Monthly Archives: April 2009

Haramnya Perdukunan

Haramnya Perdukunan,
Mendatangi, dan Membenarkannya

Dukun atau Paranormal adalah orang yang mengkabarkan tentang perkara-perkara pada masa yang akan datang dan mengaku mengetahui hal-hal yang gaib. Pada zaman dahulu, di negeri arab dukun mengaku mengetahui segala sesuatu dengan bantuan jin. (Syarh as-Sunnah, Imam al-Baghawi, jilid 12, hlm. 182)

Perdukunan di negeri kita khususnya dan di berbagai Negara pada umumnya tumbuh dengan sangat subur, mempunyai peminat yang sangat banyak dari berbagai kalangan, dari orang awam sampai kalangan yang paling terpelajar, rakyat jelata sampai pejabat. Merekapun rela berantrian dan membayar mahal untuk menemui sang dukun.

Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا هَؤُلَاءِ أَهْدَى مِنَ الَّذِينَ آَمَنُوا سَبِيلًا

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab? mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. (QS. an-Nisa: 51 )

Al-Jibt adalah sihir atau perdukunan. (Tafsîr al-Qur`ân al-Azhîm, jilid 1, hlm. 454)

Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i –rahimahullah-

Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i –rahimahullah-
Oleh Syaikh Ali Hasan al-Halabi al-Atsari[1]

Nama & Pertumbuhan

Nama Beliau adalah Muqbil bin Hadi bin Muqbil al-Wadi’i, sedangkan kunyahnya adalah Abu Abdirrahman. Beliau berasal dari desa Dammâj di Yaman. Syaikh Muqbil –rahimahullah- tumbuh dan besar dalam keadaan yatim (ditinggal wafat oleh kedua orang tuanya).

Beliau pernah belajar di beberapa madrasah al-Qur`an yang tersebar di berbagai desa dan daerah pedalaman. Ia berhasil menghafalkan al-Qur`an di sana dan belum pernah masuk sekolah resmi sekalipun. Di samping itu, Syaikh sibuk menggembala kambing[2], aktifitas Beliau yang satu ini berperan amat besar dalam menata kepribadian Beliau, serta mendidiknya menjadi sosok manusia penyabar.

Perjalanan Menuntut Ilmu

Ketika menginjak dewasa, Beliau pindah ke Negeri al-Haramain (Saudi Arabia) untuk bekerja dan mencari rizki, sebagaimana hal ini telah menjadi kebiasaan penduduk negeri sekitar Arab Saudi pada waktu itu, yakni mereka banyak melakukan perjalanan jauh untuk mencari rizki. Dan hal ini adalah sesuatu yang disyariatkan.

Di samping bekerja di sana, pada tahun 1964 M Beliau mulai belajar mencari ilmu agama di Mekkah, sekaligus bekerja di Masjidil Haram. Sehingga, Beliau bekerja mencari nafkah di siang hari, sedangkan pada malam harinya beliau manfaatkan untu belajar mencari ilmu agama.

Tidak diragukan lagi, bahwa jerih payah menundukkan jiwa untuk menuntut ilmu agama dan bekerja mencari nafkah, yang mana keduanya adalah perkara yang penting, masing-masing ada tuntunannya dalam syariat dan merupakan bidang yang tersendiri. Maka, betapa hebatnya, apabila keduanya dapat terkumpul pada diri seseorang, mencari rizki di siang hari dan menuntut ilmu di malam hari. Sehingga, bisa jadi hal ini menjadi penyebab Beliau diberikan rizki berupa harta dan ilmu. 

Edisi 50

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 50 Bulan Mei 09

cover-ed-50

Ibnu Katsir -rahimahulla- Bukan Khawarij

Ibnu Katsir -rahimahullah- Bukan Khawarij

Oleh: Abu Abdirrahman bin Thoyyib

Khawarij merupakan salah satu kelompok sesat yang pertama muncul di tengah kaum muslimin. Meskipun tidak ada pada zaman ini kelompok yang bernama Khawarij, namun pemikiran mereka banyak diadopsi oleh gerakan-gerakan Islam kontemporer. Diantara ciri khas mereka adalah mengkafirkan penguasa kaum muslimin yang tidak berhukum dengan hukum Allah, secara mutlak tanpa perincian. Dan mereka berusaha untuk mencari-cari dalih dan dalil, meskipun bukan pada tempatnya, atau mereka sendiri tidak paham akan apa yang mereka sampaikan.

Diantara syubhat mereka adalah ucapan Imam Ibnu Katsir v yang berkaitan dengan tafsir surat al-Maidah ayat 50, yang secara sepintas mereka pahami, bahwa beliau secara mutlak mengkafirkan penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Allah. Padahal maksud ucapan beliau bukan seperti apa yang mereka pahami.

Imam Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata : “Allah mengingkari orang yang keluar dari hukum Allah yang muhkam (jelas), yang meliputi semua kebaikan dan yang melarang dari segala kejelekan, lalu dia condong kepada selain hukum Allah baik berupa pendapat-pendapat, hawa nafsu dan istilah-istilah yang dibuat-buat oleh tokoh-tokohnya, tanpa landasan dari syariat Allah. Sebagaimana keadaan orang-orang jahiliyah yang berhukum dengan kesesatan dan kebodohan yang mereka buat sendiri dengan akal dan hawa nafsu mereka.

Syaikh Ali Bin Hasan al-Halabi al-Atsari

Biografi Singkat

Syaikh Ali Bin Hasan al-Halabi al-Atsari حفظه الله-

Oleh: Muhammad Sulhan Jauhari


“Para ulama dan imam agama ini senantiasa menjelaskan tipu daya setan dan memperingatkan umat dari kesesatan. Oleh sebab itu mereka menulis karya-karya tulisan, sehingga dapat dipetik faedahnya oleh generasi dahulu dan akan diambil oleh generasi yang akan datang”[1].

Nasab

Beliau adalah seorang Syaikh salafi, pengarang kitab-kitab manhaj dan peneliti kitab-kitab ilmiah, nasab Beliau adalah Ali bin Hasan bin Ali bin Abdulhamid, Abul Harits, penisbatan Beliau adalah al-Halabi, adapun tempat hijrahnya adalah Yordania.

Ayah dan kakek Syaikh Ali hijrah dari kota Yafa, Palestina menuju Yordania pada tahun 1368 H (1948 M), karena adanya peperangan yang dikobarkan oleh zionis Yahudi.

Tempat & Tahun Kelahiran

Syaikh Ali al-Halabi dilahirkan di kota az-Zarqâ’ Yordania pada tanggal 29 Jumadil Ula tahun 1380 H.

Pendidikan

Syaikh berhasil menyelesaikan jenjang pendidikan tingkat atas dengan sukses pada tahun 1398 H (1978 M). Kemudian Beliau melanjutkan pendidikannya ke fakultas Bahasa Arab di Amman, untuk mempelajari cabang ilmu bisnis dan akuntansi, akan tetapi Allah tidak menakdirkan kepada Beliau untuk menyelesaikan kuliahnya tersebut.

Guru

Syaikh memulai menuntut ilmu agama sekitar seperempat abad yang lalu. Dan Beliau mengambil ilmu ini dari banyak guru. Berikut diantara guru Beliau yang terkemuka:

Apakah Imamah Termasuk Prinsip Dakwah Salafiyah?

Apakah Imamah Termasuk Prinsip Dakwah Salafiyah?

Tanya Jawab Bersama Fadhilah Syaikh DR. Shalih bin Sa’ad as-Suhaimi dan Fadhilah Syaikh DR. Ibrahim bin Amir ar-Ruhaili Hafizhahumallah[1]

1. Pertanyaan: Apakah di antara prinsip dakwah salafiyah adalah Imamah (kepemimpinan)?

Syaikh Shalih as-Suhaimi menjawab: Imâmah atau Khilâfah (kekhalifahan), yang pertama kali menjadikannya sebagai prinsip adalah kelompok Rafidhah dan Mu’tazilah. Imâmah itu memang diharapkan, setiap muslim berkeinginan agar kaum muslimin berada di bawah satu bendera dan satu khalifah. Akan tetapi hal ini telah berlalu dari masa Khulafâ` ar-Râsyidîn, bahkan dari keluarnya Abdurrahman ad-Dakhil dari kekhalifahan ‘Abbasiyah. Sejak saat itu hingga sekarang, ulama-ulama kita menyatakan, barangsiapa yang berkuasa di negeri-negeri kaum muslimin atau wilayah mereka, meskipun menang dengan cara kudeta dan dia menegakkan syariat Allah atau mendirikan shalat di tengah mereka, maka wajib untuk membaiat dan mentaatinya, serta diharamkan untuk keluar dari kepemimpinannya, dan tidak disyaratkan harus berupa al-Imâmah al-‘Uzhmâ (kepemimpinan yang luas).

Adapun persangkaan bahwa al-Imâmah al-‘Uzhmâ itu masih ada pada Daulah Utsmaniyah, maka ini tidaklah benar. Daulah Utsmaniyah memiliki banyak kebaikan dan penaklukan (terhadap negeri kafir), akan tetapi Daulah tersebut sama sekali tidak menghukumi kaum muslimin dengan syariat Allah, kecuali dalam negeri mereka sendiri, dan itupun sesuai dengan madzhab Hanafi. Adapun negeri-negeri islam yang lain, maka dikuasai oleh hukum barat. Bahkan, hukum barat telah banyak merajalela pada mayoritas negeri-negeri kaum muslimin, khususnya di negeri Arab, sejak pertengahan atau akhir masa Abbasiyah. Bukankah demikian?? Kejahilan telah menguasai negeri-negeri itu selama berabad-abad lamanya. Dan mereka, Daulah Utsmaniyah, tidak merubah sedikitpun dari kesyirikan yang dilakukan oleh orang-orang dan peribadahan kepada kuburan. Persangkaan bahwa daulah Utsmaniyah adalah al-Imâmah al-‘Uzhmâ dengan segala maknanya yang benar dan diharapkan oleh setiap muslim tidaklah benar.

Pendaftaran Mahasiswa Baru STAI-ALI

stai-depanstai-belakang

Kilas Balik Pencetus Takfir

Kilas Balik Pencetus Takfir
Oleh: Abu Abdirrahman bin Thoyyib

Berbicara mengenai terorisme dan pengeboman yang terjadi akhir-akhir ini di berbagai negara, khususnya Indonesia dan Saudi Arabia, tidak terlepas dari pembahasan masalah takfir/pengkafiran. Tidaklah mereka yang berani dan nekad serta tega membunuh kaum muslimin, entah dengan bom bunuh diri atau bom waktu dan yang lainnya, melainkan telah mengakar dalam hatinya pemikiran takfir. Mereka menganggap bahwa kaum muslimin sekarang ini tidak ada bedanya dengan orang-orang kafir (Yahudi maupun Nashoro). Maka dari itu mereka menghalalkan darah, harta dan kehormatan kaum muslimin.

Sejarah telah membuktikan akan hal ini. Tidaklah orang-orang Khowarij[1] menghalalkan darah Ali dan para sahabat yang lain rodhiyallohu ‘anhum, melainkan dilatarbelakangi oleh keyakinan mereka, bahwa Ali dan para sahabat itu telah kafir. Oleh karena itu simak dengan seksama hal-hal berikut ini :

A- Peringatan akan bahaya takfir

Masalah takfir adalah masalah yang amat sensitif. Tidak boleh seseorang berbicara dalam masalah ini, kecuali dengan ilmu serta petunjuk dari para ulama. Karena barangsiapa yang mengkafirkan saudaranya muslim tanpa ilmu, maka dia telah melakukan dua kesalahan fatal, yaitu :

1- Berbicara terhadap Allah tanpa ilmu. Padahal Allah berfirman :

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا

“Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah.” (QS. Al-An’am : 21).

Dan Dia juga berfirman :

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”.” (QS.Al-A’roof : 33)

Dan Allah berfirman :

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS.Al-Isra’ : 36)

Bedah Buku Fadhilah Sholat Tahajjud

Bedah Buku Fadhilah Sholat Tahajjud

Oleh: Ust Mubarak Bamu’allim

Tempat: Masjid Jami’ Makkah Jl. Bendul Merisi Tengah – Surabaya

Waktu: Ahad, 5 April 2009 – 09.00 wib s/d Ba’da Dhuhur

Daurah Ust Abu Ihsan 4-5 April

Bedah Buku

Hari/Tanggal: Sabtu 4 April 2009

Waktu: Ba’da Maghrib – Selesai

Tempat: Masjid Jami’ Makkah Jl. Bendul Merisi Tengah Surabaya

Materi: Surat Terbuka Untuk Para Istri

———————————————————————————–

Bedah Buku

Hari/Tanggal: Minggu 5 April 2009

Tempat: Masjid Al-Ikhlas Jl. Tanjung Sadari 59 Surabaya

Materi: Umat Islam di kepung Dari Segala Penjuru

———————————————————————————–

Kajian Akhowat

Hari/Tanggal: Minggu 5 April 2009

Waktu: Ba’da Ashar – Selesai

Tempat: Darut Tarbiyatul Ummah Jl. Pegirian No. 234 Surabaya