Monthly Archives: Desember 2008

Syaikh al-Albani -rahimahullah- & Jamaah Tabligh

Syaikh al-Albani -rahimahullah-  & Jamaah Tabligh

Bismillâh. Ana abdullah dari Kolaka, Sulawesi Tenggara, mau tanya terkait adanya isu bahwa para ustadz salaf menyembunyikan fatwa Syaikh al-Albani kepada muridnya, Syaikh Ali Hasan, bahwa Jamaah Tabligh dibolehkan, mohon penjelasan, syukran. Saya dengar dari Jamaah Tabligh Surabaya.

Abdullah, Kolaka, Sultra +628124228XXX

Segala puji hanya milik Allah. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad -shollallahu alaihi wa sallam-, wa ba’du.

Setiap orang yang ingin menghidupkan sunnah nabi n dan menyebarkan kebaikan di bumi ini hampir tidak pernah lepas dari tuduhan dusta, isu miring atau prasangka yang dibuat-buat. Begitu pula para ustadz salaf di Indonesia atau bahkan para ulama dunia, mereka dituduh telah menyembunyikan fatwa Syaikh al-Albani -rahimahullah- yang konon katanya membolehkan Jamaah Tabligh. Namun, tuduhan tersebut tak berpijak pada suatu pondasi yang dapat mengokohkan. Sebaliknya, bahkan lebih lemah dari pada sarang laba-laba.

Berlebih-Lebihan Dalam Beristinsyâq

Berlebih-Lebihan Dalam Beristinsyâq

Di antara Sunnah nabi -shollallahu ‘alaihi wa sallam- yang belum diketahui secara umum atau jarang dilakukan, adalah berlebih-lebihan dalam beristinsyâq, yaitu memasukkan air lewat hidung ketika wudhu dengan berlebih-lebihan. Adapun beristinsyâq dengan cara biasa, tentu mayoritas kaum muslimin biasa menerapkannya, sebab setiap hari mereka berwudhu untuk mengerjakan shalat lima waktu, yang mana istinsyâq merupakan salah satu amalan wudhu. Namun al-Mubâlaghah fî al-Istinsyâq atau berlebih-lebihan dalam beristinsyâq, sangat jarang sekali orang yang mengerjakannya.
Dengan dasar ini, di sini akan kami ulas dengan ringkas pembahasan tentang al-Mubâlaghah fî al-Istinsyâq, dengan tujuan agar sunnah nabi -shollallahu ‘alaihi wa sallam- tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

TEKS HADITS

Dari Laqith bin Shabarah -radhiallahu anhu-, ia berkata: Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

أَسْبِغِ الوُضُوْءَ ، وَخَلِّلْ بَيْنَ الأَصَابِعِ، وَبَالِغْ فِي الإِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ صَائِماً

Sempurnakanlah wudhu, bersihkanlah di antara sela-sela jari-jemari, dan berlebih-lebihanlah dalam melakukan istinsyaq kecuali apabila engkau dalam keadaan berpuasa. (Hadits shahih. Lihat: Shahîh Abî Dawūd, no. 130, Irwâ` al-Ghalîl, no. 935, Shahîh al-Jâmi’ ash-Shaghîr, no. 927, dll.)

Ummu Aiman pun Menangis

Ummu Aiman pun Menangis

Anas bin Malik bercerita: Abu Bakar berkata kepada Umar sepeninggal Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wa sallam-: Bawalah kami ke kediaman Ummu Aiman, kita akan mengunjunginya sebagaimana Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wa sallam- dahulu juga mengunjunginya. Sesampainya di sana, ternyata Ummu Aiman sedang menangis. Abu Bakar dan Umar bertanya: Apa yang membuatmu menangis? Segala yang ada di sisi Allah tentu lebih baik bagi Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wa sallam-. Ia menjawab: Aku menangis bukan karena aku tidak tahu bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wa sallam-, tetapi aku menangis karena wahyu dari langit telah terhenti. Ternyata ucapannya itu menggugah hati mereka berdua dan akhirnya merekapun larut dalam isak tangis bersamanya. (HR. Muslim, no. 2454)

Berkenaan dengan ini Syaikh Husain bin Audah al-’Awaisyah hafizhahullâh berkata:

Edisi 46

cover46

Mengapa Hatiku Menjadi Keras…?

Al-Haur ba’da al-Kaur
Mengapa Hatiku Menjadi Keras…?

Abu Abdirrahman Ibrahim bin Abdullah al-Mazaru’i

Sesungguhnya fenomena berpaling dari komitmen pada agama ini sungguh telah menyebar di kalangan kaum muslimin. Berapa banyak manusia mengeluh akan kerasnya hati setelah sebelumnya tentram dengan berdzikir pada Allah, dan taat kepada-Nya. Dan berapa banyak dari orang-orang yang dulu beriltizam (komitmen pada agama) berkata, “Tidak aku temukan lezatnya ibadah sebagaimana dulu aku merasakannya”, yang lain bekata, “Bacaan al-qur’an tidak membekas dalam jiwaku”, dan yang lain juga berkata, “Aku jatuh ke dalam kemaksiatan dengan mudah”, padahal dulu ia takut berbuat maksiat.

Dampak penyakit ini nampak pada mereka, diantara ciri-cirinya adalah :

Untaian Tali Pernikahan

Untaian Tali Pernikahan

Oleh : Abu Abdirrohman bin Thoyyib, Lc

Nikah, sebuah kata indah nan mempesona. Dialah harapan setiap insan manusia terutama kawula muda. Dengan menikah hidup kan semakin indah dan berharga. Dengan menikah terjalin cinta kasih diatas ikatan suci. Alangkah indahnya pernikahan, alangkah bahagianya mereka yang menikah, hingga pena ini rasanya tak sanggup untuk mengungkapkan dan mengukir keindahan itu diatas kertas. Tidak ada yang lebih bisa menggambarkan keindahan pernikahan ini selain Yang Maha Pencipta lagi Maha Kuasa yang telah berfirman :

[وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ]

Artinya : “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS.Ar-Ruum : 21).

Nikah bukan hanya sekedar mewujudkan fitroh manusia yang selalu mendambakan pendamping dalam hidup ini, tapi lebih dari itu nikah adalah ibadah yang diperintahkan oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya :

[فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ]

Artinya : “maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS.An-Nisaa’ : 3)

Ilmu adalah Obat

Ilmu adalah Obat
Syaikh Ali Hasan al-Halabi

Sebagian besar manusia menjalani kehidupan mereka dalam keadaan sakit, bingung dan tersesat. Mereka mencari obat untuk menyembuhkan penyakit mereka namun tidak mereka dapati, mereka melihat kejalan yang mereka lalui, namun mereka tidak dapat membedakan! Padahal obat ada didepan mereka, ada di antara dua tangan mereka, obat tersebut adalah ilmu.

Imam adz-Dzahabi (wafat tahun 748 H) berkata :
“Barangsiapa sakit hatinya tertimpa keraguan dan was-was semua itu tidak akan hilang kecuali dengan bertanya kepada ahli ilmu. Hendaklah ia mempelajari kebenaran yang dapat menyingkirkan penyakit yang dideritanya.”

Dan do’a yang paling mujarab adalah dengan merendahkan diri dihadapan Allah -subhanahu wa ta’ala-, meminta pertolongan kepada-Nya, hendaknya ia mengulang-ulangi dan memperbanyak do’a ini :

“Ya Allah Rabb Jibril, Mikail, dan Israfil, yang menurunkan Taurat dan Injil, tunjukilah aku kepada kebenaran yang diperselisihkan dengan izin-Mu, sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus”. (HR. Muslim 770)

Bahasa Arab, Bahasa Yang Mulia…

Bahasa Arab, Bahasa Yang Mulia….

Sesungguhnya bahasa Arab adalah pintu memahami al-Qur’an, bagian inti syariat agama dan kunci memahami Islam.
Bahasa Arab adalah bahasa yang paling luas kosa katanya, paling baik dalam pengungkapannya dan paling mulia diantara bahasa-bahasa yang ada.

Oleh karena itu, Allah -subhanallah wa ta’ala- menurunkan al-Qur’an dengan bahasa yang paling mulia, kepada Rasul yang paling mulia (Muhammad ), melalui malaikat yang paling mulia (Jibril -alaihi salam-), di lembah yang paling mulia di dunia ini (Mekkah), dan permulaan diturunkannya adalah di bulan yang paling mulia yaitu Ramadhan, maka sempurnalah kemuliaan dari segala segi. (Tafsir Ibnu Katsir 1/178, lihat Ithaful Ilfi hal. 14, karya Syaikh Musa Alu Nashr dan Syaikh Salim al-Hilali)

Tidak mungkin bagi seseorang bisa memahami al-Qur’anul Karim kecuali ia harus mengetahui bahasa Arab. Maka sepatutnya bagi kaum muslimin -dengan beraneka macam bahasa yang mereka berbicara dengannya- agar mereka mempelajari, mendalami dan menekuni bahasa Arab/bahasa al-Qur’an, agar mereka dapat memahami al-Qur’an, mendalami serta membacanya dengan baik.

Surat Buat Kelompok – Kelompok Dakwah

Surat Buat Kelompok – Kelompok Dakwah
Oleh : Syaikh Muhammad Jamil Zainu

Agama adalah nasehat
Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda :

الدِّينُ النَّصِيْحَةُ. قُلْنَا : لِمَنْ يَارَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ : لِلهِ، وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَ ئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

“Agama adalah nasehat, kami (para sahabat) bertanya : untuk siapa wahai Rasulullah ? Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam –menjawab- : untuk Allah, kitabnya, Rasulnya, dan untuk para pemimpin kaum muslimin dan orang awamnya.”(HR. Muslim).

Dan sebagai aplikasi sabda Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- di atas, maka saya ingin menyampaikan nasehat kepada seluruh kelompok dakwah Islam, agar senantiasa berpegang teguh dengan al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih berdasarkan pemahaman para ulama salaf,seperti : para sahabat, tabi’in, para imam mujtahidin dan orang-orang senantiasa meniti jejak mereka.

Kepada Kelompok Sufi

1. Nasehat saya kepada mereka agar menunggalkan Allah dalam do’a dan isti’anah (meminta pertolongan) sebagai bentuk perwujudan dari firman Allah :

“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.”(QS. Al-Fatihah : 5).
Dan sabda Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- :

الدُّعَاءُ هُوَ اْلعِبَادَةُ

“Doa adalah ibadah.”(HR. Tirmidzi dan beliau berkata : hadits hasan shahih).

Dan wajib bagi mereka untuk meyakini bahwa Allah ada di atas langit, sebagaimana firman-Nya :

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?,”(QS. Al-Mulk : 16).

Ibnu Abbas -radhiallohu anhuma-, berkata Dia adalah Allah (sebagaimana disebutkan Ibnul Jauzi dalam tafsirnya).

Dan Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda :

أَلاَ تَأْمَنُوْنِيْ وَأَنَا أَمِيْنٌ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Tidaklah kalian percaya kepadaku, padahal saya adalah kepercayaan dzat yang di langit”(HR. Bukhari dan Muslim). Dan arti di langit adalah di atas langit.

2. Hendaklah mereka senantiasa mendasari dzikir-dzikir mereka dengan apa yang ada dalam al-Qur’an dan sunnah (yang shohih –ed.) serta amalan para sahabat.

Bersatu di atas al-Qur'an dan Sunnah

Bersatu di atas al-Qur’an dan Sunnah

Syaikh Dr. Ibrahim bin Amir ar-Ruhaily

Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah, kami memuji, meminta pertolongan dan memohon ampun kepada-Nya. Kami berlindung kepada-Nya dari kejahatan diri-diri kami dan dari kejelekan amal perbuatan kami. Siapa saja yang Allah telah berikan hidayah kepadanya maka tidak seorangpun yang dapat menyesatkannya, dan siapa saja yang telah disesatkan, maka tidak seorangpun yang mampu menunjukinya. Kami bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak diibadahi dengan sebenar-benarnya kecuali Allah, dan kami bersaksi bahwasanya Muhammad itu adalah hamba dan rasul Allah. Ya Allah, sampaikanlah shalawat, salam serta keberkahan kepada hamba dan Rasul-Mu, yaitu Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya semua.

Sesungguhnya Allah telah memerintahkan dalam kitab-Nya untuk berpegang teguh dengan agama dan tali Allah, serta bersatu di atasnya, sebagaimana firman-Nya :

“Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali agama Allah dan janganlah bercerai berai”(QS. Ali imron : 103).

Maka hendaklah kita amati apa yang terkandung di dalam ayat ini, bahwasannya Allah -subhanahu wa ta’ala- telah memerintahkan untuk berpegang teguh dengan tali agama-Nya dan melarang perpecahan. Semua ini mengisyaratkan bahwa berpegang teguh dengan agama Allah tidak mendatangkan perpecahan, dan perpecahan sendiri bukanlah bagian dari berpegang teguh dengan agama Allah. Sekiranya berpegang teguh dengan agama Allah menyebabkan perpecahan, niscaya Allah tidak akan memerintahkan untuk berpegang teguh dengan agama-Nya dan melarang perpecahan, dikarenakan pada hal seperti ini terdapat kontradiksi yang jelas antara yang satu dengan yang lain, maka sekali lagi bahwa berpegang teguh dengan agama Allah bukan penyebab perpecahan jama’ah kaum muslimin. Bahkan bersatu di atas agama Allah merupakan bagian dari berpegang teguh dengan agama-Nya.

Kebanyakan orang salah kaprah memahami arti al-I’tisham (berpegang teguh), dan dari kesalahpahaman ini bisa jadi sebagian orang beranggapan bahwa dirinya telah berpegang teguh dengan agama Allah tatkala dia bersikukuh terhadap apa-apa yang dia yakini, sehingga dia berteman, memusuhi serta memecah belah umat dengan klaim dan dakwaan bahwa dirinya berpegang teguh terhadap agama Allah. Maka dari itu, sangatlah perlu untuk memahami apa arti berpegang teguh itu dan apa pula makna bersatu.