Haramnya Perdukunan

Haramnya Perdukunan,
Mendatangi, dan Membenarkannya

Dukun atau Paranormal adalah orang yang mengkabarkan tentang perkara-perkara pada masa yang akan datang dan mengaku mengetahui hal-hal yang gaib. Pada zaman dahulu, di negeri arab dukun mengaku mengetahui segala sesuatu dengan bantuan jin. (Syarh as-Sunnah, Imam al-Baghawi, jilid 12, hlm. 182)

Perdukunan di negeri kita khususnya dan di berbagai Negara pada umumnya tumbuh dengan sangat subur, mempunyai peminat yang sangat banyak dari berbagai kalangan, dari orang awam sampai kalangan yang paling terpelajar, rakyat jelata sampai pejabat. Merekapun rela berantrian dan membayar mahal untuk menemui sang dukun.

Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا هَؤُلَاءِ أَهْدَى مِنَ الَّذِينَ آَمَنُوا سَبِيلًا

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab? mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. (QS. an-Nisa: 51 )

Al-Jibt adalah sihir atau perdukunan. (Tafsîr al-Qur`ân al-Azhîm, jilid 1, hlm. 454)

DALIL LARANGAN DARI HADITS

[1]. Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّافاً فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ فَصَدَّقَهُ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً

Barangsiapa yang mendatangi dukun lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu kemudian ia membenarkannya maka tidaklah diterima sholatnya selama 40 hari. (HR. Muslim 2230)

[2]. Dalam redaksi lain beliau -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda:

مَنْ أَتىَ كَاهِنًا فَسَأَلَهُ وَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

Barangsiapa yang mendatangi dukun lalu ia bertanya kepadanya dan membenarkannya, maka sungguh dia telah kufur dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad. (HR. al-Bazzar dengan sanad bagus) (Lihat: al-Qoul al-Mufîd Syarh Kitâb at-Tauhîd, Syaikh al-Utsaimin, jilid 1, hlm. 544)

FEDAH PEMBAHASAN

1. Tidaklah terkumpul antara membenarkan perdukunan dengan iman terhadap al-Qur’an. (al-Qoul al-Mufîd, jilid 1, hlm. 551)
Sebagaimana sabda Nabi n yang telah lewat.

2. Tidaklah ada yang mengetahui hal ghaib kecuali Allah semata.
Allah ta’âlâ berfirman:

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah. (QS. an-Naml: 65)

3. Apa-apa yang telah dikabarkan oleh dukun dari hal-hal ghaib, yang dia dapatkan dari bisikan jin atau setan telah tambahi dengan seratus kali kebohongan.

Dari Aisyah -radhiallohu anha- berkata: “Orang-orang dahulu bertanya kepada Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- perihal para dukun, lalu beliau -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda: “Mereka tiada ada apa-apanya.”

Mereka berkata: Sesungguhnya mereka berbicara tentang hal-hal aneh dan terkadang benar-benar terjadi.”

Lalu beliau bersabda: “Ucapan tersebut dari al-Haq yang dicuri oleh golongan jin, kemudian ia membisikannya ke telinga yang pengikutnya dengan ditambah-tambahi dengan seratus kedustaan.” (HR. al-Bukhari, no. 5762, Muslim, no. 2228)

4. Perdukunan sangatlah banyak jenis dan macamnya, seperti melihat atau meramal nasib, kejadian yang akan datang, rizki, jodoh dll, dengan media kartu, telapak tangan, perbintangan, dll.

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Ed 50, hal. 35-36

Tinggalkan Balasan