Kewajiban Pemerintah Dan Rakyat

Kewajiban Pemerintah Dan Rakyat
Oleh : Syaikh Walid bin Muhammad Saif An Nasr حفظه اللهَ

Melihat adanya beberapa kelompok yang hendak menyalakan api kerusuhan dan mengancam keamanan umat Islam dan kaum muslimin, mereka mengkafirkan pemerintahan Islam dan menyebut kesalahan-kesalahan penguasa di atas mimbar, dan menganggap tindakan mereka adalah jihad untuk meninggikan bendera Islam.

Maka dalam upaya menyingkap kebatilan mereka dan menepis kedustaan-kedustaan mereka serta menjelaskan cara yang benar dalam bermua’malah antara rakyat dan pemerintah, kami hadirkan di hadapan para pembaca makalah yang ditulis oleh Fadhilatus syaikh Walid bin Muhammad Saif An Nasr hafidzohulloh (salah seorang murid Syaikh al-Albani di Bahrain).

Semoga menjadi air yang menyegarkan rasa haus orang-orang yang mencari kebenaran dan sekaligus menjadi obat yang menyembuhkan sakit hati orang-orang yang mau kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman Salaful Ummah.

KEWAJIBAN PEMERINTAH (UNTUK BERBUAT ADIL) TERHADAP RAKYATNYA
Allah berfirman :

“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan (memerintahkan kalian) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kalian menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. “ (QS. An-Nisa’ : 58 )
“Sesungguhnya Allah memerintahkan(kalian) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat dan Allah melarang dari perbuatan keji ,kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. “ (QS. An-Nahl : 90 )

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah) maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik (QS. Al-Maidah : 49 )

“Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong , banyak memakan yang haram. Jika mereka (orang Yahudi)datang kepadamu (untuk meminta putusan),maka putuskanlah (perkara itu) atau berpalinglah dari mereka. Jika kamu berpaling dari mereka maka mereka tidak akan memberi mudharat kepadamu sedikitpun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.” (QS. Al-Maidah : 42 )

Dari Abu Hurairah -radhiallohu anhu-, bahwasanya Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda :

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ : إِمَامٌ عَادِلٌ

“Tujuh golongan manusia yang diberi naungan oleh Allah dengan naungan-Nya pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya; pemimpin yang berbuat adil …” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah -radhiallohu anhu-, ia berkata, Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda :

أَرْبَعَةٌ يُبْغِضُهُمُ اللهُ : البَيَّاعُ الْحَلاَّفُ وَ الْفَقِيْرُ الْمُخْتَالُ وَ الشَّيْخُ الزَّانِيُّ وَ الإِمَامُ الْجَائِرُ

“Empat golongan manusia yang dimurkai oleh Allah; pedagang yang banyak bersumpah, orang fakir yang sombong, orang lanjut usia yang berbuat zina dan pemimpin yang berbuat dzolim.” (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Hibban )

Dari Ibnu Umar -radhiallohu anhuma- ia berkata :

كُنَّا عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ : ((كَيْفَ إِذَا وَقَعَتْ فِيْكُمْ خَمْسٌ ؟ وَ أَعُوْذُ بِاللهِ أَنْ تَكُوْنَ فِيْكُمْ أَوْ تُدْرِكُوْهُنَّ : مَا ظَهَرَتْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ يُعْمَلُ بِهَا فِيْهِمْ عَلاَنِيَّةً إِلاَّ ظَهَرَ فِيْهِمْ الطَّاعُوْنُ وَاْلأَوْجَاعُ الَّتِيْ لَمْ تَكُنْ فِيْ أَسْلاَفِهِمْ. وَمَا مَنَعَ قَوْمٌ الزَّكَاةَ إِلاَّ مُنِعُوْا القَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلَوْلاَ البَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوْا. وَمَا بَخَسَ قَوْمٌ الْمِكْيَالَ وَالْمِيْزَانَ إِلاَّ أُخِذُوْا بِالسِّنِيْنَ وَ شِدَّةِ الْمُؤْنَةِ وَ جُوْرِ الْسُلْطَانِ. وَلاَ حَكَمَ أُمَرَاؤُهُمِ بِغَيْرِ مَا أَنْزَلَ اللهُ إِلاَّ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْهِمْ عَدُوَّهُمْ فَاسْتَنْقَذُوْا مَا فِي أَيْدِيْهِمْ وَمَا عَطَّلُوْا كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ نَبِيِّهِ إِلاَّ جَعَلَهُ اللهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ

“Suatu ketika kami berada di sisi Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam-, kemudian beliau bersabda :”Bagaimana jika menimpa kalian lima perkara ? Aku berlindung kepada Allah agar kalian tidak tertimpa hal itu atau kalian menjumpainya ;

1. Tidaklah nampak perzinaan disuatu kaum yang dilakukan dengan terang-terangan,melainkan mereka akan dilanda penyakit Tho’un dan kelaparan yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

2. Dan tidaklah suatu kaum meninggalkan kewajiban membayar zakat,melainkan mereka tidak akan mendapatkan hujan dari langit, kalaulah tidak karena adanya binatang ternak, mereka tidak akan diberi hujan.

3. Dan tidaklah suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan (dalam jual-beli) melainkan mereka akan dilanda paceklik dan kesulitan yang luar biasa serta kedzoliman para penguasa.

4. Dan tidaklah pemimpin suatu kaum berhukum dengan selain apa yang diturunkan oleh Allah (Alqur’an) melainkan Allah akan menguasakan musuh kepada mereka, sehingga mereka lari menyelamatkan sebagian harta benda mereka.

5. Dan tidaklah para penguasa meninggalkan Kitabullah (al-Qur’an) dan Sunnah Nabi-Nya melainkan Allah akan menimpakan perpecahan diantara mereka.” (HR. Baihaqi dan Hakim )

Dari Buraidah -radhiallohu anhu-, ia berkata, Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda :

القُضَاةُ ثَلاَثَةٌ، قَاضِيَانِ فِيْ النَّارِ وَقَاضٍ فِيْ الْجَنَّةِ : رَجُلٌ قَضَى بِغَيْرِ حَقٍّ يَعْلَمُ بِذَلِكَ، فَذَلِكَ فِيْ النَّارِ. وَ قَاضٍ لاَ يَعْلَمُ فَأَهْلَكَ حُقُوْقَ النَّاسِ فَهُوَ فِيْ النَّارِ، وَقَاضٍ قَضَى بِالْحَقِّ فَذَلِكَ فِي الْجَنَّةِ

“Dua golongan Hakim masuk neraka dan satu golongan Hakim masuk surga ;Hakim yang menghukumi manusia dengan cara yang tidak benar, sedangkan dia mengetahui akan hal itu, maka dia masuk neraka. Dan hakim yang menghukumi tanpa ilmu sehingga dia menyia-yiakan hak-hak manusia, maka dia berada di neraka. Dan hakim yang menghukumi dengan kebenaran maka dia masuk surga.” (HR. Abu Daud)

Dari Ibnu Abi Aufa -radhiallohu anhu-; Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda :

إِنَّ اللهَ مَعَ الْقَاضِي مَا لَمْ يَجُرْ فَإِذَا جَارَ تَخَلَّى عَنْهُ وَلَزِمَهُ الشَّيْطَانُ

“Sesungguhnya Allah beserta seorang hakim selama dia tidak berbuat aniaya. Apabila dia berbuat aniaya, Allah meninggalkannya sehingga dia dikuasai syaithon.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban )

Dari Abu Hurairah -radhiallohu anhu-, bahwasanya Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda :

مَا مِنْ أَمِيْرِ عَشْرَةٍ إِلاَّ يُؤْتَى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَغْلُوْلاً ,لاَيَفُكُّهُ إِلاَّ الْعَدْلُ أَوْ يُوْبِقُهُ الْجُوْرُ

“Tidaklah seorangpun yang memimpin sepuluh orang, melainkan dia akan didatangkan pada hari kiamat dalam keadaan terbelenggu. Tidak ada yang melepaskannya kecuali keadilannya (selama memimpin) atau dia akan binasa karena kedzolimannya.” (HR. Ahmad )

Dari Ma’qil bin Yasar -radhiallohu anhu-, ia berkata:

سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ : مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيْهِ اللهُ عَزَ وَ جَلَّ رَعِيَّةً يَمُوْتُ يَوْمَ يَمُوْتُ وَهُوَ غَاشٍ رَعِيَّتَهُ إِلاَّ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

Aku mendengar Rasulullah saw bersabda :”Tidaklah seorang hamba yang Allah berikan amanat kepadanya untuk memimpin rakyat kemudian dia meninggal pada suatu hari, sedangkan dia berbuat curang terhadap rakyatnya melainkan Allah Ta’ala mengharamkan baginya masuk surga.” (HR.Bukhari dan Muslim)

KEWAJIBAN RAKYAT KEPADA PEMERINTAH KAUM MUSLIMIN

A. Mendengar dan taat kepada pemerintah

Allah berfirman :

“Wahai orang-orang yang beriman ,taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya) dan ulil amri di antara kamu.kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu , maka kembalikanlah ia kepada Allah (AlQur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir (Kiamat). Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’ : 59 )

Dari Abu Hurairah -radhiallohu anhu-, dari Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- beliau bersabda :

إِنَّ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ كَانَتْ تَسُوْسُهُمْ اْلأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلََكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ، وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي، وَإِنَّهُ سَيَكُوْنُ خُلَفَاءُ فَتَكْثُرُ. قَالُوْا : فَمَا تَأْمُرُنَا ؟ قَالَ : فَوَالِهِمْ بِبَيْعَةِ اْلأَوَّلِ فَاْلأَوَّلِ. وَأَعْطُوْهُمْ حَقَّهُمُ الَّذِي جَعَلَهُ اللهُ عز وجل لَهُم، فَإِنَّ اللهَ سَائِلُهُْم عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ

“Sesungguhnya Bani Isra’il dahulu dipimpin oleh para Nabi. Setiap kali meninggal seorang Nabi akan datang Nabi yang lain untuk menggantikannya. Dan sesungguhnya tidak ada Nabi setelahku, akan tetapi akan muncul para Kholifah;dan mereka berjumlah banyak.” Para Sahabat bertanya : Apakah yang engkau perintahkan kepada kami ? Beliau menjawab:”Berikanlah loyalitasmu kepada pemimpin yang pertama kali diba’iat, dan berikanlah hak-hak yang Allah Azza Wa Jalla jadikan untuk mereka. Dan sesungguhnya Allah akan bertanya tentang kepemimpinan mereka.” (Muttafaqun ‘alaih )

Imam Ahmad -rahimahullah- berkata : “Wajib mendengar dan taat (kepada penguasa) selama tidak diperintah untuk bermaksiat.” (As Sunnah : 1/75)

Syaikh Al-Albani -rahimahullah- berkata dalam menjelaskan ayat :

artinya : “Wahai orang-orang yang beriman , taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya) dan ulil amri di antara kamu……..”. (QS. An-Nisa’ : 59 )

beliau berkata : “Merupakan perkara yang sangat jelas bahwasannya perintah taat pada ayat di atas hanyalah khusus kepada penguasa yang muslim. Adapun penguasa kafir yang menjajah, maka tidak wajib mentaatinya, bahkan wajib bagi kaum muslimin mempersiapkan kekuatan yang penuh baik secara mental dan materi untuk mengusir mereka serta mensucikan tanah air dari kenajisan mereka.” ( Ta’liq terhadap Aqidah Thohawiyah : 84)

Dari Abu Hurairah -radhiallohu anhu-, bahwasanya Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda :

مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللهُ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللهُ، وَمَنْ أَطَاعَ اْلأَمِيْرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ عَصَى اْلأَمِيْرَ فَقَدْ عَصَانِي، وَ اْلأَمِيْرُ مَجِنٌّ

“Barangsiapa yang mentaatiku berarti dia telah mentaati Allah, dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku dia telah bermaksiat kepada Allah. Barangsiapa yang mentaati pemimpin berarti dia telah mentaatiku dan barangsiapa yang bermaksiat kepada pemimpin berarti dia telah bermaksiat kepadaku. Dan pemimpin adalah pelindung.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah -radhiallohu anhu-, dari Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- beliau bersabda :

مَنْ خَرَجَ مِنَ الطَّاعَةِ وَ فَارِقَ الْجَمَاعَةِ فَمَاتَ، مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً، وَمَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عُمِّيَّةٍ، يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ أَوْ يَدْعُوْ إِلَى عَصَبَةٍ أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً فَقُتِلَ فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ، وَمَنْ خَرَجَ عَلَى أُمَّتِي يَضْرِبُ بَرَّهَا وَ فَاجِرَهَا وَلاَ يَتَحَاشَ مِنْ مُؤْمِنِهَا وَلاَ يَفِي لِذِيْ عَهْدٍ عَهْدَهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ

“Barangsiapa yang keluar dari ketaatan dan memisahkan diri dari jama’ah (pemerintahan kaum muslimin) kemudian dia mati, maka dia mati dalam keadaan jahiliyah. Barangsiapa yang berperang di bawah bendera suatu kaum, dia marah karena fanatik golongan, atau dia menyeu kepada golongan, atau dia membela golongan itu, kemudian dia terbunuh maka dia terbunuh dalam keadaan jahiliyah. Barangsiapa keluar memberontak umatku, dia membunuh orang yang baik dan yang jahat dan dia tidak memperdulikan orang-orang yang beriman, serta dia tidak memenuhi perjanjian, maka dia bukan termasuk golonganku dan aku bukan termasuk golongannya .” HR. Muslim : 1848

Dari Anas bin Malik radhiallohu anhu-, ia berkata, Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda :

اِسْمَعُوْا وَأَطِيْعُوْا وَإِنِ اسْتُعْمِلَ عَلَيْكُمْ حَبَشِيٌّ كَأَنَّ رَأْسَهُ زَبِيْبَةٌ.

“Dengarlah dan taatilah walaupun kamu dipimpin seorang dari Habasyah (Ethiopia) seakan-akan kepalanya seperti kismis.” (HR.Bukhari dan Muslim)

B. MENGHORMATI DAN MEMULIAKAN PEMIMPIN KAUM MUSLIMIN

Dari Abu Bakrah -radhiallohu anhu, ia berkata; aku mendengar Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda :

مَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ اللهِ أَكْرَمَهُ اللهُ وَمَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ أَهَانَهُ اللهُُ

“Barangsiapa yang menghormati pemimpin (kaum muslimin) maka Allah akan memuliakannya. Dan barangsiapa yang menghinakan pemerintah (kaum muslimin) maka Allah akan menghinakannya.” (HR. Tirmidzi lihat As Shohihah : 2296)

Tidak diperbolehkan berdo’a untuk kebinasaan pemimpin dan tidak boleh menggunjing mereka, karena hal ini menyelisihi aqidah dan manhaj (metode) Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Anas bin Malik -radhiallohu anhu- pernah berkata : “Pembesar Shahabat Nabi saw melarang akan hal itu, mereka berkata : “Janganlah kalian menghina pemimpin kalian, janganlah menipu mereka dan jangan memurkai mereka. Bertaqwalah kepada Allah dan bersabarlah, sesungguhnya perkara ini sangatlah dekat.”” (HR.Ibnu Abi Ashim dalam kitab “As Sunnah”)

Kalau begitu, kapan kita harus bersabar ? kita bersabar apabila kita melihat dari pemimpin, perkara yang kita ingkari, kesalahan mereka dan kerusakan yang mereka lakukan. Walaupun demikian, kita tidak bisa berbuat apa-apa kecuali bersabar hingga Allah melapangkan penderitaan kita dengan memberi petunjuk kepada mereka atau mengganti mereka dengan yang lebih baik.

Seorang pembesar Tabi’in yang bernama Abu Ishaq As Sabi’i rhm berkata : “Tidaklah suatu kaum menghina pemimpinnya, melainkan mereka tiada mendapatkan kebaikannya.” (HR. Ibnu Abdil Barr di “At Tamhid” 21/287)

C. BERSABAR TERHADAP KEDZOLIMAN PENGUASA

Dari Abdullah ibn Mas’ud -radhiallohu anhu-, ia berkata; Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda :

إِنَّمَا سَتَكُوْنُ بَعْدِي أَثَرَةٌ وَأُمُوْرٌ تُنْكِرُوْنَهَا. قَالُوْا : يَا رَسُولَ اللهِ كَيْفَ تَأْمُرُ مَنْ أَدْرَكَ مِنَّا ذَلِكَ ؟ قَالَ : تُؤَدُّوْنَ الْحَقَّ الَّذِي عَلَيْكُمْ وَ تَسْأَلُوْنَ اللهَ الَّذِي لَكُمْ.

“Sesungguhnya akan terjadi sepeninggalku kecurangan dan perkara-perkara yang kalian ingkari.” Para Sahabat bertanya : Wahai Rasulullah ! apa yang engkau perintahkan kepada kami jika menjumpai hal itu ? Beliau menjawab : “Tunaikan kewajiban yang dibebankan kepada kalian dan mintalah hak-hak kalian kepada Allah.” (HR. Muslim : 1843)

Dari Wa’il Al-Hadromi -radhiallohu anhu-, ia berkata :

سَأَلَ سَلَمَةُ بْنُ يَزِيْدَ الْجُعْفِيُّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : يَا نَبِيَّ اللهِ أَرَأَيْتَ إِنْ قَامَتْ عَلَيْنَا أُمَرَاءُ يَسْأَلُوْنَ حَقَّهُمْ وَ يَمْنَعُوْنَا حَقَّنَا فَمَا تَأْمُرُنَا ؟فَأَعْرَضَ عَنْهُ ثُمَّ سَأَلَهُ فِي الثَانِيَةِ أَوْ فِي الثَالِثَةِ فَجَذَبَهُ الأَشْعَثُ بْنُ قَيْسٍ. وَقَالَ : اِسْمَعُوا وَ أَطِيْعُوا فَإِنَّمَا عَلَيْهِمْ مَا حُمِّلُوْا وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ

Salamah bin Yazid Al-Ju’fi bertanya kepada Rasulullah saw : “Wahai Nabi Allah bagaimana pendapatmu jika kami dipimpin oleh para penguasa yang menuntut kepada kami hak-hak mereka, sedangkan mereka tidak memenuhi hak-hak kami, apa yang engkau perintahkan kepada kami ?” Maka beliaupun berpaling darinya. Kemudian dia bertanya yang kedua atau yang ketiga kalinya, sehingga dia (Salamah bin Yazid) ditarik oleh Asy’ats bin Qois, maka beliaupun menjawab : “Dengarkan dan taatilah (para pemimpin), sesungguhnya atas mereka kewajiban mereka, dan atas kalian kewajiban kalian.” (HR. Muslim : 1846)

D. BERDO’A UNTUK KEBAIKAN PEMIMPIN

Imam Al Barbahari -rahimahullah- berkata : “Apabila kamu melihat seseorang berdo’a untuk kejelekan pemimpin, ketahuilah bahwasanya dia adalah pengekor hawa nafsu. Dan apabila kamu mendengar seseorang berdo’a untuk kebaikan pemimpin, ketahuilah bahwasanya dia adalah pengikut sunnah insya Allah.

Fudhail bin Iyad -rahimahullah- berkata :”Seandainya aku mempunyai do’a yang dikabulkan, niscaya aku tiada berdo’a kecuali untuk kebaikan pemimpin. Kita diperintahkan berdo’a untuk kebaikan mereka dan kita dilarang berdo’a mengharap kecelakaan mereka, walaupun mereka berbuat dzolim dan aniaya, karena kedzoliman dan perbuatan aniaya kembali kepada diri mereka dan juga menimpa kaum muslimin. Demikian pula kebaikannya untuk mereka dan kaum muslimin.” Lihat kitab Syarhu As Sunnah.

E. MASUK ISTANA KEPEMERINTAHAN DAN BASA-BASI KEPADA PEMIMPIN

Dari Ka’ab bin Ujroh -radhiallohu anhu-, ia berkata :

خَرَجَ عَلَيْناَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَقَالَ : اِسْمَعُوْا هَلْ سَمِعْتُمْ ؟ إِنَّهُ سَيَكُوْنُ بَعْدِي أُمَرَاءُ، فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكَذْبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الْحَوْضَ. وَمَنْ لَمْ يَدْخُلْ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ وَلَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذْبِهِمْ فَهُوَ مِنِّي وَ أَنَا مِنْهُ، وَهُوَ وَارِدٌ عَلَيَّ الْحَوْضَ

Suatu ketika Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- keluar kepada kami, lalu beliau bersabda : “Dengarkanlah ! apakah kalian mendengar? sesungguhnya akan muncul sepeninggalku para pemimpin, barangsiapa yang memasuki (istana) mereka dan membenarkan kedustaan mereka serta membantu kedzoliman mereka, sungguh dia bukan termasuk golonganku dan aku bukan termasuk golongannya dan dia tidak akan mendatangi telagaku nanti(pada hari kiamat). Dan barangsiapa yang tidak memasuki (istana) mereka dan tidak membantu kedzoliman mereka serta tidak membenarkan kedustaan mereka, sungguh dia termasuk golonganku dan aku termasuk golongannya dan dia akan mendatangi telagaku.” (HR. Tirmidzi : 2374)

Dari Ibnu Abbas -radhiallohu anhu, dari Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- beliau bersabda :

مَنْ سَكَنَ الباَدِيَةَ جَفَا. وَمَنْ اِتَبَعَ الصَيْدَ غَفَلَ. وَمَنْ أَتَى أَبْوَابَ السُلْطَانِ اُفْتُتِنَ.

“Barangsiapa yang bertempat tinggal di lembah pegunungan, niscaya akan berwatak keras. Barangsiapa yang selalu berburu, niscaya akan lalai. Dan barangsiapa yang memasuki istana kepemerintahan, niscaya dia akan terfitnah.” (HR. Abu Daud : 2247)

Seseorang bertanya kepada Ibnu Umar -radhiallohu anhuma- :

إِنَّا إِذَا دَخَلْنَا عَلَى الأُمَرَاءِ زَكَّيْنَاهُمْ بِمَا لَيْسَ فِيْهِمْ، فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِهِمْ دَعَوْنَا اللهَ عَلَيْهِمْ ؟ قَالَ : كُناَّ نَعُدُّ ذَلِكَ النِفَاقَ

“Sesungguhnya kami apabila masuk kepada para penguasa, kami sanjung mereka dengan sanjungan yang tidak ada pada diri mereka. Dan apabila kami keluar dari hadapan mereka, kami berdo’a kepada Allah untuk melaknat mereka ?” Ibnu Umar menjawab : “Kami menganggap hal itu termasuk kemunafikan.” (HR. Abu Amr Addani di Kitab al-Fitan : 149)

F. BAGAIMANA BENTUK NASEHAT KEPADA PEMIMPIN

Sebagaimana telah dianjurkan berdo’a untuk kebaikan pemimpin dan dilarang mencaci mereka, begitu pula dilarang menyebut kesalahan mereka di atas mimbar, menggunjing mereka serta menyalakan api kebencian masyarakat kepada mereka. Barangsiapa yang ingin menasehati para pemimpin dengan benar, hendaklah dia mendatangi mereka untuk menasehati atau menulis surat untuk mereka. Sesungguhnya menasehati pemimpin kaum muslimin adalah wajib bagi orang yang mampu.

Dari Tamim Ad-Dari -radhiallohu anhuma-, dari Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- beliau bersabda :

الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ. قُلْنَا : لِمَنْ ؟ قَالَ : لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلأَِئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ وَعَامَتِهِمْ

“Agama adalah Nasehat.” Kami bertanya : Untuk siapa ? beliau bersabda : “Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk pemimpin kaum muslimin dan untuk masyarakat kaum muslimin.” ( HR. Muslim)

Rasulullah saw bersabda :

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاَنِيَةً وَلَكِنْ يَأْخُذُهُ بِيَدِهِ فَإِنْ قُبِلَ مِنْهُ فََذَاكَ وَ إِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang hendak menasehati pemimpin, maka janganlah dia menasehati terang-terangan, akan tetapi hendaklah dia mengambil tangannya(menasehati dengan cara sembunyi-sembunyi). Apabila nasehatnya diterima, (maka yang demikian itu adalah hal yang terbaik). Dan apabila nasehatnya tidak diterima, berarti dia telah menunaikan kewajibannya.” ( HR. Ahmad dan hadits ini shohih)

Saya katakan; Nasehat dengan cara tersembunyi adalah lebih mudah untuk diterima dan menunjukkan keikhlasan orang yang menasehati. Adapun nasehat dengan terang-terangan, maka itu bukanlah nasehat akan tetapi mengumbar aib.

Imam Syaukani -rahimahullah- berkata : ” Bagi orang yang mendapati kesalahan pemimpin dalam suatu permasalahan, hendaklah dia menasehatinya. Dan janganlah menampakkan kesalahan pemimpin di hadapan khalayak ramai. Akan tetapi sebagaimana yang dijelaskan dalam suatu hadits hendaklah dia mengambil tangannya dan menasehatinya dengan sembunyi-sembunyi serta bersungguh-sungguh dalam memberi nasehat. Dan janganlah menghinakan pemimpin kaum muslimin. Telah kami paparkan pada muqaddimah kitab (as- Sail) bahwasanya tidak diperbolehkan keluar (memberontak) kepada para pemimpin, walaupun mereka melampaui batas dalam berbuat kedzoliman, selama mereka mengerjakan sholat dan tidak menampakkan kekufuran yang nyata. Hadits-hadits yang menjelaskan hal ini sangatlah banyak hingga mencapai derajat mutawatir. Akan tetapi hendaklah bagi rakyat mentaati pemimpin dalam ketaatan kepada Allah dan tidak boleh mentaatinya dalam bermaksiat kepada Allah, karena sesungguhnya tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Kholiq.” (Lihat kitab AsSail Jarror 4/556)

Syaikh Ibnu Bazz -rahimahullah- ketika ditanya : Apakah termasuk manhaj salaf menegur para penguasa di atas mimbar ? bagaimana manhaj salaf yang benar dalam menasehati para penguasa ?

Beliau -rahimahullah- menjawab : “Bukanlah termasuk manhaj salaf menyiarkan aib para penguasa dan menyebutnya di atas mimbar, karena hal itu menimbulkan kekacauan sehingga rakyat tidak lagi mendengar dan taat (kepada penguasa) dalam kebaikan dan menimbulkan masalah yang membahayakan serta tidak ada manfaatnya. Akan tetapi cara yang ditempuh para salaf adalah menasehati penguasa (dengan cara sembunyi-sembunyi) diantara mereka atau menulis surat kepada mereka atau menghubungi ulama supaya membimbing mereka menuju kebaikan dan mengingkari kemungkaran tanpa menyebut pelakunya, mengingkari perzinaan, minuman keras dan riba tanpa menyebut siapa pelakunya. Cukuplah dengan mengingkari kemaksiatan serta memperingatkannya tanpa menyebut si fulan yang melakukannya baik penguasa ataupun selainnya.
Dan ketika terjadi fitnah pada zaman pemerintahan Utsman bin Affan -radhiallohu anhu- sebagian orang berkata kepada Usamah bin Zaid -radhiallohu anhuma- : “Apakah engkau tidak menasehati Utsman?” Maka ia menjawab : “Sesungguhnya kalian menganggap aku tidak menasehatinya hingga aku perdengarkan kepada kalian ? sungguh aku menasehatinya antara aku dan dia (sembunyi-sembunyi) tanpa harus menyebarkan hal itu dan aku tidak mau menjadi orang yang pertama menyebarkannya.”(HR.Bukhari dan Muslim)

Dan tatkala orang-orang Khowarij membuka pintu keburukan pada zaman Utsman bin Affan -radhiallohu anhu-, ketika mereka mengingkari Utsman secara terang-terangan sehingga muncul fitnah, peperangan dan kerusakan yang akibatnya dirasakan manusia sampai hari ini, sehingga terjadi fitnah antara Ali dan Mua’wiyah, dan terbunuhnya Utsman hanya dikarenakan ulah mereka,dan banyak orang yang terbunuh dari kalangan sahabat dan lainnya dikarenakan mengingkari (penguasa) secara terang-terangan dan menyebut aib mereka di depan umum, yang menjadikan manusia murka kepada penguasa dan memeranginya. Kami minta kepada Allah keselamatan.”

SYUBHAT 1

Sesungguhnya Abu Sa’id Alkhudri -radhiallohu anhu- telah megingkari Marwan secara terang-terangan, ketika Marwan berkhutbah sebelum sholat Ied.

JAWABAN

1. Apabila hadits (larangan mengingkari pemimpin dengan terang-terangan) shohih maka tidak ada perkataan seorangpun yang diterima jika bertentangan dengan perkataan Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam-.

2. Kemungkinan hadits larangan belum sampai kepada Abu Sa’id, sehingga beliau mendapat udzur dalam hal ini.

3. Mudah-mudahan Abu Sa’id mengetahui bahwasanya Marwan akan menerima nasehatnya dan hal itulah yang terjadi.

4. Kedudukan Abu Sa’id Al Khudri adalah seorang sahabat Nabi dan termasuk ulama dari kalangan sahabat dan mereka mengambil fatwa dari perkataan sahabat.

5. Yang terakhir, kemungkinan Abu Sa’id -radhiallohu anhu- melihat permasalahan yang tidak boleh didiamkan dan dia melakukan hal itu karena khawatir akan terjadi pergantian dalam urusan agama dan muncul ajaran baru sehingga manusia menjadikan perkara yang baru itu sebagai sunnah karena diamnya Abu Sa’id dari menyampaikan kebenaran. Dan tidak boleh mengakhirkan keterangan pada waktu yang dibutuhkan. Dimana ini semua dari cacian yang sering kita dengar dari atas mimbar dengan alasan mengingkari kemungkaran.

SYUBHAT 2

Bagamimana dengan hadits Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- :

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ أَوْ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ . (الصحيحة :491)

Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda : “Jihad yang paling utama adalah perkataan yang adil atau benar di sisi pemimpin yang dzolim .” ( lihat As Shohihah :491)

JAWABAN

Hadits ini hujjah untuk kami dan hadits ini menguatkan pendapat untuk menasehati pemimpin secara sembunyi-sembunyi, karena Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda : (عند سلطان) “di sisi pemimpin.” Maka hendaklah menasehati di sisinya, secara tersembunyi antara dia dan pemimpin.

Demikianlah uraian yang dapat kami paparkan, mudah-mudahan Allah memahamkan kita urusan agama dan melindungi kita dari fitnah yang nampak maupun yang tersembunyi.

(Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 26, hal. 24-33)

Tinggalkan Balasan