Monthly Archives: Januari 2009

Sepucuk Surat di Hari Valentine

Sepucuk Surat di Hari Valentine

Sebelum 14 Februari menyapa, para muda-mudi sibuk mempersiapkan hadiah, kartu ucapan, bunga, pakaian dll. Bahkan tak jarang dari mereka sibuk mencari pasangan agar hari istimewa –versi mereka- itu tak terlewatkan hampa begitu saja. Mengapa mereka begitu perhatian dengan hari yang satu ini? Ternyata, hari itu merupakan hari kasih sayang dan saling cinta, “sekarang valentine’s day” atau “hari valentine”, seru mereka.

Pada momen ini, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin -rahimahullah- memiliki sepucuk surat bagi muda-mudi yang masih suka merayakan hari istimewa –versi mereka- ini. Mari kita baca bersama.

Syaikh Bersorban Naik Sepeda

Syaikh al-Albani -rahimahullah- bercerita:

“Setelah aku membeli sebidang tanah di luar kota, karena harga tanah di sana murah, aku langsung membangun sebuah rumah lengkap dengan toko. Setelah semuanya beres, aku baru sadar bahwa jarak antara rumahku dengan perpustakaan azh-Zhahiriyyah yang sering aku kunjungi lumayan jauh. Dahulu aku bekerja satu atau dua jam di tokoku sebelum perpustakaan itu dibuka.

Tamu Istimewa

Tamu Istimewa

Syaikh Husain bin Audah al-Awaisyah pernah bercerita: “Suatu saat Syaikh al-Albani -arahimahullah- pernah berkunjung ke rumahku, lalu ia duduk di kursi ruangan ini, sementara itu aku tidak bisa menyuguhkan sesuatu kepadanya dalam waktu yang sesingkat ini.

Aku katakan kepadanya: “Jangan marah kepadaku, ya Syaikh, aku tidak memiliki sesuatu yang siap dihidangkan untukmu.”

Tapi Syaikh diam saja dan tidak berucap apapun. Lalu aku berkata: “Apakah pertanyaanku ini bid’ah, ya Syaikh.”

Syaikh al-Albani -rahimahullah- menjawab: “Tujuanku (ke sini untuk bertemu) orang yang memberi makan (bukan mengharap makanan).”

Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Ed 47, hal.38

Kisah Umar bin Abdul Aziz II

Semerbak Harum Dari Kisah Umar bin Abdul Aziz

E. Sikap Khalifah setelah mendapatkan jabatan

Sufyan bin Waqi berkata : Ibnu Unaiyah bercerita kepada kami, dari Umar bin Dzar bahwasanya budak milik Umar bin Abdul Aziz berkata kepadanya setelah dikebumikannya jenazah Sulaiman : “Mengapa saya melihat anda bersedih?” Umar menjawab : ” Hendaknya seseorang yang menghadapi masalah seperti masalah yang saya hadapi bersedih, tidak ada seorangpun dari umat manusia melainkan saya berkeinginan menunaikan haknya tanpa perantara seorang yang menyampaikan kepadaku, dan tanpa perantara orang yang memintanya dariku.”

Ubaidillah bin Umar berkata : Umar bin Abdul Aziz berkhutbah kepada manusia, ia berkata : “Saya bukanlah orang paling baik diantara kalian, akan tetapi saya adalah orang yang paling berat bebannya di antara kalian.”

Hamad bin Zaid mengkisahkan dari Abu Hasyim bahwasanya seorang lelaki datang menemui Umar bin Abdul Aziz, lalu ia mengatakan : “Saya bermimpi melihat Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- di saat tidur, sedangkan Abu Bakar as-Shiddiq berada di sebelah kanan beliau, dan Umar bin Khattab berada di sebelah kirinya.tiba-tiba ada dua orang lelaki saling mengadukan perkara dan engkau berada di depan keduanya, lalu Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- berkata : Wahai Umar bin Abdul Aziz! Jika engkau memutuskan hukum lakukanlah seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab.” Lalu Umar meminta kepadanya untuk bersumpah atas nama Allah, dan berkata : “Apakah benar engkau mimpi demikian?” Lalu orang tersebut bersumpah untuknya bahwa ia bermimpi seperti itu, setelah itu Umar bin Abdul Aziz menangis.

Ya’qub al-Fasawi berkata : Ibrahim bin Hisyam bin Yahya bercerita kepada kami, ia berkata Ayahku menceritakan dari kakekku, ia berkata : Dahulu pernah aku bersama Abu Zakaria berada di depan pintu Umar bin Abdul Aziz, lalu kami mendengar suara tangisan. Lalu diceritakan bahwa : Amirul mukminin (Umar bin Abdul Aziz) memberikan pilihan kepada istrinya, antara tetap berada di rumahnya dalam keadaan seperti itu (berlaku zuhud), atau memilih tinggal di rumah ayahnya, maka menangislah istrinya serta budak-budak wanitanya. Dan Umar memberitahukan bahwa jabatan khalifah yang dipikulnya menyibukkannya dari urusan wanita.

Kisah Umar bin Abdul Aziz

Semerbak Harum Dari Kisah Umar bin Abdul Aziz [1]

A. Nama serta Nasab keturunan

Nama beliau adalah Umar bin Abdul Aziz bin Marwan[2] bin al-Hakam bin Abil ‘Ash bin Umaiyyah bin Abdusyamsin bin Abdimanaf bin Qusay bin Kilab. Beliau adalah seorang al-Imam (pemimpin), al-Hafidh (Hafal ilmu), al-Allaamah (Seorang yang sangat alim), al-Mujtahid (ahli dalam berijtihad), az-Zahid (Ahli zuhud), al-Abid (ahli ibadah), as-Sayyid (pemuka), Amirul mukminin haqqaan (pemimpin orang-orang yang beriman). Nama julukan (kunyah) beliau adalah Abu Hafsin, al-Qurasy (Bani Quraisy), al-Umawy (keturunan Bani ‘Umayyah), al-Madani (penduduk kota Madinah), lalu al-Misri (penduduk Mesir). Beliau seorang khalifah yang zuhud, yang dijuluki dengan Asyajju Bani Umayyah (keturunan Bani Umayyah yang paling terluka) [3]

Umar bin Abdul Aziz adalah seorang tabi’in[4] yang mulia.
Ibnu Sa’ad berkata tentang tingkatan ketiga dari kalangan tabi’in penduduk kota Madinah : “Nama ibu Umar bin Abdul Aziz adalah Ummu Ashim binti Ashim bin Umar bin al-Khattab. Mereka mengatakan : Beliau dilahirkan pada tahun 63 H”.

B. Sosok Beliau dan Pujian ‘Ulama

Ibnu Sa’ad berkata :”Beliau adalah seorang yang terpercaya, amanah, berilmu dan mempunyai sikap wara’ (hati-hati dari terjerumus dalam dosa), beliau banyak meriwayatkan hadits, beliau adalah seorang pemimpin yang adil, semoga rahmat Allah tercurah padanya, dan semoga Dia meridhainya.”
Beliau meriwayatkan hadits dari Sahabat Nabi -shollallahu alaihi wa sallam-, diantaranya Anas bin Malik, as-Saib bin Yazid, Yusuf bin Abdullah bin Sallam -radhiallohu anhum-. Demikian juga beliau meriwayatkan hadits dari sejumlah tabi’in. Demikian juga sejumlah tabi’in dan selain mereka ada yang meriwayatkan hadits darinya.

Edisi 47

01-cover-1-hlm-1

Sekilas Tentang Syaikh Masyhur Alu Salman

Sekitar Tentang Syaikh Masyhur Alu Salman

Nama dan Tempat Tinggal

Beliau adalah Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan bin Mahmud Alu Salman, seorang syaikh yang menguasai berbagai ilmu. Karya tulisan beliau sangat menakjubkan, dan sangat bermanfaat, yang berjumlah kurang lebih 101 buku. Beliau dilahirkan di kota Palestina tahun 1380 H dan tumbuh dalam lingkungan keluarga beragama dan penghafal al-Qur’an. Beliau beserta keluarga hijrah ke Yordania tahun (1387 H/1967 M) setelah penyerbuan Yahudi – semoga laknat Allah menimpa mereka – dan menetap di kota Amman. Di kota ini beliau menamatkan SMU-nya, lalu beliau melanjutkan jenjang perguruan tinggi agama tahun 1400 H di fakultas Ushul Fikih. Beliau banyak terkesan pada para ulama terkemuka, diantaranya : Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan muridnya yang terkemuka Ibnul Qayyim –rahimahullah-.

Guru-guru beliau yang masyhur :

Guru-guru beliau banyak mewarnai dan memberi kesan pada beliau, baik di saat beliau belajar di kelas maupun di saat belajar dalam suatu majelis. Diantara guru beliau yang masyhur adalah :

1. Ahli hadits dan seorang yang sangat berilmu syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani –rahimahullah-.

2. Syaikh Musthofa az-Zarqa.

Aktifitas Dakwah beliau :

1. Beliau salah seorang pendiri majalah al-Ashalah – yang terbit di Yordania – dan sekaligus staf redaksi majalah tersebut, serta penulisnya.

2. Salah seorang pendiri markas al-Imam al-Albani di Yordania

3. Mengisi kajian ilmu dan fatwa.

4. Ikut serta sebagai penceramah dalam training-training keagamaan dan para dai.

Keluar dari Thariqot Tijaniyah II

Keluar Dari Thariqot Tijaniyah
Oleh: Syaikh Muhammad Taqyuddin al-Hilali

Dalam edisi sebelumnya pembaca budiman telah membaca bagaimana syaikh Muhammad al-Arabi al-Alawi mematahkan hujjah syaikh Muhammad Taqiyuddin al-Hilali yang kala itu masih menjadi pengikut thariqat at-Tijaniyyah, hingga menyebabkan syaikh Muhammad Taqiyuddin al-Hilali keluar dari thariqat ini. Kemudian, supaya pembaca mengetahui apa itu thariqat at-Tijaniyyah, bagaimana ajarannya yang menyimpang dari ajaran Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya, insya Allah, dengan meminta pertolongan kepada-Nya, kami akan berusaha melanjutkan kisah ini dengan mengetengahkannya secara bersambung. Inilah kisah lanjutan perjalanan hidup syaikh Muhammad Taqiyuddin al-Hilali salah seorang ulama yang pernah menjadi dosen di Universitas Islam Madinah, silakan menyimak ! (pent).

Syaikh Muhammad Taqiyuddin al-Hilali berkata :

Akupun tidak mempunyai jawaban kecuali seperti apa yang telah aku kemukakan, akan tetapi aku belum menerima pendapat Syaikh Muhammad bin al-Arabi al-Alawi. Maka syaikh berkata : Pikirkanlah dalil-dalil ini, kita akan membahas lagi dalam pertemuan yang lain. Berikutnya, terjadi tujuh kali pertemuan yang kami lakukan setelah shalat maghrib hingga menjelang isya. Setelah itu aku yakin bahwa aku berada dalam kesesatan, akan tetapi aku ingin menambah keyakinanku, maka kukatakan pada syaikh : “Siapakah ulama disini (Maroko) yang beraqidah seperti ini, karena suatu masalah baik itu aqidah ataupun furu’ (parsial) wajib kita paparkan sekuat tenaga, (sekalipun) wawasan kita terhadap al-Qur’an dan sunnah tidak banyak.

Syaikh Muhammad bin al-Arabi al-Alawi menjawab : ulama yang beraqidah sepertiku ini adalah ulama yang terkemuka pada thariqat at-Tijaniyyah di seluruh Maroko, yaitu syaikh al-Fatimi asy-Syaradi. Hampir-hampir aku tidak mempercayainya, karena telah mashur di seluruh penjuru Maroko bahwa syaikh al-Fatimi asy-Syaradi termasuk ulama terkemuka, dan salah seorang “Muqaddim” thariqat at-Tijaniyyah (tokoh terkemuka, bukan muqaddam sebagaimana tertulis dalam edisi sebelumnya, pent.), aku tidak mengatakannya sebagai syaikh at-Tijani, karena syaikh at-Tijani melarang seorang menjadi syaikh selainnya, karena julukan syaikh terkadang difahami orang bahwa selain diri syaih at-Tijani diperbolehkan membuat wirid-wirid thariqat beserta keutamaan dan aqidah-aqidahnya, dan hal ini terlarang, karena yang mengajarkan thariqah ini adalah Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- dalam keadaan syaikh at-Tijani tidak tidur dan bukan bermimpi sebagaimana penjelasan lalu. Dan orang yang pertama kali diajari Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- adalah syaikh Ahmad at-Tijani, dan Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- menamainya syaikh thariqat ini. Dan setiap orang penyebar thariqat ini dan pengajar wirid-wiridnya dinamai “Muqaddim”, dan thariqat hanya mempunyai satu sumber dan satu syaikh, dan tidak diperbolehkan bagi thariqat mempunyai lebih dari satu sumber dan lebih dari satu syaikh sebagaimana hal ini tertera dalam kitab-kitab thariqat.

Mengapa Saya Keluar Dari Thariqot Tijaniyah…

Mengapa saya keluar dari Thoriqot Tijaniyah…

Oleh: Syaikh Muhammad Taquddin al-Hilali

Segala puji milik Allah yang mengutus Muhammad –shollallahu alaihi wa sallam- sebagai penutup para nabi dan imam para rasul, sebagai rahmat bagi semesta alam, pemberita kabar gembira, yaitu kemenangan yang nyata bagi mereka yang beriman dan mengikuti petunjuknya, dan juga sebagai pemberi peringatan akan adanya siksa yang menghinakan bagi mereka yang kafir dan menyelisihi sunnahnya, dan shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan atas Muhammad, istri-istri dan keturunan beliau.

Asy-Syaikh Taqiyuddin bin Abdul Qadir al-Husaini al-Hilali berkata :
Aku tinggal di negeri Sajlamaanah, ketika berusia 12 tahun aku telah hafal al-Qur’an, aku lihat penduduk negeriku penganut fanatik berbagai thariqat Sufiyah, hampir-hampir anda tidak menjumpai seorangpun diantara mereka, baik itu seorang yang berilmu maupun orang bodoh melainkan pasti dia pengikut salah satu thariqat Sufiyah, dan mempunyai hubungan sangat erat dengan seorang syaikh seperti jalinan seseorang yang amat sangat mencintai kekasihnya, ia beristighasah pada syaikhnya di saat susah, meminta pertolongan padanya tatkala mendapatkan musibah-musibah, serta senantiasa bersyukur dan memujinya, dan jika ia mendapatkan kenikmatan, ia bersyukur kepadanya, jika tertimpa musibah ia menuduh dirinya masih kurang taat dan kurang cinta terhadap syaikhnya serta kurang berpegang teguh pada thariqatnya.

Tidak terlintas dalam benaknya bahwa syaikhnya itu lemah tidak mampu melakukan sesuatu baik itu di langit maupun di bumi, (bahkan ia meyakini) syaikhnya mampu melakukan segala sesuatu. Dan aku mendengar masyarakat berkata : “Barangsiapa tidak mempunyai syaikh maka setan itu adalah syaikhnya.”

Aku melihat ada dua kelompok tasawuf yang tersebar di negeri kami :

Pertama : Kelompok tasawuf yang diikuti oleh para ulama dan para tokoh masyarakat.

Kedua : Kelompok tasawuf yang diikuti masyarakat awam.

Adapun aku lebih condong pada kelompok pertama, dan aku dengar ayahku dimana beliau termasuk ulama di negeri kami sering berujar :
Kalau bukan lantaran thariqat Tijaniyah melarang pengikutnya berziarah kubur ke makam para wali, dan meminta bantuan dan hajat kepada mereka, terkecuali kuburannya Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya, dan juga terkecuali kuburan syaikh at-Tijani, dan kuburan orang-orang yang mengikuti thariqatnya dari kalangan para wali, kalau bukan karena hal ini tentu saya akan mengikuti thariqat Tijaniyah, karena saya tidak dapat meninggalkan ziarah kubur kakek kami (yang bukan penganut thariqat at-Tijaniyyah) yang bernama Abdul Qadir bin Hilal, dan kakek kami ini mashur sebagai orang yang baik, dan kuburnya dikunjungi manusia, dan dia dianggap termasuk dari kalangan para wali di daerah timur laut negeri Maroko.

Dari Lembah Sufi Menuju Manhaj Salaf

Syaikh Muhammad Bahjah al-Baithor  -rahimahullah-
Dari Lembah Sufi Menuju Manhaj Sala
f[1]

Ayah Seorang tokoh Sufi

Beliau adalah Muhammad Bahjah bin Muhammad Baha`uddin al-Baithor, seorang tokoh ulama, sastrawan, ahli sejarah dan pidato, dilahirkan di Damaskus dari keluarga penduduk asli kota Damaskus, buyut beliau dari Aljazair. Ayah beliau seorang tokoh agama di Damaskus, tokoh sufi.

Ath-Thontowi berkata:

“Suatu yang menakjubkan adalah, bahwa ayah Syaikh Bahjah seorang tokoh Sufi yang berpemahaman wihdahtul wujūd (manunggaling kawulo gusti) mengikuti madzhab Ibnu Arabi, Ibnu Sab’in, dan al-Halaj (para tokoh tasawuf).”[2]

Beliau tumbuh berkembang dalam bimbingan ayahnya, belajar dasar-dasar ilmu bahasa dan agama juga darinya. Kemudian beliau mendalami agama kepada para ulama yang hidup pada zamannya, semisal Jamaluddin al-Qasimi, Muhammad al-Khidr Husain, Muhammad Badran al-husni dan Muhammad Rasyid Ridha, semoga Allah merahmati mereka semua.

Pengaruh Seorang Guru

Pengaruh Syaikh Jamaluddin al-Qasimi amat besar pada diri beliau. Putera beliau, Ashim al-Baithor berkata: “Dahulu ayahku belajar pada Syaikh Jamaluddin, hubungan antara keduanya sangat erat, dan Syaikh Jamaluddin amat mempengaruhi kepribadian beliau, Syaikh menanamkan dalam jiwanya kecintaan kepada Salaf dan kebersihan aqidah dari syirik, serta jauh dari kebohongan, menanamkan bagaimana memanfaatkan waktu dengan baik, menanamkan keteguhan terhadap aqidah, menanamkan kesabaran atas rintangan yang dihadapi di jalannya, sering kali aku menjumpai ayahku menangis ketika terkenang guru beliau Syaikh Jamaluddin al-Qasimi.”

Maha suci Allah Dzat yang mengeluarkan seorang kepada kehidupan setelah kematiannya.