelum kita menyimpulkan mari kita simak dua hadits di bawah ini:

[1]. Seputar Adzan Di Telinga Bayi

Dari Ubaidillah bin Abu Rafi’ dari ayahnya ia berkata:

رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِيْنَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلاَةِ

Aku pernah melihat Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- mengumandangkan adzan seperti (adzan) untuk shalat di telinga Hasan bin Ali setelah dilahirkan oleh Fatimah. (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Pada mulanya Syaikh al-Albani -rahimahullah- menghukumi hasan hadits di atas. Dan ini dapat dilihat pada kitab karya beliau Irwâ` al-Ghalîl, no. 1173, dan Shahîh al-Kalim ath-Thayyib, no. 167 cetakan Maktabah al-Ma’arif.

Namun kemudian beliau melamahkan hadits tersebut pada takhrij beliau terhadap kitab Sunan at-Tirmidzi, no. 1514, Sunan Abi. Dawūd, no. 5104, Hidâyah ar-Ruwât, no. 4085, dan Silsilah al-Ahâdîts adh-Dha’îfah, no. 321 cetakan terbaru. Silahkan lihat: al-I’lâm bi Âkhir Ahkâm al-Albâni al-Imâm, karya Muhammad bin Kamal Khalid as-Suyuthi, hlm. 90-91, cetakan Dâr Ibn Rajab.

Kesimpulannya, hadits di atas adalah lemah.

Surga di Telapak Kaki Ibu

Assalâmu’alaikum warahmatullâhi wabarakâtuh, ‘afwan ana mau tanya tentangg ungkapan “surga di telapak kaki ibu” benar dari hadits rasul atau hanya perkataan manusia. Jazâkumullahu khairan wassalâm. [02819134XXX]

Wa’alaikumussalâm warahmatullâhi wabarakâtuh, dalam sebuah hadits disebutkan:

اَلْجَنَّةُ تَحْتَ أَقْدَامِ الأُمَّهَاتِ، مَنْ شِئْنَ أَدْخَلْنَ وَ مَنْ شِئْنَ أَخْرَجْنَ

Surga itu di bawah telapak kaki ibu, siapa yang ia kehendaki maka akan dimasukkan dan siapa yang ia ingini maka akan dikeluarkan.

Tapi hadits di atas adalah palsu. Syaikh al-Albani -rahimahullah- berkata dalam Silsilah al-Ahâdîts adh-Dha’îfah, no. 593: “Hadits ini palsu.”

Ada juga riwayat yang menyebutkan penggalan pertama saja dari hadits di atas, namun haditsnya dihukumi lemah oleh Syaikh al-Albani – rahimahullah-. Silahkan lihat: Dha’îf al-Jâmi’ ash-Shaghîr, no. 2666.

Dari sini kita ketahui, bahwa ucapan yang telah masyhur di tengah-tengah kaum muslimin tersebut bukanlah hadits Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam-, namun hanya ucapan manusia semata, wallâhu a’lam.

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 50 hal. 8

Sunnah Safar Dengan Teman

Sunnah Safar Dengan Teman

‘Afwan ustadz, apakah hadits yang menerangkan sunnah safar tidak sendirian shahih ustadz, syukron. [085247167XXX]

Hadits yang menerangkan tentang hal tersebut adalah shahih. Di bawah ini kami bawakan tiga buah hadits seputar permasalahan:

[1]. Ibnu Umar -radhiallohu anhuma- berkata:

نَهَى عَنِ الْوَحْدَةِ أَنْ يَبِيْتَ الرَّجُلُ وَحْدَهُ، أَوْ يُسَافِرَ وَحْدَهُ

Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- melarang menyendiri, yakni seseorang tidur malam sendiri atau pergi safar sendiri. (hadits shahih. lihat ash-Shahîhah, no. 60)

Senada dengan perkataan di atas apa yang diucapkan oleh Umar bin al-Khaththab radhiallohu anhu, ia berkata: “Janganlah seorang dari kalian safar sendirian, dan jangan pula ia tidur di rumah sendirian.”

[2]. Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda:

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ فِي الْوَحْدَةِ مَا أَعْلَمُ مَا سَارَ رَاكِبٌ بِلَيْلٍ وَحْدَه(أَبَدًا

Kalau saja manusia mengetahui dalam kesendirian sebagaimana yang aku ketahui, pasti ia tidak akan berani bepergian sendirian selamanya. (hadits shahih. lihat ash-Shahîhah, no. 61)

Posisi Makmum Ketika Berdiri Sendiri

Posisi Makmum Ketika Berdiri Sendiri

Assalâmualaikum. Ana mau tanya nih, mengenai posisi makmum bila ia sendiri di shaf kedua, apa di tengah, di pojok kiri atau di pojok kanan? Syukran. [+6281276671XXX]

Wa’alaikumussalâm. Untuk menjawab pertanyaan di atas, kami akan bawakan fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz -rahimahullah- yang berkaitan dengan permasalahan tersebut.

Beliau pernah ditanya, “Apakah shaf itu dimulai dari sebelah kanan atau tepat di belakang imam? Apakah disyariatkan harus seimbang antara shaf sebelah kanan dengan sebelah kiri? Sebab sering dikatakan, “Seimbangkanlah shafnya” sebagaimana yang banyak diucapkan oleh para imam?”

Beliau -rahimahullah- menjawab: “Shaf itu dimulai dari tengah yang terdekat dengan imam, dan shaf sebelah kanan lebih utama dari pada shaf sebelah kiri, kemudian yang wajib adalah tidak dimulai shaf (baru) sehingga shaf sebelumnya terisi penuh.

Tidak mengapa orang-orang yang berada di shaf sebelah kanan lebih banyak (dari pada shaf sebelah kiri, pen), dan tidak perlu diseimbangkan. Bahkan perintah untuk menyeimbangkan antara kedua shaf tersebut adalah menyalahi sunnah.

Hanya saja tidak boleh membuat shaf kedua sebelum shaf pertama penuh, tidak pula shaf ketiga sebelum shaf kedua penuh dan demikian seterusnya untuk shaf-shaf berikutnya. Sebab ada riwayat shahih dari Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- yang memerintahkan hal ini.” [Tuhfah al-Ikhwân bi Ajwibah Muhimmah Muta’alliqah bi Arkân al-Islâm, hlm. 101, cetakan Dâr al-Khudhairi]