Monthly Archives: November 2008

Kiat Ikhlas dalam Beramal

Kiat-kiat Ikhlas dalam Beramal

Tanya, bagaimana agar kita dapat ikhlas dalam beramal?
Hamba Allah, +622817928XXX

Segala puji hanya milik Allah. Shalawat dan Salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah n. Wa ba’du.
Ikhlas merupakan perkara yang sangat agung dan penting. Sehingga ulama menyatakan bahwa ibadah tidak akan diterima melainkan dengan dua syarat penting; pertama: Ikhlas dan kedua: al-Mutâba’ah (sesuai tuntunan Nabi -shallollahu alaihi wa sallam-). Kedua hal ini bak dua sayap burung, satu sama lain saling membutuhkan. Apabila salah satunya patah, niscaya burung itu tidak akan bisa terbang.
Dan di sini kami akan mengulas syarat yang pertama saja, yaitu Ikhlas, khususnya tentang kiat-kiat ikhlas dalam beramal, sesuai dengan pertanyaan di atas.
Dan untuk menjawab soal tersebut, kami nukilkan jawabannya secara singkat dari Kitâb al-Ikhlâsh, karya Syaikh Husain bin Audah al-‘Awaisyah hafizhahullah. Kiat-kiat tersebut di antaranya: 

Edisi 45

adzakhirah-edisi-45

Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi

Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi  -rahimahullah-
Penulis kitab Tafsir Adhwa’ al-Bayan

“Amma ba’du, tatkala kami mengetahui bahwa mayoritas masyarakat yang mengaku sebagai kaum muslimin dewasa ini berpaling dari kitabullah dan melemparkannya ke belakang punggung mereka, tidak mengharapkan janji Allah dan tidak takut akan ancaman-Nya, maka kami mengatahui, bahwa hal tersebut merupakan faktor yang dapat mendorong seorang yang telah Allah berikan kepadanya ilmu akan kitab-Nya, untuk mengarahkan semangatnya yang tinggi demi berkhidmah kepada kitab-Nya, menjelaskan makna-maknanya, menampakkan keindahan-keindahannya, menerangkan kesulitan yang ada padanya, menjelaskan hukum-hukumnya, serta mengajak manusia untuk mengamalkannya dan meninggalkan segala sesuatu yang bertolak-belakang dengan kitab itu”.(1)

Nama dan Nasab
Nama beliau adalah Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar bin Abdul Qadir al-Jakni asy-Syinqithi -rahimahullah-.
Jika terus diruntut, maka nasab Kabilah beliau akan sampai ke daerah Himyar di Yaman.

Pandai dalam Berbuat, Kaya dalam Beramal

Pandai dalam berbuat, Kaya dalam beramal

Imam asy-Syafi’i -rahimahullah- berkata:

إِنَّ الفَقِيْهَ هُوَ الفَقِيْهُ بِفِعْـــلِهِ

لَيْسَ الفَقِيْهُ بِنُـطْقِهِ وَ مَقَـالِهِ

وَكَذَا الرَّئِيْسُ هُوَ الرَّئِيْسُ بِخُلُقِهِ

لَيْسَ الرَّئِيْسُ بِقَوْمِهِ وَ رِجَـالِهِ

وَكَذَا الغَنِيُّ هُوَ الغَنِيُّ بِحَــالِهِ

لَيْسَ الغَنِيُّ بِمُلْكِهِ وَ بِمَــالِهِ

Orang pandai adalah yang pandai dengan perbuatan
Bukan sekedar pandai dengan lisan dan perkataan
Dan pemimpin adalah yang memimpin dengan sopan
Bukan sekedar pemimpin bagi kaum dan orang bawahan
Juga orang kaya ialah yang kaya dengan pengamalan
Bukan sekedar kaya dengan kekuasaan dan perbendaraan

[Diwan al-Imam asy-Syafi’i, Qafiyah al-Lam, Cet. Darul Fikr, Th. 1409 H. – 1988 M.]

(Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 41)

Tuntunan Praktis Amalan 10 Hari Pertama Bulan Dzul Hijjah

Tuntunan Praktis Amalan
Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzul Hijjah
(1)

Segala puji bagi Allah. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi dan Rasul kita, Muhammad -shollallahu alaihi wa salla- dan keluarga serta para Sahabat. Wa ba’du.

Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzul Hijjah
Imam al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas -radhiallohu anhuma-, bahwa Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ اْلعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ اْلأَيَّامِ يَعْنِيْ أَيَّامِ اْلعَشْرِ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ، قَالَ: وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ.

Tidak ada hari, yang amalan shalihnya lebih dicintai oleh Allah dari pada hari-hari ini (yakni sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah), para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, tidak pula jihad di jalan Allah? Beliau menjawab: Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian ia tidak kembali dengan semua itu sedikitpun (mati syahid, pen).

Beberapa Amalan Pada Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzul Hijjah

1. Menunaikan Ibadah Haji dan Umrah.
Dan ini adalah amalan yang paling utama, sebagaimana dijelaskan dalam banyak hadits, di antaranya sabda Nabi -shollallahu alaihi wa sallam-:

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ.

Antara satu umrah sampai umrah berikutnya adalah penghapus (dosa) di antara keduanya, dan haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali Surga. (Muttafaqun ‘alaih)

Edisi 44

vol-8-no-1-edisi-44-convert

Loyal Kepada Orang Kafir

Loyal Kepada Orang Kafir
Oleh : Syaikh Abdul Muhsin bin Nashir Alu Ubaikan

Banyak pertanyaan tentang makna dan hukum tolong menolong dengan orang-orang musyrik dan sejauh mana penerapannya dalam situasi sekarang ini.
Maka aku katakan (penulis) –dengan taufik dari Allah- : bahwasannya loyal kepada orang-orang kafir dan tolong menolong dengan mereka ada tiga bentuk:
Pertama : Loyalitas sempurna kepada orang-orang kafir secara umum dan mutlak, maka hal semacam ini merupakan kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari agama Islam, dan hal inilah yang dimaksud dengan kekufuran secara mutlak.
Dalilnya firman Allah ta’ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu), sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.” (QS. Al-Maidah: 51).

Gelar Al-Atsary ?!?

Hukum Penisbatan Diri Kepada Atsar
Oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Abdul Hamid al-Halabi al-Atsari

Segala puji bagi Allah dan sholawat serta salam semoga senantiasa terlimpah kepada Rasulullah n dan kepada keluarga, sahabat serta orang-orang yang mengikuti beliau.
Sebagian ikhwah telah bertanya kepadaku –semoga Allah memberi balasan kebaikan kepada mereka- tentang hukum penisbatan diri kepada Sunnah atau Atsar?
Semua itu dikarenakan adanya ucapan dari ahli ilmu yang dipahami melarang akan hal tersebut
Maka saya katakan –dengan memohon taufik dari Allah-:
Sesungguhnya penisbatan kepada Atsar merupakan penisbatan yang sudah ada sejak zaman dahulu (suatu hal yang telah turun menurun/warisan) diterima oleh kalangan ahli ilmu
Berkata as-Sam’ani (meninggal tahun 562 H) dalam kitabnya al-Ansab 1/136 : Penisbatan kepada Atsar yaitu hadits dan mencari ilmu hadits serta mengikuti hadits.
Dan bait syair pertama di dalam al-Alfiyah al-Haditsiyyah yang telah masyhur oleh al-Hafidh al-Iraqi (meninggal tahun 806 H), beliau berkata :

Pendeta Roma Masuk Islam

PENDETA ROMA MASUK ISLAM
Oleh : Amjad bin Imron Salhub

Segala puji bagi Allah. Semoga shalawat serta salam tetap terlimpahkan atas Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya, serta siapa saja yang mengikuti sunnahnya dan menjadikan ajarannya sebagai petunjuk sampai hari kiamat.
Sejarah Islam, baik yang dulu maupun sekarang senantiasa menceritakan kepada kita, contoh-contoh indah dari orang-orang yang mendapatkan petunjuk, mereka memiliki semangat yang begitu tinggi dalam mencari agama yang benar. Untuk itulah, mereka mencurahkan segenap jiwa dan mengorbankan milik mereka yang berharga, sehingga mereka dijadikan permisalan, dan sebagai bukti bagi Allah atas makhluk-Nya.
Sesungguhnya siapa saja yang bersegera mencari kebenaran, berlandaskan keikhlasan karena Allah Ta’aala, pasti Dia ‘Azza Wa Jalla akan menunjukinya kepada kebenaran tersebut, dan akan dianugerahkan kepadanya nikmat terbesar di alam nyata ini, yaitu kenikmatan Islam. Semoga Allah merahmati syaikh kami al-Albani yang sering mengulang-ngulangi perkataan:

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى نِعْمَةِ اْلإِسْلاَمِ وَالسُنَّةِ

Segala puji bagi Allah atas nikmat Islam dan as-Sunnah

Edisi 43

vol-8-no-1-edisi-43